Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Begitu menginjakkan kaki di Medan, Darren tidak mau membuang waktu dan langsung mengajak Reymond mendatangi sebuah rumah kontrakan.
"Loh Bos, bukannya kita harus ke rumah bersalin? Kenapa jadi ke sini? Ini rumah siapa?"
Tanya Reymond, merasa sedikit heran dengan perubahan rute mereka.
"Ini rumah Daniela. Tidak mungkin dia masih di rumah bersalin, kan sudah lewat lebih dari satu minggu sejak persalinannya."
"Oh iya, maaf!"
Reymond terkekeh pelan sambil menepuk jidatnya sendiri, merutuki kelalaiannya.
"Tapi Bos, kok rumahnya gelap sekali ya? Padahal ini kan belum terlalu malam."
Darren seketika terdiam. Kalimat Reymond barusan telanjur memantik rasa cemas di dadanya. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dengan langkah lebar, dalam kurang dari sepuluh detik Darren sudah berdiri di depan pintu rumah tersebut.
Tangannya langsung bergerak mengetuk pintu kayu di hadapannya. Tidak ada jawaban. Darren kembali mengetuk, kali ini dengan gerakan yang jauh lebih tidak sabaran. Namun, suasana di dalam rumah tetap hening tanpa tanda-tanda kehidupan.
"Dia sudah pergi. Salah apa aku, Rey, sampai dia tidak mau aku temui?" tanya Darren setengah memekik.
Dia menatap wajah asistennya. Ada getaran putus asa yang menyelinap dalam nada suaranya, terutama saat menyadari kemungkinan besar bahwa bayi yang baru dilahirkan Daniela adalah darah dagingnya sendiri.
"Katakan semuanya, Rey. Apa saja yang sudah aku lakukan sama dia dulu?"
Darren melangkah lunglai, lalu mendudukkan bokongnya di atas kursi teras yang berdebu.
"Bos, Anda... sudah memperlakukan Nona Daniela dengan sangat keterlaluan. Anda sudah mempermalukannya di depan umum. Bahkan, Anda sudah menghina dan menjatuhkan harga dirinya. Mungkin, saat di hotel waktu itu pun Anda..."
Reymond mendadak menggantung ucapannya. Dia merasa kalimatnya sudah berjalan terlalu jauh.
"Katakan saja, jangan sungkan! Aku harus tahu seperti apa kelakuanku dulu."
"Mungkin Anda sudah melecehkannya. Lihatlah ini."
Reymond menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal dari dalam tasnya. Darren langsung menyambar amplop itu dan mengeluarkan seluruh isinya dengan cepat.
Untuk beberapa saat, fokus Darren tersedot sepenuhnya pada barisan tulisan yang tertera di lembar demi lembar kertas tersebut.
"Ini perjanjian pernikahan?"
Desah Darren lirih.
Tepat setelah kalimat itu terucap, rasa sakit yang teramat sangat mendadak menghantam kepalanya. Semakin keras dia memaksa otaknya untuk memanggil kembali memori masa lalu, kepalanya justru semakin berdenyut hebat bagai dihantam benda tumpul.
Melihat atasannya mengerang kesakitan sambil mencengkeram kepala, Reymond yang panik langsung memapah tubuh Darren kembali ke dalam mobil dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat.
***
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota Medan menuju rumah sakit, Darren terus mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Namun rasa sakit itu justru memicu paksa memori yang selama ini terkunci di otaknya.
Begitu dia memejamkan mata untuk menahan nyeri, sebuah kilasan memori mendadak berputar cepat di kepalanya seperti potongan film rusak.
Ia merasa suasana di sekelilingnya tampak temaram dan bising oleh musik yang berdentum keras memekakkan telinga. Darren melihat dirinya sendiri sedang menyeret kasar seorang perempuan yang berpakaian super seksi dari arah stage. Namun, perempuan itu melawannya dengan sekuat tenaga. Dengan sepasang mata yang menyala penuh amarah. Meski wajahnya samar, Darren tahu pasti perempuan itu adalah Daniela.
Darren tersentak dan langsung membuka matanya lebar-lebar. Napasnya memburu dengan keringat dingin yang membanjiri pelipis.
Begitu mobil berhenti di depan lobi IGD rumah sakit, Reymond langsung turun dan membuka pintu di sisi Darren untuk membantunya keluar.
"Bos, kita sudah sampai. Bisa jalan? Atau saya panggilkan perawat bawa kursi roda?"
Tanya Reymond, sangat panik melihat wajah atasannya yang pucat pasi.
"Tidak usah, Rey. Papah aku saja. Denyutannya sudah agak reda,"
Gumam Darren dengan suara serak, mencoba berdiri sambil bertumpu pada bahu Reymond.
Mereka berdua berjalan perlahan memasuki ruang pemeriksaan. Setelah dokter memberikan obat pereda nyeri dan meminta Darren untuk beristirahat di ranjang periksa, barulah suasana menjadi sedikit lebih tenang.
"Bagaimana kondisinya, Bos? Masih terlalu pusing?" Tanya Reymond khawatir setelah dokter meninggalkan mereka.
Darren menghela napas berat, mencoba menata kembali pecahan gambar yang tadi melintas di benaknya.
"Aku baru saja melihat potongan ingatan di dalam kepalaku, Rey. Hanya sekilas dan sangat cepat."
Reymond menatap Darren dengan raut kaget.
"Maksud Anda, memori Anda mulai kembali?"
"Iya. Aku melihat diriku sedang marah besar di sebuah tempat yang sangat bising. Aku menarik tangan seorang perempuan dengan kasar, tapi dia melawan. Dan perempuan itu aku yakini adalah Daniela" ujar Darren dengan memejamkan mata dan mencoba kembali mengingat yang lainnya.
"Dia menyentak tanganku dan menatapku penuh amarah. Dia sama sekali tidak takut padaku."
Darren menarik napas sambil menatap tangannya dengan rasa bersalah.
"Aku bisa merasakan kalau tindakanku malam itu benar-benar keterlaluan sampai membuat dia semarah itu."
Reymond terdiam sejenak, menimbang-nimbang kalimat sebelum akhirnya bersuara.
"Itu pasti kejadian di Neon Beats night club, Bos. Lalu anda membawanya ke hotel. Dan itu adalah malam sebelum Nona Daniela menghilang. Anda memang mendatangi tempat itu dalam keadaan emosi tinggi setelah mengetahui latar belakang pekerjaannya. Tapi Nona Daniela memang bukan tipe wanita yang bersedia diinjak-injak begitu saja."
Darren menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Rasa bersalah tetap menghimpit dadanya, bukan karena dia membuat Daniela menangis, melainkan karena dia tahu egonya dulu telah menindas perempuan sekuat Daniela hingga memilih untuk pergi menjauh.
"Baru ingatan sekilas itu saja sudah membuatku sadar kalau aku yang memulai kekacauan ini, Rey,"
Bisik Darren dengan nada frustrasi.
"Aku harus menemukan dia. Aku ingin tahu apa yang membuat dia pergi dan sampai tidak mau bertemu aku lagi. Aku bisa merasakan kebenciannya sekarang, Rey."
Reymond mengangguk pelan, memahami niat kuat yang terpancar dari mata atasannya.
"Saya akan mengerahkan orang kita di Medan untuk memperluas pencarian dan mencari informasi sekecil apapun dari tetangga sekitar kontrakannya."
"Lakukan secepatnya, Rey!"
Perintah Darren tegas, mengabaikan sisa-sisa rasa pening yang masih bersarang di kepalanya.
***
Darren mematung di teras balkon kamar hotelnya. Sepasang matanya menatap kosong ke arah deretan lampu kota Medan yang mulai menyala satu per satu di bawah sana. Ia tengah berusaha keras, memaksa otaknya untuk mengingat kembali setiap jengkal kenangan tentang Daniela yang masih terkunci rapat.
Sudah tiga hari dia berada di Medan, namun belum ada tanda-tanda wanita itu akan ditemukan. Penyelidikan Reymond ke lingkungan sekitar kontrakan itu masih membentur dinding tebal. Keberadaan Daniela seolah menguap begitu saja.
"Sebesar apa kesalahan aku sama kamu, Daniela? Sampai kamu pergi dan tidak ingin aku temukan?"
Jemari Darren mencengkeram erat pagar pembatas besi di depannya, menyalurkan kegelisahan dan rasa frustrasi yang kian menumpuk di dalam dada. Setiap kali ia mencoba memanggil nama wanita itu, dadanya selalu berdenyut nyeri. Kilasan ingatan saat Daniela melawan balik di tempat bising waktu itu kembali membayangi pikirannya, membuat Darren semakin penasaran sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dulu.
Pintu kaca balkon bergeser pelan, memecah keheningan. Reymond melangkah masuk dengan memegang sebuah map tipis di tangannya.
"Bos,"
Panggil Reymond pelan, tidak ingin mengejutkan atasannya yang terlihat sedang melamun.
Darren tidak berbalik, namun ia sedikit melonggarkan cengkeraman tangannya pada pagar besi.
"Bagaimana, Rey? Ada perkembangan?"
Reymond menghela napas pendek, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Darren ingin marah, ingin berteriak dan menghancurkan apapun saat itu juga untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi ia tidak ingin mengulang kesalahannya di masa lalu.
"Pergilah!"
Reymond menunduk tak berdaya. Dia merasa bersalah, tapi apalah mau bagaimana, mungkin Daniela terlalu cerdik. Akhirnya ia pun mundur dan pergi.
Sementara itu sepeninggal Reymond, Darren yang terbiasa bersikap dingin dan tak perduli, kini harus merasakan frustrasi dan rasa bersalah yang mendalam. Hingga tak sadar matanya berkaca-kaca.
"Ya Tuhan, kemana aku harus mencari mereka? Daniela dan bayiku?"
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah
belum waktu ny mereka ketemu niih ,, ad aj halangan ny ,, 🤭🤭🤭