Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 4
Aroma tanah basah yang tersiram hujan deras berbaur dengan uap hangat dari soto kuning di dalam warung tenda yang tertutup rapat itu.
Di bawah temaram lampu bohlam kuning yang bergoyang ditiup angin, keheningan mendadak terasa begitu pekat, menyisakan deru napas Farrel dan Nisa yang saling berkejaran.
Nisa masih berada di dalam dekapan Farrel. Gadis itu mendongak, matanya yang basah oleh sisa air mata kini memancarkan binar yang berbeda,sebuah tatapan pasrah, kagum, dan ketertarikan yang mendalam.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia yakin Farrel bisa merasakannya.
"Rel..." bisik Nisa, suaranya terdengar serak dan manja, sangat berbeda dari Nisa yang biasanya tegas melayani pelanggan warung.
"Iya, Nis?" Farrel menatap bibir merah muda Nisa yang sedikit terbuka, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Pengaruh dari Ramuan Penguat Tubuh dari sistem benar-benar membuat seluruh indra Farrel menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif. Ia bisa merasakan kelembutan kulit Nisa, kehangatan napasnya yang menerpa dagunya, hingga lekuk tubuh gadis itu yang menempel sempurna pada tubuhnya yang kini kekar dan padat.
Gejolak gairah pria muda yang selama ini mati suri karena kemiskinan, kini bangkit bak singa yang kelaparan.
Nisa tidak menjawab dengan kata-kata. Seolah terhipnotis oleh aura maskulin Farrel yang begitu kuat dan mendominasi, Nisa perlahan memejamkan matanya, memiringkan kepalanya sedikit, dan mendekatkan wajahnya.
Farrel bukanlah pria suci. Diperlakukan seperti itu oleh gadis yang selama ini ia kagumi dalam diam, pertahanannya runtuh seketika. Ia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Nisa.
Cup...!
Sentuhan pertama itu terasa lembut dan ragu-ragu, namun begitu Nisa memberikan respons dengan membalas kecupan itu sambil mengalungkan kedua lengannya ke leher Farrel, ciuman itu berubah menjadi penuh tuntutan.
Farrel melumat bibir manis Nisa dengan lembut namun posesif, menikmati kehangatan dan rasa manis yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Nisa Menggeliat pelan di sela-sela ciuman mereka, tangannya meremas rambut Farrel, menyerahkan seluruh kendali dirinya pada pria di hadapannya.
【 Ding! Target Nisa Amanda merasakan kebahagiaan dan keintiman yang mendalam. Tingkat Kesukaan (Favorability) naik dari 65% menjadi 72%! 】
【 Ding! Selamat! Pengguna mendapatkan tambahan uang tunai pribadi sebesar Rp 70.000.000! Saldo langsung dikirim ke rekening BCA Anda! 】
Suara sistem yang berdenting di kepalanya tidak membuat Farrel berhenti. Justru, tambahan uang itu menjadi bukti nyata bahwa sistem mendukung setiap langkah intim yang ia lakukan dengan wanita yang terpikat olehnya.
Ciuman mereka kian memanas dan dalam.
Farrel perlahan mengangkat tubuh Nisa yang ramping, mendudukkannya di atas meja kayu warung yang kokoh, mengabaikan sisa mangkuk soto yang sudah bergeser ke tepi.
Nisa memisahkan kedua pahanya yang terbalut celana jin ketat, membiarkan posisi Farrel berada di antara kedua kakinya, mempererat kedekatan tubuh mereka.
Tangan kasar Farrel yang biasanya memegang setir angkot kini mulai menjelajahi pinggang ramping Nisa, lalu perlahan merayap naik ke balik kaus katun tipis yang dikenakan gadis itu.
Kulit punggung Nisa terasa begitu halus dan hangat di bawah telapak tangannya. Nisa membusungkan dadanya saat tangan Farrel mulai bergerak ke depan, mengusap lembut area sensitifnya dari luar pakaian dalam.
"Ahh... Farrel... Emhh..." Nisa mendesah pasrah di sela-sela lumatan bibir mereka.
Tubuhnya bergetar hebat menerima sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pengalaman pertama ini begitu intens, hingga membuatnya lemas tak berdaya di dalam pelukan Farrel.
Hujan di luar warung semakin lebat, petir sesekali menyambar membelah langit Bogor, menyamarkan suara desahan dan deru napas dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara di dalam tenda.
Namun, tepat saat Farrel hendak menaikkan intensitas sentuhannya untuk membuka lembar baru yang lebih intim, indra pendengaran supernya yang diberikan oleh sistem menangkap suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati warung tenda tersebut, membelah suara derasnya hujan.
"Nisa! Nisa, kamu di dalam, Neng?!"
Suara parau seorang wanita paruh baya memanggil dari luar. Itu suara Ibu Siti Aminah, ibu kandung Nisa.
Nisa tersentak kaget.
Kesadarannya langsung kembali sepenuhnya.
Dengan wajah yang merah padam karena malu dan gairah yang belum tuntas, ia segera mendorong dada Farrel perlahan dan merapikan kausnya yang sedikit berantakan.
"I-Ibu, Rel..." bisik Nisa panik, napasnya masih terengah-engah.
Matanya yang sayu menatap Farrel dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus janji tersembunyi yang mendalam.
Farrel menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan kembali gairah singanya yang sempat membara. Ia tersenyum menenangkan, lalu mengusap pipi Nisa yang masih terasa hangat.
"Gak apa-apa, Nis."Rapikan dirimu dulu."
Farrel segera berbalik dan membuka sedikit kain penutup tenda warung. Di luar, seorang wanita paruh baya dengan payung yang sudah rusak tampak basah kuyup, wajahnya terlihat sangat panik dan cemas.
"Eh, Farrel? Kamu ada di sini?" Ibu Siti terkejut melihat Farrel yang membukakan pintu tenda.
Namun, rasa terkejutnya kalah oleh kepanikan yang mendera jiwanya. Ia langsung menerobos masuk ke dalam warung sambil memegangi ponsel jadulnya.
"Ibu? Ibu kenapa basah-basah begini? Ada apa?"
Nisa langsung menghampiri ibunya, mengambil alih payung rusak dan memberikan selembar kain kering untuk mengelap wajah ibunya.
"Nis... Ibu bingung, Ibu gemeteran dari tadi..."
Ibu Siti berbicara dengan suara bergetar, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan SMS notifikasi bank yang sama dengan yang dilihat Nisa tadi.
"Ini... ini beneran ada uang masuk tiga puluh juta ke rekening Ibu? Ibu tadi mau ngecek ke ATM tapi hujan gede banget."
"Ini uang dari mana, Nis?! Apa bank salah transfer? Ibu takut kita dituduh macem-macem!"
Ketakutan seorang wanita tua dari kalangan bawah sangat wajar. Bagi mereka, uang tiga puluh juta seolah jatuh dari langit adalah sebuah keajaiban yang menakutkan, bukan menyenangkan.
Nisa menatap Farrel sejenak, meminta persetujuan lewat tatapan matanya. Farrel mengangguk kecil sambil memberikan senyuman hangat yang penuh wibawa.
Nisa kemudian menggandeng tangan ibunya, membimbingnya untuk duduk di bangku kayu.
"Ibu, tenang dulu. Uang itu gak salah transfer. Uang itu resmi dan legal. Itu... itu uang dari Farrel, Bu."
"Dari Farrel?!" Ibu Siti langsung menoleh ke arah Farrel dengan mata membelalak,
menatap supir angkot yang biasanya ia beri makan gratis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Rel... kamu... kamu dapet uang dari mana sebanyak itu? Kamu gak main judi slot atau dapet uang haram, kan?"
Farrel melangkah maju, lalu membungkuk sedikit di hadapan Ibu Siti dengan sikap yang sangat sopan.
"Enggak, Bu. Farrel berani sumpah, ini uang halal hasil kerja keras Farrel dari investasi online yang selama ini Farrel tekuni diam-diam.
"Farrel tahu besok adalah batas akhir pembayaran sewa ruko ini. Farrel gak bisa tinggal diam lihat Ibu dan Nisa yang selama ini selalu baik sama Farrel, diusir dari sini."
Ibu Siti tertegun mendengar penjelasan Farrel.
Nada bicara Farrel begitu tenang, berwibawa, dan tidak ada keraguan sedikit pun. Perlahan, air mata wanita tua itu menetes menahan haru yang luar biasa.
"Ya Allah, Rel... Ibu gak tahu harus ngomong apa..." Ibu Siti langsung memeluk Farrel dengan penuh rasa syukur.
"Kamu penyelamat keluarga Ibu, Nak..."
Di belakang ibunya, Nisa menatap Farrel dengan pandangan yang kian mendalam.
Rasa cinta dan keterikatan emosionalnya kini telah terkunci sepenuhnya pada pria itu.
Namun, di tengah suasana haru tersebut, ketajaman indra Farrel menangkap suara raungan mesin motor yang sangat bising mendekati warung soto.
Bukan hanya satu, melainkan ada sekitar lima sampai enam motor yang sengaja digerung-gerung di depan tenda.
Brak!
Salah satu tiang penyangga tenda warung ditendang dari luar hingga miring, membuat air hujan yang tertampung di atas terpal tumpah mengalir ke dalam.
"Heh! Supir angkot sialan! Keluar lu! Lu pikir bisa lolos setelah hajar anak-anak pangkalan?!"
Sebuah suara melengking penuh amarah berteriak dari luar, menantang badai malam itu.
mau tanya thor apakah dunia yang ditempatin skrng adalah dunia bumi sama kek duni kita? baik artis entah indo, korea, jepang dll? baik perusahaan juga? jika iya mungkin saya akan donate berupa saweria jika ada
karena saya mencari novel yang benar benar hanya dunia modern mirip kek dunia kita 100 persen