Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hari Pertama Pasutri
"Kenapa kamu tidur di sofa?" Tanya Ryu saat melihat Gladys sudah berbaring di sofa dengan guling dan bantal.
"Gak apa - apa, nyaman kok." Kata Gladys.
"Tidur di ranjang aja. Biar aku yang tidur di sofa." Kata Ryu.
"Biar aku aja. Kalau aku gak sempit dan panjangnya juga pas. Kalau Abang nanti gak nyaman." Tolak Gladys.
"Pindah ke ranjang sendiri, atau aku gendong." Kata Ryu.
"Aku di sini aja." Kukuh Gladys.
"Dys!" Ujar Ryu sambil berkacak pinggang dengan tatapan yang tak ingin di bantah.
Namun, ternyata Gladys tak semudah itu di bujuk. Ia masih saja kukuh ingin tidur di sofa karena merasa lebih aman jika tidur di sofa.
"Apa alasan kamu mau tidur di sofa?" Tanya Ryu.
"Aku lebih nyaman aja. Lebih ngerasa aman tidur di sini." Jawab Gladys.
"Jadi kamu was - was, tidur sama suami sendiri?" Ledek Ryu.
"Ini kan cuma pernikahan kontrak! Wajar dong, kalau aku was - was." Jawab Gladys.
"Ch!" Ryu tersenyum masam.
"Aku bukan laki - laki bajingan yang suka 'nyentuh' perempuan tanpa izin! Aku tau diri dan tau batasan." Ujar Ryu.
Ryu kemudian berbalik badan dan merebahkan diri di ranjang luas yang sudah di hias khas ranjang pengantin.
Sementara Gladys, masih dengan posisi setengah duduk di sofa sembari menatap ke arah Ryu yang memunggunginya.
Terbesit rasa bersalah karena ucapannya yang sepertinya sudah menyinggung Ryu. Namun, rasanya ia juga enggan meminta maaf karena merasa jika yang ia lakukan sebagai bentuk perlindungan diri, sudah benar.
"Memangnya apa yang mau aku harapkan dari pernikahan kontrak? Berharap di Ratukan dan diperlakukan istimewa layaknya seorang istri? Gak mungkin!" Batin Gladys yang kemudian tidur dengan memunggungi Ryu.
Gladys terbangun saat mendengar suara shower yang menyala. Ia mengerjapkan mata dan sedikit kaget saat melihat tubuhnya sudah berbalut selimut.
Entah kapan Ryu menyelimutinya, namun, ia merasa sangat bersyukur karena ia memang memiliki alergi udara dingin.
"Pantes tidurku nyaman banget, padahal aku udah takut bakal kedinginan dan berakhir dengan flu." Batin Gladys.
"Siap - siap, kita turun sarapan. Yang lain udah nunggu di bawah." Kata Ryu.
"Emang ini jam berapa?" Tanya Gladys yang nampak terkejut karena Ryu bilang jika mereka sudah di tunggu untuk sarapan.
"Jam tujuh." Jawab Ryu sambil menunjuk ke arah jam di dinding.
Mendengar itu, Gladys pun buru - buru ke kamar mandi untuk mandi. Sementara Ryu hanya bisa geleng - geleng kepala sambil tersenyum melihat Gladys yang berlari ke kamar mandi.
"Gak usah lari, nanti kamu kepleset, lantainya basah."
Braaak!
Baru saja Ryu selesai berbicara, Ia mendengar suara sesuatu terjatuh di kamar mandi. Ryu pun buru - buru menghampiri untuk melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Kamu kenapa, Dys?" Tanya Ryu yang kemudian membantu Gladys bangun.
Gadis cantik itu terduduk di lantai sambil meringis seperti menahan rasa sakit.
"Aku kepleset." Jawab Gladys saat Ryu mengangkat tubuhnya.
"Makanya, kalo orang ngomong itu di dengerin! Kan baru aku bilang jangan lari, aku habis mandi, lantainya licin." Omel Ryu.
"Ada yang luka atau sakit?" Tanya Ryu kemudian.
"Gak apa - apa, Bang. Makasih, ya." Ujar Gladys.
Ryu kemudian keluar dari kamar mandi dan membiarkan Gladys untuk membersihkan diri. Namun, ia masih duduk di walk in closet untuk menunggui Gladys, barang kali ia akan butuh bantuan.
Tak lama, Gladys keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe. Ia berjalan dengan sedikit terpincang saat keluar dari kamar mandi.
"Kaki kamu terkilir?" Tanya Ryu.
"Abang ngapain di sini?" Gladys malah balik bertanya.
"Ya, barang kali kamu butuh bantuan." Jawab Ryu.
"Gak apa - apa, kok. Aku mau ganti dulu." Kata Gladys yang berusaha baik - baik saja meskipun ia merasakan nyeri pada lututnya.
Setelah selesai berganti pakaian dan mengeringkan rambut, Gladys pun menghampiri Ryu yang menunggunya sambil duduk di sofa.
"Loh! Kenapa sepreinya kotor gitu?" Tanya Gladys saat melihat noda merah seperti bercak darah di atas sprei.
"Biar Aslan gak curiga. Anak itu pasti bakal cari tau." Jawab Ryu. Ia memang sudah menyiapkan spuit untuk mengambil sedikit darahnya.
Gladys pun mengangguk mengerti. Ia kemudian mengambil tas kecil dan ponselnya sebelum keluar dari kamar.
"Pegangan, biar gak jatuh. Nati kita mampir ke Klinik sebelum ke Bandara." Kata Ryu sambil melingkarkan tangan Gladys di lengannya.
Lagi - lagi, Gladys kembali menurut kali ini. Mereka berdua kemudian segera turun ke Resto Hotel untuk sarapan bersama.
"Widih! Mesra banget pengantin baru." Goda Aslan saat melihat Ryu dan Gladys datang.
"Kak Gladys abis 'hajar' habis - habisan sama Bang Ryu? Kayaknya beronde - ronde deh, sampe pincang gitu." Tanya Aslan. Mendengar itu, Fey pun langsung mencubit pinggang Aslan yang asal bicara.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Fey kemudian.
"Gak apa - apa kok, Bun." Jawab Gladys sebelum duduk dan bergabung dengan keluarganya.
"Yakin gak apa - apa?" Tanya Ibu Gladys.
"Iya. Gladys gak apa - apa." Jawab Gladys sambil cengar - cengir.
Setelah selesai sarapan, Gladys dan Ryu pun langsung berpamitan karena mereka akan terbang ke Jerman siang nanti. Jadi, rencananya mereka akan langsung check out dan segera menuju ke Bandara.
"Kita mampir ke Klinik dulu." Kata Ryu pada supir yang mengantarnya.
Saat di periksa, ternyata ada memar di bagian lutut dan pergelangan kaki Gladys pun terkilir.
"Kita tunda dulu penerbangan ke Jerman, ya?" Tawar Ryu.
"Jangan, Bang. Aku gak apa - apa." Tolak Gladys.
"Gimana kamu mau kerja, kalau kaki kamu aja sakit gitu?" Tanya Ryu.
"Nanti setelah aku pijat - pijat, pasti bakal baikan kok." Jawab Gladys dengan wajah yang meyakinkan.
Ryu pun tak bisa melarang. Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke Bandara.
"Masih ada waktu satu jam. Kamu mau makan atau mau camilan? Biar aku ambilin." Tawar Ryu saat mereka menunggu di Lounge mewah yang menjadi salah satu fasilitas dari tiket first class milik mereka.
"Aku mau buah aja, Bang. Thank's, Bang." Jawab Gladys.
Ryu pun mengambilkan apa yang diinginkan Gladys. Ia juga mengambil air mineral dan Champagne yang terlihat menyegarkan.
"Ini buahnya." Kata Ryu sambil meletakkan buah potong dan juga air mineral di depan Gladys.
"Makasih, Bang." Ucap Gladys.
"Champagne?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Wah, aku mau coba." Kata Gladys dengan antusias sambil melihat ke arah deretan meja minum.
"No! Selama jadi istriku, kamu gak boleh minum - minuman beralkohol." Kata Ryu.
"Kenapa? Abang aja minum." Kata Gladys.
"Kamu gak pernah minum - minuman beralkohol sebelumnya. Jadi, lebih baik jangan mencoba." Kata Ryu.
"Dih! Sok tau." Kata Gladys.
"Aku tau semuanya, Dys." Bisik Ryu.
"Termasuk aku tau kalau kamu alergi dingin." Kata Ryu yang membuat Gladys terdiam.
Ingatan Ryu kemudian kembali ke momen satu hari sebelum pernikahannya. Saat itu ia sedang mengobrol dengan Bapak.
Bapak pun memberi tau banyak hal tentang Gladys dan kebiasaannya. Termasuk jika Gladys tak pernah mencoba minuman beralkohol juga tentang alergi dingin yang bisa membuat Gladys mengalami flu.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author