NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Takdir yang Bertemu

Sementara Axel sibuk menghabiskan makan malamnya di gang sempit, kemewahan kediaman Arsen justru sedang dilanda badai ketegangan.

Arsen baru saja melangkah masuk melewati pintu ganda rumahnya yang megah dengan langkah kaki yang kentara berat.

Jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lewat. Rumah sebesar istana itu terlihat terang benderang oleh pendar lampu kristal mahal, tetapi atmosfer di dalamnya rasanya terlampau kosong dan mati.

Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga bernuansa monokrom tersebut, Arsen langsung melonggarkan simpul dasi sutranya dan membukanya dengan gerakan kasar.

Hari ini benar-benar menguras seluruh sisa energi fisik dan mentalnya hingga ke batas maksimal.

"Selamat malam, Tuan Besar," seorang kepala pelayan paruh baya bergegas mendekat dari arah dapur. Wajahnya yang biasa tenang tampak sedikit pucat dengan gestur tubuh yang gemetar gelisah.

Arsen hanya mengangguk singkat tanpa memandang wajah pelayan tersebut, ia melempar dasinya ke atas sofa kulit. "Axel di mana? Sudah tidur di kamarnya?"

Pelayan itu meremas kedua tangan sendiri, suaranya bergetar ketakutan saat harus menyampaikan laporan. "Itu... anu, maafkan saya, Tuan Besar. Den Axel... ternyata belum pulang ke rumah."

Langkah kaki Arsen seketika terhenti sempurna. Pria matang itu membalikkan tubuh tegapnya dengan gerakan cepat, menatap tajam sang pelayan. "Belum pulang? Apa maksudmu? Bukankah sore tadi Raka sudah meminta sopir untuk memulangkannya?"

"B-benar, Tuan," jawab si pelayan sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Tadi sore Den Axel memang sudah diantar pulang oleh Pak Jono. Namun, karena sudah waktunya makan malam dan Den Axel tidak kunjung turun, saya takut terjadi sesuatu. Jadi saya memberanikan diri membuka pintu kamar dengan kunci cadangan... dan ternyata di dalam kosong, Tuan. Den Axel tidak ada di kamarnya. Jendela balkonnya terbuka."

Rahang tegas Arsen seketika mengeras kuat. Kilatan amarah yang dingin mulai memercik di sepasang matanya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, dan putranya yang baru saja membuat masalah besar di sekolah siang tadi, sekarang justru berani kabur berkeliaran entah di mana. Benar-benar pembangkangan yang di luar batas toleransinya.

"Hubungi ponselnya sekarang," perintah Arsen dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan ancaman yang mengerikan.

"Sudah, Tuan. Panggilannya selalu dialihkan atau sama sekali tidak diangkat oleh Den Axel."

Kesabaran Arsen akhirnya benar-benar pecah tak bersisa malam itu. Ia langsung menghubungi Raka dengan satu perintah mutlak untuk melacak koordinat GPS ponsel anaknya saat itu juga.

Setelah mendapatkan titik lokasi yang dikirimkan oleh Raka melalui pesan singkat, Arsen langsung menyambar kunci mobilnya sendiri, mengabaikan rasa lelahnya, dan melesat membelah jalanan kota dengan amarah yang memuncak.

...----------------...

Di saat yang sama, Axel baru saja meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Melihat piring bambu itu kosong bersih, Alana menyunggingkan senyum puas yang amat lebar.

"Nah, gitu dong! Cowok itu kalau makan harus habis bersih," puji Alana riang.

Axel menatap piring kosong di hadapannya, lalu tanpa diduga menggumamkan satu kata dengan suara yang sangat pelan. "Enak. Rasanya jauh lebih enak dan hangat daripada makanan yang biasa dimasak oleh koki profesional di rumah saya."

Alana langsung meledakkan tawa renyahnya. "Wah, wah! Berarti chef pribadi di rumah gedongan mu itu harus disuruh magang ngulek cabai dulu sama kakak nih kapan-kapan."

Axel tidak ikut tertawa mendengar lelucon itu. Namun, untuk pertama kalinya sejak mereka berinteraksi, Alana bersumpah demi apa pun ia melihat kedua sudut bibir tipis milik anak itu bergerak terangkat ke atas, menciptakan sebuah lengkungan senyum yang teramat sangat tipis dan samar.

"Astaga..." gumam Alana dengan mata sedikit melebar. "Kamu barusan senyum kan? Iya kan? Wah, gue nggak salah lihat!"

Seketika itu juga, menyadari pertahanannya runtuh, otot-otot di wajah Axel kembali menegang kaku. Ekspresinya mendadak kembali datar seperti semula.

"Tidak. Saya tidak senyum," sanggah Axel defensif dengan nada sekaku mungkin.

"Ah, jangan bohong! Jelas-jelas barusan sudut bibirmu naik dikit. Lucu tahu kalau kamu senyum begitu."

Melihat reaksi penolakan yang kaku namun menggemaskan itu, Alana justru tertawa makin keras. "Eh, omong-omong, dari kemarin kita main ngobrol panjang lebar aja tapi belum kenalan," ujar Alana sambil mengulurkan tangan kanannya di atas meja plastik. "Nama kakak, Alana. Mahasiswi tingkat akhir yang merangkap jadi juragan ayam geprek paling laris di gang ini."

Axel menatap telapak tangan Alana sebentar dengan ragu, sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya sendiri. "Nama saya Axel."

"Nah, Axel. Mulai sekarang, kalau lagi ngomong sama kakak di kedai ini, tolong panggilannya diganti ya. Jangan pakai kata saya-saya terus. Kedengarannya kaku banget kayak orang lagi mau wawancara kerja," protes Alana jenaka. "Pake Aku aja kenapa sih, biar kedengarannya lebih akrab dan santai."

Axel tampak mengerutkan keningnya, mencerna permintaan tidak biasa itu. "Tapi... saya sudah terbiasa bicara seperti ini sejak kecil."

"Tuh kan, saya lagi," potong Alana cepat sambil menyentil pelan punggung tangan Axel dengan gemas. "Dicoba pelan-pelan. Oke?"

Axel menghela napas pasrah, menyerah pada sifat keras kepala gadis di depannya ini. "...Iya, Kak."

Tak lama setelah momen perkenalan singkat itu selesai, ponsel pintar milik Axel yang diletakkan di dalam saku jaket hitamnya mendadak bergetar hebat tanpa henti.

Layar digitalnya menyala terang, menampilkan barisan notifikasi puluhan panggilan tidak terjawab yang masuk bertubi-tubi sejak beberapa jam lalu.

Dan kini pada baris paling atas... sebuah nama tunggal muncul dengan pendar cahaya yang seketika membuat ekspresi wajah Axel kembali berubah total menjadi kosong, kaku, dan sedingin es.

Papa.

Tanpa berpikir dua kali, Axel langsung merogoh sakunya, menekan tombol samping ponselnya dengan tegas untuk mematikan daya layar digital tersebut secara sepihak, mengabaikan getaran panggilan yang terus berdering. Alana yang melihat gelagat itu mengernyitkan dahi.

"Nggak diangkat? Siapa tahu itu dari orang rumah yang lagi nyariin kamu, Xel. Ini udah malam banget loh."

"Tidak," jawab Axel telak.

"Kenapa? Takut diomelin ya karena kabur?"

"Tidak mau saja," jawab anak itu terlampau cepat dan tegas.

Alana terdiam sejenak, menatap lekat-lekat rahang kokoh Axel yang mengeras kuat. "Kamu... lagi ada masalah beneran ya sama orang rumahmu? Sama Papa kamu?"

Axel tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab. Ia mengunci rapat mulutnya.

"Kamu tahu nggak, Xel?" ucap Alana pelan dengan nada suara yang hangat, membuat Axel kembali mengangkat kepalanya. "Kadang-kadang... orang dewasa itu emang suka menyebalkan banget. Egois, mau menang sendiri, suka nuntut banyak hal, dan ngerasa pilihan mereka selalu paling bener tanpa mikirin perasaan kita."

Axel berkedip pelan, menyetujui kalimat itu secara mutlak di dalam hati kecilnya. "Benar."

"Tapi, kadang-kadang juga... mereka itu sebenarnya cuma nggak tahu gimana cara menyampaikan maksud dan emosi mereka dengan cara yang bener ke anak-anak mereka. Persis kayak anak kecil yang kalau lagi ngambek, malah milih buat diam karena nggak tahu harus ngomong apa," tambah Alana dengan senyum tipis yang sarat akan kedewasaan dan empati.

Wajah Axel tetap sedatar biasanya, namun sepasang telinganya mendengarkan setiap bait kalimat Alana dengan sangat saksama. "Apakah... Kakak saat ini sedang mencoba nyindir aku?" tanya Axel, mencoba mempraktikkan panggilan baru yang diminta Alana meskipun terdengar masih sedikit canggung di lidahnya.

Alana seketika tertawa renyah. "Yaudah, iya, kakak ngaku. Dikit doang kok nyindirnya," Alana sambil mengedipkan sebelah matanya jenaka.

Untuk pertama kalinya sepanjang malam yang larut itu, atmosfer di dalam kedai geprek kecil tersebut terasa jauh lebih ringan bagi seorang Axel.

Namun, kedamaian fana itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara deru mesin mobil mewah bersilinder besar tiba-tiba saja terdengar memecah kesunyian gang yang sepi.

Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal sempit terdengar bergaung, perlahan bergerak memasuki jalanan gang dan berhenti tepat beberapa meter tidak jauh dari area depan kedai Ayam Gepreknya.

Alana secara refleks langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dengan dahi berkerut, begitu pula dengan Axel.

Sebuah mobil sedan mewah bergaya eksekutif berwarna hitam metalik yang mengilat di bawah lampu jalan tampak terparkir dengan anggun di sana. Mobil yang terlampau mewah untuk lingkungan pemukiman sederhana seperti ini.

Jantung kecil Axel seketika berdegup kencang, menegang hebat di dalam rongga dadanya. Sepasang matanya melebar sempurna dengan kilatan rasa syok yang luar biasa. Ia mengenali plat nomor khusus dan bentuk mobil itu. Ayahnya telah menemukannya.

Sementara itu, Alana hanya bisa mengernyitkan keningnya bingung sambil memperhatikan mobil berkelas tersebut dari tempat duduknya. "Buset... punya siapa tuh mobil sport mewah banget? Nyasar apa gimana ya malam-malam begini masuk ke gang sempit?" gumamnya heran.

Axel tidak memberikan jawaban apa pun, tubuhnya mematung sempurna di atas kursi. Karena pada detik yang teramat menegangkan itu, pintu kemudi mobil mewah tersebut terbuka perlahan.

Sesosok pria bertubuh tinggi tegap dengan kemeja gelap yang lengannya digulung asal hingga sebatas siku melangkah keluar dari dalam kendaraan.

Langkah kakinya terdengar tenang, berwibawa, namun memancarkan aura intimidasi yang teramat kuat bahkan dari jarak kejauhan.

Alana yang awalnya bersikap santai, seketika itu juga langsung membeku di tempat duduknya saat pria itu berjalan mendekat ke arah pendar lampu warungnya.

Sepasang bola mata bulat milik Alana membesar sempurna karena rasa syok dan horor yang luar biasa hebat, sementara mulutnya sedikit terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Napas gadis itu mendadak tercekat di tenggorokan.

"Oalah..." gumam Alana dalam hati dengan perasaan ngeri, seluruh dunianya seolah runtuh seketika malam itu. "Kenapa lagi sih dengan jalan hidup gue yang penuh kesialan ini..."

Karena pria matang berwajah rupawan namun memiliki tatapan mata sedingin es yang baru saja turun dari mobil mewah itu tidak lain dan tidak bukan adalah dosen killer paling ia takuti di kampus... Arsen Laurent Wijaya.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, sang dosen eksekutif melihat secara langsung dengan sepasang matanya sendiri, putra sulungnya yang tengah ia cari mati-matian, sedang duduk berduaan menikmati makan malam dengan santai bersama mahasiswi paling berisik, paling merepotkan, dan paling ingin ia hindari di seluruh area universitas. Suasana malam itu seketika mencekam, siap meledak kapan saja.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!