NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Bukan hanya dokter Dita dan Andara yang berada di ruang laktasi bersama Lily, seorang perawat dan Mira ikut masuk.

“Buka kemejamu, Ra, kita akan melakukan metode skin to skin untuk Lily.”

Mata Andara membola, sekilas ia sempat melirik Mira yang masih saja menatapnya dengan galak sekaligus merendahkan Andara.

“Sa…ya….ti..dak bisa dokter.”

“Kamu bisa Ra ! Saya yakin kondisi Lily akan membaik setelah menjalani metode ini denganmu.”

“Bagaimana kalau kondisi Lily malah semakin memburuk ?”

Sambil tersenyum, dokter Dita mendekati Andara dan menyentuh bahunya.

“Kamu adalah seorang ibu yang luar biasa, Ara dan Fajar pasti bahagia melihat ibunya bisa membantu bayi lain.”

Kepala Andara menunduk, tidak ingin ada yang melihat air matanya menetes saat mendengar nama Fajar disebut.

“Saya takut dokter,” gumam Andara.

“Metode ini tidak akan menyakiti siapa-siapa bahkan Lily. Kalau memang tidak berhasil, saya akan mencari cara lain. Tolong bantu saya ya Ra.”

Tiba-tiba Lily kembali menangis, suaranya semakin parau dan seluruh kulitnya kemerahan bahkan di beberapa bagian mulai membiru.

Melihat kondisi Lily, Andara kembali teringat pada Fajar. Hati keibuannya langsung iba. Tidak perlu diminta dua kali oleh dokter Dita, Andara langsung melepaskan baju pelindung dan kemejanya.

“Terima kasih Ra.” Dokter Dita tersenyum lega.

Perawat yang sejak tadi menjaga Lily mulai membuka penutup bayi itu satu persatu, hanya menyisakan pampers.

“Jadi kamu biasa melakukan hal semcam ini ?” sinis Mira saat melihat Andara memakai bra menyusui.

“Berapa bayaran yang kamu minta kalau semua ini berhasil ?”

Mendapat perlakuan sinis Mira, spontan Andara menurunkan kedua tangannya dan menjauhi Lily yang hampir berpindah ke dalam pelukannya.

“Sa…ya….”

Dokter Dita menghela nafas, menahan emosi yang ingin meledak. Tangan dokter Dita menahan Andara yang sudah memakai kembali kemejanya dan siap mengancingnya.

“Tolong hargai Andara, bu Mira. Seharusnya ibu bersyukur karena bisa-bisanya Andara ke rumah sakit di saat kondisi cucu anda tidak baik-baik saja.”

Mira tidak menjawab namun caranya menatap Andara yang sinis dan congkak membuat dokter Dita naik darah namun tidak mungkin meluapkannya.

Dokter Dita memberi isyarat supaya pakaian Lily dikenakan lagi.

“Tempatkan Lily di inkubator dan tolong siapkan dokumen yang perlu ditandatangani ibu Mira.”

“Baik dokter.”

“Dokumen apa ?” Mira menautkan kedua alisnya.

“Pernyataan kalau ibu tidak setuju dengan tindakan yang diambil dokter untuk menyelamatkan Lily,” sahut dokter Dita kalem dan senyuman basa basi.

“Saya tidak bilang begitu !” tukas Mira sambil melotot.

“Pakai kembali kemejamu Ra.” Dokter Dita yang sudah kesal tidak menanggapi protes Mira.

“Kita cari tempat untuk ngobrol.” Andara mengangguk sambil mengancingkan kemejanya.

Mira bergumul dengan pikiran dan perasaannya, antara panik, gengsi dan jijik saat membayangkan cucunya disapih perempuan modelan Andara.

Dilihat dari wajahnya yang masih belia, Mira yakin kalau Andara bukan anak baik-baik. Tebakannya Andara hamil gara-gara pergaulan bebas dan laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggungjawab.

“Dokter tunggu !”

Tidak tahan melihat nafas Lily mulai tersengal, Mira membuang semua gengsi dan pikiran buruknya.

“Tolong selamatkan Lily. Saya tidak keberatan dia membantu dokter.”

“Namanya Andara, bu Mira, bukan dia,” sahut dokter Dita dengan suara kalem namun tegas.

Mira menarik nafas panjang. “Maaf. Tolong bantu cucu saya Andara.”

Kalau tidak ingat dirinya adalah seorang dokter, Dita pasti memilih pergi meninggalkan Mira apalagi wanita baya itu tidak benar-benar tulus minta tolong pada Andara.

”Kalau kamu keberatan…..”

“Saya bersedia dokter,” potong Andara tanpa keraguan sedikit pun.

Tidak ada dendam di hati Andara karena baginya keselamatan Lily lebih penting dari apapun juga. Dilecehkan dan dipandang rendah oleh orang-orang seperti Mira adalah hal yang biasa untuk Andara.

***

Seakan-akan Lily adalah putri kandungnya, tanpa canggung Andara menggendong bayi berbobot 3 kg itu dengan penuh kasih sayang.

Dekapan tulus seorang ibu membuat Lily berhenti menangis dan menggeliat manja sambil mengerjap-kerjapkan mata seolah-olah ia bisa melihat wajah Andara yang sedang mengajaknya bicara sambil tersenyum.

Tanpa diarahkan, bibir mungil itu menemukan sumber kehidupan baru dan langsung menghisapnya seperti oase di padang gurun tandus.

Jari jemari Andara yang bebas membelai pipi Lily yang mulai merona lalu mengelus bahu dan akhirnya bersentuhan dengan telapak tangan mungil yang mulai hangat.

Bila tidak melihat secara langsung, rasanya Mira tidak akan percaya kalau metode yang dilakukan dokter Dita bisa berpengaruh pada cucunya.

Dan Andara memang layak disebut seorang ibu meski usianya masih belia. Bukan hanya Lily, sebagai seorang ibu juga, Mira bisa merasakan ketulusan Andara.

Sambil menarik nafas lega, bibir Mira pun menyunggingkan senyuman tipis.

“Jadi kapan Lily bisa kami bawa pulang ?”

“Kita bicara di luar bu Mira.”

Dokter Dita mendahului keluar dan mengajak Mira berbincang di ruang konsultasi yang letaknya berseberangan dengan NICU.

“Jadi kapan saya bisa membawa Lily pulang dokter ?” Mira mengulangi pertanyaannya saat keduanya sudah duduk berhadapan.

“Semoga dalam 3 atau 4 hari ke depan.”

“Lalu dia…. Maksudnya selama cucu saya dirawat apakah Andara harus melakukan hal yang sama srtiap hari ?”

Suara Mira sedikit meninggi dan nadanya menyiratkan keberatan jika Andara harus melanjutkan jadi ibu susu untuk Lily.

“Jika kondisi Lily semakin membaik dan sudah mau minum susu formula maka Andara tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi.”

Mira menghela nafas sambil membuang muka. Situasinya membuat hati Mira kesal. Bagaimana bisa orang asing yang baru saja ditemuinya harus menggantikan posisi Fanny, putri Mira, sebagai ibu susu Lily.

“Saya paham keresahan ibu Mira,” ujar dokter Dita yang mencoba bersikap profesional.

“Kita akan lihat perkembangan Lily dalam 24 jam ke depan. Saya dan tim dokter akan mengusahakan yang terbiak untuk Lily.”

“Hhhhhmmmm….. Kalau begitu saya percayakan Lily pada dokter sampai pemakaman putri saya selesai.”

Mira tidak bisa menahan air mata saat mengingat putrinya yang sudah tiada.

“Saya akan mengabarkan kondisi Lily sesering mungkin kepada ibu Mira dan pak Damar,” ujar dokter Dita sambil memberikan dua lembar tisu.

Mira yang masih terisak hanya mengangguk-anggukkan kepala.

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!