Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak di Atas Pasir Hisap
Fajar di Keraton Amarta menyapa dengan kehangatan yang semu. Bagi Nastiti, sinar matahari yang menembus celah jendela Bangsal Kenanga terasa jauh lebih terang daripada biasanya. Ia menghirup dalam-dalam aroma kayu cendana dan melati yang memenuhi ruangan—aroma kekuasaan yang selama berbulan-bulan di pengasingan tergantikan oleh bau tanah dan kabut Lawu yang lembap.
Nastiti duduk di kursi rias jati yang berukir rumit. Di hadapannya, tiga orang abdi dalem wanita bersimpuh dengan kepala tertunduk, memegang baki-baki berisi minyak wangi, lulur pengantin, dan bedak dingin.
“Gosok lebih keras!” Perintah Nastiti dengan suara tajam kepada abdi dalem yang sedang memijat lengannya. “Kulitku terasa kasar karena udara Lawu yang menjijikan itu. Aku harus tampak sempurna hari ini.”
Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum yang mengerikan. Bayangan Sekar Arum yang biasanya menghantui pikirannya kini ia buang jauh-jauh. Dalam benaknya, Sekar sudah menjadi seonggok daging tak bernyawa yang terkubur di bawah duka Arya.
“Rakyat jelata itu sudah musnah,” Bisiknya pada diri sendiri. “Hanya butuh satu tetes racun untuk menghapus kesalahan sejarah itu. Kini, tidak ada lag bayangan kusam yang menghalangi cahayaku.”
Saat undangan perjamuan mewah yang ditulis di atas perkamen emas tiba. Nastiti membacanya dengan tangan gemetar karena gembira. Kata-kata permohonan maaf dari Arya adalah musik terindah di telinganya.
“Siapkan kebaya beludru hitamku dengan sulaman emas bermotif Sidomukti!” Serunya. “Dan bawa kemari kotak perhiasan kerajaan yang diberikan Ibu Suri. Aku ingin setiap orang yang melihatku hari ini menyadari siapa Permaisuri mereka yang sebenarnya.”
Ia berdiri, membiarkan para abdi dalem membalut tubuhnya dengan kain sutra yang sangat mahal. Ambisinya terasa begitu dekat, tinggal selangkah lagi menuju singgasana yang ia idamkan. Ia merasa telah memenangkan segalanya, cinta, kehormatan, dan kekuasaan mutlak.
Di paviliun sebelah, Ibu Suri pun sedang menjalani ritual yang sama. Ia mengenakan kemben dan jarik dengan wibawa yang seolah tak tertandingi. Baginya, undangan Arya adalah bukti bahwa darah lebih kental daripada cinta.
“Arya akhirnya menyerah,” gumam Ibu Suri saat seoran abdi dalem menyisir rambutnya yang mulai memutih. “Dia menyadari bahwa memimpin negeri ini sendirian dengan hati yang hancur adalah kemustahilan. Dia membutuhkan aku untuk menjadi otaknya, dan dia membutuhkan Nastiti untuk menjadi pendampingnya.”
Ia tersenyum angkuh, membayangkan dirinya kembali duduk di balik tirai kekuasaan, mengatur titah raja, dan memastikan bahwa tidak akan ada lagi rakyat jelata yang berani menginjakkan kaki di lantai marmer keraton ini. Ia akan menjadikan Arya sebagai Raja bayangan yang tunduk pada kehendaknya, persis seperti rencananya bertahun-tahun yang lalu.
Siang itu, pintu Bangsal Kenanga terbuka lebar. Nastiti keluar dengan penampilan yang sangat memukau—berkilau oleh emas dan permata, wajahnya dipoles dengan kecantikan yang terlihat angkuh dan dingin. Di sampingnya, Ibu Suri melangkah dengan dagu terangkat, memegang tongkat kebesarannya.
Mereka berjalan di sepanjang koridor, melewati prajurit yang memberikan hormat senjata. Setiap langkah mereka diiringi oleh suara denting perhiasan emas, sebuah simfoni kesombongan yang memenuhi udara.
“Lihat mereka, Ibu,” bisik Nastiti sambil menatap para abdi dalem yang bersujud di sepanjang jalan. “Mereka tahu siapa tuan mereka yang sebenarnya.”
Ibu Suri hanya mengangguk kecil, matanya menatap lurus ke arah Bangsal Utama di mana jamuan mewah telah menanti. Mereka melangkah dengan penuh keyakinan, tidak menyadari bahwa dibalik kemegahan kain-kain sutra yang menghiasi dinding bangsal, mata-mata Seno sedang mengawasi, dan di dalam kegelapan di balik singgasana, Arya Wijaya sedang menatap mereka dengan tatapan seorang algojo yang siap menjatuhkan vonis.
Perjamuan itu telah siap. Meja panjang penuh hidangan lezat sudah tertata. Namun, di antara wangi masakan, terselip aroma penghakiman yang sudah matang.