Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji kelingking
“Gio, aku butuh kendaraan.”
Gio meletakkan cangkir kopi di nampan. Mereka sarapan di atas ranjang. Meski, belum terjadi sesuatu semalam, tapi pelayanan yang diberikan Gio layaknya seorang istri yang tidak bisa jalan karena melayaninya sepanjang malam.
Usai menyantap sarapan dan menghabiskan sandwich serta cokelat panas yang Gio bawakan tadi, sang istri meminta satu permintaan.
“Aku boleh minta tolong dibelikan mobil second? Yang bekas saja. Sedan lama untuk mobilitasku sehari – hari nanti.”
Aktifitas Gio terhenti. Dia menatap sang istri.
“Catat saja sebagai hutang,” ucap Fio lagi. “Nanti, aku ganti.”
Gio mengangkat alisnya. “Apa menurutmu aku suami pelit?”
“Tidak. Tapi, aku tidak melakukan apa pun untukmu. Kita tidak seimbang. Selalu aku yang merepotkan.”
Gio tertawa. “Aku tidak merasa direpotkan. Justru, aku suka direpotkan olehmu. Itu artinya, kamu membutuhkan aku kan?”
Fio tidak menyangkal itu. Dia memang membutuhkan pria itu. Kepalanya mengangguk.
“Nanti, aku akan bayar semua kebaikanmu,” jawabnya. “Tenang saja.”
Gio mengangguk. “Ya. Aku percaya. Saatnya nanti, aku tagih ucapanmu ini.”
“Deal.” Fio setuju dan langsung mengangkat jari kelingkingnya. “Janji kelingking.”
Senyum Gio semakin mengembang hingga memperlihatkan jejeran giginya yang rapih dan putih. Dia ikut mengangkat kelingkingnya dan menautkan pada Fio.
“Janji kelingking.”
***
“Kita mau ke mana?” tanya Fio saat Gio membawanya menuju lift di dalam vila ini.
“Kamu butuh mobil kan?”
Fio mengangguk.
“Kalau begitu, ikut aku. Kamu bisa memilih mobil yang kamu suka.”
Kini, mereka berada di dalam lift. Lalu, Gio menekan tombol B untuk basement. Fio takjub dengan design vila ini. Vila dengan tanah seluas empat ribu meter, hanya dibangun separuhnya. Itu pun termasuk kolam renang dan taman serta lapangan golf mini untuk olahraga sendiri.
Bangunannya lengkap dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Jujur, Fio sempat takut sendirian di sini. Tapi, dia tidak pernah sendirian karena ada banyak pelayan dan penjaga yang berjaga di setiap sudut area ini.
Sesampainya di basement, pintu lift terbuka. Fio kembali dibuat takjub dengan deretan koleksi mobil Gio yang terparkir sempurna di sana.
“ini semua milikmu?” tanyanya yang langsung dijawab oleh Gio. “Ya. Tapi, sekarang ini semua juga milikmu.”
Dahi Fio mengernyit.
“Sekarang, kamu kan istriku. Jadi, apa yang aku miliki juga milikmu.”
Kalimat itu mmebuat Fio melayang. Tapi, dia tidak ingin buru – buru terbang. Fio takut ketinggian. Dia terlalu takut jika kenyataannya nanti tidak sesuai ekspektasi, lalu dihempaskan dan jatuh. Rasanya, pasti sakit.
“Tidak. Semua milikmu tetap milikmu,” jawabnya.
“Tidak. semua milikku sudah pasti milikmu,” ralat Gio.
“Tidak bisa, Gio.”
“Bisa, Fio.”
“Aku tidak ingin memiliki mobilmu. Aku hanya pinjam satu.” Fio kembali meluruskan.
Namun, cara Fio justru membuat suaminya suka. “Aku tidak salah memilih perempuan Indonesia.”
Gio menoleh ujung hidungnya, membuat Fio bingung. Lalu, pria itu berjalan menuju sebuah sedan berwarna hitam.
“Kamu mau ini?”
Jelas. Sejak pintu lift terbuka, arah mata Fio memang sudah tertuju pada mobil ini dan Gio mengerti.
Fio mengangguk. “Aku pinjam boleh?”
Lagi – lagi, Gio tersenyum. “Silakan.”
“Terima kasih.”
“Ada syaratnya.” Gio mendekat hingga berdiri tepat di depan Fio tanpa jarak.
Dada Fio kembali berdetak tak karuan. apalagi, ketika melihat arah mata Gio yang tertuju pada bibirnya. Fio pasrah dan langsung menutup kedua matanya.
Sungguh, Gio tak henti – hentinya tersenyum. Sang istri benar – benar menggemaskan. Sejak awal memang demikian, meski dulu Fio galak dan terlihat dingin tapi bagi Gio itu menggemaskan.
Gio mendekatkan wajahnya. deru nafasnya menerpa wajah Fio. Bibirnya kian mendekat. Namun, bukan untuk didekatkan pada bibir Fio melainkan telinganya.
“Hari ini jangan ke mana – mana, karena di sana Gala dan keluarganya sedang menunggumu.”
Deg
Fio teringat hari pernikahannya dengan Gala dan itu, hari ini.
Benar saja. Di sebuah gedung yang sudah dipersiapkan matang sebelumnya, acara pernikahan akan digelar. Tamu dan undangan sudah datang, tapi mempelai pengantin wanita tak kunjung tiba.
“Bagaimana ini, Pa? Mau ditaro mana muka Mama!” ucap Anggi kesal.
“Bukan hanya Mama, Papa juga.”
Kedua orang tua Gala sudah uring – uringan. Bahkan, Arif menjadi bulan – bulanan kemarahan mereka.
“Arif, di mana Fiona? Kau bilang, dia akan datang tapi mana?”
“Iya. Bagaimana sih keponakanmu itu? Tidak tau diri!” sambung Anggi menambah ucapan sang suami dengan menggebu.
“Apa dia tidak tahu dari mana gelar dokternya?” ucap Anggi lagi. “Kalau bukan karena keluarga kami, dia tidak akan dengan mudah menjadi dokter dan praktek di rumah sakit ternama. Semua karena Gala.”
Orang yang disebut namanya hanya diam membisu. Arah mata Arif tertuju pada Gala. “Tanyakan pada putramu, apa yang terjadi?”
Anggi dan Restu menatap putranya.
“Katakan? Apa yang terjadi antara kamu dan Fiona?” tanya Restu.
Anggi memelototi putranya “Jangan bilang, kalau Fio melihatmu dengan LC itu?”
“Tidak.” Gala mengelak. “Fiona saja yang terlalu naif. Padahal, semuanya sudah aku berikan. Bahkan, ciuman saja dia tidak mau. Dia kira aku pembawa virus rabies?”
Gala malah marah. Dia sengaja menciptakan citra buruk untuk Fio agar aibnya tertutupi.
Rencananya, memang seperti ini. Gala ingin menjadikan Fio istri untuk menutupi segala kelakuan buruknya nanti.
Event Organizer datang ke ruangan. Mereka meminta acara tetap dilaksanakan. Di sana, Gio hadir sebagai tamu dan berpura - pura tidak tahu apa yang terjadi.
“Selamat atas pernikahanmu.”
“Terima kasih.”
Semua berjalan seperti mempelai wanita ada di tempatnya. Gala keluar sendirian seolah sudah terjadi ijab qobul di dalam dan mempelai wanita ada di sana.
...“Show time, sayang!”...
Gio sengaja mengangkat ponselnya ke layar yang baru saja menyala.
Blep
“Saya Fiona.”
Semua mata tertuju pada layar itu dan di lihat semua orang termasuk Gala, orang tuanya, dan Arif.
“Mohon maaf atas ketidakhadiran saya hari ini.”
“Oh, jadi belum ijab qobul?”
Para tamu terkejut dan berkomentar.
“Untuk Mama Anggi dan Papa Restu, saya minta maaf karena dengan terpaksa membatalkan pernikahan ini. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau Manggala …”
“Selingkuh.”
“Tidak!” Gala mengelak.
Namun, tepat saat pria itu berteriak untuk melindungi dirinya, aksi pergulatan bersama Vania muncul di layar.
Bukan hanya itu, video itu juga memutar aksi tak senonoh yang dilakukan Gala di rumah sakit bersama beberapa perawat dan dokter yang bertugas.
Seketika, seisi gedung riuh. Pergunjingan bersahutan.
“Gala!”
Restu bereaksi. D4rahnya mendidih.
Begitu pun dengan Anggi. Perempuan itu malu setengah mati.
Gio tersenyum sambil memberi pesan pada istrinya.
...“Aku sudah melakukan apa yang kamu mau. Nanti malam, kamu juga harus memberikan apa yang aku mau.”...
Deg
Di sana, Fio hanya membaca pesan itu dan tidak berniat membalas.