Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Orang yang Dipercaya Otaknya
“Kadang seseorang tidak tinggal di hati kita, melainkan di bagian paling rapuh dari pikiran kita.”
--
Pagi datang dengan langit yang jauh lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar rawat, membentuk garis-garis keemasan di lantai putih rumah sakit.
Di luar jendela, kehidupan berjalan seperti biasa, ada kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berangkat bekerja, dan dunia terus bergerak maju. Namun di dalam kamar itu, waktu seolah berjalan dengan cara yang berbeda.
Semua orang disana masih memikirkan kejadian kemarin, tangisan dari Keira yang berasal dari kepanikan karena Birendra menghilang selama beberapa menit, dan yang paling membuat mereka takut adalah Keira langsung tenang ketika Birendra kembali, seolah keberadaan lelaki itu adalah satu-satunya jangkar yang masih dimiliki pikirannya.
Pagi itu Keira tampak jauh lebih baik, ia sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan, sudah bisa berjalan beberapa langkah menuju kamar mandi, bahkan sesekali mulai bercanda dengan Hendra, namun setiap kali berbicara tentang masa lalu, selalu ada bagian yang hilang, atau lebih tepatnya ada bagian yang berubah.
“Ayah.”
“Hm?”
“Nanti kalau aku pulang, kamar aku sama Mas Raka masih seperti biasa, kan?” Pertanyaan itu terdengar begitu polos, dan wajar, seolah kecelakaan itu hanya membuatnya dirawat beberapa hari, bukan merenggut seseorang untuk selamanya. Jemari Hendra perlahan mengepal di atas lututnya.
“Mas Raka pasti sudah rapihin lemari lagi.” Keira kembali bicara seraya terkekeh pelan. “Dia selalu naruh bajunya sembarangan.” Ruangan mendadak sunyi, Alina menunduk cepat agar air matanya tidak jatuh, sementara Birendra memalingkan wajah ke arah jendela. Tak seorang pun sanggup merusak dunia kecil yang masih dipercayai Keira saat itu.
Siang hari dokter Arman meminta keluarga berkumpul di ruang konsultasi. Ruangan itu tidak besar, hanya ada sebuah meja bundar dan beberapa kursi. Namun entah kenapa, suasananya terasa jauh lebih menegangkan dibanding ruang rawat, kemudian Dokter Arman membuka berkas pemeriksaan.
"Secara fisik, kondisi Bu Keira sangat baik." Hendra langsung mengembuskan napas lega. "Luka di kepala membaik dan tidak ada gangguan fungsi organ.” Alina tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, mereka mendengar kabar baik tanpa tambahan kata tetapi. Sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena Dokter Arman belum selesai menjelaskan hasil dari pemeriksaannya.
"Namun kondisi neurologis dan psikologisnya berbeda." Kalimat itu membuat ruangan kembali hening. "Trauma yang dialami Bu Keira cukup berat. Pada beberapa kasus tertentu, otak dapat membentuk mekanisme perlindungan." Dokter Arman melanjutkan, dan Alina tampak menggenggam jemarinya sendiri.
"Mekanisme perlindungan?" Dokter mengangguk.
"Ketika kenyataan dianggap terlalu menyakitkan untuk diterima, otak bisa menciptakan jalur yang menurutnya lebih aman." Terang Dokter Arman lagi.
Tak ada seorang pun yang berbicara, karena mereka mulai memahami ke mana arah pembicaraan itu.
"Bu Keira kehilangan suaminya, namun pikirannya belum mampu menerima kehilangan tersebut, karena itu ia memindahkan rasa aman, rasa percaya, dan memori emosional yang dimilikinya kepada figur yang dianggap paling mirip, yaitu Pak Birendra." Tatapan dokter perlahan beralih kepada Birendra. Satu nama itu membuat dada semua orang terasa berat.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Dok?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Hendra, namun Dokter Arman tidak langsung menjawab, ia tampak seperti seseorang yang tengah menimbang sesuatu, karena hal itu pasti akan sangat sensitif.
"Untuk saat ini, jangan memaksa Bu Keira menerima kenyataan."
“Maksud dokter?” Tanya Alina seraya mengernyit.
"Jangan langsung mengatakan bahwa Pak Birendra bukan suaminya, karena kondisinya masih terlalu rapuh.” Ruangan terasa semakin sesak, karena mereka tahu bahwa penjelasan itu jauh lebih mudah di ucapkan dari pada di jalani.
Setelah konsultasi selesai, mereka keluar dalam diam. Koridor rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya, Alina berjalan paling belakang, pikirannya penuh, dadanya pun terasa sesak, dan untuk pertama kalinya sejak Keira sadar, ia mulai merasa takut pada masa depan.
Rasa takut yang di rasakan Alina bukan karena ia takut kehilangan Birendra, atau mungkin lebih tepatnya belum, tetapi karena ia mulai melihat arah yang sedang dibangun oleh keadaan, dan arah itu tidak membawa mereka ke tempat yang baik.
Sore hari, Maya datang membawa beberapa dokumen pekerjaan. Persiapan pasca-peluncuran Aurora berjalan sangat baik, pesanan meningkat, media pun masih membahas koleksi tersebut. Investor mulai berdatangan, secara bisnis, semuanya sesuai, namun Alina hanya mampu memandang laporan itu sekilas.
Beberapa minggu lalu, keberhasilan Aurora adalah mimpi yang mereka perjuangkan bersama, tetapi hari ini, rasanya semua itu seperti kehidupan orang lain, bukan kehidupannya.
Menjelang malam, Keira tertidur lebih awal, karena obat yang diberikan dokter membuatnya cepat mengantuk. Hendra pulang sebentar, dan Maya juga sudah kembali ke kantor. Sedangkan Alina dan Birendra tengah duduk berdampingan di lorong rumah sakit, tidak ada pembicaraan apapun antar keduanya, sampai akhirnya Alina bersandar pelan di bahu lelaki itu.
"Takut ya?" Suara Birendra terdengar pelan.
“Apa cuma aku yang ngerasa takut?” Birendra lekas menggeleng cepat.
“Aku juga sama takutnya.”
Beberapa saat kemudian, jemari mereka saling bertaut seperti biasanya, seperti yang selalu mereka lakukan ketika dunia terasa terlalu berat. Namun kali ini berbeda, karena keduanya sadar bahwa musuh mereka bukan kesalahpahaman, bukan orang ketiga atau pun kurangnya cinta, melainkan keadaan yang perlahan-lahan sedang mengambil sesuatu dari mereka dan mereka bahkan tidak tahu bagaimana cara melawannya.
Di dalam kamar rawat, Keira tertidur dengan tenang. Sementara di luar sana, seseorang sedang mulai menyusun keputusan yang akan mengubah hidup mereka semua. Dokter Arman berdiri di depan jendela ruang kerjanya, ia menatap berkas pemeriksaan Keira. Lalu menuliskan satu kalimat kecil di lembar observasi.
"Ketergantungan emosional terhadap subjek B semakin kuat." Kemudian, ia mulai mempertimbangkan sebuah saran yang tidak akan disukai siapa pun.