NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Digital Sang Pemburu

Matahari hari Rabu terbit dengan memancarkan kilau keemasan yang menembus sela-sela gorden sutra di ruang kerja utama lantai tiga puluh dua Mahardika Tower. Keheningan korporat kembali menyelimuti ruangan tersebut, namun atmosfer di dalamnya telah berubah total. Ini bukan lagi sekadar pusat kendali bisnis bernilai miliaran dolar, melainkan pos komando sebuah perang tak kasat mata yang melibatkan sejarah, darah, dan teknologi tingkat tinggi.

Arkananta duduk tegak di balik meja kerjanya. Wujud manusianya telah kembali sepenuhnya sejak fajar menyingsing, berkat ramalan cuaca yang menunjukkan kelembapan udara Jakarta Pusat berada di tingkat paling kering, sekitar empat puluh lima persen. Kemeja hitam arang dengan dasi sewarna perak yang dikenakannya melekat sempurna, memancarkan kembali aura kegagahan sang CEO legendaris. Namun, pandangannya tidak lepas dari pergelangan tangan kanan Kinanti yang hari ini tertutup oleh manset blus putih berenda tinggi.

Di bawah manset itu, lilitan perban tipis masih menyembunyikan lebam kebiruan akibat hantaman energi Herba Kendali Sungsang.

"Bagaimana kondisi tanganmu pagi ini, Kinanti?" tanya Arkan, suaranya rendah, membawa getaran bariton yang sarat akan perhatian yang dalam—sebuah nada suara yang tidak pernah ia gunakan untuk staf lain di gedung ini.

Kinanti yang sedang meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula di meja Arkan tersenyum tipis. "Jauh lebih baik, Pak Arkan. Ramuan Eyang Widya bekerja dengan sangat ajaib. Rasa dingin yang menusuk tulang kemarin sore sudah menguap, hanya menyisakan sedikit rasa kaku saat saya mengetik."

Kinanti melangkah mundur satu langkah, kembali ke posisi profesionalnya, lalu membuka sebuah map dokumen digital di tabletnya. "Saya sudah meminta tim forensik digital privat kita untuk membedah sisa log sirkuit pertahanan yang sempat diretas di Menteng. Tebakan Bapak benar. Faksi Selo tidak menggunakan jaringan publik. Mereka menyusup lewat frekuensi satelit militer swasta yang disewa atas nama sebuah perusahaan sekuritas di Singapura."

Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit tajam. "Perusahaan sekuritas? Apa namanya?"

"Aethelgard Corp," jawab Kinanti mantap. "Secara legal, pemilik saham mayoritasnya adalah seorang pengusaha properti asal Surabaya. Namun, jika kita menarik garis silsilah sekunder dari data rahasia sipil yang saya bobol semalam... istri dari pemilik saham itu memiliki nama gadis Selo Atmojo. Garis keturunan langsung dari pembawa jangkar gaib Sumpah 1845."

Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat namun mematikan. "Jadi, mereka sudah mulai menampakkan diri ke permukaan. Mereka mengira setelah sepuluh tahun mengamati lewat Baskoro, mereka bisa memanfaatkan situasi saat saya terdesak."

"Ada satu hal lagi, Pak," Kinanti menggeser tampilan layar tabletnya, memperlihatkan sebuah grafik lalu lintas data yang aneh. "Perangkat pemindai yang dibawa oleh si penyusup kemarin sempat mengirimkan satu paket data besar berukuran dua gigabita ke sebuah peladen (server) lokal di kawasan industri Cikarang sebelum alat kejut listrik saya memutus koneksinya."

Arkan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan gedung-gedung tinggi Jakarta. "Dua gigabita... itu artinya mereka berhasil menyalin hampir sepertiga dari total halaman Serat Jayaning Mahardika. Mereka sudah memegang formula awal untuk memanipulasi pemicu kutukan saya."

Arkan berbalik, menatap Kinanti dengan pandangan yang sarat akan tekad yang kokoh. "Kita tidak bisa menunggu di sini sampai mereka menyelesaikan enkripsi data tersebut, Kinanti. Kita harus mendatangi peladen lokal di Cikarang itu. Hari ini juga."

Kinanti langsung memeriksa jadwal di tabletnya. "Bapak ada rapat pleno bersama jajaran direksi anak perusahaan kelapa sawit pada pukul satu siang, dan makan malam kolega dari Kementerian BUMN pada pukul tujuh malam."

"Batalkan semuanya," titah Arkan tanpa ragu. "Delegasikan rapat direksi kepada Wakil CEO, dan katakan pada kementerian bahwa saya mendadak harus meninjau proyek infrastruktur di Jawa Barat. Siapkan mobil komando portabel milik divisi sekuriti khusus. Kita berangkat dalam waktu tiga puluh menit."

Kinanti mengangguk tegas. "Baik, Pak Arkan. Saya akan mengondisikan Tim Delta untuk mengawal kita dalam radius aman."

Pukul sebelas lewat lima belas menit siang, sebuah van komando berwarna abu-abu metalik tanpa logo perusahaan meluncur mulus melewati gerbang tol Cikarang Barat. Di dalam kabin belakang van yang luas dan dipenuhi oleh deretan layar monitor canggih, Arkan dan Kinanti duduk berdampingan bersama kepala tim sekuriti khusus Mahardika, Bara.

"Koordinat peladen itu berada di sebuah gudang penyimpanan logistik tua yang terdaftar sebagai aset pailit, Pak Arkan," ujar Bara, menunjuk ke sebuah titik merah yang berkedip di peta topografi digital. "Penjagaan di sana terlihat sepi dari luar, namun sensor termal kami mendeteksi ada aktivitas listrik yang sangat tinggi di ruang bawah tanah gudang tersebut. Setidaknya ada lima titik panas manusia yang berjaga di sekitar ruang server."

Kinanti memperhatikan jam tangan digitalnya, lalu beralih menatap pergelangan tangan kanannya sendiri. Sejak mereka memasuki wilayah Cikarang, tanda lingkaran konsentris di bawah perbannya mulai memancarkan rasa hangat yang samar—sebuah indikasi bahwa jarak mereka dengan sisa-sisa energi Serat Jayaning Mahardika yang dicuri kini semakin dekat.

"Pak Arkan, tanda pelindung saya mulai bereaksi," bisik Kinanti pada Arkan, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Bara yang sedang fokus memberikan instruksi pada tim lapangan melalui radio. "Energi dari data yang mereka salin memicu resonansi dengan tanda di tangan saya."

Arkan meraih tangan Kinanti, menggenggamnya dengan lembut di bawah meja komando. Sentuhan tangan manusia Arkan yang besar dan hangat seketika meredam kepanikan yang sempat merayap di dada Kinanti.

"Tetap di belakang saya begitu kita masuk, Kinanti," ujar Arkan dengan nada suara yang tidak menerima bantahan. "Faksi Selo tahu cara menetralisir kekuatanmu dengan racun herbal, tapi mereka belum pernah menghadapi Singa Mahardika yang sedang murka dalam wujud manusianya."

Kinanti menatap mata hijau zamrud Arkan yang kini memancarkan kilatan predator yang sangat dominan. Di dalam dunia bisnis, Arkan dikenal sebagai pemburu tanpa ampun yang bisa menghancurkan kompetitor dalam semalam. Dan siang ini, di sebuah gudang tua di Cikarang, Faksi Selo akan segera menyadari bahwa mereka telah salah memilih lawan untuk diajak bermain api.

Van komando akhirnya berhenti di balik rimbunnya pohon-pohon akasia yang kering di seberang gudang logistik sasaran. Pintu belakang van terbuka, dan tim taktis Mahardika yang berpakaian serba hitam bergerak senyap memotong kawat berduri, membuka jalan bagi sang CEO dan sang Penjaga Takdir untuk melangkah masuk ke dalam sarang sang pemburu digital.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!