Natasha Finding Love
_________________
"Saya masih single bukan karna susah move on. Saya masih single karna saya sedang menyiapkan diri untuk orang yang mengharapkan saya dalam doanya," ~ Natasha
"Kalau memang kamu jodohku, biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi bila tidak, semoga kita bahagia dengan jalan kita masing-masing," ~ Raka
Karena has rat sesaat, Natasha harus menanggung perbuatannya.
_________________
Novel ini adalah lanjutan dari novel
Pertama~ My Butler
Kedua~ Sekar & Raja Phinisi
Ketiga~ My Personal Tour Guide
_________________
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RenMk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Tega
Jarum jam seakan lama berputar. Sejak semalam Sasa mengalami susah tidur karena dirinya terlalu bersemangat menyambut pagi. Bahkan di saat pagi ini, ketika waktu menunjukan pukul 5 pagi, Sasa sudah bangun. Dirinya serasa memiliki energi berlebihan untuk menghampiri Raka.
“Sayang… Al pagi ini sama om Joy sama om Bondan dulu ya… Mama mau ketemu om Raka,” ucap Sasa pelan memandangi anaknya yang masih tertidur pulas. “Doa'in mama yang terbaik ya, Al. Buat masa depan Al dan mama.” Sasa berlanjut mengecup pipi Al. Harum khas anaknya itu membuat Sasa lebih tenang. “Semoga om Raka mau jadi papa buat Al.” Sasa mengusap keringat yang ada di dahi Al.
Akhirnya setelah menunggu beberapa jam, Sasa siap untuk menghampiri Raka.
“Kak Sasa…” Sapa Bondan masuk ke villa Sasa.
Mendengar suara adiknya, Sasa segera keluar dari kamar.
“Wizz… bangun jam berapa? Udah cantik aja jam segini. Biasanya kalau di Ubud, kalau belom jam 10, belom mandi.” Ucapan Bondan yang terkesan menyindir dan memuji itu ditanggapi Sasa dengan meluncurkan salah satu kepalan tangannya.
“Mau kena bogem ya pagi-pagi… hmm…” Sasa memasang muka gemas. Tapi ada senyuman juga yang terbit di bibirnya. “Mas Joy mana?”
“Tuh…” Bondan mengarahkan jari jempolnya menunjuk jendela yang terbuka. Ada Joy yang sudah siap dengan buggy untuk mengantar Sasa menuju villa Raka. “Udah siap jadi tukang sopir kakak menuju laki-laki impian kakak.” Sasa tersenyum kecil mendengar ucapan Bondan.
Pagi ini Sasa merasa bahagia yang luar biasa. Keberadaan Joy dan Bondan selama beberapa tahun terakhir sangat berarti untuk Sasa. Terutama dalam hal mencari informasi tentang Raka.
“Kalau gitu aku titip Al ke kamu ya, Ndan. Dia masih tidur,” ucap Sasa sambil merapikan gaun yang dia kenakan.
“Iya… enjoy breakfast nya, kak! Asal jangan sampai 3 jam acara breakfast nya. Si Al suka ngamuk kalau ditinggal lama-lama,” pinta Bondan tidak mau kualahan menjaga Al.
“Iya… Emang perutku ukuran karung apa makan sampai 3 jam lamanya!” balas Sasa membuat Bondan terkekeh.
Sasa pun mulai berjalan menghampiri Joy yang sudah duduk di kursi kemudi buggy. Dia begitu senang dengan perhatian dari kedua saudaranya itu.
“Udah siap buat ketemu sama Raka?” tanya Joy sebelum menjalankan buggy yang kini sudah ditumpangi Sasa juga.
“Siap, mas,” jawab Sasa sambil mengusap cincin pemberian Raka.
Melihat gerak-gerik yang ditunjukan Sasa itu, Joy sedikit takut karena saat ini sepertinya perasaan Sasa lebih besar dibanding Raka.
“Pokoknya kamu harus tetap semangat, ya Sa. Aku yakin kamu bisa meluluhkan hatinya Raka.” Joy memberi semangat.
Senyum di wajah Sasa itu membuat Joy tidak tega mengatakan kalimat Raka yang dia dengar kemarin. Apapun yang terjadi, Joy ingin memberi dukungan kepada adiknya. Selain itu juga karena Joy ingin menebus kesalahannya di masa lalu telah menciptakan kesalah pahaman antara Raka dan Sasa.
“Ini villa mas Raka?” tanya Sasa setelah buggy yang disopiri Joy berhenti di salah satu villa yang begitu megah.
“Yeah, itu villanya dia,” jawab Joy sambil melirik ke balkon atas. “Dia sudah duduk di sana. Ada di balkon. Kayaknya lagi baca buku tuh dia.” Joy terus memandangi situasi balkon. Tangannya pun mulai merogoh ponsel miliknya dari saku celana. “Aku telpon dia dulu, Sa.” Joy mulai mencari kontak nomor Raka yang baru dia dapat kemarin. “Hallo, Raka. Adik aku udah ada di depan villa mu. Hm… yeah… hm… ok. Thanks, Raka,” ucap Joy sedikit tidak tenang.
Selesai obrolan dengan Raka, Joy mulai meminta Sasa turun dari buggy.
“Sa, kamu bisa langsung masuk dan naik ke lantai dua. Raka udah nunggu kamu di balkon atas buat breakfast,” ucap Joy. “Nanti kalau kamu udah selesai, calling aku aja biar aku jemput,” ucap Joy.
Sebagai seorang kakak, Joy cukup kuatir dengan Sasa karena nada bicara Raka yang terkesan dingin membuat Joy takut kalau Raka akan memberi penolakan kepada Sasa.
“Ok deh mas Joy. Kalau gitu aku masuk dulu ya. Mas Joy ga usah jemput aku. Nanti paling mas Raka antar aku buat balik ke villa,” ucap Sasa mengingat betapa perhatiannya Raka saat mengantar dirinya dari Solo balik ke Bali.
Karena rasa rindunya yang begitu menggebu, Sasa segera masuk ke villa milik Raka. Villa yang bergaya klasik dan Eropa itu nampak cantik membuat Sasa kagum.
“Mas Raka…” sapa Sasa setibanya di balkon tempat Raka duduk saat ini.
“Hai…” Raka berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Bukan sebuah pelukan hangat seperti yang dibayangkan oleh Sasa. “Silahkan duduk, Sa,” ucap Raka membuat Sasa mendadak canggung. Tidak ada adegan menarik kursi seperti yang diharapkan Sasa. “Apa kabar?”
“Baik. Mas Raka apa kabar?” tanya Sasa gugup.
“Baik, juga. Silahkan dimakan, Sa,” ucap Raka mulai memegang pisau dan garfunya.
Dengan sikap tenang, Raka mulai menyantap makanannya. Pandangan Raka mulai fokus melihat makanan dan mengunyah setiap makanan yang masuk di mulutnya.
Sudah beberapa menit Sasa menunggu Raka agar memulai pembicaraan. Tapi tidak satu kata pun keluar dari mulut Raka.
“Mas.” … “Sa.” Tiba-tiba keduanya memanggil bersamaan.
“Ah, kamu dulu. Mau ngomong apa?” tanya Raka.
“Mas Raka aja duluan. Mungkin penting,” sambung Sasa dengan senyumnya.
Beberapa detik Raka memandangi senyuman di bibir Sasa.
“Pagi ini aku ada meeting. Kamu kalau mau tambah makanannya pesan aja. Aku mau pergi dulu, Sa,” ucap Raka membuat Sasa terdiam.
Pikiran Sasa sudah berkelana menerka nerka kalimat apa yang akan diucapkan Raka. Rupanya hanya kalimat mengecewakan saja.
“Mm… kenapa mas Raka ga bilang kalau ada meeting penting? Aku kan jadi ga enak,” timpal Sasa muai mengusap bibirnya dengan tissue. “Kalau gitu aku balik juga aja ke villa aku.”
Akhirnya pagi itu keduanya segera beranjak dari balkon. Sasa merasa ada yang aneh dengan sikap Raka.
Mas Raka kenapa sih kok dia dingin banget? Apa dia udah gak tertarik sama aku? tanya Sasa dalam batinnya.
Sepanjang dirinya berjalan di belakang Raka, Sasa terus menerus memandangi punggung Raka yang nampak lapang dan tegap. Tidak sedikit pun Raka menoleh untuk melihatnya.
“Mas Raka…” sapa Sasa saat Raka sudah menaiki buggy.
“Kenapa, Sa?”
“Aku boleh minta tolong ga buat antar aku ke villa?” tanya Sasa memasang ekspresi penuh harapan. Dirinya masih merindukan sosok laki-laki yang pernah dia buat kecewa itu.
“Kamu tinggal di villa nomor berapa?”
“Gak jauh kok dari sini. Arahnya ke kiri dari villa mas Raka” jawab Sasa cepat.
“Mm… Arahnya sama sih. Tapi aku lagi buru-buru, Sa. Ada paket barang yang harus aku ambil juga di pos security sana,” sambung Raka membuat Sasa kecewa.
“Ah… sorry, mas. Aku ga tahu. Kalau gitu lain kali aja nebeng buggynya mas Raka,” ucap Sasa menunduk.
Ada sebuah jarak yang Sasa rasakan sedang dibangun Raka.
“Kamu hati-hati ya, Sa. Sampai jumpa lagi,” sambung Raka yang kemudian menjalankan buggynya. Dia pandangi kaca sepion buggynya untuk melihat wajah Sasa. Perempuan itu nampak mengusap kedua sudut matanya sambil berjalan.
“Huufftt…” Kenapa jadi ga tega gini melihat dia nangis? Gumam Raka mengusap kasar wajahnya.
*****
Bersambung…
*****
Jangan terlalu mencolok di mata orang
Jaga jarak ke Raka sha, jual mahal sedikit tidak masalah
'maaf Sa aku g tau Gadis diajak kesini'
atau, 'udahlah Pa, Ma.. sekarang aku in relationship dg Sasa. Gadis cm masa lalu, gak perlu diungkit lagi. Tolong hargai Sasa'
ini cuma dag deg aja, hadeeeeeh