NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Bisikan di Malam Hari

"Terima kasih karena tidak takut."

Aku tidak mendengar kalimat itu saat ia mengatakannya.

Yang kudengar ketika bangun adalah leherku protes, punggungku protes, dan Boba menggonggong dari luar kamar seolah menagih hak kunjungan pasien.

Reynard sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jauh lebih sadar.

Aku langsung berdiri terlalu cepat.

"Kau masih demam?"

"Turun."

"Pusing?"

"Sedikit."

"Nyeri?"

Ia diam.

Aku menyipitkan mata. "Itu artinya iya."

"Bisa ditahan."

"Jawaban buruk."

Di luar pintu, Leo yang baru datang tertawa. "Akhirnya ada yang mengerti."

Hari itu PIK villa berubah menjadi klinik kecil. Leo memeriksa darah, Pak Hadi mengatur jadwal obat, Sari memasak bubur, Boba duduk di depan pintu seperti petugas keamanan berbulu kecil.

Setiap kali pintu terbuka sedikit, Boba langsung menyelipkan hidungnya.

"Tidak boleh masuk," kataku.

Boba menggonggong.

"Pasien butuh steril."

Ia menggonggong lagi, kali ini lebih tersinggung.

Reynard, yang sedang diperiksa Leo, menoleh pelan. "Biarkan dia masuk."

Aku membeku. "Kau yakin?"

"Dia sudah menunggu."

Leo mengangkat alis. "Kemajuan besar. Dulu kau melihat anjing kecil saja seperti melihat utang pajak."

Reynard mengabaikannya.

Boba masuk dengan langkah kecil, mendekati sisi ranjang, lalu duduk tanpa melompat. Seolah ia tahu pasien tidak boleh diganggu.

Aku mengusap kepalanya. "Anak pintar."

Reynard menatap Boba beberapa detik, lalu berkata pelan, "Jaga dia kalau aku tidur."

Boba menggonggong sekali.

Dadaku menghangat dengan cara yang sangat tidak siap kuterima.

Aku ingin kembali ke kamar sendiri setelah semua selesai.

Reynard menatapku. "Tidur di sini."

Aku membeku.

Leo batuk keras.

Pak Hadi tiba-tiba sangat sibuk melihat map.

Sari hampir menjatuhkan sendok.

"Maksudmu..." Aku menunjuk ranjang. "Di sini?"

"Kau tidur di kursi semalaman. Lehermu kaku."

"Bisa pakai kamar sendiri."

"Kalau serangan datang lagi, kau akan lari ke sini lagi."

Itu benar.

Menyebalkan sekali ketika pria sakit tetap logis.

"Hanya tidur," katanya.

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Entah kenapa malah membuat otakku meledak.

Hanya tidur. Dengan suami sah. Di ranjang besar. Pria yang mungkin gay, mungkin tidak, pernah menciumku, dan semalam memanggil ibunya dengan suara hancur.

[Kapasitas proses Host menurun.]

Si Kepo, aku tahu.

Malam itu, aku tidur di sisi kanan ranjang Reynard dengan jarak aman sebesar negara kepulauan. Di antara kami ada bantal panjang, selimut terpisah, dan Boba yang akhirnya diberi izin tidur di karpet dekat pintu.

Reynard mematikan lampu.

Gelap turun pelan.

Awalnya aku sangat sadar pada setiap napasnya.

Lalu kelelahan menarikku jatuh.

Dalam mimpi, aku kembali menjadi Naomi.

Apartemen kecil di Jakarta Barat. Kipas angin bunyi tek-tek. Piring kotor di wastafel. Laptop murah di meja. Aku melihat diriku pulang kerja, melepas sepatu, memesan nasi goreng lewat aplikasi karena terlalu lelah memasak.

Ada tanaman kecil di dekat jendela. Sudah setengah mati karena aku selalu lupa menyiramnya, tapi tetap kuberi nama.

Ada kalender murah dengan lingkaran merah di tanggal gajian.

Ada chat grup teman kantor yang ramai membahas lembur, sementara aku hanya membaca tanpa membalas.

Hidup Naomi tidak tragis setiap hari.

Justru itu yang membuatnya sakit.

Hidup itu biasa saja, kecil, penuh rencana yang ditunda karena merasa masih ada waktu.

"Besok saja," gumamku dalam mimpi.

Besok olahraga.

Besok telepon teman.

Besok berani mengaku pada orang yang diam-diam kusukai walau ia jelas tidak mungkin memilihku.

Besok hidup lebih rapi.

Lalu lantai bergerak.

Teriakan.

Lampu padam.

Debu.

Aku berlari ke pintu, tapi dinding retak lebih cepat.

Di ranjang PIK, aku menggigil.

Reynard membuka mata.

Suara pikiranku tidak lagi berupa kalimat rapi. Ia seperti potongan kaca.

Naomi.

Gempa.

Sendirian.

Tidak sempat pamit.

Takut gelap.

Tidak mau mati.

Reynard tidak bergerak beberapa detik. Lalu ia melewati bantal panjang dan menggenggam tanganku.

"Keira."

Aku tidak bangun.

"Aku belum selesai," gumamku dalam tidur. "Aku belum hidup benar."

Kalimat itu membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini ia tahu Keira memiliki rahasia. Ia mendengar kepingan tentang misi, sistem, dan tiga tahun. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat gadis lain di balik nama Keira.

Naomi.

Perempuan yang mati sendirian di hidup sebelumnya, lalu bangun di altar orang asing.

Tidak heran ia tertawa terlalu keras pada hal kecil.

Tidak heran ia menyelamatkan anjing basah, anak terabaikan, bahkan pria yang memaksa dunia melihatnya sebagai monster.

Ia tahu bagaimana rasanya hampir tidak sempat diselamatkan.

Reynard menggenggam tanganku lebih kuat.

"Sekarang kau tidak sendiri," bisiknya.

Di sudut pandanganku yang tertidur, Si Kepo berkedip.

[Tingkat kedekatan: 40/100.]

[Fase relasi baru terbuka.]

Aku bergerak mendekat tanpa sadar, menempelkan dahi ke lengan Reynard.

Ia membeku, lalu perlahan menarik selimut sampai menutupi bahuku.

Beberapa menit kemudian, panel lain muncul.

[Peringatan mekanisme jiwa.]

[Progres fusi jiwa: 35 persen.]

[Catatan: sebelum fusi stabil, guncangan mental ekstrem dapat menyebabkan identitas Host terlepas.]

[Saran: hindari trauma berulang, kematian orang dekat, dan paparan memori pemicu.]

Saran macam apa itu?

Di dunia ini, semua orang dekatku punya antrean masalah seperti loket bank rusak.

Reynard membaca pantulan cahaya di wajahku, tapi tentu ia tidak bisa melihat panel itu.

Ia hanya mendengar sisa pikiranku.

Jangan hilang.

Kali ini, ia tidak tahu apakah kalimat itu milikku atau miliknya sendiri.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!