NovelToon NovelToon
The Novelist

The Novelist

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.

Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.

Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.

Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.

Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Nama, Seribu Rahasia

"Gimana, Njas?" tanya Arga pada Anjas via sambungan telepon.

"Gue nemu satu nama yang sepertinya berkaitan dengan terduga korban selamat tabrak lari itu," kata Anjas.

"Satu nama?" tanya Arga dengan mengerutkan kedua alisnya.

"Dr. Maya Wijaya. Dia seorang psikiater di Klinik Psikiatri Sentra Jiwa," kata Anjas.

Arga menaikkan kedua alisnya. Matanya membulat mendengar satu nama yang Anjas sebutkan. Dia terdiam sesaat.

"Ga? Lo denger gue?"

"Dokter Maya?" tanya Arga.

"Lo kenal?" tanya Anjas.

"Gue abis dari ruang konsultasinya tadi sore. Kebetulan arah penyelidikan gue mengarah ke dia," kata Arga.

"Serius? Lo dapet apa?"

"Dia jadi nama yang gue curigai sebagai orang yang masuk ke ruang kontrol buat lihat blind spot dari kamera pengawas," kata Arga.

"Blind spot? Lo nemu hal aneh dari rekaman CCTV?" tanya Anjas.

"Hm. Dan lagi, mobil yang lo minta selidiki. Pemilik pertama mobil itu ternyata mantan suami korban kedua pembunuhan dua kosong lima," kata Arga.

"Mantan suami? Jadi dia punya motif?"

"Mungkin. Alibinya bersih saat pembunuhan kedua terjadi. Tapi..."

Arga ragu-ragu.

"Tapi?"

"Ada hal yang bikin gue nggak bisa berhenti curiga sama dia," kata Arga.

"Menurut lo... dia nyembunyiin sesuatu?" tanya Anjas.

"Sepertinya,"

"Dia cukup cerdik untuk nggak buka mulut. Jawabannya selalu aman dan masuk akal," kata Arga.

Arga dapat mendengar Anjas menghela napas panjang.

"Sepertinya kasus ini nggak sesederhana kelihatannya," komentar Anjas. Arga menarik napas dalam-dalam.

"Kabari gue kalo lo dapet latar belakang Dokter Maya. Gue juga bakal usaha selidiki dari sini," kata Anjas lalu menutup teleponnya.

Arga menatap layar ponselnya yang sudah mati lalu menatap rumah Dr. Ardian di depannya. Anjas bilang Dr. Maya ada kaitannya dengan terduga korban selamat dari tabrak lari sepuluh tahun yang lalu.

"Ger," panggil Arga.

"Ya, Pak,"

"Semoga apa yang kita cari ada di dalam sana," kata Arga sambil menatap tajam ke arah rumah Dr. Ardian.

Mata Gerry mengikuti kemana mata Arga menatap.

"Semoga kita tidak salah jalan, Pak," kata Gerry.

"Kalau salah..."

Arga mencengkeram kemudi erat-erat.

'Kita cari jalan lain,'

***

Maya kembali menatap ke arah Misty, memastikan Misty benar-benar tenggelam dalam novel yang sedang ditulisnya. Maya melihat jari-jemari Misty mulai menari di atas keyboard. Maya kembali menatap naskah di atas meja. Dia mengulurkan tangannya perlahan ke arah The Novelist.

"Jangan sentuh itu, Kak," kata Misty dengan nada dingin.

Tangan Maya seketika berhenti tepat saat ujung jarinya tinggal beberapa senti di atas The Novelist. Maya menoleh ke arah Misty yang masih fokus dengan laptopnya.

"Jangan sentuh," kata Misty lagi dengan nada yang masih dingin sambil masih fokus pada laptopnya.

Maya menegakkan tubuhnya.

"Memangnya... ini bukan novel barumu?" tanya Maya. Misty berhenti mengetik di laptopnya lalu menatap Maya.

"Dulu iya," kata Misty. Maya mengernyit.

"Dulu?"

Misty mengangguk.

"Sekarang?" tanya Maya. Misty menggelengkan kepalanya.

"Entah," jawab Misty.

Maya melihat wajah Misty yang semula cerah karena Anjas berubah mendung hanya karena membahas naskah di atas meja ruang tamu itu.

Maya mendekat ke arah Misty. Dia mengusap kedua bahu Misty dengan lembut.

"Udah malem. Kamu butuh istirahat," kata Maya.

Misty kembali menatap layar laptopnya.

"Besok biar aku yang telepon Bang Alex," kata Maya menenangkan pikiran Misty dari kejaran deadline. Misty menatap Maya lalu tersenyum tipis.

"Makasih, Kak," ucap Misty sambil menutup laptopnya. Maya tersenyum.

Misty berjalan ke kamarnya ditemani Maya. Saat melewati ruang tamu, Maya melirik ke arah The Novelist dengan tatapan dingin dan tajam.

'Aku kira... dia akan langsung membuangnya setelah pembunuhan pertama,'

***

"Sepertinya Arga menyerah, Pak," lapor Roy pada Dani. Dani mengernyit.

"Menyerah?" tanya Dani, tak percaya. Roy mengangguk.

"Semudah itu?" tanya Dani, kali ini lebih kepada dirinya sendiri.

"Sepertinya saksi berhasil memberikan keterangan yang dapat mengelabuinya," kata Roy. Dani menatap Roy.

"Kamu jangan naif, Roy," kata Dani. Roy menelan ludah.

"Kamu tahu kenapa pangkatmu masih di bawah Arga padahal kamu lebih senior darinya?" tanya Dani, sarkastik. Wajah Roy seketika menegang.

"Arga tak mungkin menyerah begitu saja," lanjut Dani.

"Aku yakin, dia sedang menyusun strategi untuk membuat saksi buka mulut," tambahnya.

Dani memutar bola matanya perlahan, memikirkan apa yang akan Arga lakukan untuk membuat Indra mengatakan yang sebenarnya. Roy menatap Dani dengan rahang sedikit mengeras.

'Kalau saja aku nggak mengikutimu, mungkin pangkatku sudah lebih tinggi sekarang,'

***

"Penyidik sepertinya menyerah," kata Indra pada seseorang via sambungan telepon.

"Sepertinya?" tanya lawan bicara Indra. Indra menelan ludah susah payah.

"Apa dia bilang akan kembali?"

Indra menarik napas dalam-dalam. Dia tahu dia tak bisa membohongi lawan bicaranya.

"Mereka bilang... mereka akan kembali untuk bertanya satu dua hal tentang kasus Nadia," jawab Indra.

Hening.

"Kamu tahu apa yang harus kamu katakan?" tanya lawan bicara Indra dengan nada berat.

Indra memutar bola matanya perlahan. Dia merasa cukup kewalahan menghadapi dua petugas penyidik yang datang ke rumahnya tempo hari.

"Kalau kamu sampai mengatakan yang sebenarnya," suara di seberang terdengar mengerikan di telinga Indra.

"Kamu sendiri juga akan terseret ke dalam masalah ini," lanjutnya lalu menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Indra.

Dada Indra terasa sesak. Tangannya yang memegang ponsel terkulai lemas di sampingnya. Bola mata Indra bergerak pelan, menyapu sekeliling kamarnya. Matanya menangkap pigura berisi pesta lajangnya sepuluh tahun yang lalu. Tatapannya seketika berubah tajam.

'Kalau saja aku nggak ngadain pesta sialan itu,'

***

Misty terbangun dari tidurnya. Jam digital di atas nakas Misty menunjukkan pukul 02.35.17. Misty beringsut di atas tempat tidurnya. Tangannya meraba-raba ke atas nakas, tempat biasanya dia meletakkan ponselnya.

"Masih jam segini," gumamnya saat melihat jam di layar ponselnya.

Dengan mata yang setengah mengantuk, Misty melihat ada satu pesan singkat yang masuk. Rasa kantuk Misty seketika sirna saat membaca nama pengirim pesan.

"Dua jam yang lalu," gumam Misty saat melihat jam berapa pesan singkat itu mendarat ke ponselnya.

Ibu jari Misty menekan notifikasi pesan singkat.

Aku harap kamu tidur nyenyak.

Sudut bibir Misty terangkat perlahan. Jantungnya kembali berdetak lebih kencang hanya dengan membaca satu pesan singkat dari Anjas.

"Sempet-sempetnya chat tengah malem. Apa dia nggak tidur?" gumam Misty sambil menatap nama kontak Anjas di layar ponselnya.

Kedua alis Misty terangkat saat mendapati status Anjas sedang online. Tiba-tiba, ibu jari Misty mengetuk space balas pada ruang obrolannya dengan Anjas. Mata Misty membulat menyadari apa yang dilakukannya.

'Eh? Inget, Misty. Jangan terlibat terlalu dalam,'

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!