"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 08
Sepagi ini, Mbak Naura sudah menatapku dengan raut wajah masam. Seperti ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi enggan karena keberadaan Ibu.
"Nin, Mbak mau ngomong!" bisiknya pelan kala Ibu berlalu ke dapur. Dia pasti sengaja mendekatiku saat ibu berlalu ke belakang entah melakukan apa.
"Aku sibuk Mbak, bentar lagi berangkat kerja. Nanti ajalah," ujarku seraya menatap jam yang melingkar di tangan kiriku. Sebenarnya, itu hanyalah sebuah alasan agar aku tak bersitatap dengan Mbak Nau, malas sekali rasanya menghadapi ratu drama sepagi ini.
"Nin, ini soal Harsa!" desahnya frustasi.
Aku yang tadinya menyuap sarapan pun memelan, nasi ini rasanya tersangkut di tenggorokan. Gegas meraih gelas dan mengisi air putih lalu meneguknya sampai tandas. Bahkan rasa sakit tenggorokanku tak lebih sakit dibanding pengkhianatan Mas Harsa dan bisa-bisanya wanita yang berperan menghancurkan hatiku kini memohon?
"Please, Mbak. Jangan bahas Mas Harsa!"
"Tapi dia beneran cinta sama kamu, Nin. Semalaman dia gak bisa tidur, karena kamu yang minta putus. Jangan kekanakan, Nin. Hal-hal kecil kenapa harus dipermasalahkan?" tanyanya dengan wajah suram. Entah, aku sendiri jadi ragu, ragu akan diriku sendiri, apakah aku benar-benar mengenal Mbak Naura dengan baik? Atau selama ini aku hanya mengenal topeng luarnya?
"Mbak mengenal Mas Harsa cukup baik, ya? Sampai perihal nggak bisa tidur aja Mbak Nau lebih tau," sengakku sedikit ketus. Masih saja, kakakku itu pura-pura sok peduli. Harusnya ia cukup senang bukan aku dan Mas Harsa putus, ia bisa lebih leluasa bersama laki-laki itu tanpa harus memikirkanku.
Jadi apa tujuan Mbak Naura sebenarnya?
Mbak Naura gelagapan, "anu, dia curhat sama Mbak soal kamu, kok!" kilahnya. "Tadi malam, tadi malam dia ngirim pesan karena kamu gak balas pesannya!"
Aku mana bisa percaya? Kebusukan Mbak Naura bahkan sudah dibongkar habis sama Mas Firman.
"Curhat? Hehehe..." aku tertawa masam, gegas menyelesaikan sarapanku buru-buru dan ingin segera enyah dari sana. Dengar dari Ibu semalam, kalau mulai malam ini Mbak Naura akan lebih sering menginap, membuatku sedikit jengkel. Apalagi Ibu lebih sayang dan perhatian sama Mbak Nau, membuatku iri setengah mati. Sebenarnya yang anak ibu itu aku atau dirinya?
"Selain merebut Mas Harsa, Mbak juga mau merebut perhatian Ibu kah?" bisikku sinis.
Ia membulat, mungkin terkejut dengan sikapku dari semalam.
"Hanin!" Seperti tak percaya, ia menatapku lekat.
"Mbak kaget? Aku lebih kaget waktu tahu Mas Harsa mengunjungi Mbak di siang bolong padahal Haikal lagi sekolah. Permisi!" Aku bangkit, membawa piring kotorku ke dapur. Saat berpapasan dengan Ibu, aku sekalian pamit berangkat kerja.
Aku melangkah ke depan, mengabaikan Mbak Naura yang terus memanggilku.
Rupanya, ada Mas Harsa di depan akan tetapi...
Mataku membulat kala melihat Mas Firman juga ada disana.
"Hanin, ini apa maksudnya? Kamu dan Naura...?" Mas Firman menatapku tajam seolah meminta penjelasan. Aku tersenyum senang, akhirnya tiba juga semua terbongkar.
Beruntung, Ibu sibuk di dapur jadi belum mendengar keributan di depan yang mana tadi Mas Harsa dan Mas Firman sudah bersitegang.
Mbak Naura keluar, ia tak kalah terkejut dariku kala melihat keberadaan Mas Firman di depan.
"Hanin?" Ulang Mas Firman.
"Mbak Naura adalah kakakku, Mas!"
Sudah kepalang, lebih baik aku bongkar saja sekalian.
"Hanin, ayo kita bicara!" ajak Mas Harsa memelas, tampilannya kacau. Tapi aku malah melirik Mbak Naura yang menuduk sambil menautkan jari-jari, sepertinya panik atau pura-pura panik karena ketahuan?
"Jadi adik perempuan Naura yang gak pulang waktu itu adalah kamu?" cerca Mas Firman tak sabar, aku mengangguk.
"Aku boleh numpang sampai pabrik, Mas?" tanyaku pada Mas Firman. Ia sama gusarnya seperti diriku. Namun, ia tetap mengangguk setuju. "Ayo!" ajaknya.
Mas Harsa seperti ingin mencegahku, ia mendekat. "Nin, jangan jadi pelakor. Ayo kita bicara sebentar, nanti aku antar kerja!" mohonnya.
"Ada apa ini?" tanya Ibu, lalu terkejut mendapati keberadaan Firman. Dibanding menanyakan diriku, Ibu lebih memilih menoleh pada Mbak Naura kemudian menuntun kakakku itu untuk duduk di atas amben depan. Tak berselang lama, kulihat Ibu masuk dan kembali keluar membawa segelas air putih.
Sial, bisa-bisanya Mbak Naura masih berpura-pura. Kesal rasanya melihat ibu malah mengurusinya.
"Nau, jangan panik, oke?"
Aku masih mendengar jelas suara ibu yang berusaha menenangkan perasaan Mbak Naur, rasanya aku ingin berteriak dan menjauhkan ibu agar beliau tahu kalau anak tirinya itu hanya pura-pura.