NovelToon NovelToon
TEMBANG SUNYI ANNISA

TEMBANG SUNYI ANNISA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:316.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jannah Zein

Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.

Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.

"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.

"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kak Rania Pendarahan Lagi

"Aku tahu, kalau Kamu memiliki ilmu lebih dari cukup untuk melakukan poligami. Tapi masalahnya, adakah poligami yang benar-benar adil?" tanya Kak Yahya kepada Fikri.

Mereka tengah menyusuri jalanan menuju pondok pesantren tempat mereka mengajar.

Dia menghela nafas.

"Tidak ada poligami yang benar-benar adil, Kak. Kecuali poligami Rasulullah Saw," sahutnya.

"Nahh, Kamu tahu. Tapi mengapa Kamu berpoligami?" tanya kak Yahya.

"Karena hidup ini pilihan, Kak. Seperti halnya hidup, pernikahan juga pilihan. Mau hanya satu istri atau lebih dari satu istri," sahutnya.

"Tidak seperti Annisa, yang saat menikahinya dulu karena memang Fikri sudah jatuh cinta padanya, Fikri menikahi Zahra karena tawaran kedua orang tuanya dan desakan dari Abah Fikri."

"Kasusnya beda dong, kak."

"Tapi Kamu bisa menolaknya, Fikri."

Fikri tersenyum simpul.

"Iya benar, Kak. Fikri masih bisa menolaknya. Tapi masalahnya, Fikri teringat sesuatu hal."

"Maksudmu?" tanya kak Yahya.

"Kakak ingat gak, ketika Sayyidina Umar Ra menawarkan putrinya kepada sahabatnya, sayyidina Abu Bakar Siddiq Ra dan sayyidina Utsman Ra. Walaupun pada akhirnya Sayyidah Hafshah menikah dengan Rasulullah Saw, tapi tetap saja penolakan kedua sahabatnya itu menjadi cerita di dalam sejarah,"

"Tak ada orang tua manapun yang ingin putrinya di tolak, kak," ucap Fikri sembari menghela nafas.

Kak Yahya mengangguk.

"Tapi itu kan beda kasusnya dengan Zahra, Fikri," ucap kak Yahya.

Fikri mengangguk.

"Iya memang beda, Tapi beberapa hal ada kesamaan."

"Seperti contoh, pernikahan Rasulullah dan Sayyidah Hafshah itu mempererat hubungan Rasulullah Saw dengan Sayyidina Umar Ra."

"Sejujurnya Fikri menikahi Zahra itu lebih untuk mempererat hubungan persahabatan antara Abah Zahra dan Abah Fikri."

"Kalau masalah kecantikan dan kekayaan, itu hanya bonus."

Suasana hening sejenak.

"Tidak ada seorangpun yang benar-benar bisa berbuat adil, bahkan dalam pernikahan monogami sekalipun. Sebagai contoh, seseorang suatu siang makan di restoran dengan menu ayam goreng dan lalapan yang lezat, sementara istri di rumah hanya makan dengan lauk ikan asin. Bukankah itu juga tidak adil?"

"Kalau mau adil, seharusnya dia bawakan makanan yang sama saat makan di restoran itu, agar istrinya merasakan makanan yang sama dengan makanan yang di makannya,"

"Jadi keadilan itu bukan hanya untuk pelaku poligami saja, tapi untuk pelaku monogami juga," tandasnya.

"Tapi apakah poligami itu tidak berpengaruh terhadap mental perempuan? Secara kan banyak poligami yang akhirnya bermasalah?"

Fikri menggelengkan kepala.

"Fikri rasa itu tergantung orangnya, Kak. Dan masalah rumah tangga orang kan gak sama dan solusinya pun juga berbeda-beda."

"Fikri rasa dengan pernikahan ini, bisa membuat Annisa dan Zahra lebih berkembang. Mereka lebih memiliki waktu untuk mengembangkan potensi diri mereka tanpa harus di tuntut untuk melayani suaminya setiap hari."

"Fikri rasa mereka akan lebih bahagia dengan pernikahan ini. Sepanjang mereka selalu berpikiran positif dalam memaknai hidup. Karena sejatinya poligami itu bukan cuma menguntungkan bagi laki-laki, tapi juga bagi perempuan."

Tak terasa, mobil yang mereka kendarai sampai di parkiran halaman pesantren.

**************

Drttt..

Ponsel di saku bajunya berbunyi.

Annisa? Fikri mengerutkan keningnya.

"Hallo ...."

"Kak, cepat pulang. Kak Rania pendarahan lagi," terdengar suara Annisa yang panik.

"Ya sayang, Kakak akan cepat pulang. Kamu jangan panik ya."

Fikri segera berlari menuju mobilnya. Ekor matanya menangkap bayangan kak Yahya yang juga tengah berlari di belakangnya.

"Rania, Fik," ucap lelaki muda itu dengan nafas ngos-ngosan.

Fikri mengangguk.

"Ayo Kita pulang, " ucapnya segera membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.

Mobil pun meluncur menuju rumah dengan kecepatan tinggi.

*****************

Annisa berhasil memapah kak Rania keluar dari kamar mandi menuju kamar tidurnya. Setelah wanita itu berbaring, dia pun memasang diapers supaya darahnya tidak terus mengalir dan mengotori seprai.

"Kak," panggilnya.

Dia hanya menatap dengan pandangan kosong. Wajahnya memucat.

"Tunggu bentar ya kak. Sebentar lagi Kak Fikri dan Kak Yahya akan datang,"

Suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Annisa menghela nafas lega.

"Kak," ucap Annisa melihat suaminya.

Dia menepuk pundak wanita itu.

"Gak papa. Ayo segera bersiap ke rumah sakit, " sahutnya.

Dia segera berbalik kembali ke kamar demi melihat kak Yahya tengah menggendong kak Rania.

Annisa segera menghambur ke kamar. Mengambil tas besar yang sudah di siapkan untuk kak Rania dan juga tas selempangnya.

Sementara ibu berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah.

"Nisa,"

Annisa memegang tangan ibu yang dingin dan berkeringat.

"Tak apa-apa, Ma. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang.'

Annisa segera mengunci pintu rumah dan bergegas masuk ke mobil dengan ibu.

Sesaat kemudian, mobil sudah meluncur menuju rumah sakit.

*****************

"Lakukan yang terbaik untuk Kakak Kami, dok," ucap Fikri kepada dr. Vivian.

"Tentu Ustadz. Pasti Kami lakukan yang terbaik untuk pasien."

Seorang asisten segera mengoleskan gel ke perut kak Rania. Dr Vivian lantas menempelkan alat ke permukaan perut yang sudah di olesi gel itu.

Terlihat sesuatu muncul di layar monitor. Dr. Vivian tersenyum simpul.

"Alhamdulillah.. Bayinya kuat dan sehat. Jantungnya juga bagus. Tak ada yang perlu di khawatirkan, " ucapnya.

Dr. Vivian memberi isyarat agar asistennya kembali membawa kak Rania ke ruang perawatannya.

"Hanya saja yang menjadi masalah, pendarahannya itu. Semakin sering kontraksi, akan semakin sering pendarahan. Itulah yang perlu di waspadai,"

"Jadi harus bagaimana, dok? tanya kak Yahya.

"Kalau saya menyarankan, untuk operasi Caesar sekarang. Mampung belum terlalu banyak keluar darah. Bayinya juga sehat dan cukup berat badannya. Sehingga walaupun operasi sekarang, insyaAllah bayinya tidak perlu masuk inkubator."

"Tapi kalau tidak mau operasi juga tidak apa-apa. Hanya itu tadi yang patut di waspadai. Karena pendarahan bisa terjadi kapan saja."

Annisa melirik kak Yahya yang terlihat murung.

Tiba-tiba Fikri angkat bicara.

"Lakukan apa yang menurut dokter terbaik. Bukan begitu kak Yahya?" Dia menepuk pundaknya

Kak Yahya mengangguk.

"Baiklah. Lakukan tindakan operasi sekarang, dok."

Dr. Vivian tersenyum simpul.

"Silahkan tanda tangan dulu ya," ujar dr. Vivian.

Seorang asisten menyodorkan berkas yang harus di tandatangani kak Yahya.

"Untuk masalah biaya, nanti berhubungan dengan pihak administrasi ya," ucap dr. Vivian.

Merekapun mengangguk.

"Terima kasih, dok,"

*******************

Tiada tuhan selain Allah yang maha agung lagi maha bijaksana. Tiada tuhan selain Allah pemilik Arsy yang agung. Tiada tuhan selain Allah pemilik langit dan bumi dan Arsy yang agung..

Hanna waladad maryama wa maryama waladat isaa. Ukhruj ayyuhal mauluudu biqudratil malikul ma'buudi..

Annisa membaca doa itu berulang-ulang, lalu meniupkannya ke perut kak Rania.

"Kakak jangan takut ya. InsyaAllah, operasi ini akan berhasil. Tim dokter akan melakukan yang terbaik untuk Kakak,"

"Tapi biayanya Ding,' bisik Kak Rania. "Pasti akan sangat mahal. Gak sanggup kakakmu bayarnya,"

Annisa mengelus kepala wanita itu.

"Kakak gak usah memikirkan soal itu. Kita semua yang akan menyelesaikannya. Kak Rania yang tenang ya."

Dia mengangguk lemah. Kulihat matanya mengembun.

Annisa kembali mengelus kepalanya.

"Semua akan baik-baik saja, Kak. Kakak fokus aja menyiapkan mental untuk menghadapi persalinan ini," ucap Annisa

Dia kembali mengangguk.

"Terima kasih, Ading."

1
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
resiko poligami.. kalo sanggup bertahan KLO ga tahan mundur...di dunia tidak ada yg mau di poligami
Noni Kartika Wati
kapan rukayah dipoligami Thor udah ga sabar nih
Nurmiati Aruan
nyesek amat thor....
Adiba Shakila Atmarini
critax baik.kada bosan mmbacax.sengat lah.d tunggu novel berikutx..sukss sllu💪💪💪
Adiba Shakila Atmarini
sduh mulai riak2 msalah dlm rumh tnggax fikri.ksian annisah..
senja indah
celup sana sini...mantap kri
Dewi Sri
Penulisan dari tubuhku kurang tepat ya…harusnya tubuhnya karena itu pov annisa
Eva Yunita
cerita nya waw ... masya Allah...🥰
Juan Sastra
agak janggal dengan kalimat tertawa terpingkal pingkal,,kalimat itu dlm artian sudah sangat begitu lucu dan lebih ke terbahak bahak..sementara dalam islam selucu apa pun harusnya hanya tersenyum , tersenyum lebar ). selebihnya bagus semuanya 🙏🙏🙏 maaf sebelumnya. memang tidak ada yg sempurna karena kesempurnaan hanya milik allah swt.
Juan Sastra
ini yg benar benar egois mama sama raqayah..apa lagi mama padahal kan nisa di justru di jodohkan sama fikri , karena mama fikri sahabatan sama mama nisa tapi kok kesannya ggak setuju gitu..selalunsaja memcari cari kesalahan nisa,, sedangkan itu jelas jelas tidaklah bemar menurut islam ,,, hadeeeehh...bikin emosi aja ini kisah..
Juan Sastra
La abah abah cari pamor rupanya..tega
Juan Sastra
ggak mungkin ada nisa yg kedua fikri yg mau menekan hatinya hanya untuk kesenangan suaminya..anisa sudah menolak tapi malah di bujuk mati matian..itulah balasanya..🙏🙏🙏 koment ku gini mulu,, yg jelas aku nyesek sendiri bacanya ggak ke bayang jadi nisa,,harus rela berbagi suami apa lagi wanita itu lebih cantik lebih muda dan jelas lebih fress..pastilah fikri takut kehilangan dapat di mana lagi coba ikan segar lagi frwss pula..
Juan Sastra
jangan bilang itu fitnah dari zahra yg menyuruh ifah..wahh zahra ggak banget kalo gitu percuma kelesantren hati juga ggak bersih bersih cocoklah iparan sama raqayah..
Juan Sastra
itulah akibatnya jika hanya menuruti hawa nafsu fikri..menyesal pun tidak berguna..yg jelas hati adek udah terpotek lotek..iklaskah nisa dan jawabannya tidak hanya berusaha menerima takdir itu yg di jalaninya sakit itu tetap menyertai setiap denyut nafasnya..
Juan Sastra
heran deh sama raqayah.. suka ngerecoki rumah tangga adeknya..dia iri apa gimana sih..
Juan Sastra
lebih nyesek tuh jadi nisa...aku yg baca aja nyesek mulu..
Juan Sastra
mulai ada tuh bayang bayang iri ..jangan sampai cburu jadi alasan ingin menguasai sendiri
Juan Sastra
apa perasaan aku aja yah kok beda yah mesranya fikri sama zahra dan mseranya fikri sama nisa..kalo sama zahra fikri kayak nafsuan banget yah..apa apa kebayang tapi sama nisa ggak padahal nisa lagi hamil loh..taulah kalo lagi hamilkan pengen di manja manjain di sayang sayang...kok aku perih sendiri yah...😁
Juan Sastra
kok aku yaa yg merasa sakit saat baca fikri ngenayangin zahra kayak gitu..dan raqayah semoga suamimu poligami biar tau rasa
Juan Sastra
yg madu sama baik eehh ipar yg jadi uletnye ngerecokin..hamil salah belum hamil di bilang mandul..emang ggak setuju dr awal kali tuh orang secara kan nisa bukan anak horang kayah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!