Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan. Arunika berdiri di depan cermin besar di ruang tengah apartemen, mematut dirinya yang sudah mengenakan jubah toga hitam dengan kerah kuning cerah. Riasan wajahnya sengaja ia pilih yang bertema natural look—hanya sedikit sapuan eyeshadow berwarna peach dan lipstik nude yang membuat wajahnya terlihat segar dan awet muda.
Di sampingnya, Thomas tampak kontras. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih tulang yang pas di badannya, lengannya digulung rapi, tanpa jas. Ia sengaja ingin memberikan panggung sepenuhnya untuk kesuksesan istrinya hari ini.
"Gimana, Mas? Aku udah mirip lulusan terbaik belum?" tanya Arunika sambil memutar tubuhnya perlahan, membuat jubah toganya mengembang.
Thomas menatapnya tanpa kedip. "Kamu selalu terlihat seperti lulusan terbaik di mataku, Nika. Ayo jalan, Papa dan Mami sudah menunggu di lokasi sejak tadi."
Namun, tepat saat mereka melangkah keluar dari unit apartemen dan hendak menuju lift, seorang pria berseragam safari menghampiri mereka. Itu adalah Rudi, petugas keamanan apartemen yang sudah cukup akrab dengan para penghuni.
"Ini, Mbak Arunika. Paket Mbak baru sampai tadi pagi sekali. Katanya penting, jadi saya amankan dulu di pos," ujar Rudi sambil menyodorkan sebuah kotak kecil terbungkus plastik rapi.
Mata Arunika berbinar. "Wahhh! Akhirnya sampai juga! Makasih banyak ya, Mas Rudi. Repot-repot lho nganterin ke atas."
"Sama-sama, Mbak. Sukses ya buat wisudanya hari ini," jawab Rudi dengan senyum ramah sebelum berbalik menuju lift servis.
Thomas, yang sejak tadi berdiri di samping Arunika, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya. Ia menatap punggung Rudi yang menjauh, lalu beralih menatap istrinya dengan tatapan tajam yang tidak biasa.
"Mas?" batin Thomas bergejolak. Dia panggil satpam itu 'Mas'?
Arunika, dengan wajah tanpa dosa, sibuk menyobek plastik paketnya. "Asyik! Ini parfum yang lagi viral di TikTok, Mas! Katanya wanginya tahan lama banget dan bisa bikin orang nempel terus. Aku pake dikit ya buat wisuda?"
Thomas tidak menanggapi soal parfum. Ia justru menghentikan langkahnya, membuat Arunika ikut berhenti.
"Kenapa kamu panggil dia 'Mas'?" tanya Thomas, suaranya terdengar datar namun ada nada dingin yang menusuk.
Arunika mengerjapkan mata, bingung. "Siapa? Mas Rudi?"
"Iya. Kenapa harus panggil 'Mas'?"
Arunika tertawa kecil, menganggap suaminya hanya sedang mengajak bercanda. "Ya... terus manggil apa, Mas Thomas? Panggil 'Kak'? 'Om'? Atau 'Bapak'? Dia kan masih kelihatan muda, jadi panggil Mas biar akrab."
"Akrab?" Thomas mengulang kata itu dengan nada tidak suka. "Kamu panggil aku 'Mas'. Kamu panggil Ardi 'Kak'. Sekarang kamu panggil petugas keamanan itu 'Mas' juga? Sejak kapan kamu jadi begitu murah hati membagikan panggilan itu?"
Arunika menghela napas, ia meletakkan botol parfumnya kembali ke dalam kotak. "Ya ampun, Mas! Itu kan cuma panggilan sopan santun. Di Jakarta kan emang biasa panggil Mas atau Mbak ke orang yang kita belum terlalu kenal tapi pengen sopan."
"Tapi aku suamimu, Arunika. Panggilan itu punya makna proteksi dan kedekatan bagiku. Aku tidak suka mendengar kamu menyebut pria lain dengan sebutan yang sama dengan caramu memanggilku," protes Thomas. Ia kini bersedekap, wajahnya mengeras seperti batu karang.
"Ya ampun, Mas CEO satu ini ternyata cemburu sama satpam apartemen sendiri?" ledek Arunika sambil mencolek dagu Thomas. "Mas, dia itu Mas Rudi. Orangnya baik, sering bantuin angkat galon kalau Mas lagi nggak di rumah."
"Bantuin angkat galon?!" suara Thomas naik satu oktav. "Kenapa tidak panggil teknisi gedung saja? Kenapa harus dia?"
"Karena dia yang paling deket, Mas! Lagian cuma galon, bukan angkat beban hidup!" Arunika tertawa terbahak-bahak melihat kecemburuan Thomas yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Udah ah, ayo berangkat! Nanti Mami marah kalau kita telat. Papa juga udah nungguin."
Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat prosesi wisuda berlangsung, Thomas hanya diam membisu. Ia menyetir dengan kecepatan yang sangat stabil, namun rahangnya tetap mengeras. Sesekali ia melirik ke arah Arunika yang sibuk menyemprotkan parfum barunya ke pergelangan tangan dan leher.
"Wanginya enak kan, Mas?" Arunika menyodorkan pergelangan tangannya ke hidung Thomas.
"Biasa saja," sahut Thomas ketus.
"Iih, tadi katanya wangi parfum viral ini bagus! Mas cemburu ya gara-gara aku panggil Mas Rudi?" goda Arunika lagi.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya menjaga privasi panggilan rumah tangga," jawab Thomas dengan argumen CEO-nya yang sangat kaku.
Sesampainya di lokasi, keramaian sudah menyambut mereka. Keempat orang tua mereka sudah berdiri di depan gerbang utama hotel. Mami Thomas langsung berlari memeluk Arunika.
"Cantik banget mantu Mami! Aduh, Thomas, kamu jagain ya, jangan sampai ada mahasiswa nakal yang godain Nika hari ini!" seru Mami.
"Sudah ada satpam apartemen yang menjaganya dengan panggilan 'Mas', Mi," gumam Thomas pelan, yang langsung mendapat injakan di kaki dari Arunika.
"Aduh!" Thomas meringis.
"Diem ya, Mas Thomas yang ganteng tapi cemburuan," bisik Arunika sambil tersenyum manis ke arah orang tua mereka.
Saat acara dimulai, Arunika duduk di barisan depan para wisudawan. Thomas duduk di barisan keluarga bersama orang tua mereka. Thomas tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Arunika. Setiap kali ada teman pria Arunika yang mendekat untuk sekadar mengucapkan selamat atau berfoto, Thomas langsung menegakkan punggungnya dan menatap pria itu dengan tatapan predator.
"Thomas, kamu kenapa sih? Matamu itu lho, kayak mau makan orang," tegur Papanya Thomas yang duduk di sampingnya.
"Hanya sedang memastikan tidak ada yangg dipanggil istriku dengan sebutan 'Mas' selain aku, Pa," jawab Thomas dingin.
Papanya hanya bisa menggelengkan kepala. "Anak ini... sudah jadi CEO tapi pikirannya masih kayak remaja baru jatuh cinta."
Prosesi wisuda berjalan lancar. Saat nama "Arunika Nirmala" dipanggil, Thomas berdiri paling depan untuk mengambil foto istrinya. Ia tersenyum bangga, melupakan sejenak soal Mas Rudi. Namun, saat sesi foto bebas dimulai, seorang mahasiswa laki-laki, teman sekelas Arunika yang cukup populer, menghampiri Arunika.
"Nika! Selamat ya! Foto bareng dong!" ajak mahasiswa itu.
"Eh, iya! Boleh!" jawab Arunika ramah.
"Sini, Mas pegangin bunganya," ucap mahasiswa itu sambil meraih buket bunga Arunika.
Thomas yang berdiri hanya dua meter di belakang mereka, langsung merasakan suhu tubuhnya naik. Dia panggil dirinya sendiri 'Mas' di depan istriku?
Tanpa basa-basi, Thomas melangkah maju dan merangkul pinggang Arunika dengan sangat posesif. Ia mengambil kembali buket bunga itu dari tangan sang mahasiswa.
"Biar saya saja yang pegang bunganya. Saya suaminya," ucap Thomas dengan suara berat yang penuh intimidasi.
Mahasiswa itu langsung ciut nyalinya. "Oh... iya, Pak. Maaf."
Arunika hanya bisa menepuk dahinya. "Mas Thomas, dia itu temen sekelas aku! Dia cuma mau bantu!"
"Bantu itu tugas suami, Arunika. Bukan tugas 'Mas-Mas' lain," bisik Thomas tepat di telinga Arunika.
Arunika menyerah. Ia tahu, berdebat dengan Thomas yang sedang dalam mode cemburu buta adalah hal sia-sia. Ia pun tersenyum ke arah kamera, sementara Thomas berdiri di sampingnya dengan wajah kemenangan, seolah ingin mengumumkan pada dunia bahwa hanya dialah satu-satunya "Mas" yang sah di hidup Arunika.
"Besok-besok aku panggil Mas Rudi pake 'Bapak' deh, biar Mas Thomas nggak darah tinggi," bisik Arunika di tengah-tengah pose foto mereka.
"Bagus. Dan pastikan kamu panggil aku 'Sayang' sepuluh kali hari ini sebagai denda," balas Thomas pelan.
"Mas Thomas!" Arunika tertawa, dan momen itu tertangkap sempurna oleh kamera—momen wisuda yang penuh warna, parfum viral, dan cemburu CEO yang ternyata sangat menggemaskan.
***
Dasar mas Thomas cemburuan 😭😭🤣🤏
gagal
coba lagi dong 🤭