"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Malam-malam Jilid 2
Jonas terpejam. Wajahnya tengadah, menantang langit gelap dengan sejumput bintang. Kedua tangannya lurus, tepancang ke lantai beton, menahan beban tubuhnya yang setengah rebah. Dibiarkannya angin malam membasuh wajahnya, memainkan rambutnya, menenangkan pikirannya.
Ia lelah sekali, otaknya pun tak berbeda. Ia belajar jauh lebih keras belakangan ini dari pada biasanya. Sampai-sampai Arnas rewel sekali, menceramahinya setiap ada kesepatan. Menyuruhnya istirahat dan santai sedikit. Bahkan tak jarang Arnas merecokinya agar pikirannya teralih dari sejuta rumus matematika.
"Are you alright?"
Jonas tersentak mendengar suara itu. Ia pun membuka matanya, terbelalak melihat Chilla di hadapannya.
"Chilla?" Jonas menegakkan tubuhnya.
"Kaget, ya?" Chilla duduk di sisi Jonas.
"Kagetlah, Chill, sekarang udah hampir jam satu malam. Kalo posisinya dituker kamu pasti kaget. Muncul tiba-tiba lagi."
"Iya sih..." Chilla mengamini. "Tapi aku ganggu, gak?"
"Enggak kok. Cuma..."
Alis Chilla terangkat, menunggu Jonas melanjutkan kata-katanya. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Seperti malam yang lalu, Jonas tak mengucapkan hal yang seharusnya ia katanya. Ia tahu bahwa seharusnya ia menyuruh Chilla pulang, namun di saat bersamaan ia ingin gadis itu tinggal. Ia tak ingin Chilla terkena masalah, tapi ia mau Chilla tetap menemaninya. Kehadirin Chilla—entah mengapa—selalu membuatnya nyaman, membuatnya lupa tentang betapa lelah dirinya. Bahkan secara ajaib kedatangan Chilla bisa memperbaiki mood-nya, seperti tugas permen stroberi.
Ia tak egois, kan?
"Kak Largha udah tidur?" Jonas bertanya, mengurungkan ucapan sebelumnya.
"Udah. Makanya aku bisa keluar."
Mengangguk Jonas, menanggapi. Sebenarnya tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya. Karena bila ia jadi Largha, ia pun tak akan membiarkan adiknya keluar rumah sendiri selewat tengah malam.
"Kamu kenapa belum tidur?"
"Gak bisa tidur," jawab Chilla. "Kamu kenapa belum tidur?"
"Mm..." gumam Jonas. Ia menyugar rambutnya, lalu menarik kakinya yang terjulur untuk bersila, mengimitasi cara duduk Chilla.
"Baru selesai belajar?" terka Chilla.
Jonas mengangguk kecil. Meski sebenarnya ia bukan baru selesai belajar, tapi sedang mengambil waktu mendinginkan otak sebelum kembali lanjut belajar.
"Kapan olimpiadenya?"
"Minggu depan," ujar Jonas. "Gugup banget aku. Takut gak berhasil lolos ke tingkat kota."
"Pasti bisa, kok. Aku yakin," Chilla tersenyum, menyemangati. "Dan kalo pun kalah, kamu masih bisa coba lagi tahun depan, kan?"
"Iya memang. Tapi takut aja kalo gak lolos. Aku kan bawa nama sekolah, bukan diri aku sendiri. Kalo aku kalah, satu sekolahan bakal kecewa. Selain itu, aku juga gak mau bikin Ayah kecewa. Dia berharap banget aku bisa menang."
"Aku gak akan kecewa, kok. Mau kamu menang atau pun kalah, menurutku kamu itu udah hebat banget. Kalo aku, boro-boro ngewakilin sekolah, dapet nilai mepet KKM pas ujian aja rasanya mau sujud syukur."
Jonas terkekeh.
"Lagian nih Jo—no offence ya, menurutku anak-anak sekolah gak bakal peduli-peduli amat kamu lolos atau enggak, menang atau kalah. Ya seenggaknya, mayoritas anak-anak sekolah gak akan peduli—menurutku ya."
Setelah dipikir-pikir, Jonas kira Chilla benar. Mungkin teman-teman sekelasnya dan guru yang bersangkutan akan peduli, tapi sisa teman-teman sekolahnya yang lain barangkali akan bodo amat. Ia menang atau kalah tak akan mempengaruhi nilai apalagi hidup mereka.
"Dan ayah kamu, aku yakin dia tetap akan bangga entah kamu menang atau kalah."
Menanggapi ucapan Chilla itu Jonas hanya bisa tersenyum kecil. Kali ini ia tak setuju dengan dugaan Chilla. Ia tahu benar ayahnya akan sangat kecewa bila ia kalah. Besar sekali harapan Ayah untuk kemenangannya. Ditambah lagi, ada anak om-nya yang akan melawannya ditingkat kota nanti bila ia lolos.
"Jadi gak usah terlalu khawatir, jangan terlalu maksain buat belajar kelewat keras juga, nanti kamu malah sakit."
Jonas memiringkan kepalanya saat menoleh memandang Chilla. "Kamu kedengeran kayak Arnas versi lebih lembut dan lebih sopan saat nunjukin kalo dia khawatir dan peduli."
"Memang Arnas kalo lagi khawatir dan peduli gimana?"
Usai menegakkan kepalanya lagi, Jonas menjawab, "Ya kayak Arnas. Pakek kalimat paling gak suportif yang melintas di otaknya. Jadi kadang kesannya gak lagi kasih semangat atau nujukin perhatian, tapi ngejek dan ngata-ngatain."
Chilla terkekeh. "Arnas tuh gitu ya. Sejak kenal sama dia aku juga jadi tahu kalo dia itu baik walau pun sering ngeselin. Dia sebenarnya peduli walau pun keliatannya cuek."
Jonas mengangguk, lantas berkata, "Cita-citanya itu mau jadi cowok badboy cool kayak di film-film remaja. Tahu, kan? Yang sok ganteng-ganteng ngeselin gitu." Ia terkekeh, mengenang masa-masa kecil dirinya dan Arnas.
"Masa?" Chilla ikut tertawa.
"Iya. Jadi waktu masih umur tujuh atau delapan tahun, aku sama Arnas dititipin di rumah sepupu. Sepupu kita itu udah SMA. Kita ke sana waktu dia lagi nonton film remaja Taiwan atau China gitu, terus aku sama Arnas ikut nontonlah. Dan sejak itu Arnas gak bisa lepas dari bola dan terobsesi jadi cowok keren."
Ada senyum dibibir Jonas kala bercerita, ditingkahi tatapan lembut dan kekeh ringan Chilla. Mengenang masa kecil membuat Jonas rindu. Masa-masa yang telah lalu itu sangat ceria dan menggembirakan. Ia masih ingat ketika dulu ia dan Arnas sering dihukum ayahnya karena terlalu berisik; ia dengan gitar ukulelenya dan Arnas dengan bolanya yang memecahkan banyak barang. Merindukan masa lalu bukan berarti ia tak bahagia kini, hanya saja akan sangat menyenangkan bila ada kesempatan kembali ke masa-masa itu. Saat masih ada Kak Syahnas, saat ia bukan anak tertua.
"Sebenernya memang dari kecil banget dia udah suka bola—semua jenis olahraga yang pakek bola. Katanya Nenek, dia kayak Ayah. Tapi semenjak nonton film Taiwan itu, dia jadi lebih tergila-gila lagi."
"Kamu, apa yang kamu suka dari kecil?" tanya Chilla.
Sejenak Jonas tepekur mendapat pertanyaan itu. Ia tahu benar apa yang ia suka dari kecil, hanya saja sudah lama sekali sejak terakhir kali ada yang bertanya apa yang ia sukai. Orang-orang selalu mengira bahwa ia suka belajar, padahal itu bukan hal yang ia suka, tapi sebuah kewajiban yang harus ia lakukan.
"Aku suka musik. Aku suka gitar, aku suka lagu," jawab Jonas pelan.
"Kamu suka nyanyi?"
Jonas mengangguk, mengiyakan. Ia suka, tapi ia sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali ia bernyanyi. Rasanya sudah lama sekali.
"Kamu suka lagu apa belakangan ini?"
"Mm... Aku gak pernah dengerin lagu belakangan ini. Aku banyak ngabisin waktu buat belajar persiapan olimpiade."
"Kan bisa dengerin sambil belajar."
"Gak bisa. Aku gak bisa fokus belajar kalo sambil dengerin lagu."
"Ya udah, dengerin sekarang aja. Kan lagi gak belajar."
Chilla mengeluarkan ponselnya. Menggulirkan jemarinya yang gendut dan mungil di atas layar yang menyala.
Benar juga, pikir Jonas. Seharusnya ia bisa mendengarkan lagu kala menghabiskan waktu menenangkan isi kepala. Tapi kenapa ia tak pernah kepikiran melakukan itu?
"Kita dengerin lagu yang lagi aku suka aja, ya?" tanya Chilla.
"Terserah kamu aja."
Baik Jonas mau pun Chilla sama-sama terdiam ketika lagu mulai diputar dalam volume rendah. Kedua khusuk mendengarkan. Menatap langit berbintang, di kesunyian malam, diembus angin yang kadang bertiup kencang.
Sampai lagu berganti, barulah Jonas menoleh, memandang siluet wajah Chilla. Rambut ikal gadis itu menyembunyikan sebagian pipinya yang chubby, kala angin tak mengusiknya. Bulu matanya yang panjang dan lentik bergerak dramatis saat ia mengerjap. Jonas baru sadar bila Chilla secantik itu. Ia tahu Chilla cantik, tapi ia tak pernah sadar jika gadis itu tak kalah dari Kak Zeeta. Mungkin karena selama ini matanya hanya terfokus pada Kak Zeeta, tanpa pernah sadar ada gadis lain yang... Mendadak ia ingat bila Chilla adalah gadis yang ia duga sering mengiriminya surat. Lantas, sebuah sensasi yang ia kenal dari gadis lain menyapa dadanya. Sebuah sensasi yang tak ia sangka akan pernah ia rasakan pada Chilla, gadis yang hanya ia anggap sebagai tetangga depan rumah, teman sekolah, tak pernah lebih dari itu. Namun kini, untuk pertama kalinya, jantungnya berdegup dengan terburu untuk tetangga depan rumah itu.
Tanpa sempat mengantisipasi, Chilla menoleh, menangkap mata Jonas yang sedang mempernatikannya. Membuat Jonas kelabakan dan bingung mau berkata apa.
"Kenapa?" tanya Chilla, tenang. Ada senyum samar di wajah gadis itu jika Jonas tak salah sangka.
"Mm..." Jonas bergumam, memutar otak mencari alasan atau sekedar pengalih perhatian. "Kamu sukanya apa?" Ia teringat topik terakhir mereka.
"Mm?" Alis Chilla meninggi, terlihat bingung.
"Kamu suka apa pas masih kecil?"
"Ohh..." Chilla sepertinya mengingat kembali apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Membuat Jonas lega.
"Aku suka naik kereta. Saking sukanya, aku dulu gak mau turun padahal udah sampe tujuan. Sampe ngamuk-ngamuk."
Jonas tersenyum membayangkan Chilla kecil yang mengamuk tak mau turun. Pasti menggemaskan sekali. Chilla remaja saja semenggemaskan ini, apalagi Chilla kecil.
"Tapi aku udah lama gak naik kereta. Pengen banget naik kereta lagi, apalagi kalo gak sama Kak Largha."
"Kenapa gak mau sama Kak Largha?"
"Pengen aja pergi sendiri, jalan-jalan sendiri tanpa kakak yang over protektif dan super bawel."
"Protektif dan bawel karena sayang," ucap Jonas, melirik Chilla sekilas.
"Iya..."
Keduanya pun terdiam. Sekali lagi betah dalam bungkam. Hanyut dalam alunan lagu yang mengalun pelan, mengalir seiring angin yang menyapu perlahan.
Lalu...
Tup!
Semua gelap. Listrik padam.
"Jo!" seru Chilla panik. Terdengar dia bergerak gelisah di sisi Jonas.
Srugh!
Srugh!
Suara benda yang beradu dengan aspal bergema. Jonas cukup yakin bila itu bunyi ponsel Chilla yang menggelosor di atas aspal.
"Aisss..."
"Ssstt..." tegur Jonas, mencoba menenangkan Chilla. "Jangan panik. Sebentar lagi pasti lampunya nyala lagi. Kamu jangan gerak, biar aku yang nyariin handphone kamu."
"Jangan jauh-jauh," cicit Chilla. Nampaknya benar-benar terganggu dengan kegelapan.
"Iya," sahut Jonas lembut. "Ulurin tangan kamu ke samping," pintanya.
"Udah," jawab Chilla.
Jonas merasakan ujung jari Chilla menusuk lengannya. Maka diraihnya jemari gadis itu, menggenggamnya ringan. Ia mencoba memberitahu Chilla bahwa ia berada dekat di sisinya.
Kemudian Jonas mulai beranjak dari duduknya. Dalam posisi berjongkok ia meraba-raba jalan aspal di sekitarnya, mengikuti bunyi lagu yang kini melirih perih. Dipicingkannya mata minusnya, mencoba menangkap bentuk benda yang dicari.
Malam ini agak mendung. Hanya ada sedikit bintang, tanpa bulan, tanpa cahaya lampu jalanan dan lampu beranda. Betul-betul gelap.
Ketika Jonas bergerak sedikit jauh, Chilla mengeratkan genggaman tangan mereka, bermaksud mencegahnya menjauh.
Samar-samar ia dapat mendengar suara langkah mendekat. Makin lama, derap langkah itu makin terdengar nyata.
"Jonas," panggil Chilla. Kali ini suaranya terdengar lebih panik dari sebelumnya. Pasti dia juga menangkap suara langkah mendekat itu.
Tergesa-gesa Jonas mencari ponsel Chilla. Ia pun mulai merasa cemas. Entah orang yang mereka kenal atau penjahat, mereka berdua akan tetap dapat masalah bila ketahuan berdua di luar rumah lewat tengah malam begini.
Dapat!
Akhirnya tangannya mencengkram ponsel yang dicari. Perasaan lega meliputinya. Namun itu tak berlangsung lama, kepanikan yang lebih besar menyergapnya kala tangan Chilla tersentak lepas dari genggamannya.
"Chilla!" Jonas otomatis berdiri.
Tup!
Lampu kembali menyala. Menyerang retina mata. Tapi tak ada kesempatan untuk mengerjap saat ia melihat siapa sosok yang berdiri mencengkram lengan Chilla.
Largha!
"Ngapain kalian di luar jam segini?!"
∆∆∆
Hai guys, kalo kalian suka cerita ini, please like, komen, kasih rating yang bagus, juga share ke teman-teman kalian supaya aku.bisa lebih semangat nulisnya. besar sekali nilai dan apresiasi kalian.
ok, c u next chapter!
bye!
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh