NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

“Airin!” 

Kaiser langsung memeluk tubuh Airin yang tak sadarkan diri. Dia masih bernafas. Dia masih bernafas tapi luka di belakang kepalanya terlihat parah.

Arjuna—kakak kedua Airin terlihat menatap adiknya sebentar kemudian membuka jas dan menutupi badan Ophelia yang terlihat setengah sadar.

Dengan lembut ia membuka tali di mulut juga tangan kaki gadis itu dan mengangkatnya perlahan. “Kita mesti ke rumah sakit sekarang.”

“Kak Arga bagaimana?” tanyanya, melihat kakak pertama Airin yang masih memukuli pria berbaju hitam disana.

“Kamu bawa mereka ke rumah sakit dulu,” ucap Arjuna tenang. “Soal Arga biar kakak yang urus.” 

Kaiser mengangguk. 

Setelah memastikan kalau Airin dan Ophelia duduk aman di mobil, Kaiser menjalankan mobil itu dengan cepat ke rumah sakit. 

Sialan. 

Dia menerima pesan dari Ophelia kalau Airin sedang dalam bahaya beberapa saat lalu, tapi mereka berada di tempat yang jauh dari kerumunan. GPS yang dinyalakan Ophelia juga hilang di tengah-tengah perjalanan, itu membuat segalanya menjadi rumit. 

Semoga saja Airin masih bisa diselamatkan.

Oh.

Kaiser mengerem mendadak ketika ada pengendara motor yang akan menyeberang. Ia bisa melihat kalau orang itu berteriak marah karena hampir ditabrak tapi telinga Kaiser tidak bisa mendengar apa-apa sekarang. 

Tenang. Kaiser mengatur nafas.

Tenang. Ia mesti tenang—

Bahunya diketuk dua kali.

“Jangan gegabah,” ucap Ophelia di belakang sana. Ia menjaga kepala Airin agar tidak terbentur apa-apa karena rem mendadak tadi. “Aku tidak selamat dari kejadian tadi cuma untuk mati dalam kecelakaan mobil.” 

Melihat betapa tenangnya Ophelia, Kaiser menghembuskan nafas yang secara tidak sadar ia tahan. 

Ia memfokuskan diri pada jalanan dan kembali menjalankan mobilnya. Sekarang, dengan jauh lebih fokus. 

...****************...

Ophelia menghembuskan nafas dan melihat telapak tangannya yang masih gemetaran. 

Lukanya ringan, pukulan di wajahnya cuma membuat mimisan—tidak ada luka lain. Sedangkan Airin... Dia langsung masuk ke ruang IGD dan kabarnya akan segera dioperasi. Belakang kepala adalah tempat yang benar-benar rawan habisnya.

Ophelia memegang kedua tangan. 

Apa ia gagal?

Ia berusaha mencegah kecelakaan itu, tapi Airin masih terluka parah. Kalau semisal dia tetap koma berarti apapun yang Ophelia lakukan, masa depan tidak akan bisa diubah? 

“Keluargamu sudah dihubungi. Mereka akan datang sebentar lagi.” 

Melihat Kaiser yang masuk, Ophelia langsung bertanya, “Airin bagaimana?” 

“Dia sudah masuk ke ruang operasi,” ujarnya pelan. 

Ophelia menggigit bibir dan memeluk kedua lututnya. Mungkin dia tidak sadar, tapi Kaiser bisa melihat jelas kalau tubuh gadis itu sedang gemetaran. 

Tadi ketika mereka datang, pria itu sedang melakukan sesuatu pada Ophelia. Kondisi pakaian juga lehernya yang mendapat luka gigitan seakan mengatakan kalau dia baru saja dilecehkan.

Kaiser mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Maaf... aku terlambat.” 

Ophelia menggeleng. 

Kaiser yang tidak bisa melakukan apa-apa keluar dari ruangan Ophelia. Arga dan Arjuna, kakak kembar Airin terlihat baru datang juga. 

“Airin bagaimana?” tanya Arga spontan. 

“Luka di belakang kepalanya agak parah, dia sedang dioperasi sekarang.” 

Pria itu langsung mengumpat. 

Di sebelahnya, Arjuna terlihat menepuk pundaknya perlahan. “Temanmu yang lain? Kondisi dia bagaimana?” 

“Fisiknya tidak ada luka serius tapi—” Kaiser tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan menunduk. 

“...mentalnya kena ya?” sambung Arjuna pelan. “Keluarganya sudah dihubungi?”

Kaiser mengangguk. “Mereka akan datang sebentar lagi.” 

“Kita tunggu mereka datang dulu.” 

Kaiser menengok ke belakang, seakan ingin memastikan sesuatu. 

“Kalau kamu mencari orang itu, dia akan diurus nanti.” Arga terlihat menatap tajam ke arah pintu masuk. “Dia tidak mati, tenang saja.” 

Justru karena tidak meninggal makanya—Ah sudahlah. 

Kaiser duduk di salah satu kursi dan mulai berdoa untuk kelancaran operasi. 

...****************...

Beberapa minggu kemudian...

Bau rumah sakit itu benar-benar khas. 

Ophelia yang membawa sebuah buku di tangan melihat tembok dan lantai putih bersih di sekelilingnya. Ia rasa, ia tidak akan pernah suka dengan bau ini. 

Dengan langkah santai, gadis itu berjalan ke sebuah ruang VIP disana dan membuka pintunya perlahan. 

“Eh, ada nak Ophelia.” 

Ophelia tersenyum. “Pagi Tante.” 

Semenjak kecelakaan, ia jadi dekat dengan keluarga Airin. Ia juga tahu kalau yang menyelamatkan mereka  adalah Arga dan Arjuna, kakak kembar gadis itu.

Ia belum bertemu dengan mereka lagi sih, soal Airin sendiri—

“Lia.” 

Suara lemah itu membuat Ophelia menolehkan kepala. Airin duduk setengah berbaring di kasur dengan kepala yang masih diperban. Bahkan dengan kondisi seperti itu, dia masih bisa tersenyum. 

“Hei,” sapa Ophelia sembari duduk di salah satu kursi sana. 

Ibunda Airin terlihat berdiri dari sofa, “Kalian ngobrol aja oke? Bunda mau keluar dulu sebentar.” 

“Iya Tante.”

Airin mungkin tidak secerewet biasanya, tapi dari ekspresinya sendiri Ophelia tahu, gadis itu sedang sangat senang.

Kenapa? Padahal Ophelia berkunjung setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu. 

“Kamu di sekolah... gimana?” tanyanya.

“Biasa aja,” jawab Ophelia. “Nggak ada pembullyan lagi, bahkan kakak-kakak kelas itu seakan takut bertemu denganku sekarang.” 

Airin menyipitkan mata, tatapannya seakan berkata, ‘Serius? Kamu nggak lagi bohong ‘kan?’

Ophelia mengangguk. “Kamu bisa tanya Kaiser soal itu.” 

Begitu ia kembali ke sekolah kabar kalau ia dan Airin diserang perampok tersebar luas—bahkan ada beberapa rumor yang membuat Ophelia serasa ingin muntah. 

Di setiap versi, Kaiser disebut-sebut sebagai ksatria berkuda putih yang menyelamatkan putrinya dari raja iblis. Peran Ophelia disana? Mungkin lebih seperti teman sang putri yang tidak sengaja ikut ke dalam kekacauan itu. 

Tapi tidak ada satupun yang tahu soal apa yang sebenarnya terjadi, terutama soal Ophelia yang hampir saja dinodai.

Ia menyentuh luka gigitan di leher yang masih ditutupi plester. Sudah tidak sakit, tapi Ophelia bahkan tidak sudi untuk melihat lukanya.

Mungkin semua rumor itu disebar agar tidak ada yang tahu kondisi Ophelia. Atau mungkin juga, supaya orang-orang tidak tahu siapa dalang dibalik semuanya. 

Yang jelas itu membuat pembullyan yang ia terima berhenti total. 

“Tanya padaku soal apa?” 

Ophelia memutar mata. Kenapa setiap kali dia berkunjung orang ini ada juga sih? 

“Jangan protes begitu, aku berkunjung setiap hari.” Kaiser menghela nafas dan duduk di seberang Ophelia. “Kamu hari ini gimana? Kepalamu masih sakit?” 

“...sedikit,” ucap Airin. “Kamu kesini sama kak Aiden?” 

Kaiser tersenyum. “Aku menyetir sendiri.”

“Belum punya SIM juga,” sahut Ophelia. 

“Kata siapa?” Kaiser mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan menyimpan kartu itu tepat di depannya. 

Surat izin mengemudi.

Ophelia berkedip dan melihat benda itu dengan seksama. “Ini asli?”

“Tentu saja, aku membuatnya langsung kemarin.” 

“Kemarin?” 

“Kemarin ulang tahunnya Kaiser yang ke-17,” ucap Airin. 

Ophelia langsung mematung. 

Di masa lalu, Ophelia mati satu hari setelah pesta ulang tahun Kaiser yang ke-18. 

Tepat hari ini, satu tahun mendatang.

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!