NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA PULUH DUA

Di tengah lapangan terlihat perwakilan panitia sudah berdiri disana, dengan selembar kertas di tangan kiri dan mikrofon ditangan kanannya, panitia itu langsung membacakan beberapa pengumuman.

"Selamat sore , babak semi final SMAN 2 Bandung Basketball Cup tahun ini akhirnya telah terselesaikan, dengan mengantarkan SMAN2 Bandung dan SMA Merah Putih ke babak final, serta SMA Putra Bangsa dan SMA Bakti Utama yang yang akan memperebutkan juara ketiga , kedua pertandingan akan dilaksanakan besok di waktu dan tempat yang sama, untuk pengumuman juara 1 2 dan 3 cheerleader juga akan diumumkan besok setelah seluruh pertandingan selesai" pengumuman dari panitia.

Setelah beberapa waktu panitia meninggalkan lapangan, seluruh siswa mulai meninggalkan tribun tempat duduknya satu demi satu termasuk Langit yang berjalan dibantu oleh rekan tim basketnyanya. Saat berjalan menuruni anak tangga, Langit yang dibantu oleh temannya bertemu dengan Rindu yang tengah berdiri.

"Udah sini gue aja yang bantu Langit, lu duluan aja" pinta Rindu kepada teman Langit.

"Beneran nih nggak apa-apa Rin? Lu kan cewek, masa iya bopong cowok?" tanya Teman Langit.

"Beneran , tenang aja gue bisa kok, percaya sama gue" jawab Rindu.

"Udah udah, biarin aja, gue sama Rindu aja, gue percaya kok sama Rindu" sambung Langit meyakinkan rekan satu tim basketnya.

Langit berusaha melepaskan tangan dari bahu temannya yang membantu dirinya untuk berjalan, dengan perlahan tangan Langit berbindah kebahu Rindu. Dengan penuh perhatian Rindu membantu Langit meletakkan tangan Langit dibahunya. Dengan dibantu Rindu, Langit berjalan menuju keluar GOR C-Tra , tentu saja ditemani oleh Rindu disampingnya.

Dengan tangan Langit berada dibahunya, Rindu terlihat sepenuh hati membantu Langit berjalan menyelusuri tiap anak tangga, bahkan terkadang Rindu harus menahan tubuh Langit dikala Langit hilang keseimbangan dalam melangkah. Tak heran terkadang seluruh mata dari teman SMA Merah Putih melihat kearah mereka, dimana biasanya mereka selalu bertengkar tapi saat ini Rindu dengan semangat 45 membantu Langit. Setelah berjalan menuruni anak tangga demii satu, mereka melanjutkan berjalan menuju luar GOR. Langit yang melihat wajah Rindu secara tak langsung, menyadari terlalu letih Rindu menahan beban tubuhnya yang bertumpu pada bahu Rindu. Langit berusaha berjalan sendiri, dia perlahan melepaskan tangannya dari bahu Rindu. Walau dengan berjalan terpincang-pincang, Langit tetap berusaha agar tidak membebani Rindu. Rindu berusaha tetap membantu Langit, walau hanya sekedar membawakan tas milik Langit.

"Udah Rin, gue bisa kok sendiri, makasih ya" ucap Langit.

"Beneran nih? nggak apa-apa sini gue bantu , kuat kok gue" tanya Rindu.

"Beneran Rin, iya gue percaya kok lu kuat, tapi ga enak aja diliatnya masa gue cowo dibopong sama cewek, hehehe,sekali lagi makasih ya" jawab Langit.

"Ya udah deh, gini aja, biar gue yang bawain tas lu deh, gue maksa luh ya" ucap indu sambil merebut tas Langit yang sebelumnya diselempangkan oleh Langit ditubuhnya.

"Ya udah deh kalau lu maksa sih hehehe, makasih ya Rin" ujar Langit sambil membantu menyerahkan tas miliknya.

Langit dan Rindu melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar GOR C-Tra. Baru saja beberapa langkah keluar dari GOR C-Tra, terdengar suara cewek memanggil mereka berdua dari belakang. "Kak Langit , Kak Rindu, tungguin aku dong, aku mau ada yang dikenalin nih" suara cewek yang terdengar dari arah belakang Langit dan Rindu diiringi dengan tepukkan tangan beberapa kali.

Seketika Langit dan Rindu menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ternyata itu adalah Allisya yang ingin bareng menuju ke dalam bis. Dengan berlari kecil , Allisya menyusul Langit dan Rindu. Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah parkiran bis. Sesaat melangkah , Rindu melihat kearah depannya ada lelaki misterius tersebut berjalan kearahnya. Lelaki tersebut terlihat melambaikan tangan kearah Rindu dalam langkahnya.

"Wah kayaknya filling gue bener deh, gue yakin dia orangnya , tapi dia kenal gue dari mana? Apa dia temen kecil gue, tapi siapa? gue nggak kenal, bodo ah nanti juga tau , ini aja dia ke arah gue, bismillah" Pikir Rindu dalam hatinya.

"Eh iya Sya, tadi katanya kamu mau kenalin, kenalin siapa?" tanya Rindu kepada Allisya.

"Entar juga kakak tau kok" jawab Allisya.

Terlihat lelaki misterius itu berjalan semakin mendekati Rindu, Rindu semakin salah tingkah melihat hal itu. Tak disangka tak diduga lelaki itu melambaikan tangannya kearah Rindu , Langit, dan Allisya berjalan. Ada rasa ingin berontak dalam benak Rindu, jika memang lelaki itu pengagum rahasianya, yang selalu mengirimkan tulisan penyayat jiwa kepada dirinya, mengapa harus dipertemukan disaat ini, disaat dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Langit disisinya. Dengan satu kaki yang terpincang-pincang Langit berjalan sebisanya, langkahnya terhenti ketika melihat ada yang janggal diwajah Rindu. Sekilas Langit mengalihkan pandangannya ke arah Rindu memandang dengan tatapan kosong. Langit melihat seorang lelaki mengenakan jaket dan topi melambaikan tangan kearah Rindu. Sekali lagi Langit menatap wajah Rindu yang terlihat seperti melamun.

"Rin, itu temen lu? Dipanggil tuh" tanya Langit.

"Eh iya , yang mana? Siapa?" tanya balik rindu dengan terkejut.

"Eh lu kenapa sih Rin, itu cowok didepan yang dari tadi ngelambaiin tangan ke lu, temen lu itu? Lu kenal? Atau jangan-jangan...." sindir Langit diakhir kalimatnya.

"Yang mana sih, lu salah kali bukan ke gue, gue nggak ada yang kenal kok disini selain anak-anak dari sekolah kita" Rindu berpura-pura tak melihatnya walau wajahnya sangat menunjukkan kecemasan

"Itu yang pake jaket sama topi merah, orang dia ke arah lu kok, jangan-jangan dia fans lu kali, atau pengagum rahasia lu kali, yang kesemsem pas lu cheers tadi, hahahaha, untung ukan om om" sindir Langit.

"Apaan sih lu? Tau ahh" gerutu Rindu.

"aduh mati gue, kan nggak enak gue sama Langit kalau dia bener-bener yang gue maksud selama ini, oh tuhan kenapa harus sekarang sih, kenapa harus disaat ada Langit ada Allisya" ucap Rindu dalam hatinya.

"Oi Rindu, orangnya nyamperin tuh, ciee yang udah dapet fans di bandung" Langit semakin menyindir Rindu..

Rindu kembali melihat ke arah lelaki itu, benar saja dia terus berjalan mendekati Rindu dengan sesekali seakan ingn memeluk dari kejauhan. Semakin gelisah Rindu melihat hal itu, kadang dia berpikir benarkah lelaki itu pengagum dirinya? Apa yang dilihat lelaki itu terhadap dirinya? Karena setelah dilihat dari dekat lelaki itu sangat tampan dan terlihat layaknya pribadi seorang muslim yang sangat taat beribadah, mengapa tertarik kepada dirinya yang saat cheers saja mengenakan pakaian yang terbuka. Lamunan Rindu trhenti disaat dari arah belakang Allisya berlari dan menyenggol bahu Rindu. Allisya berlari kearah lelaki itu dan langsung mencium tangan kanan dari lelaki itu. Rindu sontak terkejut dibuatnya melihat hal tersebut. Allisya berjalan mendekati Rindu dan Langit sambil menarik tangan lelaki itu.

"Oh kenalannya Allisya ternyata, gue kira kenalan atau fans dari lu Rin" ucap Langit.

"Ya nggak mungkin lah, kan udah gue bilang dari tadi nggak mungkin ke gue" sanggah Rindu.

"Ini kak Rindu , kalau yang ini kak Langit yang sering aku ceritain itu,oh ya kak ini Galang pacar aku yang aku ceritain waktu itu" Allisya mengenalkan lelaki misterius itu yang ternyata adalah kekasih dirinya.

"Galang" ucap Galang sambil berjabat tangan dengan Langit.

"Langit" ucap Langit sambil tetap berjabat tangan dengan Galang.

"Galang" ucap Galang sambil mengajak Rindu berjabat tangan.

Rindu hanya terheran-heran dibuatnya, ternyata lelaki yang sejak tadi dikira terus mengamatinya , memotret kearahnya bukanlah kepada dirinya melainkan kepada Allisya yang sedari tadi berada didekatnya. Dia merasa kecewa bercampur malu karena sudah salah menduga.

"Oi Rindu, itu lu diajak salaman juga malah bengong aja woi" Langit menyadarkan Rindu dari lamunannya.

"Eh iya, Rindu..." terkejut Rindu langsung menerima tangan Galang.

"Ih kak Rindu kenapa sih, mana kak katanya kakak udah tau orang nya" Bisik Allisya kepada Rindu.

Rindu lngsung menarik Allisya dan memisahkan diri sejenak dari Langit dan Galang. Disaat bersamaan Langit berusaha mengakrabkan dirinya dengan Galang yang kebetulan usianya hanya selisih 1 tahun.

"Kenapa sih kak Rindu? Pake narik aku segala" tanya Allisya.

"Sya.. pleaseee... jangan bahas tentang itu lagi, ternyata kakak tuh salah, orang yang kakak maksud tadi bukan orangnya" jawab Rindu.

"Emang kenapa sih kak, kok kakak yakin bahwa kakak salah, ya kali aja bener kak, emang orangnya yang mana sih? Jadi penasaran" tanya Allisya lagi.

"udah ah Sya nggak usah dibahas, kalau kamu tahu yang kakak kira tadi itu siapa, kamu pasti ngetawain ujung-ujungnya" jawab Rindu dengan malu.

"Emang siapa sih kak? bilang aja sih, jadi penasaran" tanya Allisya.

"Sebenernya yang aku kira tadi itu tuh si Galang pacar kamu, abis nya dari tadi aku perhatiin dia tuh liatin aku terus, eh ternyata bukan ke aku tapi ke kamu Sya" jawab Rindu dengan malu-malu.

"Hah..? jadi yang kakak bilang perhatiin kakak itu Galang? Ya ampun kakak" Allisya terkejut dan tak bisa menahan ketawanya.

Dengan senyum manisnya, Allisya sedikit meledek ucapan Rindu tentang Galang. Disisi lain terlihat Langit sedang berbincang santai dengan Galang. Mencoba mengakrabkan dirinya dengan Galang, Langit tak sungkan merangkul bahu Galang sesekali.

"Oh jadi lu ya yang namanya Langit, Allisya banyak cerita tentang lu ke gue kalau lagi teleponan, tentang lu yang kehilangan ibu sama adik lu pas kecil, termasuk katanya Allisya tuh lu ada hati sama si Rindu" ucap Galang.

"Hehehe lu bisa aja, kalau yang Rindu mah hoax itu, bisa-bisa Allisya aja hehehe" balas Langit.

"Udah sih bro jujur aja, keliaatan kok dari sikap lu tadi pas sama Rindu, gue juga cowok , gue paham namanya jatuh cinta, sama pas dulu gue ke Allisya. Jadi nggak bisa lu boongin gue tentang perasaan lu ke Rindu, kebaca kok" tegas Galang.

"Bisa aja lu, tapi seandainya itu bener, seandainya luh ya, apa bisa dikata , sikap dia ke gue aja selama ini ngebenci gue banget" Langit menanggapi dengan sedikit bingung.

"Tapi yang gue liat selama tadi , dia tuh respect banget kok ke lu, mau nuntun lu pas kaki lu susah jalan, keliatan kok sikap dia ke lu" ucap Galang.

"Iya sih, tapi gue ragu, perasaan gue tuh seakan berkata dia bersikap demikian ke gue cuma buat jaga nama baik sekolah gue aja, mungkin nggak enak kalau sekolah lain ngeliat gue sama dia berantem terus selama di Bandung" ucap Langit.

"Bener juga sih semua omongan lu itu, tapi ya lu lebih baik kan berpikir positif aja dulu, buang jauh-jauh pikiran negatif lu ke dia, insya Allah nanti juga akan terjawab semuanya" ucap Galang menasehati Langit.

Di sela-sela Langit dan Galang sedang berbincang, dari arah belakang terlihat Allisya dan Rindu datang menghampiri mereka. Langit langsung menghentikan perbincangan dengan Galang, Langit takut kalau Rindu akan mendengar semua perbincangannya yang kebetulan sedikit-dikit mengenai Rindu. Belum lama Rindu dan Allisya datang menghampiri, Galang langsung berpamitan kepada semuanya termasuk kepada Allisya, Allisya merespon dengan mencium tangan kanan Galang. Tak lama Galang pun pergi meninggalkan mereka bertiga. Tidak lama setelah Galang pergi, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju kearah parkir bis.

Di tempat parkir, dari kejauhan bis terdengar sudah menghidupkan mesinnya, para siswa dan beberapa guru mulai menaiki bis satu per satu. Dengan dibantu Rindu dan Allisya, Langit berusaha naik ke dalam bis dengan kaki terpincang-pincang. Tanpa sungkan Rindu membawakan tas milik Langit untuk diletakkan di bagasi diatas kursi yang masih kosong, sementara Langit berjalan ke kursi itu dengan dibantu oleh Allisya. Allisya segera menuju tempat duduk di paling depan setelah mengantarkan Langit untuk duduk , sementara Rindu yang tidak ada kursi kosong lagi memutuskan untuk duduk bersama Langit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!