Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Malam Sebelum Pertemuan
Malam sebelum pertemuan makan malamnya dengan Fajar, Kirana duduk di ruang tamu bersama Pak Wibowo, Sari, dan Denis, menyusun strategi terakhir untuk menggali informasi tanpa membahayakan posisi keluarga.
"Ingat," Pak Wibowo mengingatkan, "jangan pernah mengonfirmasi atau membantah informasi spesifik soal kondisi keuangan atau strategi bisnis kita. Biarkan dia yang lebih banyak bicara, dan dengarkan baik-baik setiap detail yang mungkin terlihat kecil, tapi bisa jadi penting."
"Bagaimana kalau dia bertanya langsung soal rencana kita menghadapi tawaran akuisisi?" tanya Kirana, sedikit gugup membayangkan skenario itu.
"Jawab dengan diplomatis," saran Pak Wibowo. "Katakan saja keluarga masih dalam proses evaluasi berbagai opsi, tanpa memberikan detail konkret. Yang terpenting adalah kau mencari tahu seberapa jauh keterlibatan Ratna dalam rencana Meridian Capital Partners, dan apakah ada tenggat waktu tertentu yang mereka targetkan."
Denis, yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama, menambahkan. "Mungkin juga penting untuk mencari tahu apakah Fajar sendiri menyadari sepenuhnya soal keterlibatan Ratna, atau apakah dia hanya menjalankan tugas tanpa mengetahui detail lengkap di baliknya."
"Itu poin bagus," Sari mengangguk setuju. "Kalau Fajar tidak sepenuhnya menyadari koneksi itu, mungkin ada peluang untuk meyakinkannya bahwa terlibat dalam rencana ini bisa merugikan reputasinya sendiri kalau semuanya terbongkar."
Kirana mencatat semua saran itu dalam pikirannya, mencoba mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk berbagai kemungkinan skenario yang mungkin terjadi selama pertemuan besok.
Setelah diskusi strategi selesai dan Pak Wibowo pamit pulang, Ibu, yang sejak tadi diam mendengarkan dari dapur, akhirnya bergabung dengan mereka di ruang tamu, membawa teh hangat untuk semua orang.
"Kirana," Ibu memanggil lembut, duduk di samping putrinya. "Aku tahu besok akan berat untukmu, bukan hanya soal strategi bisnis, tapi juga soal menghadapi kembali perasaan lama yang mungkin masih tersisa."
Kirana menatap ibunya, merasakan kehangatan yang selama ini menjadi sumber kekuatannya sejak mereka mulai memperbaiki hubungan. "Aku tidak yakin apa yang aku rasakan sebenarnya, Bu. Bertemu Fajar lagi membangkitkan banyak kenangan, tapi aku juga tahu hatiku sekarang sudah sepenuhnya untuk Raka."
"Perasaan itu wajar, Nak," Ibu menjawab bijak. "Masa lalu selalu meninggalkan jejak, meski kita sudah melangkah jauh darinya. Yang terpenting adalah kau tetap jujur pada dirimu sendiri, dan pada Raka, soal apa pun yang kau rasakan selama proses ini."
"Aku sudah janji pada Raka untuk selalu terbuka," Kirana mengangguk. "Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti kesalahpahaman kemarin."
Ibu tersenyum, menggenggam tangan putrinya. "Aku bangga melihatmu tumbuh menjadi wanita yang begitu bijaksana, Kirana. Delapan tahun yang hilang itu memang menyakitkan, tapi aku bersyukur melihat siapa dirimu sekarang."
Percakapan hangat itu memberi Kirana kekuatan emosional tambahan menjelang pertemuan pentingnya besok. Setelah semua orang mulai beranjak tidur, Kirana menyempatkan diri menelepon Raka sekali lagi, memastikan hubungan mereka tetap solid sebelum menghadapi tantangan besok.
"Bagaimana persiapanmu?" tanya Raka di telepon, suaranya menunjukkan kekhawatiran yang tulus meski juga penuh dukungan.
"Aku rasa sudah cukup siap," Kirana menjawab. "Pak Wibowo, Sari, dan Denis membantu menyusun strategi. Aku hanya perlu tetap tenang dan waspada besok."
"Aku percaya kau bisa melakukannya," Raka menjawab yakin. "Dan ingat, apa pun yang terjadi besok, aku akan selalu ada untuk mendengarkan ceritamu setelahnya."
"Terima kasih, Raka," Kirana merasakan haru mendengar dukungan tulus itu. "Aku janji akan menceritakan semuanya begitu pertemuan itu selesai."
Setelah menutup telepon, Kirana berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang sudah menjadi saksi begitu banyak perkembangan dalam hidupnya sejak kepulangannya. Ia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya yang masih berkecamuk antara kekhawatiran soal bisnis keluarga, kebingungan emosional soal Fajar, dan tekad untuk tetap setia pada komitmennya dengan Raka.
Malam itu terasa panjang, dipenuhi berbagai skenario yang berputar di kepalanya—bagaimana ia harus merespons jika Fajar mengonfirmasi keterlibatannya dengan Ratna, bagaimana ia harus bersikap jika perasaan lama tiba-tiba muncul kembali, dan yang terpenting, bagaimana ia bisa melindungi keluarganya tanpa mengorbankan integritas dirinya sendiri.
Ketika akhirnya tidur mulai menjemputnya, Kirana merasakan tekad yang kuat mengendap dalam dirinya—apa pun yang terjadi besok, ia akan menghadapinya dengan kejujuran dan keberanian yang sama seperti yang telah membawa keluarganya melewati begitu banyak badai selama beberapa bulan terakhir.
Ia terbangun beberapa kali sepanjang malam, pikirannya terus memutar berbagai kemungkinan skenario pertemuan besok. Sekali, ia bermimpi tentang pertengkarannya dengan Fajar bertahun-tahun lalu, wajah pria itu bercampur dengan wajah Ratna dalam mimpi yang membingungkan, seolah pikiran bawah sadarnya sedang mencoba memproses seluruh kerumitan situasi yang sedang ia hadapi.
Menjelang subuh, ia akhirnya bangun sepenuhnya, memutuskan untuk tidak memaksakan diri tidur lebih lama. Ia duduk di jendela kamarnya, menyaksikan langit yang perlahan berubah warna dari gelap menjadi jingga keemasan, tanda pagi baru akan segera tiba.
Ia mengambil ponselnya, membaca kembali catatan-catatan strategi yang telah mereka susun semalam, memastikan dirinya benar-benar siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin terungkap dalam pertemuan makan malam nanti. Ada ketenangan aneh yang menyelimutinya pagi itu, seolah tubuhnya telah menerima bahwa apa pun hasilnya, ia telah melakukan persiapan terbaik yang bisa ia lakukan, dan sisanya hanya perlu dihadapi dengan keberanian saat momennya tiba.
Ia turun ke dapur, mendapati Ibu sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana untuk keluarga. "Kau bangun pagi sekali," Ibu berkata, memperhatikan raut wajah putrinya yang menunjukkan kurang tidur.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak," Kirana mengakui, duduk di kursi dapur sambil menerima secangkir teh hangat dari Ibu.
"Hari ini pasti berat untukmu," Ibu berkata penuh pengertian, duduk di seberangnya. "Tapi aku percaya kau akan menghadapinya dengan baik, seperti yang selalu kau lakukan sepanjang tahun ini."
Kata-kata sederhana itu, disertai kehangatan pelukan singkat dari Ibu sebelum ia berangkat untuk mempersiapkan diri lebih lanjut, memberi Kirana kekuatan emosional yang ia butuhkan untuk menghadapi hari yang penuh tantangan di depan.
Ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, memilih sesuatu yang membuatnya merasa percaya diri namun tetap nyaman. Menatap cerminnya sekali lagi, ia menarik napas dalam-dalam, mengingat semua yang telah ia dan keluarganya lalui sepanjang tahun ini—cukup untuk meyakinkannya bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun yang menanti hari itu.
"Kau bisa melakukan ini," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri, sebuah mantra kecil yang telah menjadi kebiasaannya sejak menghadapi berbagai tantangan besar sepanjang perjalanan pemulihan keluarganya.
---
*Bersambung ke Bab 33...*