Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Heidy
"Hari pertama yang sangat sibuk tanpa ada satupun transaksi" Heidy mengeluh setibanya mereka direstaurant maroko menikmati hidangan makan malam dan sajian tari perut.
" Itu wajar. Ditiap pameran dagang international memang seperti itu. Pada beberapa hari pertama rata-rata pengunjung hanya akan melihat-lihat produk mana yang bisa dipasarkan di negaranya. Lalu pekan kedua menjelang penutupan, buyer akan berbondong-bondong menawarkan kontrak kerjasama." Prapta yang sudah berpengalaman menerangkan. Ia baru saja menghabiskan morrocan salad yang merupakan hidangan pembuka makan malam.
Direguknya attai, tea khas maroko yang diracik dengan daun na'na sebelum lanjut menyantap hidangan berikutnya, merpati pastiles yang ditaburi almond dan zaitun. Malam itu ia benar-benar kelaparan setelah tadi tak sempat makan siang.
Setelah menyantap makan malam mereka kembali ke hotel untuk istirahat.
"Udara disini sangat panas. Bolehkah aku tidur hanya dengan mengenakan lingerie ?" Heidy mencari-cari alasan untuk merayu Prapta. Ia mengipas-ngipaskan tangannya ke leher.
Prapta meraih remote AC dan menyalakannya.
"Aku sudah menyetel AC di suhu delapan belas derajat celcius, cukup dingin untuk ukuran suhu rata-rata ruang kerjamu yang diangka dua puluh empat derajat celcius. Jadi kurasa kau tak perlu melepas pakaianmu" Prapta berusaha menghindari keintiman yang berlebihan dengan Heidy.
"Apa aku boleh tidur seranjang denganmu ?" Heidy masih berusaha menggodanya.
"Aku sangat letih hari ini. Tolong jangan ganggu Aku dulu dengan permintaan yang macam-macam. Aku benar-benar butuh istirahat."
Mendengar Prapta bicara serius Heidy tak berkutik. Ia akhirnya beranjak tidur di bednya sendiri.
Safana yang ditinggal prapta harus berjuang sendirian mengatasi deraan mual yang belakangan kerap menghampiri. Ia berlari meninggalkan meja makan sambil menutup mulutnya.
Sumi yang melihat segera menyusul karena mengkhawatirkan kesehatan majikannya.
"Ukh" Safana memuntahkan makan siang yang baru beberapa sendok ditelannya.
Sumi memijati tengkuk Safana dan mengoleskannya kayu putih.
"Makasih Sum. Saya sudah tidak pa pa" Safana keluar kamar mandi.
"Mba Safana lebih baik Mba ke dokter. Soalnya Sumi lihat sudah beberapa hari Mba muntah-muntah kaya gini. Sumi khawatir Mba sakit."
Safana menggeleng dan memaksa tersenyum
"Cuma masuk angin biasa. Nanti juga sembuh sendiri" Safana masuk ke kamarnya dan duduk dimeja kerja Prapta. Ia kembali membuat sketsa wajah suaminya.
Bersamaan ponselnya berdering, Safana menerimanya.
"Iya Mas " Safana yang sudah mengenali nomernya menjawab.
"Kau sedang apa ?" Prapta menyapanya.
"Aku..." Safana tak meneruskan. Ia malu mengatakan.
"Mas sedang apa ?. Kenapa belum berangkat ke pameran ?" Safana balik bertanya.
"Disini masih pukul tujuh pagi. Terlalu dini ke pameran. Nanti jam sembilan Aku baru berangkat."
"Oh. Berarti lebih lambat disana waktunya" Safana mengira-ngira.
"Bagaimana suasana pagi disana ? Apa menyenangkan ?" Safana melanjutkan pertanyaan.
Prapta terdiam sesaat mendengar pertanyaan istrinya, mendadak Ia diliputi rasa bersalah tak mengajak Safana.
"Sama saja. Lain kali Kita pergi berdua kemari. Agar Kau tahu bagaimana suasana pagi disini."
"Baiklah" wajah Safana menyiratkan bahagia saat suaminya mengatakan itu. Ia mengutas senyum.
"Aku mandi dulu. Besok Ku hubung lagi. Aku mencintaimu Safana" Prapta mengakhiri pembicaraan. Safana meletakkan ponselnya dan melanjutkan membuat sketsa wajah suaminya untuk melampiaskan kerinduan.
Heidy memandangi punggung Prapta yang tengah menjelaskan pada pengunjung international trading tentang produk batik perusahaannya.
Ia teringat perbincangan Prapta tadi pagi dengan istrinya di telphone. Pria itu sepertinya sudah mulai berbaikan dengan istrinya. Hal yang sama sekali tidak diharapkannya.
"Apa yang harus kulakukan ?" Heidy yang punya setumpuk masalah hutang dengan bank membatin.
Sejak bergabung di perusahaan dan mengakrabi atasannya, Ia tahu hanya Prapta yang mampu mengatasi semua masalah keuangannya.
Prapta berada diurutan teratas dari segi materi dibanding semua pria yang pernah dikenalnya. Beberapa kali berganti pasangan Heidy menyadari kemampuan mantan-mantannya hanya sebatas mengajak makan atau sekedar nonton. Padahal kebutuhannya sebagai perempuan lebih dari itu. Ia butuh mempercantik diri dengan produk-produk bermerk. Dan semua itu tak tertutupi oleh gajinya.
"Kau melamun ?" Prapta membuyarkan lamunannya.
Heidy mendongak, pengunjung yang tadi bersama Prapta sudah tidak ada dimuka stand.
"Tidak. Aku hanya tengah memikirkan tempat romantis yang Kau bilang. Aku penasaran ingin pergi kesana" Heidy mulai mengatur startegi untuk mendekatkan dirinya dan Prapta.
"Nanti malam akan Ku ajak kau kesana. Sekarang bekerjalah yang baik" Prapta menepuk bahu Heidy sebelum kembali membagikan porto folio perusahaan dan menunjukkan produk yang dipamerkan
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya