Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Rencana
Kalandra sudah tak bisa menahan diri lagi, menarik Kinara ke belakang punggungnya dan menghadapi Rashid. “Kau ini memang laki-laki yang tak punya malu, ya?” sindir Kalandra telak. Tatapan matanya yang tajam terasa menusuk Rashid.
Tetapi, alih-alih takut atau tersindir, Rashid justru menunjuk-nunjuk wajah Kalandra dengan berani. “Biar aku memberitahumu, ya. Kinara ini bukan perempuan yang seperti kau pikirkan. Dari luar saja ia terlihat polos dan baik, tetapi sebenarnya dia perempuan yang materialistis!”
Kinara yang berdiri di belakang Kalandra menatapnya dengan tidak percaya. “Jaga ucapanmu, Rashid.”
Namun Rashid yang sudah terbakar oleh kecemburuan tidak berhenti. “Kenapa? Kau tak terima? Apa aku salah?”
Marissa berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, tetapi tidak berusaha menghentikan suaminya, ia bahkan ikut dalam permainan itu, seolah melihat Kinara dihina adalah salah satu kepuasannya.
“Ternyata ini sisi dirimu yang lain, ya. Pantas saja Mas Rashid selalu merasa tertekan saat menjadi suamimu.”
Mata Kalandra semakin melotot tajam, tetapi sebelum ia sempat untuk mengatakan sesuatu, Rashid kembali menunjuk Kalandra dengan dagunya.
“Ingatlah statusmu, Kinara. Kau itu hanya penjual kue, jangan bermimpi bisa naik tahta dengan menjadi simpanan pria kaya,” sindir Rashid seraya tertawa mengejek.
Kalandra semakin kesal dibuatnya hingga rasanya ia ingin meninju wajah laki-laki brengsek itu. Namun, suara denting di ponselnya mengalihkan perhatiannya untuk sesaat.
Kinara mengepalkan tangannya kuat, kesal tetapi juga tetap berusaha tenang. “Kau tidak berhak bicara seperti itu, Rashid.”
“Kenapa tidak?” Rashid tertawa pendek. “Bukankah sekarang semua orang bisa melihat seperti apa dirimu yang sebenarnya?”
Kinara menatapnya tajam. “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”
Rashid menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat wajah Kinara membeku. “Jangan bertingkah seolah-olah kau perempuan terhormat, Kinara. Jika kau memang suka hidup dari pria kaya, setidaknya jangan mempermalukan dirimu sendiri.”
Kalandra langsung bergerak maju. “Cukup!” seru Kalandra cepat. Suaranya terdengar rendah tapi tegas penuh penekanan. “Hentikan omong kosongmu itu, atau—”
Rashid menoleh kepadanya dan langsung menyela dengan berkacak pinggang. “Atau apa? Apa kau mau menghajarku? Biar aku mengingatkanmu sekali lagi, hati-hati dengan wanita ini. Dia tidak seperti yang terlihat dari luar.”
Rahang Kalandra terkatup rapat dengan tangan yang terkepal kuat. Matanya menatap Rashid dengan sorot mata yang membuat beberapa pramuniaga mulai memperhatikan mereka dengan cemas.
Dengan cemas, Kinara menahan lengan Kalandra sambil berbisik dan mengingatkan sang kakak agar tidak membuat kehebohan di depan publik.
Kalandra menghela napas berat, lalu merapikan penampilannya. “Akan kupastikan kau akan menyesali kesombonganmu hari ini,” katanya pada Rashid, memberi peringatan sekaligus mengancam.
Namun, sama seperti sebelumnya, alih-alih merasa takut Rashid justru terkekeh pelan meremehkan. “Kau lihat itu? Astaga, dia mengancamku. Benar-benar pasangan yang serasi.”
***
“Kau seharusnya membiarkan aku meninju wajahnya yang jelek itu! Berani sekali dia bicara seperti itu kepadamu?” oceh Kalandra dengan napas memburu begitu mereka keluar dari butik itu.
“Tenang, Kak, tenang. Ayo tarik napas dalam-dalam,” pinta Kinara sambil menyodorkan sebotol air minum yang sempat dibelinya tadi.
Kalandra berkacak pinggang dengan kesal, ia membuang napas kasar berkali-kali demi menenangkan dirinya sendiri. Lalu menyambar botol minum dari Kinara dan meminumnya hingga habis setengah.
“Lihat saja nanti, akan kubalas dia hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi!” janji Kalandra dengan yakin.
Tak jauh dari mereka, Shena yang baru saja berhasil menyusul mereka berjalan mendekat. Ia menatap Kalandra yang tampak kesal.
“Ada apa dengan Kak Kalandra? Dia kelihatan begitu kesal. Apa terjadi sesuatu?” tanya Shena pada Kinara.
“Kakak bertemu dengan Rashid saat kami berbelanja tadi,” jawab Kinara jujur.
Mata Shena langsung melotot. “Apa?! Laki-laki brengshake itu ada di sini juga? Di mana dia?” Shena mengedarkan pandangannya ke sekeliling pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung itu.
“Kau juga kesal ‘kan, Shen? Kau pasti juga ingin menghajarnya. Andai kau ada di sana aku yakin kau akan langsung menghajarnya dengan tas mahalmu itu.” Kalandra menyahut dengan suara menggebu-gebu.
“Tentu saja aku akan menghajarnya. Memangnya apa yang dia lakukan tadi, Kak?” tanya Shena penasaran. Andai saja ia tidak menerima panggilan penting tadi, ia pasti tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk membalaskan rasa kesalnya.
Belum sempat Kalandra membuka mulutnya, Kinara sudah melerai keduanya. “Sudah, sudah. Kenapa kalian jadi membahasnya di sini? Kita jadi berbelanja atau tidak?” kata Kinara, mengingatkan keduanya apa tujuan utama mereka untuk datang ke sana.
“Ah … aku sampai lupa apa tujuan kita ke sini.” Kalandra menggaruk keningnya sendiri, tiba-tiba teringat sesuatu. “Kalian pergi saja lebih dulu, aku harus mengabari manajerku dulu.”
“Baiklah, jangan terlalu lama, ya, Kak.”
Kalandra mengangguk singkat, “Aku tahu. Dan ingat, jangan kembali lagi ke butik itu,” katanya setengah memperingatkan.
Shena dan Kinara mengangguk lantas berjalan lebih dulu, meninggalkan Kalandra yang sudah sibuk dengan ponselnya.
***
Sementara di kediaman utama, Galendra tengah berbincang dengan seseorang di telepon saat ia mendengar suara langkah kaki memasuki ruang keluarga. Galen menoleh dan mendapati Sagara sudah sampai.
“Bagaimana? Apakah semuanya sudah selesai? Apa Kinara mau pergi dengan Kala?” tanyanya pada Saga setelah menutup panggilannya.
Sagara duduk di sofa, menghela napas lelah sebelum akhirnya menjawab. “Ya, sekarang mereka pasti masih berbelanja. Tetapi sepertinya, kita melakukan kesalahan.”
Dahi Galendra mengernyit heran. “Kesalahan apa?”
Melihat raut wajah Sagara yang bak tali kusut itu, Galen sudah menduga ada sesuatu yang terjadi pada adik perempuan mereka. “Terjadi sesuatu?” tanyanya kemudian.
Untuk sesaat, Sagara ragu mengatakannya. Jika Galendra tahu bahwa Kinara dihina habis-habisan di depan umum oleh Rashid, entah hal apa yang akan ia lakukan nanti.
“Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya lelah menangani pasien,” alibi Sagara setengah berbohong.
Galendra menatapnya sesaat sebelum akhirnya ikut duduk di sofa. Matanya menatap langit-langit rumah, melihat chandelier cantik yang menggantung indah. Kilauan yang berpendar itu, mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
“Kau sudah memberitahu ayah dan ibu, Kak?” tanya Sagar pelan, mengubah posisi rebahnya menjadi duduk tegak. “Apa respon mereka?”
Galendra menoleh dengan malas. “Kita lihat saja besok. Siapkan dirimu, Saga. Ingatkan Kala dan Kinara untuk bersiap juga, besok semuanya harus berjalan sempurna sesuai dengan rencana.”
Mendengar titah kakak tertuanya, Sagara tidak bisa menolaknya, meskipun ia penasaran dengan rencana kejutan yang Galen buat untuk besok.