Fajar adalah seorang anak brokenhome yang sangat membenci ayahnya. ia merupakan anak kelas 3 SMA. Di semester awal sekolah, ia bertemu dengan Andini yang merupakan seorang siswi baru disekolahnya. Fajar mecintainya pada pandangan pertama. Tapi saat berusaha mendekatinya, Fajar selalu diacuhkan. Sikap Andini yang dingin membuat Fajar harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hatinya. apakah ia berhasil? apakah Andini akan menerimanya? baca terus ceritanya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haridwan _, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
"Hey. Buruan, lama banget!." Ucap Bang Ipan berbisik pada Rendy dan Refina saat memasuki kafe.
"Iya bentar bang ini Andininya belum
divideo call... nah udah dia angkat bentar."
"Ada apa ref?." Tanya Andini dalam video call.
"An, jangan terlalu kenceng. Jadi gini, kita mau surprise in si Fajar karena tepat jam dua belas malem nanti dia ulang tahun yang ke delapan belas. Nah Lo juga ikut ya?."
"Oh, oke, oke. Bentar Gue cuci muka
dulu!."
Rendy pun menyalakan lilin di kue.
Sementara Bang Ipan masuk memanggil Fajar.
Rendy menyimpan kuenya dan mengambil confetti untuk diledakan nanti.
"Fajar!!. Hey bangun!!. Ada Andini di kafe, dia mau ketemu!!." Bang Ipan mencoba membangunkan Fajar dengan menggerak gerakkan badannya. Mendengar ucapan itu, Fajar langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dan bergegas ke kafe. Ia tak melihat jam ataupun melihat suasana kafe bahwa ini tengah malam. Saat ia masuk, sebuah confetti diledakkan lalu dilanjutkan dengan nyanyian selamat ulang tahun. Rendy membawa kue sedangkan Refina memegangi HP-nya yang sedang video call dengan Andini. Andini, Rendy, Refina dan Bang Ipan bernyanyi bersama hingga Fajar tersenyum bahagia.
"Ah. Dasar!!. Gue lagi enak-enak tidur!."
"Hai Fajar."
"Kamu juga ikut ikutan An!!."
"Iya. He he!."
Tiup lilinnya, tiup lilinnya.
"Eh salah!!." Tukas Rendy.
"Tiup apinya, tiup apinya."
"Lah iya bener." Ucap Refina setuju lalu melanjutkan lagunya.
"tiup apinya sekarang juga, sekarang juga."
"Mike luwis dong."
"Make a wish bang..." ucap Rendy kesal pada Bang Ipan.
"Iya itulah pokonya. Buat permintaan!!."
"Oke. Semoga, mulai hari ini, akan ada seseorang yang mendonorkan ginjalnya untuk Andini. Biar Andini sembuh dan bareng bareng terus sama kita selamanya!!." Harap Fajar yang dilanjutkan meniup lilin. Andini, menitikkan Air mata saat mendengarnya.
"An, kenapa?."
“Enggak. enggak apa-apa. Ayo lanjut."
"Kamu bakalan sembuh kan?. Kamu enggak akan pernah ninggalin aku kan?. Iya kan?. Kita akan sama-sama terus. Seneng-seneng bareng terus. Kamu juga bakalan sehat lagi dan main bareng kita." Andini menjawabnya dengan anggukan. Semua yang ada di sana terharu saat Fajar mengucapkan hal itu. Mereka lalu saling merangkul dan saling memeluk. Mengharapkan semua itu jadi kenyataan.
"Selamat ulang tahun jar, semoga panjang umur, sehat selalu dan makin tua." Tukas Rendy.
"Iya emang gitu kali!."
"HBD Fajar, semoga... ya itu."
"Eh doa apaan Lo ref?."
"Dalem hati!."
"Ha ha."
"Fajar selamat ulang tahun. Semoga jadi anak yang baik, panjang umur dan sukses!." "Amiin. Makasih semuanya."
Udah lanjut yuk...
Potong kuenya, potong kuenya.
"Eh salah kali. Makan kuenya, makan kuenya." Protes Rendy lagi.
"Iya. Makan kuenya sekarang juga.
Sekarang juga."
Saat semuanya tengah bersenang senang dan berbahagia, Rendy memberikan sepucuk surat pada Fajar.
"Ini pemberian Ibu." Ucapnya.
Fajar, gimana kabarnya?. Baik-baik aja kan?. Ibu kangen banget sama Fajar. Ibu kangen saat Fajar makan di samping Ibu. Ibu kangen saat Fajar bantuin Ibu, bercanda sama temen-temen kamu di rumah. Ibu kangen sekali. Tapi kalau kamu belum mau pulang, Ibu enggak akan memaksa kamu. Asalkan kamu baik-baik saja. Eh iya, selamat ulang tahun ya nak, semoga Fajar sehat selalu, dilimpahkan rezekinya, panjang umur dan tetap jadi orang baik. Selamat ulang tahun anakku. Ibu sayang banget sama Fajar. Tulis Ibu disurat itu. Fajar terharu lagi. Keinginnya untuk pulang belum ada. Ia masih ingin tetap hidup seperti ini. Rumah tempatnya pulang seperti mengerikkan bahkan untuk dikunjungi.
"Fajar juga kangen Ibu. Tapi Fajar belum bisa pulang, maafin Fajar ya bu.." ucap Fajar sambil menahan air matanya.
***
Malam itu jadi malam yang membahagiakan bagi semuanya terutama Fajar. Ia senang memiliki teman yang masih peduli dan masih menyayanginya. Semoga kesenangan ini tak akan pernah berakhir.
Sebagai hadiah ulang tahun, Rendy mengajak Refina, Fajar dan Bang Ipan untuk pergi ke sanghyang heuleut. Sebuah danau yang sangat indah. Mereka berencana pergi pagi hari ini tepatnya pukul sembilan usai bersiap siap.
***
Rendy datang bersama Refina dan sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari makanan ringan hingga kamera untuk berfoto. Di kafe Bang Ipan dan Fajar sudah siap untuk berangkat. Sebelum itu Bang Ipan menitipkan kafe terlebih dahulu pada pegawainya. Saat semuanya sudah siap, mereka menaiki mobil dan mulai berangkat menuju sanghyang heuleut.
"Perjalanannya bakalan satu jam lebih. Jadi harus sabar." Ucap Rendy.
Mereka mulai melewati jalanan-jalanan itu. Satu jam bukan waktu yang sebentar. Jadi mereka menghilangkan rasa bosan dengan bernyanyi, selfie atau memakan makanan ringan.
"Hai jar!." Sapa Andini melalui video call.
"Hai."
"Kamu kenapa? kok lemes gitu."
"Bosen nih. Aku itu mau liburan."
"Bukannya seneng. Malah lemes gitu. Eh itu ada apaan sih berisik?."
"Iya itu lagi pada melepas kebosenan di dalam mobil."
"Oh gitu. Kenapa bosen?."
"Ya jelas lah. Karena enggak ada kamu An."
"Gombal terus."
"He he. Ini, soalnya perjalanannya satu jam. Kan lama."
"Iya yang sabar aja. Kan nanti liburannya seru banget!. Udah dulu ya, aku dipanggil."
"Iya dah.."
"Dah.."
Orang-orang di dalam mobil sudah mulai mengeluh terutama Refina. Perjalanan yang katanya satu jam lebih kini sudah hampir dua jam karena kemacetan.
"Aduh ren... lama banget!!. Katanya sejam lebih. Tapi ini udah dua jam!."
"Iya kan satu jam lebih satu jam!."
"Ah ngeselin!!."
"Tunggu bentar lagi juga nyampe."
"Awas kalau bentar laginya bohong!!."
"Iya tenang sayang..."
"Ih apaan sih. Sayang-sayang segala. Refina aja udah."
"Iya Refina... . Nah udah nyampe!."
***
Rasa bosan akhirnya ter bayarkan, mereka melihat sebuah pemandangan yang sangat luar biasa indah. Danau yang begitu jernih dengan bebatuan mengelilinginya, air yang biru dan terlihat lebih cerah saat terkena cahaya matahari.
“Enggak nyesel Gue karokean dimobil sampe sejam!." Tukas Fajar.
"Iya ini keren banget!!." Ujar Bang Ipan.
"Kalau gitu, tunggu apa lagi?."
"Nyebu.....r."
Mereka semua berenang dan bersuka ria. Sebelum itu mereka semua berfoto terlebih dahulu dan mengabadikan momen. Saat diair, mereka juga banyak mengambil foto. Bagaimana tidak?, berada tempat seindah itu tidak boleh ada yang terlewatkan. Semuanya berfoto dan berenang ke sana kemari. Untuk membuat sesuatu yang lebih menantang, Fajar mengajak teman-temannya untuk meloncat dari atas batu ke bawah. Rendy dan Bang Ipan menerima tantangan Fajar. Sementara Refina menolaknya karena takut. Satu persatu orang meloncat dai atas batu, dan semuanya berhasil. Mereka terus mengulang-ngulang kegiatan itu karena menurut mereka itu menyenangkan. Usai menyebur ke bawah, mereka menaiki batu lagi dan meloncat lagi. Naik lagi, meloncat lagi.
"Eh video in dong. Gue mau bilang sesuatu sama Andini!." Ucap Fajar.
"Oke. Gue naik ya. Gue mau udahan." Balas Refina. Ia mengambil HP-nya dan membuka kamera.
"Sok jar. Udah siap!." Teriak Refina memberi aba aba. Fajar pun meloncat.
"Cepet sembuh Andini!!." Teriak Fajar sambil meloncat ke dalam Air.
"Eh ref. Sekali lagi dong!."
"Iya. Iya. Sok!." Jawabnya setuju. Fajar bersiap meloncat lagi. Kali ini ia ingin mengatakan bahwa ia sayang terhadap Andini. Ia pun mulai bersiap mengambil ancang-ancang agar lompatannya lebih tinggi. Dengan sigap, Fajar berlari lari kecil di batu, tapi dipijakkan terakhir, kakinya terpeleset. Ia jatuh dengan punggung yang menggores batu pijakannya dan kepala yang terbentur dengan sangat keras. Tubuhnya tak dapat seimbang, ia mencebur ke dalam air dan tak bergerak sama sekali. Kawan kawannya yang melihat hal itu sontak berteriak kaget dan gegas berenang dan membawa Fajar ke darat. Tubuhnya lemas, semua yang ada di sana panik. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan pergi mencari rumah sakit terdekat.
"Jar.. bangun jar...." ucap Refina panik sambil menepuk-nepuk pipi Fajar.
Fajar terbangun sejenak dan mengatakan satu hal.
"Jangan bilang soal ini sama Andini ya ref..." jelas Fajar parau. Beberapa saat kemudian matanya tak mampu terbuka lagi. Ia tak sadarkan diri.
"Ren. Cepet!!." Teriak Bang Ipan pada Rendy.
"Iya. Ini juga udah ngebut banget. Ya tuhaaaan." Semuanya panik. Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih lama. Andai ini adalah sinetron. Mungkin mereka sudah sampai beberapa detik yang lalu.
***
"Dok, dokter!. Suster!. Siapa aja tolong teman saya!!." Teriak Rendy sambil mengangkat Fajar. Fajar lalu di masukkan ke ruangan IGD. Semuanya masih merasa panik. Bang Ipan yang berjalan mondar-mandir, Refina yang menangis dan Rendy yang duduk dan terus memegangi kepalanya.
"Gimana dok teman saya?." Tanya Rendy khawatir.
"Di sini ada keluarga korban?."
"Saya dok. Saya kakaknya. Dan ini pamannya!." Ucap Refina sambil menunjuk
Bang Ipan. Dokter pun menjelaskan keadaan
Fajar.
"Dia mengalami benturan keras dikepala yang membuatnya tidak sadarkan diri. Kita akan memeriksa lebih lanjut lagi tentang kondisinya. Tapi jika kondisi pasien sangat parah. Ia harus dipindahkan ke rumah sakit lain, karena peralatan medis di sini kurang memadai."
"Baik dok."
"Nanti kami hubungi kalian. Jadi
tinggalkan nomor HP kalian di sini!."
Mereka semua pulang, Andini dan Rendy pergi ke rumah Ibu Fajar terlebih dahulu untuk memberitahu kondisinya. Sesampainya di sana, rumahnya terlihat sepi. Seperti tidak ada orang. Tapi gerbangnya terbuka dan mereka langsung masuk.
"Assalamualaikum. Bu.... Ibu...." teriak Refina sambil mengetuk-ngetuk pintu. Mereka terus mencoba memanggil Ibu tapi tidak Ada jawaban. Hingga ayah Fajar keluar dengan wajah sangarnya.
"Om. Itu om Fajar masuk rumah sakit!."
"Saya enggak peduli!. Mau dia masuk rumah sakit atau mati pun saya enggak peduli!.
Dia bukan anak saya!."
"Ibu mana om. Ibu... Bu... Ibu..." teriak Refina mencoba memanggil Ibu, karena hanya Ibu yang akan mengerti.
"Dia enggak ada."
"Om tolong om. Fajar masuk rumah sakit. Tolong peduli sedikit aja!." Pinta Refina sambil menangis.
"Dia kan udah milih buat enggak di sini lagi. Jadi udah bukan hak saya dong buat peduli sama dia!."
"Hhhh. Ibu... Ibu.." Refina terus mencoba memanggil Ibu.
"Baik begini saja. Kalian mau saya peduli sama Fajar?. Nih ambil ATM saya buat bayar perawatan dia. Udah pulang!!."
"Om. Tapi Fajar itu butuh sosok orang tua om disisinya. Om!!." Ayah Fajar langsung menutup pintu dengan kencang.
Fajar, maafin Ibu nak. Ibu enggak bisa pergi menjenguk kamu. Karena ayah kamu sangat marah terhadap Ibu. Ia menahan Ibu untuk tidak menemui kamu nak. Maafin Ibu. Ucap Ibu usai mendengar kegaduhan di luar rumah.
Di hari ulang tahunmu, aku hanya berharap kebahagiaanmu dan kebahagiaan kita. Bukan kebahagiaan pribadiku. Tak peduli aku bahagia atau tidak. Jika melihatmu bahagia, aku juga jadi bahagia.
– Fajar.
adanya cinta karena terbiasa..
* terbiasa bertemu
*terbiasa berantem
* terbiasa jalan bareng
* terbiasa ngobrol
* dan terbiasa2 lainnya
suka dengan karyamu thor.
hiks..hiks...