Abraham dimitri mencintai sahabat semasa remaja dalam diam. Namun, ia memilih pergi menjauh, dan merelakan saat gadis itu memilih lelaki lain sebagai pasangan hidupnya. Ia pergi membawa cinta yang harus pupus bahkan sebelum sempat di ungkapkan. Ia pun mulai kembali menata hidupnya bersama wanita pilihan kedua orang tuanya, sayangnya semua tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan di rumah membuatnya harus kembali menelan pil pahit kehilangan untuk kedua kalinya. Ia terpuruk, di hantui rasa bersalah atas kematian sang istri hingga memutuskan untuk pergi jauh bahkan saat putranya masih bayi. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan Shaqina, cinta pertamanya. Kehidupan Shaqina yang jauh dari ekspektasinya membuatnya memutuskan untuk kembali menetap dan mencoba memperjuangkan cintanya yang belum usai. Sayangnya keinginannya bertentangan dengan sang ibu yang menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya. Akankah Abraham berhasil menyelesaikan kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elasukma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Ada Yang Ingin Kau Tanyakan?
Percakapan dengan Dewi kemarin membuat Shaqina tak bisa tidur semalaman alhasil siang ini ia di landa kantuk yang luar biasa.
"Tidurin bentar, Mbak. Gak bakal bener di paksain buat kerja juga, " cetus Dewi.
Qina menggeleng, mini market sedang ramai siang ini, mereka bahkan harus bergiliran untuk sekedar menyantap makan siang jadi bagaimana mungkin dia akan tega membiarkan Dewi melayani para pembeli sendirian. Lihatlah, bahkan saat mereka masih berdua saja antrian di meja kasir cukup panjang apalagi jika Dewi menanganinya sendirian.
Mini market ini memang tak terlalu besar tapi cukup komplit, mulai dari kebutuhan pokok hingga camilan, bahkan peralatan mandi semuanya ada di sini. Dan di tanggal muda seperti ini akan banyak pembeli yang datang untuk membeli kebutuhan bulanan mereka, apalagi tempat ini cukup jauh dari pasar.
Pukul tiga sore jam kerja Shaqina selesai, ia sudah bersiap untuk pulang ketika seorang lelaki mengenakan jaket boomber masuk ke dalam mini market.
"Wahh Mbak Qina udah ada yang jemput aja nih," ucap Dewi menggoda Shaqina.
"Jam kerja kamu, sudah selesai, kan, Qi?"
"Udah Mas, itu Mbak Qina udah siap buat pulang." Dewi yang menjawab seraya menunjuk kearah Qina, membuat Abraham tersenyum melihat tingkah gadis itu. "Jangan lupa di ajak makan dulu, ya Mas. Mbak Qina dari kemarin cuman makan dikit, soalnya terlalu sibuk melamun," sambung gadis itu membuat bola mata Qina membola menatapnya.
"ngelamunin apa memang? " tanya Abraham penasaran.
"Udah gak usah dengerin Dewi," sergah Qina. "Kamu bukannya lagi di luar kota? Kok udah di sini aja?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Aku baru balik, terus langsung ke sini jemput kamu,"
Ucapan Abraham membuat gadis di belakang meja kasir semakin gencar menggoda mereka berdua, "Wahhh udah kebelet kangen, ya Mas? Jadinya langsung ke sini biar bisa lepas kangen sama Mbak Qina."
"Dewi!" pekik Shaqina sambil melotot kesal tapi gadis itu malah terkikik.
"Bercanda, Mbak." ucapnya sambil nyengir kuda.
Sedang Abraham hanya terkekeh melihat reaksi Shaqina.
"Udah ah aku mau balik dulu, Assalammualaikum. "
"waalaikumussalam, jangan lupa tanyain ke Mas Abraham soal pembicaraan kita kemarin, Mbak. Biar kamu bisa tidur nyenyak malam ini," cetus Dewi membuat Qina kesal.
"Nih anak minta di cubit, ya,"
Dewi tertawa seraya menjauhi Shaqina. Qina ingin mengejar tapi lengan Abraham menghalanginya, "Kenapa jadi kejar-kejaran kayak anak kecil, sih? Ayuk pulang anak-anak pasti udah nunggu."
Shaqina menurut, ia mencebikkan mulutnya pada Dewi yang masih terkikik penuh kemenangan. Kalau jiwa jahilnya sudah keluar, gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu memang sangat menyebalkan.
"Kita pulang dulu ya Wi," pamit Abraham pada gadis itu.
"Iya Mas, jangan lupa bawa Mbak Qina makan dulu," pesan Dewi.
"Siap Wi. Kau jangan khawatir, aku akan pastikan temanmu pulang dengan perut yang kenyang," timpal Abraham yang membuat Shaqina mencebik.
🌺🌺🌺🌺
Dan Abraham benar-benar menunaikan janjinya, pria itu memaksanya masuk ke sebuah restoran dan memesankan makanan kesukaannya. "Harusnya kamu gak perlu melakukan ini, Bram," keluh Qina.
"Aku sudah janji pada Dewi untuk memastikan kau makan dengan benar, Qi." ucap pria itu. "Lagipula perutku juga lapar, dan semuanya sudah terlanjur di pesan jadi sayang kalau tidak di makan."
Qina menghela napasnya, lebih baik ia menurut saja, berdebat dengan Abraham hanya akan menguras tenaganya dan ia tak akan pernah menang melawan lelaki itu.
"Bagaimana kabar anak-anak?" tanya lelaki itu di sela makan mereka.
"Mereka baik, mereka selalu menanyakanmu, sepertinya mereka merindukanmu."
"Ahhh Aku juga sangat merindukan mereka," ucap lelaki itu. "Lalu bagaimana dengan kelanjutan persidangan? Kapan sidang lanjutannya?"
"Sejauh ini semua sesuai dengan harapanku, kalau tak ada halangan minggu depan sidang akan di lanjutkan."
Abraham tersenyum mendengar penuturan Qina. "Qi, aku boleh tanya sesuatu?"
Qina mengangguk sebagai jawabannya.
"Memangnya apa yang kamu bicarakan dengan Dewi sampai membuat tidurmu tak nyenyak?"
Uhuk... Uhukkk. Kali ini Qina tersedak hingga membuat Abraham panik dan memberikan segelas air padanya. "Kau baik-baik saja, Qi?"
Qina meminum air yang di berikan Abraham padanya, gadis itu mengibaskan tangan sebagai pertanda kalau dia baik-baik saja.
"Aku hanya bertanya tapi kau sampai tersedak seperti itu, " cibir Abraham. "Jadi penasaran apa yang kalian bicarakan. "
Qina menggeleng, "Bukan apa-apa! Kau tak perlu memikirkannya, lagipula ini tak ada hubungannya denganmu," cetus wanita itu.
Abraham mengangkat bahunya, "Aku hanya penasaran saja, " ucap lelaki itu. "Tapi jika itu tak ada hubunganya denganku, kenapa Dewi menyuruhmu menanyakannya padaku?"
Qina membisu, ia tak tau harus menjawab seperti apa. Ataukah ia lakukan saja apa yang Dewi katakan? Haruskah ia menanyakan bagaimana perasaan Abraham kepadanya?
Shaqina menatap lelaki di hadapannya, ada ragu tapi rasa penasarannya juga besar. Tanpa di sangka lelaki itu juga tengah memperhatikannya hingga pandangan keduanya bertemu, Qina menunduk, malu rasanya tertangkap basah saat menatap lelaki itu.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku, Qi?" tanya lelaki itu membuatnya menoleh.
"Kau bisa tanyakan apapun kepadaku jika itu bisa membuatmu tenang."
Shaqina kembali menatap lelaki yang tengah memperhatikannya itu, haruskah ia benar-benar menanyakan perasaan Abraham padanya? Ahhhh Qina menggeleng keras, itu hal yang sangat konyol! Apapun jawaban Abraham nantinya sudah pasti akan merubah hubungan mereka, tidak!Qina tak mau itu terjadi, bagaimanapun perasaan Abraham padanya biarlah menjadi sebuah rahasia, ia tak ingin ada yang berubah dari persahabatan mereka, ia lebih nyakan seperti ini.
j
Sehat selalu author semangat berkarya.
Good job 😘😘