NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Topeng Persahabatan & Janji

Naru tidak ingin membiarkan hukuman apa pun yang akan menjerat Dilan berjalan tanpa sepengetahuannya. Ia memutuskan tetap kembali, bersiap untuk ikut campur dan menambah penderitaan Dilan jika merasa hukuman yang dijatuhkan nanti masih belum cukup memuaskan.

​Kedatangannya pagi itu langsung memancing kemarahan Dilan. Di saat mereka bertiga ditahan semalaman di Perusahaan Media Hartono, Naru justru terlihat enak-enakan pergi begitu saja.

Namun, Naru dengan tenang meredam emosi itu. Ia berpura-pura menunjukkan iktikad baik, beralih seolah ia kembali hanya demi ikut bertanggung jawab atas perbuatan mereka, semata-mata agar Dilan merasa senang dan kembali memercayainya.

Dokter Langit Diantoro memohon agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan, berjanji akan menanggung seluruh ganti rugi kerusakan laboratorium hingga rupiah terakhir. Sekaligus memasang badan untuk menjamin putranya tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

​Sebagai dokter spesialis kedokteran jiwa ternama yang super sibuk, ia cukup menyesal dan kecewa. Membesarkan Dilan seorang diri sejak istrinya meninggal saat melahirkan, Langit sadar ia kerap melewatkan tumbuh kembang anak tunggalnya itu. Pikirnya, melimpahi Dilan dengan fasilitas mewah dan memenuhi segala kebutuhannya adalah cara terbaik untuk mengganti kehadirannya.

​Ia sama sekali tidak tahu bahwa Dilan tumbuh menjadi sosok yang semena-mena, menggunakan uangnya untuk merendahkan orang lain. Syok berat menghantam Langit saat mendengar kabar bahwa putranya justru melakukan tindakan kriminal dengan merusak fasilitas laboratorium.

​Lucunya, di tengah perdebatan sengit tentang ancaman dingin penjara LPKA dari Muha, hal yang paling ditakuti oleh anak manja seperti Dilan justru bukanlah dinginnya ruang tahanan. Ketakutan terbesarnya adalah ancaman jika seluruh fasilitas mewah dari sang Daddy dicabut begitu saja.

​Dan ketakutan gila itu ...

kini benar-benar menjadi kenyataan.

​"Untuk sementara, Daddy akan cabut semua fasilitasmu, Dilan," tegas Dokter Langit dengan suara bergetar menahan kecewa. "Mobil, motor sport, semua kartu kredit, tabungan, hingga smartphone mahalmu. Mulai hari ini, kamu tidak punya apa-apa."

​"Tidak! Jangan, Daddy!" Dilan panik seketika, matanya membelalak ketakutan. "Aku harus hidup seperti apa kalau Daddy mengambil semuanya?! Aku menyesal ... Aku janji siap bertanggung jawab!"

​Melihat reaksi panik Dilan yang seolah dunianya runtuh hanya karena kehilangan barang-barang mewah, Muha melangkah maju. Ia menatap Dilan dingin, lalu berpaling sejenak ke arah Dokter Langit sebelum kembali menghujat kepicikan anak sekolah di hadapannya itu.

​"Uang dan fasilitas itu bukan segalanya, Dilan," suaranya terdengar berat namun penuh penekanan. "Uang yang kamu hambur-hamburkan untuk merendahkan orang lain dan merusak properti akademi ini ... didapat ayahmu dengan kerja keras. Tapi kamu? Kamu justru menggunakannya sebagai tameng untuk bertindak semena-mena."

​Muha menggeleng pelan, memberi tatapan prihatin yang amat menohok ego Dilan. "Kehilangan mobil dan kartu kredit tidak akan membunuhmu. Yang membuatmu hancur sebenarnya adalah mentalmu yang lembek karena selalu dibermanja."

​Melihat keputusasaan Dilan, raut wajah Naru tampak sangat tenang, meski di balik tatapan itu tersimpan niat terselubung. Ia merasa hukuman pencabutan fasilitas ini masih terlalu ringan untuk Dilan.

​"Dokter," panggilnya lembut, memecah ketegangan. "Mungkin ... agar Dilan bisa lebih memahami arti kehidupan, kerja keras, dan kemanusiaan, izinkan dia tinggal di kos saja. Saya akan menemaninya."

​Seketika,

gelombang kejutan menyergap ruangan.

​Dokter Langit mengangguk-angguk, matanya berbinar haru. "Itu ... ide yang luar biasa bagus!" puji Dokter Langit tulus.

​"Apa?! Daddy! Daddy nggak bisa memutuskan gitu aja! Aku nggak mau tinggal di kos-kosan!" Dilan berteriak panik, lalu berbalik menatap Naru dengan emosi meluap-luap. "Ru, lo jangan nambah-nambahin beban gue, dong! Bangsat lo, ya!"

​Naru hanya tersenyum tipis, menepuk bahu Dilan dengan gestur yang berpura-pura hangat. "Kan kita sahabat. Suka dan duka harus kita jalani sama-sama."

​Melihat momen itu, Dokter Langit mengusap dadanya lega, benar-benar tersentuh. "Lihat itu, Dilan! Di saat kamu jatuh dan kehilangan segalanya, justru sahabatmu ini yang mau merangkul dan membantumu belajar. Persahabatan kalian sungguh luar biasa. Mulai hari ini, Daddy serahkan Dilan di bawah pengawasanmu, Naru."

​Dua hari kemudian,

Nuha terpaksa diseret bangun dari tempat tidur oleh Muha. Jika dibiarkan, gadis itu memang suka 'menikmati mati suri' berturut-turut di kamarnya daripada harus berhadapan dengan dunia luar bernama sekolah.

​Obrolan ringan mengalir hangat di meja makan saat mereka sarapan bersama. Demi memancing kembali semangat adiknya yang kerap redup, Muha menawarkan diri untuk mengantarnya.

​Mata bening Nuha langsung berbinar cerah. Bagi gadis sepertinya, diantar ke sekolah -dan terutama dijemput saat pulang- adalah sebuah kemewahan kecil yang sangat menyenangkan.

​"Gimana? Perasaanmu jadi lebih enakan, kan, kalau Kakak yang antar?" goda Muha seraya mengoles selai ke rotinya.

​"Iya! Tapi janji ya, nanti sore dijemput?"

​"Tentu. Kakak pasti jemput."

​Melihat binar bahagia di wajah adiknya, ada rasa hangat yang menyelimuti dada Muha. Memiliki adik seorang introvert yang tak pernah banyak menuntut memang memberikan kedamaian tersendiri. Namun kini, Muha sadar betul bahwa di balik diam dan tenangnya Nuha, ada banyak badai yang dipendam sendiri oleh gadis itu. Ia juga teringat betapa sering ia memarahi Nuha hanya karena kelakuan adiknya yang kadang dianggap aneh, impulsif, atau tak sesuai norma.

​"Kalau diantar jemput terus begini, aku pasti makin semangat sekolah, Kak. Soalnya kadang capek banget kalau harus genjot sepeda," keluh Nuha polos.

​"Mau Kakak beliin motor saja? Teman-temanmu di sekolah kan sudah banyak yang naik motor."

​Nuha menggeleng pelan, tampak berpikir sejenak. "Hmm ... enggak, ah. Aku takut naik motor. Lebih enak naik sepeda, sih ... meskipun capek. Tapi kan nanti sampai rumah bisa langsung tidur seharian."

​"Alasan. Dasar tukang tidur."

​"Habisnya capek ..." sahut Nuha dengan gerakan mengunyah yang lambat dan malas, menyadari betapa fisiknya memang secepat itu kehabisan energi.

​Muha menatap adiknya dalam-dalam, lalu menopang dagu. "Kalau mau Kakak antar jemput terus tiap hari, kamu bisa janji satu hal sama Kakak?"

​"Janji apa?" Nuha mendongak.

​"Janji jangan pacar-pacaran dulu. Janji fokus belajar supaya bisa lulus dengan predikat terbaik."

​Nuha mengerutkan dahi heran. "Kalau cuma belajar sih gampang, Kak. Itu kan memang tugasku. Tapi ... kenapa Kakak tiba-tiba bahas pacaran? Aneh banget dengarnya."

​"Aneh gimana?" Suara Muha sedikit memberat. Kenangan tentang masalah kemarin mendadak bangkit kembali. "Semenjak kamu terlibat sama bocah bernama Dilan itu, rasanya segalanya bikin Kakak mau naik darah terus. Untung saja bocah itu sekarang dihukum dan diskors dari sekolah. Makanya, Kakak tidak mau kamu berhubungan dengan cowok mana pun lagi."

​Tentu saja, kalimat itu adalah bentuk antisipasi sekaligus sinyal bahaya yang dipasang Muha untuk membendung sosok Naru.

"Oh, oke."

Nuha hanya mengangguk tanpa beban.

​Muha melotot kecil, tak percaya adiknya merespons ultimatum seserius itu dengan sesingkat itu. "Oke? Cuma 'oke'?"

Muha terus memperhatikan Nuha yang masih santai mengunyah makanannya. Wajah adiknya itu benar-benar polos tanpa dosa, seolah tak menyimpan rahasia apa pun.

​Padahal, Ibu sudah menceritakan semua kepadanya. Ibu menceritakan bagaimana Nuha pulang diantar oleh seorang pemuda tampan yang bahkan membopongnya sampai ke kamar, lalu menidurkannya di ranjang dengan sangat hati-hati.

​Bukan cuma itu, pemuda misterius itu juga membawa oleh-oleh dalam jumlah yang tidak masuk akal. Berbagai macam camilan kini menumpuk memenuhi meja, sementara beberapa cenderamata dari Jogja sudah dipajang rapi oleh Ibu sebagai hiasan rumah.

Muha bahkan belum tahu kalau di dalam kamar Nuha, masih ada beberapa aksesori dan buku yang dibelikan khusus untuk adiknya itu.

​Urat kekesalan mendadak timbul di dahinya. Ia tiba-tiba mengunyah rotinya dengan hentakan keras, menyalurkan rasa sebal yang membakar dada. Jika topik ini dibahas sekarang, perdebatan mereka pasti bakal makan waktu panjang dan membuat Nuha mogok sekolah.

​Lagi pula, Muha sadar betul tabiat adiknya. Sebagai seorang introvert kelas berat, Nuha tidak akan pernah menceritakan apa pun secara sukarela. Kalau ditanya, jawabannya paling hanya seadanya. Kalau lagi tidak niat, pertanyaan itu cuma dianggap angin lalu. Dan kalau kepepet ... gadis itu pasti memilih berbohong.

​"Kenapa, Kak? Kok ngunyahnya kayak mau ngajak perang gitu?" tanya Nuha, menyadari perubahan ekspresi kakaknya.

​Muha menghela napas berat, berusaha setengah mati menahan diri agar tidak meledak saat itu juga. "Ini tumben, rotinya alot!" dengusnya beralasan.

"Ya sudah, ayo berangkat!"

​Nuha pun mulai bersiap. ​

Sebuah senyuman manis menyungging di bibirnya, disembunyikan rapat-rapat. Senyum itu bukan karena ia memikirkan ucapan kakaknya soal pacaran, melainkan karena hatinya yang tengah berbunga-bunga.

Mengingat bagaimana kemarin ia diantar pulang oleh Naru, digendong penuh kehati-hatian sampai ke kamar, ditambah oleh-oleh seabrek yang dibelikan khusus untuknya. ​"Pokoknya, ini rahasia ya, Hawa!" bisik Nuha pelan pada dirinya sendiri.

​"Siap, Kapten!"

​"Aah ... hatiku gembira~ riang tak terkira~ rasanya sampai ingin bermimpi lagi," gumam Nuha seraya memeluk tas sekolahnya.

​"Tapi, ingat. Jangan pacaran."

​"Iya, iya Hawa. I Know. Diajak pacaran Dilan aja aku ogah! Mana ada aku pacaran? Aku cuma senang saja," balas Nuha dengan pipi yang mulai merona. "Nanti kalau ketemu dia di sekolah, aku harus pasang wajah seperti apa, ya?"

​"Jutek saja, itu paling aman!"

​Nuha menggeleng cepat. "Nggak mau, ah. Aku ingin kelihatan ... cantik."

​"Hoek! Lebay kamu!"

​Nuha terkekeh pelan. "Hehe ..."

​"NUHA! AYO, NANTI KESIANGAN!"

​"Iya, Kak, sebentar!" seru Nuha membalas. Ia menepuk pipinya pelan lalu berbisik lagi, "Hihi, pokoknya rahasia."

.

.

. NEXT》Bab 25. Sampai jumpa besok 🤗

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!