Karena balas budi, Kailani bersedia mengandung calon bayi dari pria yang sama sekali belum ditemuinya. Namun, apa jadinya jika pria tersebut ternyata adalah sang mantan terindah yang ditinggalkannya karena tuntutan sebuah keadaan?
Apakah yang akan dilakukan sang pria yang ternyata masih mencintai Kailani dalam diam dan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih berusaha berbohong
Karena si perawat tidak kunjung memberikan jawaban. Kailandra yang sudah tidak sabar, langsung menarik plaster yang masih terbuka separuh jalan tadi dengan kasar. Semakin jelas terlihat di depan mata pria tersebut. Tidak ada sesenti pun goresan yang ada di sana.
"Lalu ini untuk menutupi apa, Kar?" Kailandra melemparkan perban tepat dimuka Karina.
Perawat tidak kalah bingung. Seperti biasa saat shift pagi, Ia hanya melakukan tugasnya untuk mengontrol kondisi pasien yang baru saja melahirkan. Namun, baru kali ini dia mengalami pasien seperti Karina. Rupanya perawat tersebut tidak memperhatikan catatan kecil di samping tulisan data pasien, yang menyatakan bahwa pasien atas nama Karina akan dikontrol langsung oleh Dokter Khalid.
"Tinggalkan kami berdua, Sus," perintah Kailandra dengan suara marah yang masih tertahan.
Karina perlahan mengubah posisi badannya. Perempuan itu kini duduk di atas brankar dengan raut wajah yang tampak sedang dibuat setenang mungkin. Beberapa hal sudah terlintas di kepalanya.
"Kalau pun semua harus terungkap hari ini, aku tidak mau Kailani terlihat seperti pahlawan. Kita lihat saja nanti," batin Karina.
"Aku menunggu penjelasannya, Kar. Kebohongan apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Kailandra dengan intonasi suara dan tatapan yang sama-sama dinginnya.
Karina menarik napas dalam, lalu perlahan memejamkan matanya. Membulatkan tekad untuk melontarkan cerita karangan yang mendadak terlintas di pikirannya. Dalam keadaan tertekan, otak licik perempuan tersebut ternyata masih saja bekerja maksimal.
"Apa yang aku lakukan sekarang hanya untuk mempertahankan hubungan kita, Kai. Maaf, aku memang berbohong. Tidak mengapa kamu menganggapku jahat karena sudah membodohimu sejauh ini." Karina menatap sendu pada Kailandra.
"Dari awal pernikahan kita, kehadiran seorang anak jelas bukanlah hal yang menjadi pembahasan kita. Lagipula, mana bisa perempuan hamil, jika suaminya hanya minta disentuh dengan tangan? Enam tahun bukan waktu yang singkat, Kai. Bagiku, waktu itu sudah cukup untuk membuatku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Meski aku tidak pernah kamu sentuh, meski kehidupan kita tidak ada senormal orang lain. Nyatanya aku bisa jatuh cinta sama kamu, Kai." Karina kembali menjeda ceritanya. Tatapan mata dan suaranya terkesan mengiba.
"Saat mama memintamu menikah lagi jika aku tidak segera hamil, jujur aku panik, Kai. Permintaan mama sangat berat bagiku. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena rahimku bermasalah. Jauh sebelum aku menikah sama kamu, aku sudah divonis dokter tidak mungkin untuk mengandung. Ingin rasanya aku jujur saat itu. Tapi apa kamu peduli? Mau seperti apa pun aku, tentu kamu tidak peduli. Bagimu aku hanya istri status. Yang menyempurnakan hidupmu di mata orang-orang terutama di depan Kailani."
Kailandra membalas tatapan Karina dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. "Aku tidak butuh alasan apapun, Kar. Jangan berkata seolah pernikahan kita hanya menguntungkan diriku saja. Kamu pun menikahiku demi status. Berpisah denganmu, bukan hal besar bagiku. Aku bisa mencari perempuan lain yang bisa menggantikan posisi sebagai istri yang memang tidak akan pernah seutuhnya. Tapi kebohongan sebesar ini, tidak akan termaafkan," tegas Kailandra.
"Kai ... aku memang berbohong soal hamil dan melahirkan. Tapi baby twins memang anak kita berdua, Kai. Aku hanya meminjam rahim perempuan lain." Karina beringsut turun dari ranjangnya. Memegang pergelangan tangan Kailandra yang baru saja memunggunginya karena jengah.
"Benarkah?" Kailandra menyingkirkan tangan Karina dari tangannya.
"Benar, Kai. Aku tidak bohong. Kamu boleh bertanya pada Dokter Khalid." Karina terus berusaha meyakinkan Kailandra.
"Aku meminjam rahim Kailani. Karena kebetulan, dia sedang mengalami masalah yang cukup besar. Perselingkuhan Kalvin dengan Kailani, membuat Keysa menarik semua fasilitas pribadi Kalvin dan membuat pria itu dipecat sebagai CEO. Mereka yang biasa hidup berfoya-foya, seketika mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang. Aku yang sedang kebingungan, tidak sengaja bertemu dengan Kailani dan menceritakan kegundahanku saat itu. Dan terjadilah kesepakatan antara kami."
Kailandra menatap sinis pada Karina, tidak sepatah kata pun yang ingin diucapkan. Baginya, tidak semudah itu kembali percaya---setelah seseorang melakukan kebohongan yang begitu besar. Terlalu menanggapi atau bertanya pada yang bersangkutan, hanya akan menambah informasi lain yang malah membuatnya harus menumpuk keraguan. Seseorang hanya mempunyai kesempatan sekali untuk mendapatkan kepercayaan dari Kailandra. Tidak ada yang kedua apalagi ketiga. Tatapan dan rayuan Karina, tidak akan pernah cukup untuk meluluhkan Kailandra. Kali ini, dia akan memastikan Karina akan membayar mahal apa yang sudah dilakukan.
"Percaya sama aku, Kai. Baby twins memang anak kita. Benih dari kita berdua. Kailani hanya menyewakan rahim dan melahirkan anak kita. Aku mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk ini. Aku memang salah. Semua ini demi kamu, Kai. Andai aku tahu kalau Kailani itu mantan kamu, jelas aku tidak akan menerima tawarannya." Karina tidak putus asa untuk mengiba.
Kailandra mengedikkan bahunya sembari mencebikkan bibir. Seakan ingin menyiratkan bahwa dia sama sekali tidak percaya atau tidak peduli dengan penjelasan yang sudah diberikan oleh Karina. Sesaat kemudian, pria tersebut meninggalkan ruangan dengan langkah pasti menuju sebuah ruangan seseorang yang justru sudah tidak sabar ingin dicecarnya. Karina, akan mendapatkan hukuman, setelah dia menyelesaikan urusan satu ini.
"Apa yang membuatmu berubah seperti ini, Kai? Kenapa uang begitu membutakanmu? Berapa Karina membayarmu? Aku akan memberikanmu lebih, tapi pergi jauh-jauh dari hidupku!" Kailandra mengatakannya dengan tegas sesaat setelah dia memasuki ruang rawat Kailani.
"Bang," lirih Kailani yang sama sekali tidak menduga kehadiran Kailandra di depan matanya. Perempuan itu pun berusaha sedikit membuat bantalan brankar sedikit tinggi.
"Kenapa? Kaget karena aku tahu kebohongan yang kalian tutupi selama ini? Sepenting itukah uang bagimu? Sampai rahim pun kamu sewakan semacam menyewakan sebuah barang?" Kailandra kembali bertanya dengan nada sinis.
"Sewa apa, Bang?" tanya Kailani. Dia bukannya tidak paham arah pembicaraan Kailandra. Namun, Kailani hanya ingin memastikan dia tidak salah tangkap dengan ucapan sekaligus tuduhan sepihak dari Kailandra.
"Jangan pura-pura tidak paham, Kai. Berapa uang yang sudah kamu dapatkan dari kamu mengandung dan melahirkan anak kami?" tanya Kailandra sekali lagi.
Kailani menarik napas panjang. Sesaat kemudian, senyumnya mengembang tipis. Tatapannya lembut namun begitu berani. Sedikit pun perempuan tersebut tidak gemetaran apalagi gentar dengan hujaman pandangan sinis sekaligus menyelidik dari Kailandra.
"Sudah sekian lama kita tidak sedekat ini, Bang. Aku pikir, waktu bisa membuatmu untuk berpikir lebih bijaksana dan matang. Ternyata kamu yang sekarang, tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Urusan hati, selalu berhasil menjauhkanmu dari logika dan akal sehat. Sampai di titik ini, bahkan kamu menganggap aku perempuan yang mendewakan uang."
"Bukankah memang benar? Selain uang, memang apa lagi yang ada dipikiranmu? Pasti sekarang kamu menyesal sudah melepas Kenzo demi Kalvin yang nyatanya tidak punya apa-apa." Kailandra menarik ujung bibir kirinya ke atas. Jelas pria tersebut sedang ingin merendahkan Kailani.
"Siapkan hatimu untuk mendengar dan melihat kebenaran lebih jauh, Bang. Dan jangan pernah mengatakan maaf atau pun terimakasih kepadaku. Sudah terlambat dan aku tidak membutuhkannya."
Kadang pembaca ini membaca untuk menenangkan fikiran tapi karyamu yg hanya STUCK pada 1 huruf boleh bikin pikiran pembaca jadi stress 😔😔😔 & aku salah 1 pembaca yg sekarang sudah stress 😒😒😒
jika hampir disetiap novel kalian kalian pasti hadirkan sosok lelaki lain yang begitu baik dan peduli pada pemeran utama wanita seperti sosok KELVIN, kalian bungkus intaksi mereka dengan embel peduli pada sahabat, menganggap saudara, melindungi orang yang disayang,dll
apakah novelis wanita berani juga hadirkan sosok wanita lain yang baik dan begitu peduli pada sosok pemeran utama pria (suami), dengan embel peduli pada sahabat, dan anggap saudara atau melindungi orang yang disayangi
saat kalian hadirkan sosok kelvin yang begitu tulus dan selalu ada untuk melindungi kailani, berani tidak kalian berlaku adil hadirkan juga wanita lain yang tulus, dan selalu ada untuk melindungi kailandra
karena wanita itu mahluk egois
tidak ada wanita yang boleh menyukai suaminya kalau ada wanita itu wanita pelakor
tapi mereka akan kebaperan bila ada pria lain yang menyukainya dan akan menganggap pria itu pria baik2 dan tulus