Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Fadli.
Di dalam kamar David selalu teringat akan ucapan kedua sahabatnya itu untuk selalu baik kepada Gladis, dan menyusul Gladis ke Lombok. Lalu dengan cepat David mengambil ponsel miliknya dan membuka media sosial milik Gladis betapa terkejutnya David ketika melihat foto di status media sosial milik Gladis,
Foto Gladis bersama Ben yang sedang duduk menghadap ke pantai Gladis tengah merangkul Ben dan menyandarkan kepalanya di pundak Ben dan Ben menatap ke pantai menggunakan kaos abu dan topi putih.
Melihat foto itu David marah bukan main, lagi-lagi ia meremas ponsel miliknya dengan kuat. Ingin rasanya ia menampar Gladis.
*Be**ner-bener kelewatan* kamu Gladis.
MALAM HARI DI RUMAH DOKTER AMBAR
Terlihat 3 orang sedang asyik mengobrol di ruang keluarga yaitu Dokter Ambar Surya Tanjung, NY Sri Wulandari Tanjung, dan Fadli.
Dokter Ambar sebenarnya mempunyai seorang anak laki-laki mungkin usianya seperti Fadli tapi ia meninggal setelah lahir karena kondisinya tidak memungkinkan. Dari situ dokter Ambar dan istrinya belum bisa mempunyai anak lagi sehingga datang Fadli di kehidupan mereka membuat mereka tidak kesepian.
"Mah, pa, ada yang ingin aku bicarakan," Fadli mencoba memulai pembicaraan.
Dokter Ambar dan NY Sri pun menatap ke arah Fadli.
"Soal apa itu sayang," tanya NY Sri lembut menatap Fadli.
"Apa ada masalah di rumah sakit," tebak Dr Ambar.
"Bukan pa, bukan soal itu."
"Terus masalah apa!" lanjut Dr Ambar menatap serius ke arah Fadli begitu pun dengan NY Sri.
"Fadli mau melamar Gladis," kata Fadli memulai pembicaraan sambil menatap ke arah kedua orangtuanya itu.
Seketika NY Sri dan Dr Ambar terdiam dan saling menatap, terlihat dari raut wajah mereka ada rasa kekhawatiran akan sesuatu, dan Fadli pun bisa mengetahui apa itu.
"Apa kamu yakin!" tanya Dr Ambar tidak percaya.
"Iya pa aku yakin," kata Fadli tegas.
"Mama hanya khawatir jika orang tua Gladis akan menolak kamu lagi Di," sambung NY Sri.
Fadli hanya terdiam mendengar ucapan NY Sri, ia tau sudah beberapa kali orangtuanya Gladis menolak dirinya, mungkin NY Sri sudah trauma.
"Memangnya tidak ada yang lain di selain Gladis," lanjut NY Sri berharap Fadli mencari perempuan lain.
"Mama ko bicara seperti itu," selang Dr Ambar mencairkan suasana.
"Bukan begitu pa, mama hanya takut saja jika Fadli di tolak lagi oleh orang tua Gladis. Mama tau Gladis itu anak yang baik tetapi orangtuanya berbeda pa," terang NY Sri.
"Mama tidak perlu khawatir ya, doakan Fadli ma."
Malam itu Fadli langsung masuk ke kamarnya, ia duduk di ujung tempat tidurnya sambil melamun, ia terus memikirkan apa yang di ucapkan mama angkatnya NY Sri. Memang benar keluarganya gladis tidak bisa menerima dirinya karena Fadli bukanlah orang yang jelas asal usul keluarganya.
*SI**apa keluargaku sebenarnya! Dari mana asalnya, apa status derajatnya, jika status keluargaku jelas apakah orang tua Gladis akan menerima**ku*!
Tidak lama seseorang pun mengetuk pintu kamarnya. Fadli yang melamun pun tersadar dari lamunannya, ternyata itu adalah papa angkatnya.
"Tok....tok....tok....." suara ketukan pintu.
"Boleh papa masuk," kata pak Ambar dari luar kamar Fadli.
"Masuk pa," jawab Fadli dari dalam.
Dr Ambar pun menghampiri Fadli dan duduk di samping Fadli, Dr Ambar tau apa yang sedang di rasakan Fadli. Meskipun Fadli bukan dari darah dagingnya tapi dr Ambar bisa merasakan apa yang di rasakan Fadli.
"Apa yang sedang kamu pikirkan!" tanya dr Ambar sambil menepuk pundak Fadli, sementara Fadli hanya tersenyum sambil menunduk.
"Tidak ada pa, Fadli tidak mikirin apa-apa," kata Fadli sambil tersenyum menatap Dr Ambar.
"Fadli walaupun mama bukan yang mengandung mu, dan papa tidak mengadzani kamu sewaktu lahir tapi papa tau apa yang selalu kamu pikirkan," ucap papanya menebak.
Fadli hanya tersenyum ia tau bahwa dr Ambar dan NY Sri bisa membaca isi hatinya seolah ada radar di dalam diri mereka.
"Mungkin jika statusmu jelas, orang tua Gladis bisa mempertimbangkan kamu," ucap dr Ambar lagi.
Fadli terdiam terpaku dengan ucapan itu, ia sedih sekali memang benar jika status dirinya jelas mungkin orang tua Gladis dapat mempertimbangkannya.
"Papa bicara apa sih Fadli tidak mengerti," ucap Fadli pura-pura tidak mengerti.
"Papa tau apa yang selalu ada di pikiranmu selama ini, itu yang selalu ingin kamu tau, mencari tau siapa keluarga kamu, siapa orangtuamu, bagaimana status keluargamu, berasal dari mana kamu," papar Dr Ambar.
Glek....mata Fadli mulai berkaca-kaca hatinya sedih. Tepat sekali apa yang Dr Ambar ucapkan Fadli hanya terdiam sambil mengendalikan perasaannya yang berkecamuk.
"Ketika papa menemukanmu, papa sudah merasakan bahwa kamu seperti anak papa sendiri papa dan mama tidak pernah menganggap kamu sebagai anak angkat, bagi mama dan papa kamu adalah pembawa kebahagiaan bagi kami. Kadang papa dan mama mempunyai kecemasan jika kamu kembali bertemu dengan keluarga aslimu, itu artinya mama dan papa tidak akan bisa bersama kamu lagi," papar dr Ambar dengan sedikit sedih menatap Fadli.
"Tapi papa juga tidak adil jika papa tidak mengijinkan kamu mencari siapa jati diri kamu sebenarnya, siapa orangtuamu, jika kamu ingin mencari tau siapa orangtuamu papa dan mama mengijinkan kamu Fadli, sudah waktunya kamu mencari tau siapa mereka," tambah dr Ambar.
Fadli tau hal ini akan melukai perasaan dr Ambar dan NY Sri karena mereka segalanya bagi Fadli, di saat Fadli tidak memiliki siapa-siapa lagi mereka datang bagaikan malaikat, Fadli hidup tidak kekurangan tidak harus merasakan dinginnya tidur di jalanan dan susah mencari makan serta mendapat pendidikan yang layak hingga mempunyai gelar dokter kandungan. Rasanya Fadli sangat jahat jika harus meninggalkan mereka.
"Tidak pa, Fadli baik-baik saja. Jika mereka menyayangi Fadli mungkin mereka akan selalu mencari keberadaanku sewaktu kejadian itu, tapi nyatanya sampai saat ini tidak ada kabar atau mungkin juga mereka sudah tidak tinggal di pulau ini lagi. Mungkin mereka pindah pulau atau pindah negara atau mungkin sudah meninggal," papar Fadli berbohong mencoba agar dr Ambar tidak sedih.
Tidak lama NY Sri pun datang menghampiri mereka, NY Sri pun duduk di sebelah Fadli, kini Fadli di apit oleh NY Sri dan dr Ambar.
"Fadli...mama tau perasaan kamu, mama dan papa akan baik-baik saja carilah orangtuamu mungkin ini sudah saatnya, tapi mama dan papa pinta jika kamu bertemu dengan mereka mama dan papa ingin kamu terus tinggal di sini," ucap NY Sri lirih sambil matanya berkaca-kaca hendak akan menangis.
Air mata NY Sri tumpah begitu dengan Fadli ia mencoba untuk tegar dan tenang, mungkin perbuatannya kali ini akan sedikit menyakitkan NY Sri dan dr Ambar.
"Maafkan Fadli ma jika membuat mama sedih, Fadli hanya ingin tau siapa orang tua Fadli. Apakah mereka masih ada atau tidak tapi yang paling penting bagi Fadli adalah mama dan papa orang tua sebenernya karena sudah merawat Fadli sampai saat ini dan seperti sekarang," ucap Fadli lirih.
"Iya sayang mama mengerti, sekarang carilah jati diri kamu cari keluargamu mama dan papa akan selalu mendukungmu," lanjut NY Sri sambil menangis.
Lalu NY Sri pun mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan memperlihatkan itu kepada Fadli..ya sebuah kalung dari berbentuk liontin jangkar, dan tali warna hitam. Fadli pun terkejut dan heran melihat kalung itu, kalung milik siapa itu!
"Sewaktu papa kamu menemukan kamu di pengungsian, kamu mengenakan kalung ini Fadli, kalung ini pemberian dari orangtuamu mungkin ini bisa membawamu kepada orangtuamu," terang NY Sri sambil menangis dan menyerahkan kalung itu kepada Fadli.
Fadli terdiam dan memandang kalung itu, ia tentu tidak ingat tentang kalung itu, karena usianya masih amat kecil.
"Jika kamu ingin mengetahui siapa orangtuamu carilah nak," kata terakhir NY Sri sambil pergi meninggalkan Fadli dan dr Ambar yang masih duduk di sebelah Fadli.
NY Sri pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya tangisnya pecah di kamar itu. Dr Ambar tau hati istrinya saat ini sangat sedih karena takut kehilangan Fadli yang sudah menjadi darah dagingnya sendiri.
"Mah!" panggil dr Ambar kepada NY Sri yang sedang menangis di ujung tempat tidur itu.
Dr Ambar pun menghampiri istrinya itu, di peluk dan di peluknya sang istri sambil membenamkan kepalanya di dada bidang dr Ambar. Tangis NY Sri makin pecah.
"Papa tau mama tidak ingin kehilangan Fadli, tapi kita tidak baik jika menghalangi Fadli mencari keluarga aslinya mah," jelas dr Ambar sementara sang istri masih menangis.
"Sekarang sudah saatnya Fadli mencari keluarganya mah mungkin selama ini ia selalu bertanya-tanya dari mana asal dia! Bagaimana keluarganya! Siapa orangtuanya! Apakah mereka masih hidup, jadi biarkanlah Fadli mencari keluarganya," lanjut dr Ambar memberi saran.
"Tapi mama tida siap kehilangan Fadli pa, mama tidak mau Fadli pergi dari rumah ini. Untuk mama Fadli itu anak yang lahir dari rahim mama Fadli itu pembawa kebahagiaan untuk mama pa, mama tidak tau jika hidupku tanpa Fadli," ucap NY Sri makin menangis.
Melihat istrinya menangis hati dr Ambar pun tersayat, ia mengerti perasaan istrinya jika benar Fadli pergi meninggalkan dirinya entah apa yang terjadi, mereka berdua tidak bisa hidup seperti normal kembali.
"Papa juga sama mah, papa tidak ingin Fadli pergi papa ingin Fadli di sini melihat ia menikah mempunyai keluarga dan anak. Dan kita mempunyai cucu-cucu yang lucu," cerita dr Ambar mulai sedih.
"Tapi kita jangan lupa jika Fadli mempunyai masa lalu dan ia sangat membutuhkan masa lalunya itu ia juga ingin menemukan orang tua aslinya ma," lanjut dr Ambar.
Tangis kedua suami istri itu makin pecah, hatinya amat hancur bukan main jika mereka benar-benar kehilangan Fadli.
tanpa mereka sadar Fadli sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari luar kamar, hati Fadli pun hancur ia merasakan kesedihan kedua orangtuanya, terutama mamanya NY Sri yang sangat ia cintai.
"Mama..papa," panggil Fadli menghampiri mereka.
Dr Ambar dan NY Sri pun menoleh ia melihat Fadli menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama, papa, Fadli tidak akan pernah meninggalkan mama sama papa meskipun nanti aku bertemu dengan keluargaku, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, karena untukku kalian adalah segalanya," terang Fadli.
Seketika NY Sri pun memeluk Fadli dengan erat, ia pun mencium pipi dan kening anak kesayangannya itu sambil terus menangis.
"Fadli tidak akan pernah meninggalkan mama dan papa, Fadli janji karena untuk Fadli mama dan papa adalah orang tua asli Fadli," lanjutnya.
"Fadli kesayangan mama," kata NY Sri sambil terus mencium Fadli dan memeluknya.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham