Sejak Ayahnya meninggal 2 tahun lalu, ia hidup berdua dengan ibunya. Dengan uang peninggalan Ayahnya, ia masih bisa bertahan hidup. Sampai pada suatu hari Ia menemukan tawaran di internet untuk menjadi "Rahim Pengganti", dengan bayaran 1Miliar.
Diusia yang masih sangat muda, 19 tahun Lea Shen memutuskan untuk ikut dalam pemilihan rahim pengganti.
Pada saat waktunya melahirkan, tanpa sepengetahuan pihak pertama Lea ternyata mengandung Anak kembar dan dokter kandungan yang menangani persalinan Lea, membantunya untuk menyembunyikan salah satu bayinya.
Setelah beberapa bulan melahirkan, Lea Shen menjalin hubungan dengan Presdir Muda yang tampan. Tidak disangka, pria itu adalah Ayah bologis anaknya.
Akankah Ibu dan Anak itu bisa berkumpul kembali?
(Ini adalah perjalanan cinta Lea dan Willy)
Follow IG author: @rymatusya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan
Willy yang sedang berdiri berhadapan dengan Ayuna sambil menundukan kepala, berkata kepada Ayuna.
"Apa tujuan mu menyetujui perjodohan ini?" jarak mereka sangat dengat.
Ayuna sedikit takut, ia terus melangkah mundur sampai ke dinding dan tidak ada jalan mundur.
Willy terus mendekatinya dan mengangkat satu tangannya menahan dirinya di tembok dan satu tangannya lagi dimasukan kedalam kantong celana dengan gaya kerennya.
Ia menunduk, terus mengintrogasi wanita yang ada dihadapannya.
"Kamu juga tau, aku sudah memiliki seorang wanita dan tidak mungkin menikah denganmu" Willy terus berkata.
"Willy, dari dulu aku sangat menyukaimu. Saat ini ayahku dan ayahmu menjodohkan kita aku tidak mungkin menolaknya" jawab Ayuna yakin.
"Karena kamu menyukaiku? Tapi aku tidak menyukaimu!!!" Ucap Willy tegas. Ada nada mengejek disana.
"Tidak apa-apa, aku akan membuat kamu mencintaiku" Ayuna menantang.
Willy terprovokasi, urat biru samar mulai terlihat di dahinya, ia mencengkram dagu Ayuna sampai Ayuna meringis kesakitan, Willy lanjut berkata
"Atas dasar apa kamu mengatakan ini? Sampai mati pun aku tidak akan mencintaimu"
Ayuna meringis kesakitan "Willy... Lepaskan. Sakit!"
Alih-alih melepaskan, Willy malah menambah tenaganya. Sedikit lagi mungkin rahang Ayuna akan hancur berkeping-keping.
Ia berbisik diwajahnya
"Ini balasan kesakitan kekasihku karena kehadiranmu!"
Posisi mereka berdua sangat dekat, seperti Willy ingin mencium Ayuna.
Sebelum Ayuna menjawab, pintu kantor itu terbuka dengan sangat kuat sampai menimbulakn suara benturan yang keras.
Terdengan jeritan seorang wanita
"Willyyyyyy.... "
Melihat wanita itu adalah Lea, ia buru-buru melepaskan tangannya dari wajah merah Ayuna.
Saat ini Ayuna benar-benar merasa tertolong. Sambil menahan sakit di dagunya, ia menatap penuh tanya pada Wanita cantik didepan pintu
"Apa itu yang namanya Lea? Sungguh cantik, pantas saja Willy rela menyakitiku!" gumamnya dalam hati, sambil mengelus dagunya yang sakit.
"Lea.... "
Willy berkata dengan gugup. Tidak menyangka Lea akan masuk dalam keadaan seperti ini.
Lea yang marah mengepalkan tinjunya, berjalan dengan nafas berapi-api. Ia terus berjalan sampai dihadapan Willy dan mengangkat tangan kanannya, tangan melayang tepat di pipi kiri Willy.
plakkkkkk....
Suara tamparan bergema diruangan itu.
Willy kaget, matanya terpejam sesaat merasakan sakit dan panasnya bekas tamparan itu.
Ayuna bergetar... Takut akan dirinya terlibat, ia buru-buru keluar dari ruang kerja Willy. Rasa sakit dagunya masih terasa, ia tidak ingin Lea berbuat anarkis lagi padanya, melampiaskan amarahnya padanya sebagai pelakor.
Diruang itu hanya tinggal mereka berdua.
Hawa panas menyebar dengan sangat cepat. Seolah kabut asap telah menutupi pandangan matanya, Lea menangis dengan histeris. Sakit hati yang ia tahan dari tadi, pecah saat ini.
Dengan suara yang bergetar ditemani urai air mata berjatuhan dipipi, Lea memaki
"Brengsek... Willy kamu brengsek... Kamu pria brengsek yang ada dimuka bumi ini" sesekali terjeda oleh tangisan histerisnya,
Lea lanjut berkat
"Kamu mempermainkan ku, bersikap manis padaku, memberikan kenangan indah padaku dan sekarang akan menikah dengan wanita lain... Apa kamu masih punya hati?"
Lea terus menangis tanpa henti. Ingin melampiasakan sakit hatinya, ia meninju dada Willy meninjunya dan terus meninju sampai tenaganya habis terkuras.
"Brengsekkk... kamu brengsek... Aku benci kamu!" Lea terus menangis.
Willy tidak mengatakan sepatah katapun, ia menerima pukulan itu, menerimanya, membiarkan wanitanya melampiaskan emosi kepadanya.
Hati Willy tersayat pedih melihat wanita ini menangis, seolah bisa merasakan kepedihan dihati Lea, Willy membawa Lea kedalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan berbisik pelan ditelinganya
"Maaf... Lea" hanya dua kata yang ia ucapkan.
Perlahan matanya memerah, rasa tercekik dileher mulai ia rasakan, air mata berputar terus dimatanya.
"Willy... aku benci kamu!" Lea terus berteriak sambil menangis didalam pelukan itu.
"Lea maafkan aku, ini rencana ayahku menjodohkanku dengan Ayuna. Tapi kamu tidak usah khawatir aku akan menyelesaikannya" ucap Willy meyakinkan.
"Tapi tadi kamu mau menciumnya... Brengsek...." ia memukul lagi dada bidang Willy.
Willy berkata dengan nada lembut
"Pukul aku... Pukul aku untuk melampiaskan semua kekesalanmu, aku memang pantas kamu pukul!"
"tapi... Jangan menyerah akan diriku, oke? Aku akan menyelesaikannya" bujuk Willy.
.
Lea sudah cape menangis dan memukul, ia menghapus air mata yang membasahi pipinya. Sejenak ia berfikir dengan fikiran jernih, satu hal yang ia ketahui Willy dijodohkan ayahnya.
Lea tersadar... Dirinya tidak cukup baik bagi Willy.
Ia mendongak dan menatap mata hitam itu, lalu berkata
"Willy... Mungkin bagi keluargamu aku memang tidak cukup baik, aku yang memiliki anak tanpa ayah hanya mencoreng nama besar keluargamu sampai kapanpun itu tidak bisa di perbaiki. Mungkin semakin aku bertahan disini akan semakin menyakitiku. Biarkan rasa sakit ini berakhir sampai disini. Willy... Aku merelakanmu pergi"
Lea mundur menjauh dari hadapan Willy.
"Kita... Akhiri ini sekarang" ucap Lea seraya pergi meninggalkan ruang kerja Willy.
"Ya... Mungkin ini yang terbaik untukku, aku dan Willy memang tidak cocok untuk bersatu, status kita yang berbeda. Hanya akan menyakitiku pada akhirnya"
Lea berjalan sambil berbicara dalam hati. Ia mencoba merelakan cintanya. Manghapus semua kenangan indah dengannya.
Willy hanya bisa berdiri. Ia tidak bisa mengejar dan menahannya saat ini.
"Lea... Biarkan aku menyelesaikan ini, setelah itu barulah aku akan membawamu kembali kepelukanku... Tunggulah!!!" ucap Willy dalam hati.
Lea mencoba untuk tenang, berjalan dengan sempoyongan sambil melamun.
Menatap bayangan dirinya dicermin didalam Lift, hanya ada wanita yang kusut, rambut berantakan dengan sedikit basah oleh keringat, mata yang membengkak dan pipi yang merah. Jelas itu bukan dirinya yang biasa.
Tapi ia tidak perduli. Sekusut apapun penampilannya saat ini tidak ada artinya lagi, toh cintanya sudah pergi.
Ia berjalan menuju tempat parkir. Masuk ke mobil dan bersandar disana. Memejamkan mata yang sedikit terasa panas. Ingin rasanya tidur dan tidak bangun lagi.
Dering ponsel membangunkan nya dari tidur singkatnya.
Ia mengangkatnya dan berkata
"Halo... Ya Emily"
Emily dengan panik bertanya
"Lea sekarang kamu dimana?"
"Aku di tempat parkir kantor Willy" jawabnya dengan malas.
Emily: "apa kalian sudah baikan" Emily merasa lega.
"Tidak... Aku mengakhirinya" jawab Lea dengan berat.
"Aapppaaa?" Emily kaget mendengar jawaban Lea.
Masih dengan nada malas Lea berkata
"Temui aku di FanaKlub"
Klik....
Lea mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Emily.
*
FanaKlub.
Lea duduk sendiri di pojok ruangan, sesekali meneguk anggur yang ada didepannya. Kesendiriannya saat ini membuat ia lebih tenang.
Anggur yang mengalir ditenggorokannya seolah menjernihkan fikiran yang keruh dan ia sudah agak mabuk sekarang.
Sampai ia di kagetkan dengan kedatangan Emily yang tiba-tiba menepuk kedua pundaknya sambil berkata
"Wanita Gila... Mau minum sampai mati?"
Emily melihat satu botol anggur itu hanya sisa sedikit.
Kalau dirinya tidak datang kesini mungkin Lea akan mati disini karena kebanyakan minum.
Lea mendongak dan berkata dengan suara mabuknya.
"Biarkan aku mati disini!" sambil menghempaskan tangan Emily. Sepertinya ia semakin mabuk.
"Lea kamu gila... Demi dia kamu rela mati? Sungguh konyol" Emily marah mendengarnya.
"Demi dia aku rela matiiiiiiii" omongannya sudah tidak terkontrol lagi. Lea menuangkan sisa anggur ke gelasnya dan meminumnya.
Emily semakin jengkel melihatnya
"Leaaa sudah hentikan... Kamu sudah mabuk"
"Aku tidak mabuk... Aku mabuk cinta... Hahahhahaha"
Lea sudah seperti orang yang hilang akal. Terus tertawa sambil mengelurkan air mata.
Emily merasa sedih melihat Lea seperti ini.
Apa mungkin seburuk ini? Perpisahannya dengan Willy membuatnya terpuruk seperti ini?