NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Ibu Menunggumu

Bastian Rothmere menatap layar tabletnya tanpa berkedip.

Di tengah istirahat singkat setelah rapat lapangan megaproyek revitalisasi Terminal Lebak Bulus, perhatian pria itu justru tak tertuju pada laporan konstruksi yang baru saja dikirim bawahan Bastian.

Melainkan pada tayangan CCTV dari kediaman Rothmere. Di layar itu tampak Kemala sedang menggendong Nathan. Nathan yang biasanya mudah rewel terlihat tenang di pelukan Kemala. Kemala duduk di dekat jendela sambil mengusap punggung bayi itu perlahan. Sesekali wanita itu membisikkan sesuatu yang tak tertangkap mikrofon kamera. Namun ekspresi Nathan terlihat jauh lebih nyaman dibanding ketika bersama babysitter yang selama ini dipekerjakan keluarga Rothmere.

Bastian memperbesar tampilan layar. Mata pria itu mengikuti setiap gerakan Kemala. Cara wanita dengan gaun yang sederhana itu membetulkan selimut. Bagaimana Kemala menopang kepala Nathan. Cara Kemala langsung menyadari ketika Nathan mulai tak nyaman. Semua yang dilakukan Kemala terllihat alami tanpa dibuat-buat.

Tanpa sadar, sudut bibir Bastian sedikit terangkat. Senyum tipis yang bahkan pria berjas sangat rapi itu sendiri tak menyadarinya.

"Menakutkan."

Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari di seberang tempat duduk Bastian.

Bastian sempat mengangkat kepala sebentar lalu kembali fokus ke tabletnya. Reynard berdiri sambil membawa secangkir kopi. Pria itu adalah sahabat Bastian sejak kecil. Berbeda dengan Bastian yang hidup di dunia korporasi dan konglomerasi, Reynard memilih membangun perusahaan kreatifnya sendiri. Sehingga tampilannya selalu terlihat kasual, tak seperti Bastian yang hampir selalu menggunakan setelan jas lengkap. Karena kontras itulah hubungan mereka bertahan sampai sekarang. Reynard tak pernah membutuhkan uang Rothmere. Dan Bastian tak pernah membutuhkan basa-basi Reynard.

Reynard menyeruput kopinya santai.

"Aku penasaran, proyek apa yang sedang Presdir Rothmere Group lihat sampai membuatnya lupa kalau aku sedang bicara."

Sama sekali tak ada jawaban dari Bastian yang sedang sangat fokus di tabletnya.

"Kau sedang lihat progres konstruksi?" ujar Reynard yang sudah mencondongkan duduknya ke depan. Dan lagi-lagi Bastian sama sekali tak meresponnya.

"Laporan direksi?" Reynald sedikit mengangkat alisnya.

"Atau saham yang turun?" lanjut Reynald.

Masih saja Bastian berada dalam diam. Karena penasaran, Reynard bangkit dari kursinya dan berjalan ke belakang Bastian. Lalu Reynald membeku,di layar tablet tampak Nathan berada dalam gendongan seorang wanita.

"Eh?"

Bastian yang baru sadar Reynald berada di belakangnya langsung mematikan layar. Namun Reynard sudah melihat semuanya.

"Itu bayimu?" tanya Reynald yang memang mengetahui bahwa sahabatnya begitu menginginkan seorang anak. 

"Ya, Nathan," jawab Bastian singkat.

"Tunggu ... wanita yang menggendong Nathan itu bukan Raline," ujar Reynald yang sudah mengetahui istri Bastian sejak awal pernikahan Bastian dan Raline.

Raline menjadi salah satu orang yang membuat Reynald sudah hampir tak pernah mengunjungi rumah sahabatnya lagi. Karena sifat Raline yang pemarah begitu membuat Reynald merasa sangat tak nyaman.

Bastian hanya diam sambil melihat sahabatnya, sama sekali tak menjawab. Reynard menyipitkan mata.

"Jangan bilang itu istri keduamu?" Reynald menyilangkan tangannya dengan gestur santai.

"Apa kau bercanda?" tanya Bastian yang mulai kesal dengan Reynald.

"Lalu?" Reynard kembali duduk.

"Dia ibu susu untuk Nathan," jawab Bastian menjelaskan singkat kepada sahabatnya itu.

Reynard mengembuskan napas. Sejak awal dia tahu betapa keras kepala sahabatnya itu soal keturunan. Bahkan ketika Raline menolak mentah-mentah memiliki anak. Bastian tetap menginginkan seorang penerus. Bukan sekadar untuk tradisi Rothmere, tetapi juga karena pria itu memang menginginkannya.

Ketika Madam Eleanora akhirnya menawarkan jalan melalui program bayi tabung di rahim seorang wanita lain, Bastian memilih menyetujuinya. Dan Reynard termasuk sedikit orang yang mengetahui hal itu. Termasuk ibu dari Nathan yang sudah meninggal.

"Syukurlah Nathan akhirnya punya ibu susu yang cocok," ujar Reynald yang ikut merasa lega.

"Lalu aku baru sadar sesuatu." Reynald menegakkan punggungnya seolah ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius.

Bastian mengangkat sebelah alis.

"Kau ternyata masih bisa tersenyum," ujar Reynald sambil menahan tawanya.

"Apa?" Bastian bertanya.

"Barusan." Reynard menunjuk wajahnya. "Itu jelas-jelas sebuah senyuman."

"Itu imajinasimu." Bastian yang tak merasa tersenyum sedikit pun itu menampiknya.

"Bastian, aku mengenalmu sejak SD ..." Reynald mencondongkan duduknya ke depan. "Kau melihat wanita itu seperti seseorang melihat matahari setelah tiga puluh tahun hujan."

"Berhenti bicara." Bastian menunjukkan wajah kesalnya.

Reynard tertawa puas karena berhasil membuat Bastian terlihat kesal.

"Nah, itu ekspresi yang normal."

Bastian mengabaikannya. Namun Reynard belum selesai. Karena yang paling membuat Reynard heran bukan status wanita itu. Melainkan ekspresi sahabat, Bastian.

"Aku baru sadar sesuatu," ucap Reynald santai.

"Apa?" tanya Bastia yang berpikir Reynald akan menyampaikan sesuatu yang serius.

"Kau masih punya otot wajah."

Bastian menatapnya datar, sungguh sahabat terdekatnya itu memang selalu bercanda.

"Kupikir semuanya mati karena terlalu banyak rapat." Reynard tertawa puas. "Astaga, kalau anak buahmu melihat ekspresi tadi, mereka mungkin akan mengadakan syukuran nasional."

Percakapan mereka terputus ketika tablet Bastian bergetar. Sebuah notifikasi prioritas tinggi muncul dari sistem keamanan kediaman Rothmere. Wajah Bastian langsung berubah serius. Pria rapi itu membuka notifikasi itu. Beberapa detik kemudian alisnya mengernyit.

"Ada apa?" tanya Reynard.

Bastian tak menjawab. Jari pria berdasi itu langsung membuka akses CCTV. Di layar tampak ruang Nathan dipenuhi orang. Beberapa babysitter terlihat panik. Perawat keluar masuk ruangan Nathan. Dokter keluarga juga sudah berada di sana. Nathan jelas sedang menangis. Tubuh kecilnya tampak memerah.

"Demam?" tanya Reynard.

Bastian mengangguk. Namun perhatian pria itu tertuju pada satu sosok, Kemala. Di tengah kepanikan semua orang. Wanita itu justru terlihat paling tenang. Nathan berada dalam pelukan Kemala. Kemala terus mengusap punggung bayi itu sambil membantu perawat melakukan kompres. Sama sekali tak ada kepanikan. Bahkan juga tak terlihat kebingungan. Seolah seluruh fokus Kemala hanya tertuju pada Nathan.

Bastian langsung berdiri. "Aku harus pergi."

Reynard tertegun. "Meeting berikutnya?"

"Tunda," tukas Bastian singkat.

"Sejak kapan kau membatalkan jadwal karena urusan rumah?"

Bastian sudah mengambil jasnya. Sama sekali tak ada jawaban. Beberapa detik kemudian Bastian sudah meninggalkan restoran. Meninggalkan Reynard yang masih memandang heran ke arah pintu.

"Ini benar-benar keajaiban dunia."

Kurang dari satu jam kemudian.

Mobil Bastian memasuki halaman utama kediaman Rothmere. Langkah pria itu cepat menuju ruang Nathan. Begitu pintu terbuka. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Kemala. Wanita itu duduk di kursi dekat tempat tidur bayi. Nathan masih berada di pelukan Kemala. Wajah Kemala terlihat jauh lebih pucat dibanding pagi tadi. Rambut wanita itu sedikit berantakan. Namun kedua tangan Kemala tetap memeluk Nathan dengan hati-hati.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Bastian.

Dokter keluarga segera menghampiri. "Demamnya mulai turun."

Bastian mengembuskan napas lega. "Apa penyebabnya?"

"Infeksi ringan," jawab Dokter singkat.

"Lalu?" tanya Bastian yang masih mengkhawatirkan kondisi Nathan.

Dokter itu tersenyum. "Untung Ibu Kemala cepat bertindak."

Bastian menoleh ke arah Kemala. Kemala langsung gugup.

"Saya hanya kebetulan menyadarinya lebih dulu, Pak."

Dokter menggeleng. "Bukan kebetulan."

Kemala hanya terdiam.

"Babysitter lain mengira Nathan hanya rewel biasa,” jelas Dokter itu kembali. "Tapi Ibu Kemala langsung sadar ada yang berbeda."

Bastian kembali memandang wanita itu. Kemala terlihat malu. Bahkan Kemala tak merasa telah melakukan sesuatu yang istimewa. Padahal dokter tadi baru saja mengatakan kemungkinan suhu tubuh Nathan bisa meningkat jauh lebih tinggi.

"Terima kasih," ucap Bastian kepada Kemala.

Kemala terkejut mendengar ucapan itu. "Pak?"

"Karena sudah menjaga Nathan," lanjut Bastian.

Kemala langsung menunduk. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya."

Namun untuk pertama kalinya. Bastian tak melihat Kemala sebagai seseorang yang bekerja. Pria itu melihat seorang ibu. Seseorang yang benar-benar peduli kepada Nathan. Bahkan ketika tak ada yang meminta Kemala melakukan lebih dari menyusui Nathan.

Malam hari telah tiba. Kediaman Rothmere mulai sunyi. Nathan akhirnya tertidur setelah demamnya turun. Para perawat kembali ke ruang jaga. Dokter juga sudah pulang. Lampu kamar bayi diredupkan.

Kemala masih duduk di kursi dekat boks Nathan. Awalnya Kemala hanya ingin berjaga sebentar. Namun tubuh wanita yang masih terlihat sedikit kurus itu terlalu lelah. Pelan-pelan mata Kemala terpejam. Hingga akhirnya tertidur dalam posisi duduk.

Bastian yang baru selesai menyelesaikan beberapa pekerjaan dari ruang kerja karena buru-buru pulang tadi siang, masuk untuk memeriksa Nathan sekali lagi. Nathan tertidur nyenyak. Namun langkahnya berhenti ketika melihat Kemala. Wanita itu tertidur sambil memeluk tas lusuhnya. Tas yang masih menjadi satu-satunya benda yang dibawanya dari desa.

Saat itulah sesuatu terjatuh dari sela tas tersebut. Terlihat itu merupakan selembar foto. Bastian membungkuk untuk mengambilnya. Sebuah foto USG yang sudah kusam, sudut-sudutnya mulai terlipat, dan terlihat jelas sering dibuka berkali-kali.

Tatapan Bastian jatuh pada bagian belakang foto. Ada tulisan tangan yang mulai memudar. Tulisan sederhana. Namun membuat dada Bastian terasa aneh yang membuat pria itu membeku.

[Ibu akan menunggumu pulang.]

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!