"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak berharga
"Mas... ."
Suaranya tercekat, saat ingatan itu kembali berputar pada pertemuan pertama mereka beberapa waktu lalu setelah empat tahun berpisah.
Saat itu, Leon menatapnya penuh kebencian. Laki-laki itu bahkan terlihat sangat murka saat ia dengan lancangnya memanggil nama itu dengan begitu akrab.
Tidak. Alina sadar. Ia harus tahu batasan.
Ia tidak bisa menyinggung laki-laki itu sedikitpun atau Leon akan murka dan menolak membantu putrinya.
"Tuan... " Panggil Aina pada akhirnya.
Hela nafas terdengar berat sebelum akhirnya ia kembali berseru. "Saya datang kesini ingin meminta tolong pada anda. Maaf... jika kedatangan saya saat ini mengganggu waktu anda."
Hening.
Ruang kerja itu mendadak sunyi, menyisakan deru hujan yang masih luruh tanpa henti.
"Saya tidak berniat untuk merepotkan anda. Tapi... saya tidak memiliki pilihan lain, selain menemui anda lagi."
Alina meremaas jemarinya saat laki-laki itu kembali membisu, menyisakan hawa dingin yang begitu mencekik.
"Putri saya sedang sakit, dan mungkin tidak akan bisa bertahan... sampai akhir bulan ini. Mungkin, permintaan saya terkesan melampaui batas. Tapi... saya benar-benar tidak bisa memikirkan cara lain selain datang kepada anda." Alina meremaas jemarinya yang gemetar hebat. "Bisakah anda membantu saya?"
Isak itu perlahan luruh saat ingatan itu kembali berputar pada sosok sang putri yang kini terbaring di ranjang rumah sakit, menunggu pertolongan darinya.
Ia tatap punggung itu dengan dengan harapan besar.
"Saya akan menuruti semua permintaan anda selama anda mau membantu saya, Tuan."
Namun laki-laki itu tetap membisu. Membuat Alina semakin di rundung pilu. Ia jatuhkan tubuhnya, bersimpuh di atas lantai yang dingin bersama dengan genangan air yang luruh dari tubuhnya yang basah kuyup.
"Saya tidak meminta banyak, Tuan. Tolong penuhi permintaan saya untuk yang terakhir kalinya. Jika memang anda muak dan tidak ingin melihat wajah saya. Saya akan bersembunyi sampai anda tidak melihat saya lagi. Jika kesalahan saya yang dulu membuat anda sakit hati terlalu dalam, maka saya pun siap untuk menebus segalanya. Anda bebas menghukum saya dengan cara apapun. Saya mengaku salah. Asalkan anda mau membantu putri saya, Tuan."
Air mata itu jatuh semakin dalam.
Alina tidak memiliki harapan lain selain pada sosok itu. Namun laki-laki itu bahkan hanya diam membisu, seolah permohonannya itu tak berarti apapun.
"Tolong, ku mohon. Jangan hanya diam saja. Marsha... Dia masih menunggu. Dia tidak punya banyak waktu lagi."
Laki-laki itu menghela nafas dalam sebelum akhirnya berbalik.
Pandangannya kini jatuh pada sosok Alina yang tengah bersimpuh. Tubuhnya basah kuyup. Kepala dan pergelangan tangannya bahkan terlihat di balut kasa putih dengan darah yang terlihat merembes ke permukaan. Tubuhnya bahkan kini terlihat lebih kurus dari pertemuan terakhir.
"Kemarin, kamu ke rumah ibuku?" Lama membisu, laki-laki itu akhirnya berseru. Dingin. Tak ada kehangatan sedikitpun dari wajah yang kini menatap perempuan itu penuh selidik.
Alina meremaas jemarinya yang kini gemetar hebat. "Benar. Maaf jika kemarin saya mengganggu nyonya Airish. Saya tidak punya pilihan lain."
Lagi. Ia tidak punya pilihan lain.
Pilihannya saat ini hanya memohon belas kasihan pada laki-laki itu agar mau membantu sang putri.
"Apa yang kamu inginkan?"
Alina mendongak, menatap laki-laki itu penuh harap. "Anda serius ingin membantu?"
"Katakan terlebih dulu, baru aku akan mempertimbangkannya."
Mendengar itu, hatinya membuncah penuh haru saat harapan itu perlahan menemui titik terangnya.
"Saya hanya meminta tolong pada anda, untuk melakukan tes HLA dengan Marsha. Jika, memang hasilnya positif..." Alina menatap sosok itu dengan ragu. "Maukah anda mendonorkan sumsum tulang anda pada putri saya?"
Lagi, Alina meremas jemarinya yang gemetar hebat saat menanti jawaban dari sosok yang menjadi harapan terakhir nya.
"Apa alasan yang membuatku harus membantumu?"
"Karena... Karena Marsha adalah putri anda." Sorot mata itu menatap laki-laki itu penuh luka. Ada luka yang menganga saat dulu Leon dengan jelas menyebut jika Marsha adalah anak hasil selingkuhan.
"Jika anda tidak mempercayai hal itu, anda bisa lakukan tes DNA lebih dulu. Jikalau pun... saya terbukti berbohong pada anda, saya siap memberikan nyawa saya pada anda."
Ada getir yag terasa begitu menyayat. Mencabiknya sampai ia pun tak dapat lagi menahan rasa sakitnya.
"Tapi bahkan nyawamu sama sekali tidak berharga untukku."
Alina memejam, menahan desakan isak yang semakin luruh tak tertahankan.
Sakit. Rasanya sangat menyakitkan saat sosok itu bahkan tak lagi menganggap berharga hidupnya, harga dirinya, bahkan nyawanya sekalipun.
"Lalu, apa yang anda inginkan?" Tantang Alina. "Saya hanya seorang ibu yang menghidupi putri saya dengan bekerja memetik teh di perkebunan setelah saya meninggalkan suami saya agar seseorang menyelamatkan hidupnya. Setiap hari kami hanya memakan lauk seadanya. Saya bahkan tidak memiliki banyak uang untuk sekedar membelikan mainan untuk putri saya. Saya hanya wanita miskin yang sekarang sedang meminta belas kasihan pada anda."
"Saya tidak memiliki apapun, kecuali putri dan nyawa saya sendiri."
"Jadi, jika memang nyawa saya tidak berharga sedikitpun bagi anda. Maka anda berhak mengambil Marsha dari saya. Jika memang nanti Marsha sembuh karena bantuan anda. Saya rela memberikan Marsha pada anda."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong Chingu
Lanjut tidak nih, hehehe
Happy reading semua
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar