NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:201.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Rahmat Kurniawan

Dewa Api dan Dewa Air di berikan tugas oleh Sang Raja Alam untuk mencari 12 Kekuatan yang tersebar di berbagai penjuru semesta akibat kecerobohan Sang Elemen. Tujuan mereka mengumpulkan kekuatan itu adalah untuk menghentikan Raja dan Ratu Iblis dalam menguasai alam semesta.

Akankah mereka mampu menemukan kristal elemen yang tersebar dan mengalahkan Raja dan Ratu Iblis serta menyelamatkan Alam Semesta?

ikuti kisahnya di 'Reinkarnasi Dua Dewa'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 25. Malam Sebelum Final

Xiao Wang tersadar dari pingsannya. Perlahan ia membuka kedua matanya, pandangannya mengitari seisi ruangan yang nampak asing di matanya, dikarenakan otaknya belum berfungsi sepenuhnya.

"Diaman aku?" Xiao Wang bangkit mengambil posisi duduk sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa begitu sakit.

"Wang'er, kau sudah sadar."

"Syukurlah Wang'er, akhirnya kau sadar juga. Ibumu dari tadi mengkhawatirkan kau. Ia mondar-mandir kesana-kemari duduk berdiri, menunggu kau sadar," ucap Xiao Meng menggoda Yan Yu.

Yan Yu yang mendengar perkataan suaminya, langsung mencubit pinggang Xiao Meng.

Xiao Wang yang melihat sikap keduanya tersenyum kecil. Sedangkan Xiao Yin yang saat itu juga ada di situ, merasa bingung. Ia tak mengerti mengapa Bibinya itu mencubit pinggang pamannya.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka. Karena hari saat itu sudah menunjukan tanda-tanda dimana raja siang akan kembali ke peraduannya.

Kegelapan pun nampak telah mulai menyelimuti bumi, tinggal menunggu Sang Dewi malam yang akan menerangi bumi menggantikan posisi raja siang.

Ketika mereka keluar, mereka berpapasan dengan Lu Wanqiang yang saat itu juga telah keluar. Namun ia terlihat sendirian sedang kakeknya tak nampak.

"Eeh, nak Lu. Kemana perginya kakekmu, kenapa kau sendirian?" tanya Xiao Liu.

Lu Wanqiang menanggapi itu dengan senyum yang dibuat-buat. Perasaannya mulai lain, namun ia berusaha sekeras mungkin untuk menyembunyikannya.

"Eeh, ketua. Aku juga tak tau beliau sedang di mana. Mungkin ia sedang sibuk, sehingga tak sempat untuk menemui ku," racau Lu Wanqiang sambil membungkuk memberi hormat.

"Owh, seperti itu. Kalau begitu, kau pulanglah bersama kami!" Ajak Xiao Liu.

"Tak usah Ketua. Aku bisa pulang sendiri." Lu Wanqiang menolak ajakan tersebut dengan halus.

"Tak perlu sungkan nak Lu. To kediamanmu dengan kami searah kan."

"Baiklah."

Mereka pun berjalan bersama menuju kediaman mereka. Di sepanjang perjalanan, Xiao Wang dan Lu Wanqiang sama-sama diam. Keduanya nampak larut dalam pikirannya masing-masing.

Xiao Wang sesekali akan melirik lu Wanqiang yang saat itu berjalan di ujung dekat kakeknya, sedang ia berjalan di tengah dengan ayah dan Xiao Yin di sampingnya.

Pikirannya kacau, perasaannya pun mulai bertengkar di benaknya. (Ya. di benak Ya bukan di hatinya. Karena sebenarnya otak lah menciptakan perasaan bukannya hati.)

Ia bingung apakah ia harus membenci Lu Wanqiang, ataukah ia harus memaafkannya.

Di sisi lain ia merasa kasihan pada pemuda ini. Namun disisi lain, pemuda tersebut jugalah yang hampir saja membunuhnya.

Sementara itu Lu Wanqiang sendiri merasa iri dengan keluarga Xiao Wang. Karena sejak kecil ia tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga.

Sejak kecil ia telah hidup bersama kakeknya. Sedang kedua orangtuanya entah kemana, ia tak tau. Bahkan kesehariannya ia harus mendapat perkataan pedas yang menusuk hati dari kakeknya.

Saat ini, ia sedang mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi perkataan Kakeknya sebentar. Ia sangat yakin dengan itu, Bahkan tidak menutup kemungkinan kakeknya akan memukulinya karena ia telah kalah dari cucu saingannya.

Setelah satu jam berjalan, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Xiao Wang. Xiao Wang, ayah beserta ibunya berbelok arah sedang Xiao Liu, Xiao Yin dan Lu Wanqiang masih melanjutkan perjalanan.

Xiao Yin yang kelelahan akhirnya meminta kakeknya untuk menggendongnya. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Saat itu suasananya telah agak remang, jalanan pun agak gelap. Namun mereka tetap melanjutkan perjalanan walaupun tanpa alat penerang.

setelah setengah jam berjalan, mereka akhirnya sampai di kediaman keluarga Xiao Yin. Xiao Liu juga telah sampai di kediamannya karena rumahnya dan rumah Xiao Yin tak terlalu berjauhan, hanya terpaut beberapa meter.

Lu Wanqiang pun berjalan sendirian. Beberapa saat, ia akhirnya sampai di rumahnya. Saat ia memasuki pekarangan rumah, ia bisa melihat kakeknya yang sedang menatapnya tajam.

Perasaannya mulai tak enak. Namun ia memilih tetap melangkah ke depan. Karena ia yakin, waktu terus saja berlalu, tak akan berhenti ataupun mundur.

Jika nanti ia di hukum oleh kakeknya karena telah membuatnya malu, ia yakin semuanya pasti akan berlalu termakan waktu.

"Lu Wanqiang, kenapa kau ini sangat lemah. Bahkan seorang gadis saja kau tak bisa mengalahkannya." Lu Duanyan langsung melemparinya dengan kata-kata yang tak enak di dengar.

Lu Wanqiang menerima perkataan itu dengan tersenyum kecil sambil menunduk.

"Kau tau, karena dirimu yang lemah, harga diriku jatuh oleh si tua Hai Bao sialan itu. Karena kau aku harus menanggung malu. Bahkan telingaku sampai panas mendengar cibiran dari pria tua sialan itu.."

"..Apakah kau tak bisa seperti Xiao Wang, yang bahkan baru menerobos tahap menengah tingkat 4 saja sudah mampu mengimbangi puncak kultivator tahap menengah tingkat 5. Sedangkan kau? Cihh, dasar tak berguna.

Karena kau tak bisa mengalahkan cucu Hai Bao sialan itu, maka sebagai hukumannya kau harus berlatih sepanjang malam. Aku tak mau tahu, kau harus bisa mengalahkan Xiao Wang besok. Bagaimana pun caranya."

Lu Wanqiang yang mendengar dirinya kembali dibanding-bandingkan dengan Xiao Wang, sangat geram. Ia merasakan dadanya yang panas. Detak jantungnya pun bergerak cepat. Kedua tangannya yang panas terkepal keras.

Lu Duanyan beranjak memasuki rumahnya, beberapa saat ia keluar dengan memegang makanan di tangannya lalu menyerahkannya kepada cucu satu-satunya itu.

Setelah selesai makan, keduanya pun pergi ke halaman belakang rumah untuk berlatih tanding.

Sementara itu di tempat lain, dan masih di sekte Elang Emas. Seorang pria tua beserta seorang gadis cantik nampak sedang bercengkrama di sebuah ruangan makan.

"Yue'er kakek benar-benar bangga kepadamu. Karena kau, setelah sekian lama aku tak pernah menang ketika bersaing dengannya, akhirnya hari ini semua terbalaskan.

Kau tau Yue'er, saat kau mengatakan kata-kata tadi, aku bisa melihat wajahnya yang merah menanggung rasa malu. Jika saja tadi itu tak ada ketua dan para tetua lainnya, mungkin saja aku akan tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang lucu."

Ya, pria tua itu adalah Hai Bao atau orang-orang biasa memanggilnya Pendekar Tubuh Angin. Sedang gadis cantik yang duduk di hadapannya adalah Hai Yue. Mereka sedang merayakan kemenangan Atas Hai Yue yang mengalahkan Lu Wanqiang.

"Yue'er, sebagai rasa terimakasih kakek, kau bisa meminta apa saja yang kau mau, kakek akan memenuhinya."

"Benarkah?" Hai Yue nampak sangat girang.

"Umm."

Hai Yue lantas beranjak dari tempat duduknya, menghampiri kakeknya lalu ia langsung mencium pipi keriput kakeknya.

Kembali di kediaman Lu Wanqiang.

Lu Wanqiang nampak berusaha menangkis setiap serangan kayu yang di lancarkan kakeknya.

Setiap kali ia lengah sedikit saja, ia akan langsung di hantam keras dengan pedang kayu.

"Fokus Wan'er! Kalau kau seperti ini terus, kau tak akan bisa mengalahkan Xiao Wang."

Lu Wanqiang kembali mendapatkan hantaman dari pedang kayu Lu Duanyan.

Lu Duanyan menghentikan tindakannya. "Wan'er, kau berlatihlah sendiri, aku mau beristirahat. ingat jangan beristirahat sebelum sepertiga malam." Lalu ia melangkah meninggalkan Lu Wanqiang sendiri.

Lu Wanqiang semakin panas mendengar itu. ia lalu melapisi tangannya dengan tanah, lalu meninju pohon di sampingnya hingga membuatnya rubuh.

Setelahnya ia mengambil sesuatu dari balik bajunya, ia mengepal keras benda tersebut. "Xiao Wang!"

1
BOEDI
mantap
BOEDI
belum ada kelanjutannya
Indah Hidayat
dicari kok tdk ada novel tsb thor???
Indah Hidayat
adegan kurang menantang hanya tanding lomba saja.
Indah Hidayat
bagus sich hanya byk adegan terlalu remeh dan panj
Indah Hidayat
jadi membosankan hanya latihan dgn temannya.
Indah Hidayat
pasukan mayat hidup
Indah Hidayat
si mc tolol artinya tdk cerdas
Indah Hidayat
aduh kok si mc tololl tingkat dewa
Indah Hidayat
mc nya ada 2 tapi si thor pilih kasih dlm menceritrakannya
Indah Hidayat
agak aneh anak umur 7 th di ijinkan pergi berkelana
Indah Hidayat
bocil.7 th si jadi kan mc ...begitulah otaknya lelet tqpi urusan pacaran kok cerdas ya...itu otaknya eror
Indah Hidayat
agak tdk masuk akal anak umur 5 - 6 th kok sdh tahu pacaran ??? apa si thor waktu usia 6 th sdh mulai melirik bocil 5 th ????
Indah Hidayat
lha yg akan menysuk jantung si mc kok tdk diapa2kan?
Indah Hidayat
bagus ide ceritranya
Indah Hidayat
si thor tdk teliti, nama chen li ketuker dgn xiao wang terus.
Indah Hidayat
agak aneh bocil usia 6 th kok tahu mencium
Indah Hidayat
ada 2 yg reinkarnasi?
Mia Sagitarius
payah semua..huh..novel apaan nih..sampah!!!
Mia Sagitarius
memang dungu dan bodh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!