NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Bab 25 Lanjutan: Setelah Palu Ketok

Sidang diskors jam 12 siang.

Nadine nggak langsung keluar. Dia duduk di bangku saksi 5 menit lagi, nunggu kaki yang kesemutan reda. Perutnya narik-narik, tapi dia tahan.

Di luar, wartawan udah kayak gerombolan. Begitu pintu kebuka, kamera nyamber.

“Nyonya Nadine! Apa Anda takut diceraikan Hendra setelah ini?”

“Apa Anda menyesal menikah dengannya?”

“Apa ini demi uang gugatan cerai?”

Nadine nggak jawab. Dia cuma pegang tas, jalan pelan dibantu adiknya.

Sampai satu wartawan teriak, “Anaknya nanti bakal malu punya ibu kayak Anda!”

Langkah Nadine berhenti.

Dia balik badan. Wajahnya pucat, tapi suaranya nggak gemetar.

“Anak saya nggak akan malu,” katanya.

“Karena dia akan tahu ibunya milih berdiri waktu semua orang nyuruh dia diem. Itu cukup buat saya.”

Flash mati satu detik.

Terus kerumunan itu diem. Nggak ada yang nanya lagi.

---

Di dalam mobil, adik Nadine baru berani nangis.

“Kak, lo nggak takut Hendra marah? Lo nggak takut nanti sendirian?”

Nadine ngelus perutnya.

“Gue lebih takut kalau anak gue nanya, ‘Mama, waktu Papa salah, Mama ngapain?’ Gue nggak punya jawaban kalau gue diem hari ini.”

Adiknya diem.

Nadine buka HP. Ada 47 pesan masuk. Semuanya dari nomor nggak dikenal. Caci maki, ancaman, ada juga yang bilang “Perempuan murahan.”

Dia hapus semuanya.

Terus dia buka satu chat: dari Liana.

“Kamu aman? Kalau butuh apa-apa, kabarin. Gue ada.”

Nadine nggak bales. Dia simpan nomor itu dengan nama: Kak Obat.

Kayak pengingat kalau kebaikan masih ada.

---

Di ruang tahanan, Hendra nonton rekaman sidang dari HP pengacaranya.

Pas denger kalimat Nadine soal anak, dia lempar HP-nya ke tembok.

“Dia bunuh gue, sialan!” teriaknya ke pengacara.

“Gue kerja keras 10 tahun biar dia hidup enak! Terus dia buka mulut gitu di pengadilan?”

Pengacara cuma diem.

“Hendra, dia nggak bunuh lo. Lo yang bunuh diri lo sendiri waktu rekam suara itu.”

Hendra duduk di lantai.

Untuk pertama kalinya, dia nggak bisa nyalahin Liana.

Yang ngancurin dia hari ini, orang yang paling dia percaya.

Dia ambil pena dan kertas dari meja.

Nulis satu kalimat, terus sobek. Nulis lagi, sobek lagi.

Sampai akhirnya dia nulis:

Nadine, kalau lo baca ini, jaga anak kita. Gue nggak minta maaf sekarang. Gue nggak pantas. Tapi gue mau dia tahu, Papa pernah salah, dan Mama yang benerin.

Dia lipat kertas itu. Nggak dikirim. Dia nggak tahu mau kirim ke mana.

---

Jam 7 malam, Liana pulang ke apartemen.

Rara udah nunggu di sofa bawa dua mangkok bakso.

“Gue liat live sidangnya,” kata Rara.

“Nadine gila sih. Gue aja merinding.”

Liana duduk, ambil bakso, tapi nggak makan.

“Gue nggak nyangka dia bakal sejauh itu, Rara. Gue kira dia bakal diem demi kandungannya.”

“Itu namanya ibu,” kata Rara.

“Lo juga bakal gitu nanti.”

Liana ketawa kecil.

“Gue aja belum nikah, Rara.”

“Yaudah, calon bapaknya siapin mental dari sekarang,” Rara nyenggol lengan Liana sambil nunjuk ke Arka yang baru masuk bawa map.

Arka taruh map di meja.

“Ini hasil audit internal donor. Mereka bilang program Chad bisa lanjut, tapi Yuli resmi jadi koordinator. Lo cuma jadi pengawas dari Jakarta.”

Liana ngangguk.

“Bagus. Memang harusnya gitu. Gue nggak cocok jadi wajah lapangan.”

Arka duduk di sampingnya.

“Lo oke?”

Liana diem sebentar.

“Oke. Gue capek, tapi oke. Hari ini Nadine ngajarin gue satu hal: kadang musuh terbesar lo, bisa jadi orang yang nyelamatin lo juga.”

“Orang?” tanya Arka.

“Dia,” kata Liana pelan.

“Anaknya Nadine. Belum lahir aja udah bikin ibunya berani.”

---

Jam 11 malam, Nadine nggak bisa tidur.

Kontraksi ringan mulai datang. Adiknya panik, langsung telpon RS.

Di ambulans, Nadine megang tangan adiknya.

“Kak, kalau gue kenapa-kenapa… tolong kasih tahu anak gue. Kasih tahu dia, Mama milih jujur.”

Adiknya nangis.

“Lo nggak kenapa-kenapa, Kak. Lo kuat.”

Di tengah jalan, Nadine buka WhatsApp.

Dia ketik ke nomor Kak Obat:

“Kak Liana, kalau anakku lahir, boleh nggak aku kasih nama tengahnya ‘Liana’? Biar dia inget, pernah ada perempuan yang ngajarin ibunya buat berani.”

Pesan itu nggak terkirim. Jaringan mati.

Tapi Nadine senyum.

Cukup dia yang tahu.

Bersambung 🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!