Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.
Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.
"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.
"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Rania Pendarahan Lagi
"Aku tahu, kalau Kamu memiliki ilmu lebih dari cukup untuk melakukan poligami. Tapi masalahnya, adakah poligami yang benar-benar adil?" tanya Kak Yahya kepada Fikri.
Mereka tengah menyusuri jalanan menuju pondok pesantren tempat mereka mengajar.
Dia menghela nafas.
"Tidak ada poligami yang benar-benar adil, Kak. Kecuali poligami Rasulullah Saw," sahutnya.
"Nahh, Kamu tahu. Tapi mengapa Kamu berpoligami?" tanya kak Yahya.
"Karena hidup ini pilihan, Kak. Seperti halnya hidup, pernikahan juga pilihan. Mau hanya satu istri atau lebih dari satu istri," sahutnya.
"Tidak seperti Annisa, yang saat menikahinya dulu karena memang Fikri sudah jatuh cinta padanya, Fikri menikahi Zahra karena tawaran kedua orang tuanya dan desakan dari Abah Fikri."
"Kasusnya beda dong, kak."
"Tapi Kamu bisa menolaknya, Fikri."
Fikri tersenyum simpul.
"Iya benar, Kak. Fikri masih bisa menolaknya. Tapi masalahnya, Fikri teringat sesuatu hal."
"Maksudmu?" tanya kak Yahya.
"Kakak ingat gak, ketika Sayyidina Umar Ra menawarkan putrinya kepada sahabatnya, sayyidina Abu Bakar Siddiq Ra dan sayyidina Utsman Ra. Walaupun pada akhirnya Sayyidah Hafshah menikah dengan Rasulullah Saw, tapi tetap saja penolakan kedua sahabatnya itu menjadi cerita di dalam sejarah,"
"Tak ada orang tua manapun yang ingin putrinya di tolak, kak," ucap Fikri sembari menghela nafas.
Kak Yahya mengangguk.
"Tapi itu kan beda kasusnya dengan Zahra, Fikri," ucap kak Yahya.
Fikri mengangguk.
"Iya memang beda, Tapi beberapa hal ada kesamaan."
"Seperti contoh, pernikahan Rasulullah dan Sayyidah Hafshah itu mempererat hubungan Rasulullah Saw dengan Sayyidina Umar Ra."
"Sejujurnya Fikri menikahi Zahra itu lebih untuk mempererat hubungan persahabatan antara Abah Zahra dan Abah Fikri."
"Kalau masalah kecantikan dan kekayaan, itu hanya bonus."
Suasana hening sejenak.
"Tidak ada seorangpun yang benar-benar bisa berbuat adil, bahkan dalam pernikahan monogami sekalipun. Sebagai contoh, seseorang suatu siang makan di restoran dengan menu ayam goreng dan lalapan yang lezat, sementara istri di rumah hanya makan dengan lauk ikan asin. Bukankah itu juga tidak adil?"
"Kalau mau adil, seharusnya dia bawakan makanan yang sama saat makan di restoran itu, agar istrinya merasakan makanan yang sama dengan makanan yang di makannya,"
"Jadi keadilan itu bukan hanya untuk pelaku poligami saja, tapi untuk pelaku monogami juga," tandasnya.
"Tapi apakah poligami itu tidak berpengaruh terhadap mental perempuan? Secara kan banyak poligami yang akhirnya bermasalah?"
Fikri menggelengkan kepala.
"Fikri rasa itu tergantung orangnya, Kak. Dan masalah rumah tangga orang kan gak sama dan solusinya pun juga berbeda-beda."
"Fikri rasa dengan pernikahan ini, bisa membuat Annisa dan Zahra lebih berkembang. Mereka lebih memiliki waktu untuk mengembangkan potensi diri mereka tanpa harus di tuntut untuk melayani suaminya setiap hari."
"Fikri rasa mereka akan lebih bahagia dengan pernikahan ini. Sepanjang mereka selalu berpikiran positif dalam memaknai hidup. Karena sejatinya poligami itu bukan cuma menguntungkan bagi laki-laki, tapi juga bagi perempuan."
Tak terasa, mobil yang mereka kendarai sampai di parkiran halaman pesantren.
**************
Drttt..
Ponsel di saku bajunya berbunyi.
Annisa? Fikri mengerutkan keningnya.
"Hallo ...."
"Kak, cepat pulang. Kak Rania pendarahan lagi," terdengar suara Annisa yang panik.
"Ya sayang, Kakak akan cepat pulang. Kamu jangan panik ya."
Fikri segera berlari menuju mobilnya. Ekor matanya menangkap bayangan kak Yahya yang juga tengah berlari di belakangnya.
"Rania, Fik," ucap lelaki muda itu dengan nafas ngos-ngosan.
Fikri mengangguk.
"Ayo Kita pulang, " ucapnya segera membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.
Mobil pun meluncur menuju rumah dengan kecepatan tinggi.
*****************
Annisa berhasil memapah kak Rania keluar dari kamar mandi menuju kamar tidurnya. Setelah wanita itu berbaring, dia pun memasang diapers supaya darahnya tidak terus mengalir dan mengotori seprai.
"Kak," panggilnya.
Dia hanya menatap dengan pandangan kosong. Wajahnya memucat.
"Tunggu bentar ya kak. Sebentar lagi Kak Fikri dan Kak Yahya akan datang,"
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Annisa menghela nafas lega.
"Kak," ucap Annisa melihat suaminya.
Dia menepuk pundak wanita itu.
"Gak papa. Ayo segera bersiap ke rumah sakit, " sahutnya.
Dia segera berbalik kembali ke kamar demi melihat kak Yahya tengah menggendong kak Rania.
Annisa segera menghambur ke kamar. Mengambil tas besar yang sudah di siapkan untuk kak Rania dan juga tas selempangnya.
Sementara ibu berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah.
"Nisa,"
Annisa memegang tangan ibu yang dingin dan berkeringat.
"Tak apa-apa, Ma. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang.'
Annisa segera mengunci pintu rumah dan bergegas masuk ke mobil dengan ibu.
Sesaat kemudian, mobil sudah meluncur menuju rumah sakit.
*****************
"Lakukan yang terbaik untuk Kakak Kami, dok," ucap Fikri kepada dr. Vivian.
"Tentu Ustadz. Pasti Kami lakukan yang terbaik untuk pasien."
Seorang asisten segera mengoleskan gel ke perut kak Rania. Dr Vivian lantas menempelkan alat ke permukaan perut yang sudah di olesi gel itu.
Terlihat sesuatu muncul di layar monitor. Dr. Vivian tersenyum simpul.
"Alhamdulillah.. Bayinya kuat dan sehat. Jantungnya juga bagus. Tak ada yang perlu di khawatirkan, " ucapnya.
Dr. Vivian memberi isyarat agar asistennya kembali membawa kak Rania ke ruang perawatannya.
"Hanya saja yang menjadi masalah, pendarahannya itu. Semakin sering kontraksi, akan semakin sering pendarahan. Itulah yang perlu di waspadai,"
"Jadi harus bagaimana, dok? tanya kak Yahya.
"Kalau saya menyarankan, untuk operasi Caesar sekarang. Mampung belum terlalu banyak keluar darah. Bayinya juga sehat dan cukup berat badannya. Sehingga walaupun operasi sekarang, insyaAllah bayinya tidak perlu masuk inkubator."
"Tapi kalau tidak mau operasi juga tidak apa-apa. Hanya itu tadi yang patut di waspadai. Karena pendarahan bisa terjadi kapan saja."
Annisa melirik kak Yahya yang terlihat murung.
Tiba-tiba Fikri angkat bicara.
"Lakukan apa yang menurut dokter terbaik. Bukan begitu kak Yahya?" Dia menepuk pundaknya
Kak Yahya mengangguk.
"Baiklah. Lakukan tindakan operasi sekarang, dok."
Dr. Vivian tersenyum simpul.
"Silahkan tanda tangan dulu ya," ujar dr. Vivian.
Seorang asisten menyodorkan berkas yang harus di tandatangani kak Yahya.
"Untuk masalah biaya, nanti berhubungan dengan pihak administrasi ya," ucap dr. Vivian.
Merekapun mengangguk.
"Terima kasih, dok,"
*******************
Tiada tuhan selain Allah yang maha agung lagi maha bijaksana. Tiada tuhan selain Allah pemilik Arsy yang agung. Tiada tuhan selain Allah pemilik langit dan bumi dan Arsy yang agung..
Hanna waladad maryama wa maryama waladat isaa. Ukhruj ayyuhal mauluudu biqudratil malikul ma'buudi..
Annisa membaca doa itu berulang-ulang, lalu meniupkannya ke perut kak Rania.
"Kakak jangan takut ya. InsyaAllah, operasi ini akan berhasil. Tim dokter akan melakukan yang terbaik untuk Kakak,"
"Tapi biayanya Ding,' bisik Kak Rania. "Pasti akan sangat mahal. Gak sanggup kakakmu bayarnya,"
Annisa mengelus kepala wanita itu.
"Kakak gak usah memikirkan soal itu. Kita semua yang akan menyelesaikannya. Kak Rania yang tenang ya."
Dia mengangguk lemah. Kulihat matanya mengembun.
Annisa kembali mengelus kepalanya.
"Semua akan baik-baik saja, Kak. Kakak fokus aja menyiapkan mental untuk menghadapi persalinan ini," ucap Annisa
Dia kembali mengangguk.
"Terima kasih, Ading."