Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Kata yang Terdengar di Ujung Lorong
Mereka berpisah sejenak dari rombongan, berjalan menyusuri lorong menuju kamar Nadine. Belum jauh melangkah, pintu di ujung lorong terbuka. Seseorang melangkah keluar —
Vano.
Ia tampak lebih rapi dibandingkan tadi, namun bayang-bayang kelelahan masih terlihat jelas di wajahnya. Di balik pintu yang belum tertutup rapat, samar-samar terlihat sosok Elona yang terbaring tenang di atas tempat tidur, tertidur pulas. Vano memastikan pintu tertutup perlahan di belakangnya, lalu berbalik — dan pandangannya langsung bertemu dengan Meloudy.
Langkah kaki Meloudy terhenti seketika. Jantungnya berdebar tak menentu. Ia menunduk sedikit, menegakkan tubuh, lalu memberi hormat layaknya bawahan kepada atasannya — sopan, tertib, menyembunyikan segala keresahan di balik tatapan yang tak berani mengangkat tinggi.
"Selamat malam, Tuan," ucapnya pelan dan tenang.
Vano terdiam sejenak. Ia teringat momen di balkon tadi — wajah wanita itu yang melihatnya dalam keadaan begitu berantakan, tak rapi, jauh dari sosok yang selalu dikenalnya di kantor. Rasa canggung menjalar seketika.
"Selamat malam, Nona Meloudy," jawabnya, nada rendah dan tertahan.
"Dan… maafkan saya atas penampilan saya tadi. Seharusnya Anda tidak melihat saya seperti itu."
Meloudy hanya mengangguk pelan, menunduk lebih dalam.
"Tidak apa-apa, Tuan."
Vano mengangguk sekilas, lalu melangkah melewati mereka — menjauh, seakan tak ada yang istimewa terjadi. Baginya, wanita yang baru saja menyapanya hanyalah Meloudy, salah satu pegawainya.
Dan Nadine — ia tidak tahu apa-apa. Tidak tahu nama lain yang tersembunyi di balik keponakannya. Tidak tahu siapa pria yang baru saja melintas di depan mereka.
Meloudy tetap berdiri kaku di tempatnya, menahan napas hingga langkah Vano hilang di ujung lorong. Hatinya terasa perih, namun ia tak bisa berkata apa-apa.
Nadine menatap punggung pria itu yang menjauh, lalu menoleh ke arah keponakannya bingung.
"Siapa tadi, Meloudy? Atasanmu?"
Meloudy mengangguk pelan, menunduk menyembunyikan kilatan kesedihan di matanya.
"Iya, Kak. Atasanku."
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Di lorong itu, kebenaran masih tertutup rapat — Vano tidak tahu, Nadine pun tidak tahu, dan Meloudy sendirilah yang memilih beban itu. Ia adalah Laudys, namun tidak ada yang tahu.
Meloudy tetap berdiri kaku di tempatnya, menahan napas hingga langkah Vano perlahan menjauh, menghilang di tikungan lorong.
Nadine masih menatap ke arah yang dituju pria itu, kerutan tak setuju muncul di keningnya. Ia menggeleng pelan, suaranya terdengar kecewa sekaligus tegas.
"Semua pria sama saja, ya…" gumamnya, cukup terdengar oleh Meloudy.
"Dia bahkan meninggalkan wanita sendirian di dalam kamar begitu saja."
Meloudy tersentak pelan, menoleh cepat ke arah kakak sepupunya.
"Kak…"
"Lihat saja tadi," ucap Nadine lantang, matanya masih tertuju pada ujung lorong yang kini kosong.
"Pura-pura sopan, meminta maaf begitu, padahal meninggalkan orang yang ada di sisinya sendirian di kamar. Apa pun alasannya, itu tidak pantas. Tidak sopan. Tidak bertanggung jawab."
Jantung Meloudy seakan berhenti berdetak sejenak. Ia menoleh panik ke sekelilingnya — takut kata-kata itu didengar oleh siapa pun, terutama oleh pria yang baru saja pergi. Namun lorong itu sunyi. Tak ada siapa-siapa.
"Kak Nadine… tolong jangan bicara begitu," pinta Meloudy pelan, suaranya bergetar, menarik lengan sepupunya lembut.
"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Kita tidak berhak menilai."
Nadine menghela napas panjang, lalu menatap keponakannya, melembut sedikit.
"Kau terlalu baik, Sayang. Selalu memaafkan orang lain bahkan sebelum mereka meminta maaf. Tapi ingatlah ini — jika atasanmu bersikap demikian kepada orang yang seharusnya ia lindungi, bagaimana ia akan memperlakukan bawahannya?"
Meloudy terdiam, tak mampu menjawab. Ia tak bisa membela Vano, tak bisa menjelaskan apa yang tak ia pahami sepenuhnya sendiri. Ia hanya tahu satu hal: di balik wajah dingin itu, ada kelelahan yang tak terucap, ada beban yang ia sembunyikan dari semua orang.
"Sudahlah, Kak," ajaknya pelan, menarik pelan tangan Nadine.
"Mari kita taruh barang-barang Kakak dulu, lalu kita pergi. Teman-teman sudah menunggu."
Nadine mengangguk, meski pandangannya masih sesekali melirik ke arah lorong yang sama.
"Baiklah. Tapi Kakak harap kau waspada, ya? Jangan sampai kau terluka oleh orang yang seharusnya menjagamu."
Meloudy tersenyum tipis, getir di sudut bibirnya.
"Aku selalu berhati-hati, Kak."
Namun di dalam hatinya, pertanyaan itu tetap tertinggal, mengusik tanpa jawaban. Apakah aku benar-benar tahu siapa dia? Dan apakah di balik sikap itu, ada hal lain yang tak ia ketahui?
Dan...
Vano ternyata belum pergi sepenuhnya. Ia baru saja berbelok di tikungan lorong, berhenti sejenak di tempat yang agak teduh, menutup mata sejenak sambil menghela napas panjang — berusaha menenangkan kegelisahan yang tak kunjung reda.
Dan dari sana, suara percakapan mereka terdengar jelas, terbawa angin lembut yang menyusuri lorong:
'Semua pria sama saja… Dia bahkan meninggalkan wanita sendirian di dalam kamar begitu saja.'
'Pura-pura sopan, meminta maaf begitu, padahal meninggalkan orang yang ada di sisinya sendirian di kamar. Apa pun alasannya, itu tidak pantas. Tidak sopan. Tidak bertanggung jawab.'
Tubuh Vano menegang seketika. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia bukan bermaksud menguping — namun kata-kata itu menghantamnya begitu keras, tepat di dada yang sudah terasa perih sejak tadi.
Ia tahu ia tidak sempurna. Tahu ada hal-hal yang tak beres. Tahu ia membawa beban yang terlalu berat, terjebak di antara kewajiban, tekanan, dan kerinduan yang tak boleh diucapkan. Namun mendengar orang lain — kerabat Meloudy — menilainya begitu… rasanya seperti ditusuk.
Ia ingin melangkah maju, menjelaskan, menyampaikan bahwa ia bukan orang yang sejahat itu. Bahwa meninggalkan Elona adalah pilihan yang justru karena ia tak ingin berpura-pura lebih lama lagi. Bahwa di kamar itu, ia merasa seperti orang asing di samping orang yang tak bisa ia cintai. Bahwa ia pergi bukan karena tak peduli, melainkan karena tak sanggup berpura-pura lebih lama.
Namun langkah kakinya tak bergerak.
Suara Meloudy terdengar lembut namun tegas, membela dia — yang tak pernah melakukan apa pun untuknya:
'Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Kita tidak berhak menilai.'
Hati Vano bergetar. Di saat kerabatnya menilainya buruk, wanita yang ia hormati, yang diam-diam ia pikirkan, justru berdiri di pihaknya — tanpa tahu apa-apa. Tanpa meminta imbalan apa pun.
Lalu suara itu terdengar lagi:
'Jika atasanmu bersikap demikian kepada orang yang seharusnya ia lindungi, bagaimana ia akan memperlakukan bawahannya?'
Vano menunduk dalam. Tangan terkepal erat di sisi tubuhnya. Pertanyaan itu sederhana, namun menohok ke inti segalanya. Bagaimana ia memperlakukan bawahannya? Bagaimana ia memperlakukan Meloudy? Ia menjaga jarak, bersikap dingin, menutup diri — apakah itu cara yang melindungi, atau justru cara yang menyakiti?
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu