Dewa Abraham. CEO tampan dan juga fosessive. Pria yang sangat mencintai Bunga dan sekarang mereka telah bertunangan. Namun dibalik sifat Dewa yang penyayang, ia sangatlah egois.
Indah, perempuan yang berstatus menjadi sahabat Dewa dari sekolah menengah pertama selalu melakukan berbagai cara untuk merebut Dewa dari Bunga. Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Indah tanpa sepengetahuan Dewa.
"Jujur sama aku Dewa!! kamu sayang sama Indah??" tanya Bunga dengan wajah sendunya.
"Iya. Indah sahabat aku sayang. Apalagi sekarang dia lagi sakit. Kamu ngertiin posisi aku sayang!! aku ngak bisa menjauh dari Indah."
"Tega kamu Wa. Kamu selalu ada waktu sama dia ketimbang sama aku. Dia emangnya ngak punya orang tua ahh?? Kenapa harus kamu selalu ajha kamu??"
"Sayang!!"
"Terserah. Kalau kamu pergi! kita putus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 // Hanya Milik Dewa
"Kamu sudah sadar sayang?" ujar Dewa langsung memeluk Bunga dengan erat. Mama dan papa Dewa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Main nyosor saja. Padahal mereka tidak pernah mengajarkan Dewa seperti itu.
Bunga memegang kepalanya yang terasa pusing. Dewa yang melihat hal itu langsung memegang kepala Bunga dengan halus.
"Sakit sayang?" tanya Dewa kembali khawatir. Bunganya tidak boleh kesakitan. Dewa tidak akan biarkan hal itu terjadi.
Bella mengangguk melihat ke sekelilingnya. Kenapa dia tidak ada di rumahnya saja. Kenapa harus ada di sini, batin Bunga kesal. Apalagi Dewa lebay sekali.
"Sayang! jangan melamun! kalau ada yang sakit kasih tahu aku langsung!" ujar Dewa lembut.
"Haus...."
Dewa langsung memapah Bunga untuk minum. Begitu pun dengan mama papa Dewa. Mereka sangat bahagia melihat kedekatan mereka.
"Pulang!" mohon Bunga lemah.
"Ngak sayang. Kamu nginap di rumah aku.. Nanti aku kabarin mama sama papa kamu.
Bunga menggelengkan kepalanya lemah. Dewa langsung menenangkan gadisnya. Gadis kesayangan nya. Tidak ada yang berhak memiliki Bunga selain Dewa. Bagaimana pun caranya, Bunga hanya untuk nya, masa depannya. Bunga calon istri nya. Sekeras apapun Bunga menolak nantinya, Dewa tetap akan memaksanya.
"Pulang."
"Tidur ya sayang ku," ujar Dewa halus, diangguki oleh Bunga langsung. Untung gadisnya menurut, Dewa langsung tersenyum lega.
Bunga perlahan terlelap, menjelajahi alam mimpi nya.
Ceklek.
Terlihat pasangan suami istri melihat keromantisan Dewa kepada gadisnya.
"Hem... bahagianya anak mama," ujar mama Dewa tersenyum. Hati seorang ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya berbunga-bunga.
"Iya ma. Dewa sayang sama Bunga ma. Dewa ngak akan lepasin Bunga."
"Makanya cepetin dihalalin," sahut papa Dewa langsung.
"Bunga katanya belum siap pa," ujar Dewa melihat ke arah gadisnya sekarang yang tertidur dengan wajah damai. Kapan Bunga akan setuju dengan pernikahan mereka. Dewa tahu Bunga belum siap, makanya Dewa bersabar untuk menunggu. Namun kalau Bunga menunda terlalu lama, terpaksa Dewa akan memaksa gadisnya.
"Jangan bertindak kasar sama Bunga!" peringat mama Dewa tajam.
"Dewa ngak pernah ada niatan kasar sama gadisnya Dewa. Mana tega Dewa melakukan hal itu."
"Kalau memaksa juga kasar Dewa," tegur papa Dewa lagi.
Bagaimana orang tuanya tahu maksud dan rencana Dewa selanjutnya. Rencana Dewa, Bulan ini Dewa akan menikahi Bunga. Walaupun gadis itu menolak. Dewa tinggal menculik gadisnya.
"Dewa cinta sama Bunga Pa."
"Besok kita ngomong baik-baik sama Bunga."
"Kalau Bunga ngak setuju pa?" tanya Dewa lesu.
"Terpaksa...."
"Terpaksa apa pa?" tuntut Dewa butuh penjelasan.
"Kamu juga. Bunga kan masih kuliah sayang. Ngak baik paksa anak gadis orang."
"Sebenarnya ada seseorang yang Dewa takutkan ma! pa!"
"Siapa sayang?"
"Namanya dokter Rian, dia suka sama Bunga. Dewa takut Bunga di ambil ma! pa!"
"Tenang sayang! Bunga hanya cinta sama kamu. Percaya sama mama," ujarnya tersenyum menenangkan putranya.
"Dewa tahu ma. Tapi Dokter Rian yang mencoba mendekati gadisnya Dewa," rengek Dewa seperti anak kecil kepada mamanya.
Dewa menatap tajam ke arah gadisnya yang tengah tertidur pulas. Bagaimana pun caranya, ia akan memiliki gadisnya.
"Dewa akan menikah dalam waktu yang dekat ini."
Kalau sudah melihat raut wajah anaknya seperti itu, Orang tua Dewa bisa apa? Dewa anaknya tidak ingin di bantah oleh siapapun, termasuk gadisnya sekalipun.
"Iya udah terserah kamu," ujar mama Dewa lalu pergi dari sana bersama dengan papa Dewa mengikuti dari belakang.
Sedang kan Dewa menutup pintu lalu mendekati gadisnya.
"Tidak ada penolakan baby!" ujar Dewa tersenyum miring, lalu mengecup lama bibir mungil gadisnya.
ga mau di php in ni cerita ak udh bca judulnya udh ok Lit komen2 nya jga kyana seru tpi liat part traktir kpn jdi diem di t4 ak jg dia smpe mna ni cerita di lnjut
maaf ya thor