Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pecahnya Sangkar Kebohongan
Ledakan gelombang hawa dingin sepekat malam yang meledak dari hentakan kaki Gu Jue tidak hanya merobek formasi energi suci di pelataran halaman. Guncangan spiritual yang dahsyat itu merambat cepat, menembus sekat-sekat udara hingga membuat seluruh wilayah distrik utara Kota Gusu bergetar hebat.
Empat prajurit langit tingkat tinggi yang tadi melompat maju dengan tombak surgawi terhunus, mendadak membeku di udara. Tombak emas mereka retak, lalu dalam sekejap mata berubah menjadi kristal es hitam yang pecah berkeping-keping. Tubuh berselimut zirah emas mereka terlempar ke belakang oleh tekanan angin kegelapan yang tak kasat mata, menghantam dinding-dinding batu halaman hingga tersungkur memuntahkan darah suci yang keperakan.
Panglima Gao terbelalak sempurna. Sepasang matanya yang semula dipenuhi penghinaan mutlak pada ras manusia fana, kini bergetar hebat dilingkupi rasa syok yang teramat masif. Tekanan atmosfer di sekelilingnya mendadak terasa begitu berat dan pekat, seolah-olah seluruh langit sembilan tingkat baru saja dijatuhkan di atas pundaknya.
"K-Kekuatan ini... Ini bukan energi kultivasi fana!" teriak Panglima Gao dengan suara yang gemetar kaku, langkah kakinya refleks mundur dua tindakan ke belakang. "Siapa kau sebenarnya?! Iblis macam apa yang menyamar di gubuk rami ini?!"
Gu Jue tidak segera menjawab.
Pria itu melangkah lambat melewati sisa-sisa puing gerbang kayu yang hancur. Setiap kali langkah kakinya menapak, jubah rami abu-abu kasar yang selama berbulan-bulan ini membungkus tubuh tegapnya mulai robek dan terbakar oleh kobaran api hitam pekat yang meledak keluar dari balik kulitnya.
Kain rami itu meleleh menjadi kabut kegelapan yang pekat, digantikan oleh jalinan lempengan zirah logam hitam legam sepekat malam yang memancarkan pendaran cahaya ungu misterius di setiap sudut ukirannya.
Di balik bahunya, sehelai jubah kain sutra hitam bersulam naga kegelapan membentang bebas, berkibar liar diterpa angin badai guntur. Rambut hitam panjangnya yang semula terikat acuh tak acuh khas tabib desa, kini terurai lepas, menari-nari di udara memancarkan energi gaib yang teramat mengerikan.
Sepasang mata sehitam tintanya telah berubah seutuhnya menjadi warna ungu menyala yang mengerikan—sebuah tatapan mata absolut milik Mo Jue, sang Raja Iblis penguasa tertinggi Alam Kegelapan yang sesungguhnya.
Wujud Ah Jue sang tabib fana yang miskin dan dingin telah runtuh tak bersisa. Yang berdiri di tengah pelataran halaman yang hancur berkeping-keping itu kini adalah penguasa kegelapan yang namanya paling ditakuti oleh seisi Alam Langit dan Alam Bumi.
"M-Mo Jue...?!" Panglima Gao berteriak histeris, seluruh wajahnya mendadak berubah menjadi putih pucat pasi seketika. "Sang... Penguasa Alam Kegelapan?! Bagaimana mungkin kau berada di dunia fana ini?!"
Di ambang pintu kamar utama, Shen Liya terpaku kaku bak patung batu.
Seluruh dunianya serasa runtuh dan jungkir balik dalam waktu satu kedipan mata. Air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya mendadak membeku. Sepasang mata indahnya menatap lekat-lekat pada punggung tegap berzirah hitam yang berdiri beberapa meter di depannya.
Pria yang selama ini menyeduh obat herbal pahit untuknya, pria yang setiap malam memeluk jiwanya dalam keheningan, dan pria yang menjadi ayah dari anak kandungnya... ternyata adalah musuh abadi dari seluruh ras dewa langit. Sosok makhluk tertinggi yang sejak kecil di aula suci selalu diceritakan sebagai lambang petaka dan kehancuran bagi tatanan jagat raya.
Ah Jue... kau... kau adalah Raja Iblis? batin Shen Liya menjerit dalam kesunyian jiwanya yang terguncang hebat.
Rasa dikhianati, rasa bersalah, malu, dan sekerat rasa aman yang teramat pekat mendadak bercampur aduk menjadi badai emosional yang menguras seluruh kekuatan di dalam dadanya. Kebohongan yang ia bangun selama delapan tahun untuk melindungi seorang "manusia lemah" ternyata hanyalah sebuah lelucon kecil di hadapan pria yang memimpin ribuan faksi kegelapan alam bawah.
Namun, berbeda dengan keterkejutan ibunya, Gu Yu kecil yang berdiri di teras kamar justru melangkah maju satu tindakan dengan berani. Sepasang mata sehitam tintanya berkilat warna ungu menyala yang sangat mirip dengan manik mata ayahnya. Bocah tujuh tahun itu menatap zirah hitam legam Mo Jue dengan binar kekaguman cilik yang teramat pekat dan membara.
Insting darah iblis murni di dalam tubuh sang pangeran cilik meluap-luap gembira, menyambut bangkitnya otoritas sejati dari garis keturunannya. "Pria dingin... zirah hitam itu terlihat seratus kali lebih gagah daripada jubah ramimu yang robek."
Di samping kaki Gu Yu, Xiao Bai ikut menundukkan kepala berbulunya dengan khidmat ke arah Mo Jue yang telah menjelma kembali menjadi penguasa mutlak Alam Kegelapan. Getaran energi dari zirah hitam naga kegelapan sang Raja Iblis membuat darah dewa perang di tubuh harimau kecil itu bergejolak hebat penuh rasa hormat yang teramat pekat.
Xiao Bai melebarkan cakar peraknya di atas ubin batu yang mulai membeku, mengeluarkan suara lenguhan rendah yang dalam seolah sedang memberikan laporan bahwa ia telah menjaga sang pangeran cilik dengan aman selama kepungan berlangsung.
Mo Jue membalikkan tubuh tegap berzirah hitamnya secara perlahan. Ia menurunkan pandangan matanya yang ungu menyala, menatap lekat-lekat pada wajah cemas Shen Liya yang sedang mematung syok, lalu beralih menatap putra kecilnya yang berdiri bangga menantinya.
Aura kebuasan absolut sang Raja Iblis seketika melunak saat menatap kedua orang yang teramat berharga di hidupnya tersebut.
"Maafkan aku, Liya..." suara Mo Jue terdengar sangat rendah, berat, dan dalam, bergema dengan gaung magnetis yang memenuhi seisi pelataran halaman. "Sandiwara sebagai tabib manusia fana yang lemah ini... terpaksa harus berakhir di sini, Istriku."
Ia berjalan mendekat, mengulurkan tangan zirahnya yang kokoh untuk membelai lembut pipi pucat Shen Liya yang tertutup cadar sutra tipis. Kontak fisik itu membuat Shen Liya refleks gemetar kaku, bukan karena benci, melainkan karena rasa syok batin yang belum sepenuhnya reda.
"Selama delapan tahun ini, aku sengaja membiarkanmu bersembunyi di pelosok fana murni karena aku ingin kau membesarkan anak kita dalam damai tanpa beban intrik politik takhta kegelapanku," lanjut Mo Jue dengan seluruh kejujuran batinnya yang selama sewindu ini terkunci rapat.
"Aku memasang perisai, menyamarkan auramu, dan berpura-pura menjadi tabib Ah Jue agar kau tidak merasa ketakutan berada di dekatku. Namun hari ini... anjing-anjing langit ini telah melangkah terlalu jauh dengan mengusik ketenangan keluarga kecilku."
Mendengar pengakuan jujur yang sarat akan perlindungan dalam sunyi dari sang Raja Iblis, air mata Shen Liya kembali merebak deras membasahi cadar birunya. Rasa hangat dan perlindungan absolut yang selama ini ia rasakan di pondok gunung dan rumah halaman ini akhirnya menemukan jawabannya.
Pria ini tidak pernah memanfaatkannya; ia justru telah membentangkan seluruh sayap kegelapannya demi membentengi hidupnya dan Gu Yu kecil sejak malam pertama takdir mereka terajut.
Mo Jue membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah Panglima Gao yang saat ini sedang memegang jimat teleportasi langit dengan tangan yang bergetar hebat.
Sepasang mata ungu menyala sang Raja Iblis berkilat memancarkan hawa pembunuhan yang teramat kejam dan dingin. Seluruh langit Kota Gusu yang semula berbalut petir emas, kini mendadak tersapu habis oleh gulungan awan hitam sepekat tinta yang meledak keluar dari inti tubuh Mo Jue, memadamkan seluruh berkas cahaya suci milik Alam Langit dalam sekejap mata.
"Ling Cang mengira bisa fitnah anakku sebagai benih kutukan dan meratakan kota ini demi keserakahannya?" desis Mo Jue, suaranya yang rendah bergaung dahsyat menyatu dengan deru angin badai kegelapan yang mengunci seluruh pelataran halaman.
Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, bersiap melepaskan satu petikan jari sihir penghancur sukma yang akan merobek seluruh pasukan zirah emas Panglima Gao di atas langit kota, mengunci berakhirnya sangkar kebohongan delapan tahun ini dengan awal mula pertumpahan darah terbesar di dalam sejarah tiga alam kelak.