Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024: Alya Kirana
Pintu lain terbuka, membawa nama yang belum ia kenal.
Alya Kirana.
Nama itu bukan nama asing bagi Indonesia.
Di layar billboard Jakarta, wajahnya pernah muncul memegang parfum, ponsel, minuman kesehatan, sampai poster film laga yang membuat tiket bioskop penuh selama dua minggu. Di media sosial, setiap perubahan gaya rambutnya bisa menjadi berita. Di lokasi syuting, satu luka kecil di wajahnya bisa berubah menjadi kerugian miliaran rupiah.
Itulah sebabnya suara perempuan dari Citra Gemilang Media terdengar seperti orang yang sedang menahan panik.
“Dokter, Mbak Yuni bilang Anda pernah menangani kasus wajah Rania Ayu. Kami butuh konsultasi malam ini. Bisa?”
Ardi melihat jalan Jakarta yang masih ramai. “Kondisi pasien?”
“Cedera wajah. Tidak terbuka lebar seperti kasus Rania, tapi posisinya buruk. Dekat kelopak mata dan garis pipi. Mbak Alya baru kembali dari Bali setelah kecelakaan kecil di lokasi syuting. Dokter klinik setempat sudah menutup luka sementara, tapi kami khawatir bekasnya.”
“Ada gangguan penglihatan?”
“Dia bilang tidak. Tapi kami belum yakin.”
“Kirim lokasi.”
“Kantor Citra Gemilang Media. Kami siapkan ruangan steril sederhana.”
“Saya datang untuk konsultasi. Keputusan tindakan baru setelah pemeriksaan.”
Di ujung sana, perempuan itu terdiam setengah detik, mungkin tidak terbiasa mendengar dokter yang tidak langsung menjanjikan hasil.
“Baik, Dokter.”
Gedung Citra Gemilang Media berdiri di kawasan perkantoran yang lebih tenang daripada lounge tadi. Lobi masih menyala meski sudah malam. Dua petugas keamanan memeriksa nama Ardi, lalu membawanya ke lift khusus.
Yuni Rahayu menunggu di lantai atas.
Berbeda dari saat menemani Rania di IGD, malam ini wajah Yuni lebih terkendali, tetapi matanya tetap cepat menghitung risiko.
“Dokter Ardi,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Maaf mengganggu malam Anda.”
“Kalau menyangkut cedera wajah dekat mata, tidak ada kata mengganggu.”
Yuni mengangguk, terlihat sedikit lega. “Saya sudah bilang ke tim, tidak ada yang boleh mengambil foto. Tidak ada staf tambahan. Hanya saya, satu asisten medis, dan Alya.”
“Bagus. Privasi pasien tetap nomor satu.”
Yuni berjalan cepat di koridor. “Saya harus jujur. Kontrak Alya bulan ini padat. Ada iklan kosmetik, film, dan satu kampanye besar. Kalau bekas luka terlihat, pihak brand bisa menahan pembayaran.”
“Saya tidak menangani wajah karena kontrak,” kata Ardi.
Langkah Yuni melambat.
Ardi melanjutkan, “Saya menangani jaringan, fungsi, dan risiko. Kalau semuanya benar, hasil estetika mengikuti. Kalau sejak awal targetnya hanya kamera, dokter bisa mengambil keputusan salah.”
Yuni menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Mbak Rania benar. Anda memang beda.”
Ruang konsultasi kecil itu sudah disiapkan dengan lampu putih, meja stainless, set alat steril, dan satu kursi pemeriksaan. Di dekat jendela, seorang perempuan duduk dengan punggung tegak.
Alya Kirana tidak terlihat seperti orang yang sedang panik.
Ia mengenakan kemeja putih longgar dan celana hitam. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya tanpa riasan tebal, membuat luka di sisi pipi kanan terlihat jelas: garis tipis yang melengkung dari bawah kelopak mata ke arah tulang pipi, ditutup plester transparan. Bengkaknya belum besar, tetapi posisi lukanya membuat siapa pun yang bekerja di dunia kamera akan sulit tidur.
Ia berdiri ketika Ardi masuk.
“Dokter Ardi?”
“Alya Kirana?”
“Ya.”
Tidak ada tangan yang langsung ia ulurkan. Bukan tidak sopan. Ia sedang mengukur jarak.
Ardi menghargai itu.
“Saya akan periksa luka dan fungsi sekitar mata. Sebelum itu, saya perlu tanya beberapa hal. Anda nyaman kalau Mbak Yuni tetap di sini?”
Alya menatap Yuni sebentar. “Ya. Dia boleh dengar.”
“Baik.”
Pertanyaan Ardi pendek dan jelas. Kapan cedera terjadi. Benda apa yang mengenai wajah. Apakah ada pingsan. Apakah penglihatan kabur. Apakah ada mual, nyeri saat menggerakkan mata, riwayat keloid, alergi obat, dan apakah tindakan sebelumnya memakai anestesi lokal atau hanya penutupan sementara.
Alya menjawab tanpa drama.
“Properti kaca pecah saat adegan. Tim bilang aman, ternyata satu serpihan memantul. Saya tidak pingsan. Penglihatan tidak kabur. Tapi kalau tersenyum, bagian sini terasa tertarik.”
Ia menunjuk daerah bawah mata.
Ardi memakai sarung tangan.
“Saya akan buka plester. Mungkin sedikit tidak nyaman.”
“Saya bisa tahan.”
Kalimat itu diucapkan datar, tetapi Ardi menangkap sesuatu di baliknya. Bukan kesombongan. Kebiasaan. Orang yang terlalu sering harus kuat di depan kamera biasanya lupa cara meminta jeda.
Plester dibuka perlahan.
Lukanya lebih rumit dari kelihatannya.
Tidak dalam sampai merusak bola mata, tetapi garisnya memotong tension line wajah dan mendekati orbicularis oculi. Ada jahitan sementara yang terlalu kasar. Jika dibiarkan, bekasnya bisa menarik kulit bawah mata dan membuat senyum Alya sedikit asimetris.
Untuk orang biasa, bekas kecil.
Untuk Alya, ancaman karier.
“Bagaimana?” tanya Yuni.
Ardi tidak langsung menjawab.
Ia meminta Alya melihat ke atas, ke bawah, kiri, kanan. Lalu meminta ia tersenyum tipis, menutup mata kuat, dan mengangkat alis.
“Fungsi mata baik. Tidak ada tanda cedera otot bola mata. Tapi jahitan sementara ini harus dibuka dan diperbaiki. Bukan darurat nyawa, tapi darurat kualitas penyembuhan.”
Alya menatapnya melalui cermin kecil di meja. “Akan ada bekas?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi ruangan menjadi lebih hening.
Banyak orang mungkin akan menjawab, “Tidak, tenang saja,” hanya untuk membuat bintang besar merasa nyaman.
Ardi tidak.
“Akan ada bekas biologis. Semua luka meninggalkan jejak. Pertanyaannya, apakah jejak itu terlihat kamera dan apakah mengganggu gerak wajah. Dengan perbaikan yang benar malam ini, peluangnya sangat baik untuk menjadi sangat tipis.”
Alya memandangnya lebih lama.
“Anda tidak menjual kepastian.”
“Kepastian palsu membuat pasien memilih tanpa informasi.”
Yuni menyilangkan tangan. “Kalau dikerjakan malam ini?”
“Saya butuh ruang tindakan yang lebih layak daripada ini, atau minimal set steril lengkap dan pencahayaan yang stabil. Saya juga butuh waktu. Tidak boleh diburu karena jadwal syuting.”
Alya menjawab sebelum Yuni. “Jadwal bisa diubah.”
Yuni menoleh. “Alya, brand—”
“Wajah saya bukan properti brand,” kata Alya pelan.
Kalimat itu pendek, tetapi menutup semua bantahan.
Ardi melihatnya dengan penilaian baru. Di balik nama besar dan kontrol wajah, Alya bukan boneka produksi. Ia punya batas.
“Saya sarankan tindakan revisi mikro malam ini,” kata Ardi. “Bukan operasi besar. Kita buka jahitan sementara, bersihkan tepi luka, atur ulang lapisan dalam dengan tegangan minimal, lalu tutup kulit mengikuti garis alami wajah. Setelah itu kontrol ketat. Tidak syuting close-up dulu.”
Alya mengangguk. “Berapa lama saya harus berhenti?”
“Untuk close-up kosmetik, minimal dua minggu. Untuk adegan biasa, tergantung bengkak dan cahaya. Jangan percaya filter kamera untuk menggantikan penyembuhan.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Alya bergerak sedikit.
“Dokter lain biasanya bilang, dengan makeup semua aman.”
“Makeup bukan jahitan.”
Yuni tertawa kecil tanpa sadar.
Ketegangan di ruangan turun setengah tingkat.
Alya mengambil ponselnya dari meja, membuka WhatsApp, lalu menatap Ardi.
“Nomor Anda?”
Yuni langsung mengangkat alis. “Alya, semua komunikasi medis bisa lewat saya.”
“Tidak untuk keputusan klinis,” kata Alya. “Saya ingin dengar langsung dari dokter yang memegang wajah saya.”
Ia menyerahkan ponsel kepada Ardi.
Ardi memasukkan nomornya tanpa komentar.
Alya menyimpan kontak itu, lalu berkata, “Kalau ada perkembangan medis, hubungi saya langsung. Jangan lewat Yuni.”
Yuni menghela napas, tetapi tidak marah. Ia tahu nada itu. Nada Alya ketika keputusan sudah final.
Ardi melepas sarung tangan.
“Baik. Tapi semua tindakan tetap dengan informed consent tertulis.”
“Saya akan baca sebelum tanda tangan.”
“Bagus.”
Mata mereka bertemu sesaat.
Tidak ada kalimat manis. Tidak ada janji berlebihan. Hanya satu kesepakatan tenang antara dokter yang tidak menjual mukjizat dan pasien yang tidak mau diperlakukan seperti produk.
Di luar jendela, Jakarta terus menyala.
Malam itu, Ardi belum tahu bahwa perempuan di depannya kelak akan berdiri di sisi paling sulit hidupnya.
Untuk saat ini, ia hanya tahu satu hal.
Luka kecil di wajah Alya Kirana harus ditangani dengan sempurna.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭