NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Contest / Pengantin Pengganti / CEO
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.3
Nama Author: _Sri.R06

(SEDANG TAHAP REVISI)

Maura tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini. Menjadi pengantin pengganti karena kakaknya menghilang, dan masih harus menghadapi lelaki pemilik mata tajam sekelam malam yang kini menjadi suaminya.

Tapi, memang dunia memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan takdir mereka.

Karena Darren Aldarie Ganendra, yang terbiasa mengatur segalanya, justru kehilangan akal saat melihat perempuan itu tersenyum, bahkan dalam luka terdalamnya.


Lantas bagaimana kisah ini akan berjalan? Akankah cinta hadir dalam rasa sakit. Atau justru hancur dengan kebenaran yang dibawa takdir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Sri.R06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang Seharusnya Tidak Menjadi Pilihan

“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Darren, begitu mereka memasuki kediaman. “Apa yang Kakek inginkan sampai memintamu datang. Apa kamu membuat masalah yang menyulitkan saya?”

Maura menggeleng cepat. Menatap Darren sepenuhnya. “Kakek—maksudku, Tuan Cassian memintaku datang hanya untuk kunjungan singkat saja. Kami juga tidak membicarakan hal yang Kakak pikirkan.”

“Bagaimana saya bisa percaya?”

Pertanyaan itu bagai menabur kata pada desir angin—tak akan sampai ke telinga yang tak mau mendengar.

Begitu pun Darren, entah bagaimana Maura menjelaskan, jika Darren hanya ingin mendengar apa yang dipercaya, maka penjelasan pun tak lagi memiliki arti dalam perbincangan mereka.

Meski begitu Maura tak ingin ini semakin berlarut, meski kesalahpahaman Darren tak cukup membuat Maura seterganggu itu, dia tetap berusaha menjelaskan, “Kami hanya berbicara tentang lukisan.”

“Sejak kapan Kakek suka melukis?” Darren skeptis, bahkan selama Darren tinggal di kediaman utama, tak pernah sekalipun dia melihat sang kakek berkutat dengan alat lukis.

Maura menggeleng kecil. “Bukan Tuan Cassian, tapi mendiang istri beliau yang suka melukis. Kami hanya sedikit membicarakan tentang itu.”

Darren terdiam, dia mengalihkan pandangan sejenak, menghirup napas dalam-dalam, jarinya menyugar rambut yang tak lagi tertata rapi. Jatuh menutupi kening dengan cara yang terlalu sulit diabaikan.

“Lalu dengan Mama?” Sebelah alis Darren terangkat. Dia bahkan masih bisa mengingat suara tawa yang terdengar dari keduanya. Hal apa yang mereka bicarakan sampai terlihat seperti itu?

Untuk pertanyaan kali ini, Maura tertegun. Lalu satu detik setelahnya menggulum senyum menahan lengkungan halus di bibirnya.

“Kenapa?” Darren rasanya sudah curiga. Matanya menyipit tajam seolah menuntut Maura untuk memberi jawaban.

“Itu … hanya tentang seorang anak yang dulunya begitu … ekspresif, tapi berubah ketika dia dewasa,” kata Maura terdengar begitu ambigu ditelinga Darren.

“Apa maksudmu?” tanya Darren, dari nada suara lelaki itu jelas dia ingin jawaban lebih.

Maura kembali menaikkan pandangan tapi malah menggulum senyum membuat Darren kian curiga. “Bukan hal besar. Tetapi, aku bisa pastikan itu bukan hal yang bisa membuat Kak Darren dalam masalah seperti yang Kakak takutkan.” 

“Maura … saya tidak suka menebak-nebak.”

Begitu air wajah Darren mengeras dengan mata memejam, Maura merasakan alarm bahaya dalam kepala. Karena tak mungkin mengatakan semua cerita Kimora tentang masa kecil Darren yang telah Maura ketahui, Maura memilih mundur perlahan. “Kalau begitu Kakak istirahat saja. Aku juga lapar, ingin mandi.”

Eh?

Maura tercenung, tak menemukan korelasi antara dua kata yang baru saja dia ucapkan itu. Tapi masa bodoh, niatnya sekarang adalah menghindari Darren lebih dulu. Maka dengan cepat, dia membungkuk kecil, senyumnya mengembang manis. Tapi entah kenapa terasa menjengkelkan di mata Darren. “Maura kembali ke kamar, sampai jumpa Kak Darren.” 

Darren tercengang untuk sesaat, apa ini? Apa dia baru saja dicampakkan? “Maura?! Pertanyaan saya—” Darren terdiam dengan decakan samar, nadanya yang cukup keras membuat beberapa pelayan mencuri pandang. Karena tak ingin menjadi gosip di antara pelayan, Darren memilih menutup mulutnya. “Kenapa juga aku harus sepenasaran ini tentang maksud perempuan itu?” gumam Darren, tangannya mengepal sejenak, berharap bisa melupakan senyum menyebalkan perempuan itu.

Namun kenyataannya, semakin Darren menarik ingatan itu menjauh, semakin pikirannya terjerat untuk mencari tahu.

“Sialan.”

Benar-benar sial, karena perbincangan tidak penting barusan Darren sampai lupa dia harus memberitahu Maura tentang undangan untuk datang ke perusahaannya jika perempuan itu tidak keberatan. Ya sudahlah, Darren akan menanyai perempuan itu di lain waktu.

Setelahnya entah bagaimana Darren begitu sulit menemukan waktu yang cocok. Entah dia yang terlalu sibuk pada pekerjaan, atau Maura yang tiba-tiba menjadi tak terlihat di rumah ini. Beberapa kali bertanya pada pelayan, dan ketika Darren mengetahui keberadaan Maura, perempuan itu sudah menghilang ketika Darren datang.

Apa Maura menghindarinya?

Apa Maura takut Darren masih akan bertanya mengenai perkataannya saat itu? Sungguh Darren tak sekurang kerjaan itu untuk memikirkan hal tidak penting. Ya, meskipun Darren akui dia masih sedikit menyimpan rasa penasaran.

Tapi ya sudah, itu bukan prioritasnya saat ini.

Hingga akhirnya, Darren memilih cara paling tidak Darren sekali. Memeriksa jam di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul 9 malam Darren masih terjaga, dengan kaos putih polos juga celana longgar panjang, lelaki itu memilih sofa sudut ruangan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bekerja seharian ini.

Punggungnya terasa nyaman dengan tekstur empuk yang menyentuh kulit. Membuat napasnya lebih rileks. Mata kelam itu sesekali terpejam, dengan napas yang perlahan stabil.

Untuk kesekian kalinya Darren hampir berpikir Maura bagian dari makhluk halus karena sulit sekali ditemui. Perempuan itu seperti membuat peta pelarian untuk menghindari Darren.

Maka dia memilih cara ini. Karena alih-alih mencari, Darren memilih menunggu.

Remang kamar nyaris menyembunyikan siluet Darren, hanya sedikit cahaya dari sinar bulan juga lampu tidur yang sengaja dinyalakan. Lalu cahaya lain membuat ruangan sedikit tersorot begitu pintu kamar dibuka. Decitan halus dari pintu membuat mata Darren yang semula terpejam perlahan terbuka.

Begitu pintu tertutup, sosok yang sejak tadi di tunggunya muncul. Darren tak bergerak dari posisinya, hanya kepalanya yang mengikuti sosok itu yang baru saja melepas sandal dengan gerakan malas.

“Aku tidak mematikan lampu.” Gumaman itu terdengar pelan. Darren masih enggan berbicara, hanya merapatkan lipatan tangan di bawah dada.

Suara gesekan rantai terdengar ketika Maura melepas tas selempang dari bahu, lalu melemparkannya asal, yang tidak sempat Darren perhitungkan karena benda itu mendarat tepat di dahinya. Nyaris Darren mengumpat.

Tangannya menarik turun tas kecil itu dari wajahnya untuk diselipkan di samping tubuh, masih di atas sofa.

Darren hanya menghela napas, merasakan dahinya mulai berkedut kesal karena perempuan itu bahkan tak sekalipun waspada atau berpikir mungkin saja ada seseorang di kamarnya.

Hanya saja, menyelinap ke kamar perempuan—yang meskipun istrinya—mungkin memang bukan pilihan yang baik. Karena baru saja Darren menjadi terlalu menikmati menunggu kapan perempuan itu akan terkejut. Kini dirinya malah dibuat nyaris kehilangan ritme napas begitu sadar apa yang saat ini sedang Maura lakukan.

Sial.

Secepat kilat tubuhnya bangkit, yang disaat bersamaan membuat Maura—yang baru melepas beberapa kancing bajunya—menoleh. Tangan Darren serampangan menekan saklar yang untungnya berada di dekatnya. Membuat lampu ruangan menyilaukan kamar tidur hampir seketika.

Barulah, ketika penerangan sepenuhnya masuk ke dalam netra mereka. Darren maupun Maura sudah saling menatap.

Hening.

Canggung.

Tak ada yang cukup pas untuk menamai suasana saat ini. Darren dengan rambut berantakan dan mata yang sedikit melebar, juga Maura yang wajahnya sudah sepenuhnya memerah dengan mata membelalak lebar.

Jangan kutuk Darren terburu-buru, karena sumpah Darren tak melihat apapun yang melanggar akal sehatnya. Bahkan Maura masih berpakaian dengan benar, tangan perempuan itu masih cukup cepat untuk mencengkram pakaiannya sendiri agar tidak menimbulkan masalah dikemudian waktu.

Hingga sampailah pada kesadaran yang seolah memukul Maura untuk segera bereaksi. Perempuan itu memejamkan mata kuat-kuat dengan mulut yang terbuka siap untuk berteriak sebagai respon pertama akan keterkejutan.

Tapi saat itu suara lain menyela lebih cepat dari angin di luar sana.

“Jangan teriak.”

Dan anehnya, Maura menurut. Bibirnya secara otomatis melipat ke dalam dengan mata yang perlahan kembali terbuka. “K-kenapa kamu di sini?!” Maura bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Namun Darren dengan sikap acuh tak acuhnya berdiri segera, tak menatap Maura kali itu. Tangannya hampir secara otomatis mencari saku celana tapi hatinya dibuat menggerutu ketika sadar dia mengenakan celana yang tidak memiliki kantong. Berdehem sejenak, maka begitu naturalnya Darren menaruh kedua tangan di sisi tubuh.

Begitu Darren berhenti tiga langkah di depan Maura, dia berkata datar. “Datanglah ke perusahaan rabu ini.”

Hanya begitu, bahkan Maura masih berkedip bingung ketika Darren melangkah melewatinya tanpa mengatakan apapun lagi. Lelaki itu sungguh tak menunjukkan tanda-tanda canggung apalagi rasa malu seperti yang ditunjukkan Maura.

“Lain kali ….” Suara itu membuat Maura berbalik dengan kaku, melihat punggung Darren yang berhenti di ambang pintu. “ … gunakan kamar mandi atau apapun ketika berganti pakaian.”

Setelah itu Darren keluar dengan langkahnya yang terasa dipercepat. Meninggalkan ruangan dengan jantung yang masih berdegup lebih cepat juga telinga yang bersemu samar untuk alasan yang tak akan pernah mau Darren ungkapkan.

Maura di tempatnya masih terperangah, tidak percaya atas kata-kata yang baru saja keluar dari mulut lelaki yang menyelinap ke kamar seorang perempuan tanpa pemberitahuan.

Biar Maura tegaskan. Ini, kan, kamarnya, ruang privasinya. Tempat di mana seharusnya tidak ada siapapun selain Maura. Lalu jika Darren sendiri yang datang akankah itu menjadi kesalahannya?!

Maura rasanya ingin marah, tapi kata-katanya seolah tertelan di tenggorokan. Rasa malu membuat perempuan itu terasa kehilangan wajah. Panas Maura rasakan sampai naik hingga ke ubun-ubun. Maura akhirnya memekik tertahan—sesuatu yang sejak tadi ingin dia lakukan—kedua tangannya terkepal dengan kaki yang menginjak-injak ubin penuh rasa kesal.

“Kenapa—argh!” Perempuan itu sungguh tak mampu mengatakan apapun. Lidahnya kelu kehilangan kekuatan, dengan hentakan kasar Maura mengambil pakaian ganti lalu pergi ke kamar mandi.

Maura pastikan ini terakhir kalinya dia berganti pakaian di kamar. Meski jarang Maura melakukannya kini dia sungguh menyesal, kenapa tadi tidak langsung pergi ke kamar mandi saja.

Tapi Maura sungguh menolak disalahkan. Jelas ini salah Darren karena memasuki kamarnya tiba-tiba. Wilayah kekuasaannya. Lalu apa katanya tadi?

Darren meminta Maura datang ke perusahaan lelaki itu? Rabu ini? Yang artinya dua hari lagi.

Tidak! Maura tidak ingin pergi! Setidaknya itu yang ingin dia teriakkan di wajah Darren, tapi sayangnya Maura tak seberani itu untuk bertingkah tidak sopan—

Tapi Maura segera tersadar, Darren yang baru saja bersikap kurang sopan!

Maura menarik napas, meloloskan piyama melewati kepala menutupi tubuhnya dengan gerakan tergesa-gesa, seolah tengah dikejar waktu. Perempuan itu, dalam renungan kekesalannya mencebikkan bibir. Dia tahu, ketika rabu datang, tubuhnya akan secara otomatis pergi ke perusahaan lelaki itu sesuai yang Darren perintahkan.

...༺ ❦❦❦ ༻...

.......

.......

.......

Salam, Aci.

Telah direvisi,

4/12/2025

1
Dewi Fajar
ibu nya kok ngomong nya gitu ya ke Maura..kalo vallerie sudah ditemukan Maura boleh meninggalkan daren..itu ibuk atau apa ? tega banget kalimat nya.dikira pernikahan itu barang yang bisa di ganti ganti?
Siti Fathonah
lanjuuuuttt
Dina Ningrum
bagus ceritanya
Dina Ningrum
Buruk
Siti Fathonah
lanjuuuuttt
Gadis Puspa Kartika
Luar biasa
syahira alifa
si ulet keket Rey pergi,, datang lagi wanita medusa si valleri
syahira alifa
si Rey ini bego apa oon sih,, dibilangin Darren cuma nganggap Rey sebagai adik terus aja berharap..dasar stress sakit jiwa
syahira alifa
kenapa gak biarin aja si bodoh Rey lompat bunuh diri..
syahira alifa
udah tau si Rey ingin Darren,,eh Maura malah nanya lagi..
syahira alifa
heran deh sama orang yang karena cintanya di tolak nekat bunuh diri..
syahira alifa
Maura lelet banget sih,,gemes banget
Queen Aiyana
Udah ku duga , Robert sialan !
Rita Riau
kan bener,,, Rey pergi Vallery datang
yg ini pasti lebih ga tau diri🤔🤭🙄
Rita Riau
Rey sadar Vilerie yang datang jadi ulet🤔🤭
Rita Riau
stres bin sakit jiwa si Rey 🙄🙄
Rita Riau
umpan tak dimakan ikan,,,, buaya kali tuh yg kepincut wkwkwk 😬🤪
Rita Riau
bibit pelakor kayak nih🤔🤭🙄
Rita Riau
dari pada berdebat upaedah lebih baik bergerak cepat sebelum Maura lebih jauh 🙄🙄🙄
A.R
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!