wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Persiapan Pernikahan
Acara pertunangan akhirnya selesai, dan aku kembali ke rumah orang tuaku untuk menikmati liburan musim panas.
"Selamat pagi, Emile." "Pagi, Nona." Aku menguap kecil sebelum bertanya, "Jam berapa sekarang?" "Sekarang sudah pukul sepuluh tepat." Aku mengernyit. "Oh, tapi kenapa rumah ini sangat sepi padahal masih sangat pagi?" Emile menjawab, "Tuan dan Nyonya sedang pergi menjamu tamu.Tuan muda Nicholas juga baru datang bersama mereka."
Nicholas Astralarius Celestior, putra pertama keluarga Celestior, atau yang biasa kupanggil Nichol. Karena kedatangannya, aku harus bersiap untuk memberi salam kepadanya. "Perkenalkan, aku Celestia Lunastella Celestior, putri ketiga keluarga Celestior." Rupanya Nichol tidak datang sendirian. Ia membawa tunangannya, Alice Lumithor, beserta keluarganya. Alia Lumithor, adik Alice, juga ikut bersama mereka.
"Jadi, kau yang membully Alia di sekolah?" tanya Nichol. Aku terdiam sejenak. "Hah?" Alia sedang dipeluk ibunya dengan wajah ketakutan. Tanpa basa-basi, aku mendekatinya dengan senyum seramah mungkin, meskipun tatapanku mungkin terlihat cukup menyeramkan. "Alia, kita itu teman ba-ik, bukan?" tanyaku. "KAN?" ulangku sambil tersenyum. Alia mengangguk cepat. "B-benar, kami adalah teman ba-baik." Aku kemudian menatap Nichol. "Lihat, dia sendiri bilang kami teman baik." Nichol menghela napas.
"Sudah kuduga.Tidak mungkin celestiaku membully gadis lain.kemarilah, Celes," ujar Ibu dengan senyum bangga. Pembicaraan kemudian berlanjut mengenai pernikahan kak Nichol yang akan dilaksanakan besok. Ia akan menikah dengan Alice Lumithor, putri kedua yang di-ubah menjadi putri pertama. Sementara itu, Alia yang sebelumnya diharapkan menikah dengan Nichol berasumsi bahwa putra keluarga Viscount Celestior tidak pantas untuknya.
Kami terus membicarakan persiapan pernikahan Nichol hingga larut malam. "Huh, pernikahan memang rumit," gumamku setelah kembali ke kamar untuk beristirahat.
Krak!
Crakk!!!
Suara pecahan kaca tiba-tiba terdengar. Aku langsung menoleh ke arah jendela. "Siapa kau?" teriak seorang gadis muda dengan jubah yang baru saja memecahkan jendela dan masuk ke kamarku. Aku menatapnya bingung. Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Ini kamarku!
Gadis itu memiliki rambut merah muda pastel. Ia kemudian menyadari kesalahannya. "Oh, maaf. Aku Astralia Vivianne Celestior, putri pertama keluarga ini. Lalu kau?" Aku menjawab, "Maaf atas kelancanganku telat memperkenalkan diri. Aku Celestia Lunastella Celestior." Astralia menatapku beberapa saat. "Oh, jadi kau gadis yang dibilang mirip dengan ibuku?" Aku mengernyit. "Itu tidak mungkin." Ia tersenyum miring. "Tentu saja tidak mungkin. Sera hanya terlalu terobsesi dengan sihir kegelapan yang dimiliki ibu, dan rupanya kau juga memilikinya."
Kenapa dia juga sangat menyeramkan? Batinku mulai ketakutan saat melihat senyumnya di bawah sinar bulan.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu. Aku hanya ingin kau menyampaikan sebuah pesan." "Pesan apa?" tanyaku. Astralia menjawab santai, "Bilang kepada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah menikah satu pekan yang lalu dan sekarang aku hamil." Aku terdiam. "K-kau hamil k-kak?" tanyaku memastikan. Astralia hanya tersenyum tipis, lalu pergi dengan melompat keluar melalui jendela kamarku yang hanya berada di lantai dua.
Aku langsung berlari keluar kamar untuk menyampaikan pesan penting itu kepada Ayah dan Ibu. "Nona, Anda ingin ke mana? Ini sudah larut," panggil Emile. "Tunggu sebentar, Emile!" Aku berlari menyusuri lorong rumah yang sudah gelap karena malam semakin larut.
Tok tok tok tok tok!
"Ayah, Ibu!." Aku mengetuk pintu kamar mereka. "Tok tok tok." Pintu terbuka. "Ada apa, Celes? ini sudah larut" tanya Ibu. "Ibu, aku ingin menyampaikan pesan." "Apa itu, Celes?" tanya Ayah. Aku menarik napas. "Ayah, Kak Ralia hamil."
"Apa?!!!"
Wajah Ayah langsung berubah syok, sementara Ibu seketika pingsan. "Ayah, ada apa ini?" kak Nichol tiba-tiba datang. Aku mulai merasa ada kesalahpahaman di sini.
"Ayah, sebenarnya Kak Ralia sudah menikah," jelasku. Ayah langsung menatapku tajam. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Celestia?!!!" teriaknyanya. "Maaf aku tidak tahu." "Lalu, dia menikah dengan siapa?" lanjut ayah. Nichol ikut bertanya, "Lalu bagaimana kau bisa tahu tentang ini?"
Aku mulai tersenyum lesu.kak Nichol jelas masih belum sepenuhnya mempercayaiku setelah omongan Alia. "Apa kau hanya berbohong?" tanyanya. "Tidak, Kak. Kak Ralia datang ke kamarku baru saja." kak Nichol melihat sekeliling. "Lalu, dia di mana sekarang? Tidak ada, bukan?" Aku terdiam. "Lihat, Ayah. Dia hanya berbohong." "Aku tidak berbohong!" teriakku.
"Tuan, Nyonya," "ada apa Warren?" Warren Marston, kepala pelayan kediaman ini, tiba-tiba datang membawa sebuah surat. "Ada surat dari Nona Ralia yang ditinggalkan di depan pintu." Ayah langsung mengulurkan tangan. "Berikan kepadaku, Warren."
Ayah membuka surat itu dan membacanya. "Hai, Ayah. Bagaimana kabarmu dan wanita itu? Mungkin kalian sudah diberi tahu oleh adik manis bernama Celestia bahwa aku sudah menikah dan akan segera memiliki keturunan. Aku menikahi laki-laki bernama Arthur. Arthur Aerion. Dia laki-laki yang tampan, jadi aku sangat mencintainya. Jadi Jangan coba-coba memisahkan kami."
Setelah selesai membaca surat itu, wajah Ayah semakin serius. "Warren, cepat suruh orang mencari Astralia. Sampai ujung dunia sekalipun, kalian harus membawanya kembali ke hadapanku." Warren membungkuk. "Baik, Tuan." Ia kemudian bergegas memerintahkan para penjaga dan pelayan untuk mencari keberadaan Kak Ralia yang kemungkinan besar belum pergi jauh dari kediaman.
Malam panjang itu akhirnya berlalu. Hari ini adalah hari pernikahan kak Nichol dan Alice.
"Ibu, kita akan ke mana?" tanyaku saat bersiap pergi. Ibu menjawab, "Upacara pernikahan bangsawan biasanya diadakan di gereja. Biasanya diadakan di Kota Celestara, tetapi kakakmu istimewa, jadi pernikahannya akan dilaksanakan di gereja suci yang berada di ibu kota."