Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chaos, benar-benar chaos!
...•••...
DRET…
DRET…
Ponsel Jay terus berdering di atas konsol tengah mobil. Entah karena buru-buru atau memang lupa, ia pergi begitu saja tanpa membawa benda tersebut.
Ting.
Ting.
Ting.
Layar ponsel kembali menyala. Beberapa notifikasi dari “orang-orangnya” bermunculan, disusul foto-foto yang mereka kirimkan.
“Si anjir! Kenapa malah diam di situ, sih?” gerutu Sian lalu menarik lengan Jay yang berdiri mematung di tengah kerumunan, sampai-sampai menghalangi orang-orang yang hendak lewat.
Ia mendongak untuk menatap wajah Jay yang kini terlihat begitu pucat. Keningnya dipenuhi bulir-bulir keringat. Sian menepuk lengan bagian atas Jay beberapa kali, seolah berusaha menyadarkannya.
“Lo sakit?”
“Cil…” Jay menatap Sian dengan raut penuh kegundahan. “Perasaan gue bener-bener nggak enak banget,” gumamnya lirih di tengah riuh suara orang-orang di sekitar mereka.
“Gue mau balik.”
Jay hendak berbalik, tetapi Sian buru-buru menahannya.
“Kenapa jadi loyo gini sih, anjing?!” bentak Sian tegas. Ia tak peduli beberapa orang di sekitar mereka sempat menoleh. Yang penting sekarang, ia harus menyadarkan sahabatnya.
“Bukannya ini yang lo mau, hah?! Ketemu sama cewek yang selama 2 tahun ini lo cari-cari?!” Sian menghela napas panjang. “Gentle dong jadi cowok!”
Ia benar-benar dibuat muak melihat Jay yang malah seperti kehilangan tenaga setelah akhirnya akan bertemu dengan perempuan yang selama ini dicarinya.
Pandangannya kemudian beralih ke depan. Dekorasi mewah pernikahan ayah Jay tampak begitu indah, meskipun seluruh acara hanya digelar di rumah.
Sampai akhirnya, pandangan Sian tertuju pada ayah Jay dan istri barunya yang berdiri berdampingan. Perempuan itu terlihat begitu menawan dalam balutan gaun putihnya.
“Gila, ibu tiri lo cakep banget, anjir!” Sian langsung berseru heboh mengguncang-guncang bahu Jay. “Buru lah kita ke sana.”
Jay masih diam. Tak ada reaksi sedikit pun.
“Ck!”
Sian berdecak. Ia lalu berjinjit sedikit, sengaja mendekatkan wajahnya sebelum kedua tangannya menarik ujung bibir Jay ke atas, memaksanya membentuk senyuman.
“Senyum anjir! Jangan murung gitu! Ini kan hari bahagia bokap lo!” Katanya diakhiri dengan tepukan pelan di pipi Jay.
“Senyum nggak lo?! Kalau enggak, gue balik aja, nih!”
Mendengar ancaman itu, Jay akhirnya mengangkat tangan dan mengacak-acak rambut Sian. “Bawel.”
Keduanya pun kembali melanjutkan langkahnya.
“Meriah juga, ya, acara nikahan bokap lo yang katanya mau sederhana itu?” Sian kembali bersuara sambil menatap ke sana kemari, mengamati suasana pesta yang dipenuhi para tamu.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti begitu melihat stand makanan.
“Gue mau es krim. Gratis, kan?”
“Ambil aja sebanyak yang lo mau,” jawab Jay singkat.
Jay kembali berjalan, meninggalkan Sian begitu saja. Pandangannya berkeliling, menyusuri satu per satu wajah para tamu yang hadir. Ia mencari perempuannya di antara kerumunan.
Namun, begitu langkahnya sudah hampir mendekati panggung tempat kedua pengantin berdiri, langkah Jay mendadak terhenti.
Tatapannya terpaku pada sosok pengantin perempuan yang berdiri di samping ayahnya.
Mata Jay membola.
Jantungnya seketika berpacu begitu cepat. Suara percakapan, musik, dan riuh para tamu di sekelilingnya seolah lenyap dalam satu detik. Tak ada lagi yang mampu ditangkapnya selain sosok perempuan yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
“Jay!” Teriak Sian begitu melihat Jay sudah berlari bak kesetanan menuju panggung.
Jay menerobos kerumunan tanpa peduli siapa yang ada di depannya. Beberapa orang sampai tersenggol dan terpaksa menyingkir. Seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman bahkan tak sempat menghindar.
PRANG!
Gelas-gelas itu jatuh berantakan. Minuman tumpah ke rerumputan di bawahnya.
Namun, Jay bahkan tidak menoleh. Pandangannya hanya tertuju pada satu orang.
Bruk!
Jay langsung menerjang perempuan itu dan memeluknya begitu erat hingga tubuh perempuan itu terdorong jatuh ke sofa. Tubuh Jay pun ikut meluruh seakan kehilangan tenaga, kepalanya terbenam di perut perempuan itu sementara kedua tangannya semakin mempererat pelukannya.
Sesak. Dada Jay benar-benar sesak. Ia semakin merengkuh tubuh perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk memeluknya.
“Akhirnya…” Suara Jay terdengar begitu serak, diiringi isak tangis yang semakin menjadi-jadi.
Sian termangu begitu melihat Jay untuk pertama kalinya menangis meraung-raung di hadapan khalayak umum tanpa berusaha untuk menahannya. Bahkan setelah beberapa kali dipanggil dan berusaha dilepaskan dari pelukannya, Jay tetap tidak bergeming.
Tangisan Jay terdengar begitu dalam sampai Sian sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Seperti ada penantian panjang yang akhirnya pecah bersamaan dengan tangisan itu.
Chaos. Benar-benar chaos.
Bahkan ayahnya pun kesulitan melepaskan pelukan putranya pada istrinya. Jay seolah tidak mendengar apa pun. Ia hanya terus memeluk perempuan itu, membiarkan tangisannya pecah di hadapan semua orang.
Sampai akhirnya, pandangan Sian beralih pada wajah pengantin perempuan itu. Perempuan itu terlihat sangat syok. Tatapannya tertuju pada pundak dan punggung Jay yang naik turun karena tangisan.
Sian memandangi wajah perempuan itu lekat-lekat. Sampai akhirnya, kedua matanya perlahan melebar.
“Tunggu… bukankah dia…”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG