Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
David menatap Mili dalam-dalam, mengusir bayangan Andrew sepenuhnya dari pikirannya.
Ia membelai lembut rahang istrinya, jemarinya menelusuri garis wajah yang kini tampak lebih tenang dan dewasa.
Di balik tatapannya yang tajam, tersimpan kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini.
"Apakah kamu siap untuk nanti di ruang rahasia?" tanya David dengan suara berat dan penuh makna, menggoda istrinya dengan nada yang merendah dan intim.
Mili mendekat, tubuhnya menempel pada dada bidang David.
Ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga suaminya dengan nada manja namun penuh godaan.
"Sayang, jangan menggodaku," bisiknya pelan, membuat napas hangatnya menyentuh kulit leher David.
David tertawa kecil, suara baritonnya memenuhi ruangan.
Ia mencium ujung hidung Mili sebelum melepaskan pelukannya dengan enggan.
"Sekarang tunjukkan belajar kamu..."
Tak jauh dari sana, Bibi tampak sibuk menata ruang makan.
Ia meletakkan peralatan perak di atas meja dengan presisi, memastikan semuanya terlihat sempurna.
Mili segera mengambil posisi, duduk dengan tegak dan anggun.
Ia mulai mempraktikkan cara makan yang sopan dan benar—dari cara memegang garpu hingga gerakan tangannya yang tenang, semuanya tampak begitu elegan.
David memperhatikan setiap gerakannya dengan tatapan bangga yang tak disembunyikan.
Setelah puas dengan etiket makannya, David ingin menguji kemampuan bahasa istrinya.
Ia menatap Mili, lalu mencoba berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih,
"You have been working so hard lately, Mili. How do you feel about our upcoming plans?"
Mili menarik napas panjang, menatap mata suaminya dengan percaya diri. Ia tidak lagi gagap atau ragu.
"I am ready, David. I have learned so much, and I want to stand by your side with confidence at the reception," jawab Mili dengan pelafalan yang jelas dan intonasi yang tertata.
David menganggukkan kepalanya pelan, sebuah senyum bangga tersungging di bibirnya.
Ia benar-benar terpesona dengan kecepatan perkembangan istrinya.
"Kamu sangat pintar, Sayang," puji David tulus, membuat Mili tersipu malu namun merasa begitu dihargai.
Mili tertawa geli mendengar ucapan suaminya. David yang biasanya selalu menjaga citra dingin dan berwibawa di depan orang lain, kini tak ragu menunjukkan sisi manjanya saat berada di dekatnya.
"Bibi, siapkan makanannya, aku kembali lapar," ucap David setengah berseru ke arah dapur, sambil mengusap perutnya sendiri dengan santai.
Bibi yang mendengar perintah itu tersenyum sumringah.
Ia sangat bersyukur melihat perubahan Tuan mudanya yang kini jauh lebih hangat dan bahagia sejak ada Mili.
"Baik, Tuan," Bibi menganggukkan kepalanya dengan patuh dan segera bergegas menyiapkan jamuan.
Di tengah teriknya siang hari, Bibi menghidangkan berbagai masakan Nusantara favorit yang menggugah selera—mulai dari ayam bakar bumbu rujak yang kaya rempah, rendang daging yang empuk, hingga semangkuk sayur asem yang segar.
Tak lupa, sebagai pelengkap di siang yang panas itu, Bibi menyajikan dua mangkuk es teler segar berisikan serutan kelapa muda, alpukat, nangka, dan siraman susu kental manis yang memanjakan mata.
Aroma rempah khas Indonesia dan kesegaran es teler itu seketika memenuhi ruang makan.
David menarikkan kursi untuk Mili sebelum ia sendiri duduk di utamanya.
Ia menyendokkan nasi dan lauk ke piring istrinya terlebih dahulu.
"Makan yang banyak, Sayang. Hari ini kamu sudah belajar sangat hebat."
"Kamu juga makan yang banyak, David," balas Mili manis sambil memindahkan sepotong ayam bakar terbaik ke piring suaminya.
Di bawah sinar matahari siang yang hangat, suasana ruang makan itu terasa begitu hidup, jauh dari bayangan dingin dan suram yang pernah mengepung rumah tersebut.
Sementara itu dengan mata sembap dan dada sesak menahan amarah yang membendung, Gea melangkah masuk ke rumah orang tuanya.
Ia tak lagi sanggup berada di rumah dingin Andrew yang terasa seperti penjara, apalagi setelah diabaikan begitu saja oleh suaminya pagi tadi.
Ibunya yang sedang duduk di ruang tamu terkejut melihat kedatangan putri kesayangannya dengan raut wajah kacau.
"Gea? Ada apa, Sayang? Kenapa menangis seperti ini?" tanya Mamanya cemas seraya merengkuh Gea ke dalam pelukannya.
Tangis Gea seketika pecah. Di hadapan sang ibu, ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi—mulai dari Andrew yang hampir setiap malam tidak pulang dan pergi bersenang-senang di klub malam, sikap suaminya yang dingin, hingga kejadian mengejutkan saat ia mendatangi rumah David.
Gea memoles cerita itu dengan rasa benci yang meluap-luap.
Ia menceritakan bagaimana Mili—wanita yang dulunya dipandang sebelah mata—kini berani bersikap tegas, menatapnya dengan percaya diri, dan bahkan mengusirnya dari kediaman mewah David.
"Dia benar-benar sudah berubah, Ma! Dia memamerkan posisinya sebagai istri David dan mengusirku begitu saja dari sana!" aduh Gea dengan nada sengit bercampur dengki.
Mendengar aduan putrinya, wajah Mama Gea seketika memerah padam karena murka.
Ia menepuk meja di hadapannya dengan keras.
"Dasar wanita tidak diuntung!" ucap Mama Gea sinis dengan tatapan mata yang menyalang penuh kebencian.
"Dulu dia bukan siapa-siapa, sekarang baru jadi istri David saja sudah berani berlagak melampaui batas dan mengusir kamu! Kita tidak bisa tinggal diam, Gea. Di acara resepsi nanti, kita harus beri dia pelajaran!"
"Iya, Gea. Kita hancurkan Mili dan kita permalukan dia di depan semua orang!" sahut Mamanya penuh keculasan, menyusun niat jahat yang kian membara di antara mereka berdua.
Sementara itu, jauh dari keretakan rumah tangga Gea, suasana di kediaman David bergerak ke arah yang sangat kontras dan intim.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Di balik pintu tebal ruang rahasia yang terisolasi dari dunia luar, pencahayaan redup menciptakan atmosfer yang sarat akan hasrat dan kendali.
David perlahan membawa Mili ke tengah ruangan.
Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian namun dominan, ia kembali mengikat kedua tangan istrinya dan memasangkan penutup mata berbahan sutra hitam.
"Aku siap, David..." bisik Mili pasrah namun penuh penyerahan diri, menyerahkan seluruh rasa percayanya hanya kepada pria itu.
David menarik napas dalam. Ia meraih cambuk kecil berbahan kulit halus yang sudah tersaji di sana.
Dengungan cambuk yang membelah udara berpadu dengan ketukan pelan yang mendarat di kulit mulus Mili.
Sret!
Suara desahan dan rintihan lirih Mili menggema di ruangan yang sunyi itu.
Bukannya kesakitan yang membabi buta, melainkan sensasi kepatuhan dan kehangatan aneh yang menyengat.
Dan justru suara lirih itulah yang membuat David semakin tergerak oleh gairah dan kepemilikan yang mendalam.
Melihat jejak kemerahan tipis di punggung mulus istrinya, David merendahkan tubuhnya.
Ia mendaratkan kecupan-kecupan lembut di atas punggung Mili yang terluka ringan, menyalurkan rasa cinta, kepemilikan, sekaligus permintaan maaf yang membakar.
Dengan jemari yang cekatan, David melepaskan ikatan di pergelangan tangan Mili dan membuka penutup matanya.
Penglihatan Mili kembali terang. Menatap wajah suaminya yang dipenuhi aura intens dan kasih sayang yang membara, Mili—dengan tubuhnya yang terasa lemas dan bergetar—meraih tengkuk David.
Ia menautkan bibirnya ke bibir suaminya, menyambut ciuman dalam yang mengikat jiwa mereka berdua makin erat.