NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa hukuman

Keesokan paginya, suasana sepi di kamar itu terpecahkan oleh suara selot pintu yang dibuka dari luar. Dua pengawal bertubuh kekar di depan pintu segera menegakkan posisi saat sesosok wanita paruh baya dengan gaun beludru hijau zamrud melangkah masuk.

Pintu ditutup kembali. Wanita itu adalah Elara, ibu Bellatrix.

Wajahnya yang biasanya anggun kini dipenuhi raut cemas dan lelah, semalaman ia tak bisa tidur karena berdebat panjang dengan suaminya.

Bellatrix yang sedang duduk membaca buku etika langsung berdiri tegak.

"Bella" panggil Elara, suaranya bergetar lembut.

Tanpa memedulikan sopan santun, Elara langsung berjalan cepat dan merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan erat.

Aroma wangi lavender yang menenangkan langsung tercium, membuat hati Bellatrix terasa hangat.

"Bunda..." bisik Bellatrix, membalas pelukan itu seerat mungkin, lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Elara persis seperti anak kecil yang rindu belaian.

"Sayangku... bagaimana keadaan kepalamu? Masih terasa sakit atau pusing?" Elara melepaskan pelukan sebentar, lalu memegang kedua pipi Bellatrix dan menatapnya dari dekat. Ia tertegun sejenak. "Tunggu... kenapa kulitmu terasa begitu halus dan bersinar hari ini? Kau tak terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari koma."

Bellatrix tersenyum canggung. 'Wah, efek perawatan itu langsung kelihatan ya.'

"Itu... ramuan dari tabib kemarin sangat manjur, Bunda," jawabnya pelan, berbohong dengan mulus.

Elara menghela napas lega, lalu menuntun putrinya duduk di tepi ranjang. Raut wajahnya kembali berubah serius.

"Ayahmu sudah menceritakan semuanya padaku soal kejadian di ruang kerja kemarin. Benarkah kau menunjuk wajah Putra Mahkota dan meminta membatalkan pertunangan itu?" tanyanya dengan suara berbisik, takut terdengar oleh pengawal di luar.

Bellatrix mengangguk mantap, matanya lurus tanpa ragu sedikit pun. "Benar, Bunda. Aku sungguh-sungguh. Aku ingin mengakhiri pertunangan bodoh itu."

Elara menatapnya tak percaya. Selama ini, Bellatrix akan marah besar jika ada orang yang berani menjelekkan Thiago, tapi sekarang putrinya sendiri yang menyebut ikatan itu tidak berguna.

"Bunda tidak marah?" tanya Bellatrix, lalu mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Elara dengan sikap manja yang terasa sangat wajar.

Mendengar itu, Elara justru menggenggam tangan Bellatrix dengan erat. Air mata perlahan menggenang di sudut matanya.

"Marah? Untuk apa Bunda marah, Sayang?" ucapnya sambil tersenyum getir. "Dua tahun ini, Bunda melihatmu mengemis cinta pada pria yang bahkan tak sudi melirikmu. Melihatmu menangis setiap malam hanya karena putra mahkota, hati Bunda rasanya hancur. Kami tahu bagaimana rasanya terluka di medan perang, tapi melihat anak sendiri menyiksa hatinya demi orang yang tak menghargainya, itu luka yang paling menyakitkan."

Ia terus mengusap lembut rambut putrinya.

"Ayahmu menghukummu bukan karena dia marah, tapi untuk melindungi kita semua dari kemarahan Kaisar. Di dalam hatinya, dia justru lega dan bangga melihatmu akhirnya sadar dan punya harga diri untuk melepaskan orang yang tak pantas untukmu."

Dada Bellatrix terasa sesak dan hangat mendengar ucapan itu. Di kehidupan sebelumnya ia hidup sendirian dan dikhianati, tapi di sini ia mendapatkan keluarga yang mencintainya tanpa syarat apa pun.

"Terima kasih, Bunda..." bisiknya tulus, setitik air mata lolos dari sudut matanya. "Mulai sekarang aku janji tak akan mempermalukan keluarga lagi. Aku akan jadi putri yang bisa Bunda dan Ayah banggakan."

Elara tersenyum bahagia, lalu menghapus air mata di pipi putrinya dengan lembut. "Bunda selalu bangga padamu, apa pun yang terjadi. Jalani masa ini dengan tenang, Bunda akan pastikan semua kebutuhanmu terpenuhi."

Setelah mengobrol dan berpelukan cukup lama, Elara pun pamit keluar. Begitu pintu terkunci kembali, Bellatrix berdiri di tengah ruangan dengan senyum penuh keyakinan.

Beberapa hari kemudian, di tengah masa kurungan yang justru terasa produktif, satu fakta baru terungkap dengan jelas. Berkat perawatan yang ia lakukan, penampilan Bellatrix berubah total. Kulitnya yang dulu kusam dan kasar karena bedak tebal yang mengandung zat berbahaya, kini tampak sehat, halus, dan memancarkan cahaya alami sampai para pelayan yang mengantar makanan selalu tertegun melihat perubahannya.

Sambil menikmati masker wajah yang terasa sejuk dan menenangkan, Bellatrix duduk bersandar di sofa sembari menyusun kembali ingatan yang lebih mendalam. Kali ini ia fokus pada sosok Eleanor, putri Count Valdo yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya wanita yang dicintai Thiago.

Saat ingatan itu terlihat jelas, Bellatrix hampir tertawa keras. 'Ternyata Bellatrix yang asli benar-benar mudah terperdaya dan dikuasai emosi.'

Dari apa yang ia baca, ternyata Thiago sama sekali tak memiliki hubungan romantis apa pun dengan Eleanor. Pria itu dingin, tegas, dan seluruh waktunya hanya dihabiskan untuk mengurus urusan negara, militer, serta keuangan kekaisaran. Sering terlihat bersama Eleanor hanya karena ayahnya menjabat sebagai Menteri Keuangan Eleanor sering ditugaskan untuk mengantar dokumen-dokumen penting yang harus dibahas langsung oleh Putra Mahkota.

Namun Eleanor adalah wanita yang pandai memanfaatkan situasi. Ia tahu betul sifat Bellatrix yang mudah cemburu dan emosional. Setiap kali melihat Bellatrix datang, ia akan sengaja mendekat terlalu rapat ke sisi Thiago, berbisik pelan seolah membicarakan hal pribadi, atau tersenyum manis seolah ada ikatan khusus di antara mereka. Bellatrix yang terbakar cemburu langsung meledak, mengamuk di depan umum, dan pada akhirnya justru membuat Thiago makin muak serta enggan berurusan dengannya.

Thiago sendiri terlalu angkuh untuk menjelaskan apa pun. Ia merasa tak ada gunanya meladeni wanita yang hanya dikuasai perasaan semata. Akibatnya, kesalahpahaman itu terus menyebar dan menjadi rumor yang dipercaya banyak orang.

"Jadi si pangeran itu cuma sibuk kerja, dan putri Count itu cuma cari perhatian serta status," gumam Bellatrix sambil melepas maskernya, lalu menepuk-nepuk sisa cairan ke seluruh wajah dan lehernya. "Menarik sekali. Ini justru membuat posisiku jadi jauh lebih jelas."

Karena Thiago tak mencintai siapa pun, pertunangan ini murni urusan politik untuk mengikat kekuatan militer keluarga Volkov dengan tahta kekaisaran. Dan karena Bellatrix sudah bertekad bulat untuk mengakhirinya, ia harus membuat Thiago sendiri yang akhirnya merasa mempertahankan pertunangan ini justru akan mendatangkan lebih banyak kerugian dan masalah baginya.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!