Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dunia medis mengenal istilah syncope, yaitu suatu kondisi di mana aliran darah ke otak menurun secara mendadak, menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran atau merasa melayang. Bagi Kirana Larasati, kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Sofia Baskara memiliki efek yang jauh lebih dahsyat dari itu. Seluruh sendi di tubuhnya terasa melar, dan jantungnya berdegup dengan ritme yang kacau, seperti mesin tik tua yang dipaksa bekerja lembur.
"Jadi, aku hanya memberi mereka sedikit 'dorongan' agar kebohongan ini menjadi kenyataan"
Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Kirana, bergema di antara dinding lorong VIP yang sunyi. Selama ini, dia mengira dirinya adalah dalang di balik kerapian skenario ini. Dia yang menyusun draf kontrak, dia yang memetakan Pasal 3 tentang afeksi publik, dan dia yang memastikan tidak ada satu celah pun yang bisa mengendus kepura-puraan mereka. Namun, kenyataan pahit justru menghantam telak egonya. Mereka berdua hanyalah sepasang boneka kayu yang benangnya digerakkan dengan sangat lihai oleh seorang pensiunan detektif swasta.
"Kirana?"
Suara familiar itu memecah lamunan Kirana. Dia tersentak, menoleh dengan cepat, dan mendapati Radit sudah berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu memegang dua gelas tiramisu dalam mangkuk kaca kecil, lengkap dengan sendok perak yang berkilau. Senyum lebarnya yang khas terpatri di wajah tampannya, membuat tuksedo hitam yang dia kenakan malam itu kehilangan sedikit kesan kakunya.
"Aku mencarimu ke toilet, tapi kata pelayan kamu jalan ke arah sini" ujar Radit, melangkah mendekat. Dia mengernyitkan dahi saat melihat ekspresi wajah sekretarisnya. "Hei, mukamu pucat sekali. Kamu seperti baru saja melihat hantu penunggu hotel, atau jangan-jangan... gaun mahal pilihan Ibu ini terlalu ketat sampai kamu tidak bisa bernapas?"
Kirana tidak menjawab. Dia hanya menatap penuh pada Radit, mencoba mencari tanda-tanda apakah pria di depannya ini juga terlibat dalam konspirasi sang ibu. Namun, binar mata Radit yang murni, campur aduk antara cemas dan usil, memberi tahu Kirana bahwa bosnya ini sama bodoh dan tidak berdayanya dengan dirinya.
"Radit," bisik Kirana, suaranya terdengar sangat kering. "Ikut saya sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Kirana meraih pergelangan tangan Radit, mengabaikan fakta bahwa dia baru saja memecahkan rekor kontak fisik paling spontan di luar kontrak dan menarik pria itu menuju pintu darurat yang terhubung langsung ke balkon terbuka di sisi barat ballroom.
Angin malam Jakarta langsung menerpa wajah mereka begitu pintu besi itu tertutup rapat, meredam suara denting musik klasik dari dalam ruangan menjadi gumaman samar. Radit meletakkan dua mangkuk tiramisu di atas pembatas semen dengan bingung.
"Ada apa, Kirana? Kamu membuatku takut. Apa ada peretas yang membobol data keuangan perusahaan? Atau ada media yang tahu kalau pertunangan ini_"
"Kita sudah kalah, Radit," potong Kirana, suaranya datar namun sarat akan keputusasaan. Dia bersandar pada pagar pembatas balkon, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti taburan permata murah di bawah sana. "Proyek kita... resmi gagal total."
Radit melangkah mendekat, wajah usilnya perlahan memudar, digantikan oleh keseriusan seorang CEO yang mendeteksi krisis besar. "Kalah? Apa maksudmu? Siapa yang membocorkannya?"
"Ibu Anda."
"Ibu? Bagaimana bisa? Ibu bahkan baru saja memelukmu di atas panggung dan memamerkan cincin tunanganmu ke Jendral haryo" Radit terkekeh tidak percaya.
Kirana membalikkan tubuhnya, menatap Radit dengan sepasang mata yang berkaca-kaca karena kombinasi rasa malu dan lelah yang luar biasa.
"Saya baru saja mendengar Ibu Sofia berbicara di telepon di lorong VIP. Beliau tahu tentang draf kontrak kita, Radit. Beliau tahu sejak hari pertama kita menyimpannya di laci meja kerja Anda. Semua drama stroller bayi, buku program hamil, makan malam darurat, hingga perjamuan pertunangan malam ini... itu semua adalah jebakan batman yang sengaja beliau pasang untuk kita."
Radit mematung. Mulutnya sedikit terbuka, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, seorang Raditya Baskara kehabisan kata-kata spontan. Jari-jarinya bergerak reflek menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"T-tahu? Dari hari pertama?" Radit menelan ludah dengan susah payah. "Bagaimana bisa? Aku yakin sudah mengunci laci itu dan menyembunyikan kuncinya di dalam pot tanaman hias di sudut ruangan!"
"Ibu Anda adalah mantan detektif swasta, Raditya!" suara Kirana naik satu oktav, frustrasinya akhirnya tumpah. "Mencari kunci di dalam pot tanaman bagi beliau itu setingkat dengan anak TK yang sedang bermain petak umpet! Kita ini bodoh. Kita merasa sangat pintar dengan kontrak itu, padahal kita hanya sedang menari di atas telapak tangan ibu Anda!"
Radit menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi, merusak tatanan pomade-nya yang rapi.
"Sial... Ibu benar-benar keterlaluan. Lalu... lalu kenapa dia diam saja? Kenapa dia malah meneruskan sandiwara ini sampai membuat kita bertunangan di depan ratusan orang?"
Kirana terdiam. Pertanyaan Radit menyentuh bagian paling sensitif dari rekaman pembicaraan yang dia kuping tadi. Jantung Kirana kembali berdegup kencang. Haruskah dia mengatakan bagian kedua dari kalimat Sofia? Bagian di mana Sofia mendeteksi perasaan asli Radit?
"Kirana? Kenapa diam? Apa lagi yang Ibu katakan?" tuntut Radit, langkahnya maju satu kali lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Kirana bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu di tengah dinginnya angin malam.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa harga diri dan keberaniannya sebagai seorang sekretaris yang kaku.
"Ibu Anda bilang... beliau melakukan ini karena beliau tahu... Anda sebenarnya sudah jatuh cinta pada saya. Beliau hanya ingin memberikan 'dorongan' karena Anda terlalu gengsi untuk mengakuinya."
Suasana di balkon seketika menjadi hening senyap. Hanya ada suara deru angin malam dan klakson kendaraan dari jalanan jauh di bawah sana.
Radit tidak membantah. Dia juga tidak tertawa atau mengeluarkan lelucon random untuk mengalihkan pembicaraan seperti yang biasa dia lakukan jika merasa terpojok. Pria itu hanya menatap Kirana dengan sepasang mata cokelat tuanya yang dalam, memantulkan cahaya lampu kota malam itu.
Topeng 'CEO konyol' yang selama bertahun-tahun dipakai Radit untuk menyembunyikan segala beban hidupnya, perlahan copot malam itu, hancur berkeping-keping di atas lantai balkon.
"Kalau jalannya sudah seperti ini," Radit bersuara, suaranya kini terdengar sangat rendah, parau, dan penuh dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Kirana meremang. "Menurutmu, apa yang harus kita lakukan, Kirana?"
"Kita harus membatalkannya," jawab Kirana cepat, meskipun hatinya terasa sedikit perih saat mengatakannya. "Kontrak itu sudah tidak valid karena pihak ketiga yang ingin kita kelabui ternyata sudah tahu sejak awal. Kita harus bicara jujur pada Ibu Sofia, meminta maaf, dan mengakhiri semua kegilaan pertunangan palsu ini sebelum melangkah lebih jauh."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Kirana tertegun. "Apa?"
Radit maju satu langkah lagi, membuat Kirana terpaksa menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas. Radit meletakkan kedua tangannya di pagar, tepat di kiri dan kanan tubuh Kirana, mengunci wanita itu dalam kukungannya. Aroma kayu cedar dan mint dari tubuh Radit kini menguar begitu kuat, hingga memabukkan kewarasan Kirana.
"Bagaimana kalau tebakan Ibuku... seratus persen akurat?" tanya Radit, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Kirana, menembus kacamata yang dikenakan wanita itu. "Bagaimana kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu, Kirana Larasati? Bukan sebagai Pihak Pertama dalam kontrak, tapi sebagai Raditya Baskara, seorang pria biasa yang kesepian dan menemukan dunianya kembali hidup sejak kamu mulai mengomel di depannya setiap hari?"
Napas Kirana tercekat. Lidahnya mendadak kelu, terkunci oleh pengakuan jujur yang keluar dari bibir pria yang selama ini dia anggap sebagai bos paling menyebalkan di muka bumi.