Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan
Kembali ke rumah, dadaku sudah memanas saat menatap rumah itu, rumah yang di dalamnya ada wanita itu. Aku melepas nafas kasar saat membuka pintu mengikuti arur gemuruh di dalam dada. Pertama kuambil air mineral di ruangan makan, lalu meneguk sampai habis untuk meredakan panas di dada ini.
Kuletakkan gelas ke meja. Kedua telapak tangan menapak di atas meja, kepalaku menunduk dan mata pun terpejam. Kurasakan beberapa butir keringat menetes-netes di pelipis. Setelah kurasakan nafas ini teratur, aku melangkah menuju kamar.
Tepat di depan pintu kamar, aku berhenti menatap pintu. Di dalam sana ada wanita yang menjadi penyebab keluargaku tiada, dadaku kian panas rasanya. Tapi aku harus menguasai emosi, jangan sampai Layyana mengetahui apa yang kurasakan. Setelah kuyakinkan diri dalam keadaan sedikit tenang, aku menekan handle pintu. Lalu masuk.
Layyana ternyata belum tidur. Wanita itu terlihat sedang memeriksa lemari dalam posisi membelakangiku. Ia menoleh saat mendnegar suara pintu ditutup.
“Rico?” Senyum Layyana terurai lebar menatap kedatanganku.
“Kau belum tidur?” Sulit sekali membalas sneyum wanita itu.
“Belum. Aku baru saja selesai menyusun pakaianku ke lemari. Tapi aku nggak melihat pakaianmu. Memangnya pakaianmu dimana? Di sini nggak ada apa-apa.” Layyana menunjuk lemari.
Aku mendekati Layyana, lalu ikut memperhatikan isi lemari yang sudah diisi oleh pakaian milik wanita itu. Tidak penuh. Sebab Layyana hanya membawa pakaian sedikit. Sisanya hanya tampak rak-rak lemari yang kosong.
“Aku pergi meninggalkan rumah ini sejak remaja. Dan kembali ke rumah ini tepat di tanggal pernikahan Bang Rendi. Bajuku yang dulu tentu sudah tidak muat lagi jika kupakai sekarang. Aku orang asing di sini, sama sepertimu. Inilah hari pertamaku menginjakkan kaki ke rumah ini, sama seperti dirimu. Kepergianku dari rumah waktu itu diiringi oleh kemarahan bunda, itulah sebabnya hubunganku dengan bunda tidak sedekat hubungan ibu dan anak seperti yang lainnya,” jawabku menjelaskan. “Bunda menerimaku kembali di rumah ini karena aku bersedia mengikuti kemauannya untuk menikah denganmu.”
Layyana mengangguk memahami. “Ternyata hidupmu penuh dengan petualangan. Kepergianmu yang tidak diridhai oleh bunda, masa lalu yang katamu tidak baik, serta segala tentangmu yang menurutmu tidak tepat, kuharap akan menjadi baik atas niat di hati kecilmu.”
Aku mengangguk. Kuangkat satu lenganku dan menyentuh pucuk kepala wanita di hadapanku, mengelusnya singkat. “Terima kasih, istriku! Aku benar-benar mencintaimu. Tidak butuh waktu lama bagiku jatuh cinta kepadamu. Semua tentangmu mengajarkanku untuk mengenal cinta.” Aku tersenyum dan dibalas pula dengan senyum lebar oleh wanita itu.
Raut gembira terpancar jelas di wajah Layyana.
Good! Berbahagialah sekarang, Layyana! Semakin kau tertawa bahagia, semakin senang pula hati ini. Sebab tidak akan sulit membuatmu terjatuh. Sekarang adalah saatnya kau tertawa, Baby.
Telapak tanganku yang menempel di pucuk kepala Layyana pelan beregrak turun dan menyentuh pipi wanita itu. Aku harus memperagakan layaknya pria romantis sedunia, supaya wanita ini mabuk kepayang oleh perilakuku.
“Layyana, aku suamimu bukan?” tanyaku dengan bisikan lembut.
Layyana mengangguk dengan tatapan gugup ke mataku.
Aku maju selangkah hingga mengikis jarak. Kuciumi wajah Layyana dengan lembut. Lalu aku berbisik, “Ijinkan aku memilikimu seutuhnya.”
Layyana diam.
“Kalau kau tidak memberi ijin, aku tidak akan menyentuhmu, sayang. Aku tidak mau menyakiti hati wanita yang kucintai. Kebahagiaanmu adalah yang utama. Andai saja kau merasa bahagia bila aku tidak menyentuhmu, maka aku rela.” Aku memeluk Layyana sambil mengusap-usap punggung wanita itu. Biarlah kukorbankan perasaanku, mencoba bersikap manis demi tujuan akhir. Aku berusaha memberikan sentuhan lembut untuk memancing.
Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, maka aku harus mengorbankan yang kecil. Sama halnya seperti memancing ikan. Begitulah prosesnya. Umpan tidaklah seberapa, karena hasil dari umpan yang dikorbankan akan jauh lebih besar.
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih