Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basta! Akhir dari Siksaan Sang Kakak Kandung
Gema jeritan Rian yang memilukan perlahan-lahan terkikis oleh tebalnya lapisan dinding kedap suara paviliun barat. Pintu kayu ek neoklasik itu telah tertutup rapat, mengunci segala bentuk kegilaan, darah, dan silsilah kekerasan domestik yang selama belasan tahun ini menjadi menu sarapan wajib bagi Alessa. Di dalam kamar rawat VIP, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat lengang—sebuah keheningan yang begitu asing hingga membuat telinga Alessa berdengung tipis.
Hanya ada Alessa dan Giovanni Alberto sekarang.
Gadis itu masih bersandar pada tumpukan bantal bulu angsa, sepasang tangannya yang kurus mencengkeram pinggiran selimut wol premium dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Napasnya masih tersengal-sengal, naik-turun dengan ritme yang tidak beraturan di balik gaun sutra putih gadingnya. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena tarikan linu dari jahitan mikro di punggungnya, melainkan karena hantaman emosional yang baru saja lewat laksana badai tornado finansial.
Kesedihan yang teramat mendalam kembali merayap, merembes keluar dari sudut-sudut matanya yang bengkak. Alessa menunduk, menatap sebutir air mata yang jatuh dan langsung diserap oleh serat kain sprei katun Mesir di bawahnya.
“Basta... Cukup,” bisik batin Alessa, mengulang satu kata dalam bahasa Italia yang sering diucapkan mendiang ibunya ketika sang ayah mulai kehilangan kendali atas amarahnya dulu. “Ini benar-benar akhir, kan, Bu? Gak ada lagi suara langkah kaki pincang yang bikin Alessa gemetar di balik pintu dapur. Gak ada lagi balok kayu yang siap mematahkan tulang Alessa setiap kali dia kalah judi dadu.”
Rasa kehilangan akan masa kecil yang waras dan amarah yang pekat terhadap kejamnya takdir berpadu menjadi sebuah ruang hampa yang masif di dalam jiwanya. Alessa merasa seperti selembar kertas yang habis dibakar, meninggalkan abu dingin yang berserakan di tengah-tengah kemewahan istana Il Miliardario. Namun, tepat ketika pusaran depresi pascatrauma itu hampir menenggelamkan logikanya ke dalam tangisan histeris, sekring pelindung psikologis anomali di dalam otaknya kembali memercikkan api sarkasme radikalnya. Menertawakan tragedi adalah satu-satunya cara Alessa untuk tetap berdiri tegak di hadapan sang penguasa dunia malam.
Alessa menghapus air matanya dengan punggung tangan yang masih tertancap jarum infus fleksibel, lalu mendongak menatap Giovanni yang masih berdiri tegak di samping ranjangnya dengan keanggunan seorang predator kasta tertinggi.
"Waduh, Mas Bos Giovanni..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, menantang langsung aura intimidasi yang memancar dari setelan jas hitam pekat pria itu. "Eksekusi manajemen konflik lu bener-bener gak pakai drama bertele-tele ya. Langsung seret ke ruang bawah tanah, langsung pakai batang besi bungkus kain. Apa di duniaku yang serba mewah ini, paket promosi 'pijat refleksi pembalasan dendam' sudah termasuk ke dalam fasilitas tagihan seratus dua puluh juta gue tadi siang?"
Giovanni tidak mengalihkan pandangan matanya yang berwarna hitam kelam, sedingin es kutub dan setajam belati, dari wajah Alessa. Riak ketertarikan yang pekat kembali bergolak di balik tatapannya yang datar. Sifat pemberontak Alessa yang dibalut komedi tragis terbukti tidak mati, bahkan setelah gadis itu menyaksikan runtuhnya kekuasaan sang kakak kandung secara frontal.
"Tindakan tadi adalah bentuk eksekusi fungsional, Alessa," sahut Giovanni, suaranya yang berat, rendah, dan dingin menggema pelan di dalam ruangan. "Di duniaku, kata 'Basta' tidak hanya diucapkan, melainkan ditulis dengan tindakan hukum talio yang absolut. Kakakmu telah merusak kapasitas fisikmu untuk berjalan, maka konsekuensinya... dia harus kehilangan kapasitas yang sama sebagai bentuk penyeimbangan neraca utang darah."
Giovanni melangkah satu tapak lebih dekat, membuat aroma parfum mahal oud-nya kembali mendominasi sisa udara di sekitar ranjang, menyingkirkan bau amis sisa amukan Rian tadi.
"Kamu tidak perlu lagi membuang energi sarkasmemu untuk meratapi pria tidak berguna itu," desis Giovanni, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata cokelat Alessa yang mulai menjernih. "Mulai detik ini, silsilah ketakutan domestikmu bersama Rian telah resmi dihapuskan dari lembar sejarah hidupmu. Kamu adalah milik yurisdiksiku sekarang."
"Milik yurisdiksi katanya..." Alessa mendengus parau, sebuah senyuman kaku dan getir terukir di sudut bibirnya yang pecah. "Istilah hukum lu bener-bener halus banget buat mendeskripsikan status sandera eksklusif, Mas Bos. Tapi setidaknya, bos baru gue yang sekarang gak bakal bawa balok kayu karatan ke dalam kamar rawat VIP yang wangi bunga lili segar ini. Jadi, apa langkah selanjutnya dari manajemen aset aliansi Alberto buat mumi mesir KW super kayak gue?"
Giovanni tidak langsung menjawab. Dia merosokkan tangan kanannya ke dalam saku jas hitamnya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit flip berwarna hitam krom dengan desain kustom yang sangat elegan. Pria itu menekan satu tombol cepat, mendekatkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengalihkan pandangan dari Alessa.
"Dion," perintah Giovanni pendek, suaranya memancarkan otoritas mutlak tanpa bantahan. "Kirimkan tim forensik finansial ke Surabaya sekarang. Cari tahu semua aset, rumah petak, dan toko roti tempat Alessa bekerja. Beli seluruh area tersebut secara tunai malam ini. Hancurkan rumah petak itu sampai rata dengan tanah, dan bangun sebuah taman labirin baru di atasnya. Aku tidak ingin ada satu pun memori fisik dari masa lalu Alessa yang tersisa di kota itu."
Alessa terbelalak kecil mendengarnya. Kepanikan massal berskala finansial kembali mengetuk dinding kepalanya. "Heh, Mas Bos! Lu gila ya?! Rumah petak kontrakan itu memang busuk dan atapnya sering bocor kalau hujan deras, tapi di sana ada sisa kenangan kemeja biru pudar bokap gue yang lu gantungin di tempat sampah medis tadi pagi! Kenapa harus dihancurkan sampai rata dengan tanah segala sih? Apa kekayaan Il Miliardario lu itu bikin lu punya hobi fobia sama properti kelas menengah ke bawah?"
Giovanni menutup ponsel satelitnya dengan bunyi klik yang tajam, lalu menundukkan tubuh tegapnya sedikit ke arah wajah Alessa, menciptakan tekanan psikologis yang membuat Alessa terpaksa menahan napasnya sejenak.
"Memori yang dibangun di atas rasa sakit tidak memiliki nilai estetika untuk dipertahankan, Alessa," kata Giovanni dengan nada suara yang sangat rendah namun bergetar dengan keyakinan yang mematikan. "Di dalam sangkar emas ini, semua ingatan lamamu akan dihancurkan secara sistematis, digantikan oleh kemewahan tertinggi yang akan aku sediakan melalui perjanjian di atas kertas berlapis emas kita. Kamu harus bersih dari masa lalu agar bisa berfungsi sempurna sebagai pusat perhatian baruku."
Alessa menatap balik kedalaman mata kelam Giovanni dengan ketegasan yang menolak untuk sepenuhnya tunduk. Amarahnya yang mendingin berpadu dengan insting bertahannya, menciptakan garis pertahanan mental yang unik di siang yang menjelang malam itu.
"Kontrak kerja yang sangat kaku dan manipulatif, Mas Bos Giovanni Alberto," balas Alessa, senyum ironisnya kembali melebar meskipun hatinya bergetar melihat dominasi mutlak pria di depannya. "Lu gak cuma melunasi utang judi kakak gue, tapi lu juga mau menghapus silsilah eksistensi tempat tinggal gue di Surabaya. Lu bener-bener monster finansial sejati yang punya selera parfum tingkat dewa. Tapi gak apa-apa, lakukan saja sesuka lu, Mas Bos. Toh, tanda tangan gue di kertas foil emas tadi siang sudah bikin gue resmi jadi komoditas hiburan pribadi lu yang paling elegan."
Giovanni kembali menegakkan tubuhnya, menatap Alessa dengan silsilah tatapan yang tidak lagi memiliki riak emosi kasar, melainkan sebuah kepuasan dingin yang pekat. Pembersihan besar-besaran terhadap orang-orang yang membuat Alessa berlari tanpa alas kaki telah resmi diselesaikan di babak pertama ini. Siksaan sang kakak kandung telah berakhir dengan kata Basta yang mutlak, dan kini lembaran takdir baru di bawah hukum internasional aliansi Alberto siap digulirkan sepenuhnya untuk menguji seberapa jauh sarkasme gila Alessa bisa bertahan di tengah kemewahan dimensi Il Miliardario.