Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepingan Puzzle
Tidak ada yang berbeda dari sikap Ethan, atau Clarissa yang menampik perubahan itu sejak awal. Perjalanan pernikahan yang menjadi drama kebodohan. Terbuat dari apa hati Clarissa hingga selalu berbaik sangka.
Bagai melihat dua sosok bayangan yang berbeda namun menyatu. Sekilas Clarissa masih menipu diri bahwa dia berhalusinasi namun bayangan lain menyergapnya menunjukkan adegan mesra yang telah didapatnya.
Setiap paginya terlihat sama, seperti sejak awal menikah. Sepasang suami istri yang bercengkerama dan menikmati sarapan dan mengantar suami untuk berangkat bekerja dan istri yang patuh.
Rasa kalut mulai hinggap dikala bertahan sendiri di rumah yang tak sedikit menjadi idaman orang lain. Rasa kalut justru menakutinya dikala harus berjuang sendiri di dalam rumah seperti hari lalu. Namun kali ini berbeda karena tak ada satupun gerakan yang dilakukannya setelah melepas kepergian Ethan.
Tak ada membersihkan piring di dapur, tak ada menonton TV dan tak ada ide kreasi meski sekedar membuat kue atau mencoba resep baru.
Hanya rasa cemas dan bergidik ngeri, pikirannya tak mampu menjawab apa yang ditakutkan, apalagi mencari tau cara menghilangkan segala kekalutan.
Duduk di ruang tamu lalu berpindah ke kamar dan membaringkan diri tak mampu mengurangi ketidakpastian dihatinya.
Clarissa bangkit dari pembaringan setelah hampir satu jam bergerak gelisah disana, berjalan mengelilingi seisi kamar. Sepintas merapikan pakaian di lemari atau merapikan meja rias.
Kepalannya sedikit berdenyut, ada rasa sakit yang tak mampu diraba jemarinya. Rasa nyeri yang kecil namun menusuk dibagian yang dalam. Clarissa sesekali memijat kepalanya namun tak menemukan letak sakit itu.
Berjalan menuruni anak tangga dan mendarat di lantai terakhir memberikan rasa ragu harus kemana langkah kaki kali ini bergerak.
Ketidak pastian membawanya sampai ke teras rumah, menatap pemandangan sejauh matanya memandang. Memantapkan hati untuk keluar lebih jauh dan mengunci pintu lalu melewati pagi yang menjadi pelindung rumah indah itu.
Berjalan halus menikmati jalan yang sepi, semua terlihat sepi hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang terlihat keluar sekedar membuang sampah atau berbincang ringan dengan asisten rumah tangga di samping rumah majikannya.
Mereka ramah dengan menyapa dikala melihat Clarissa berjalan melewati depan rumah majikan mereka. Mereka hanya tau kalau Clarissa adalah penghuni di komplek itu, Clarissa hanya akan keluar dan bergabung jika ada keharusan.
Clarissa melanjutkan jalan santainya dan rasa cemas itu berkurang sedikit. Belum ada rasa lelah namun hanya rasa bingung. Kemana lagi harus berjalan dan apa pandangan orang jika melihatnya berjalan. Bukan karena gengsi namun pandangan orang yang menilai jika penampilan wanita itu terlihat kacau dan jauh berbeda dari sebelumnya.
Pikirannya sendiri yang menerka penilaian orang lain hingga memberikan rasa gelisah lagi, Clarissa memutuskan kembali ke dalam rumah dan melirik ke arah jam dinding. Angka di jarum pendek belum bergeser banyak, tapi baginya sudah berada diluar rumah cukup lama. Di pikirannya waktu sudah berjalan banyak dan langit jingga sebentar lagi tiba.
Clarissa hanya berharap waktu cepat berputar, tidak ada yang di tunggu. Hanya tidak ingin membeku sendiri di dinginnya sepi atau ditakuti pikiran yang kalut. Lebih baik ada Ethan di rumah meski berjarak, meski pada akhirnya dia kembali tidur di sofa asalkan rasa takut itu tidak membuat tubuhnya bergidik.
Clarissa membuka layar ponselnya ingin mencari kesibukan lain. Mendengarkan lagu favorit yang sudah lama lupa kapan terakhir kali diputarnya. Menikmati alunan lagu dan ditambah memeriksa galeri foto yang masih menyimpan kenangan demi kenangan antara dia dengan keluarganya atau bersama suaminya dan mertuanya. Semua tertata rapi disana.
Hingga pikirannya menuntunkan berkelana ke sosial media yang hanya sesekali dibukanya. Memeriksa beranda dan deretan berita terbaru dari teman-temannya. Hingga teringat wanita yang berhasil mengusik pikirannya sejak pertama kali mereka bertemu.
Clarissa memeriksa profil sosial media Ethan, masih sama seperti terakhir kali. Foto pernikahan mereka yang terlihat manis menjadi foto utama. Tidak ada pembaruan di berandanya, hanya beberapa pengikut yang bertambah.
Clarissa memeriksa deretan pengikut di sosial media suaminya, sedikit banyak dia tahu karena kebanyakan adalah teman sewaktu mereka kuliah. Sesekali Clarissa mengenang masa kuliah dulu karena teman Ethan akan menjadi teman Clarissa meski tidak akrab.
Hingga gerakan jemarinya terhenti di profil seseorang. Wajah yang cantik ean tidak asing, cukup lama dia menatap dan berpindah ke nama yang tertera.
"Namanya Liana" suaranya lirih dengan jantung yang memompa cepat.
Dilihatnya lebih dalam semua foto yang ditampilkan, Clarissa kini terlihat seperti detektif yang mencari kebenaran. Kebenaran yang siap menyayat hatinya. Beberapa kali terlihat Ethan meninggalkan jejak di beberapa foto, meski hanya tanda suka. Hal normal yang dilakukan pengikut dengan memberi respon atau komentar. Clarissa masih memakluminya dari dulu Clarissa bukan sosok yang posesif dan mengekang Ethan dalam berekspresi di dunia maya.
Namun kali ini, semakin dilihat membuat hatinya gusar. Wanita yang enggan dia sebut namanya lagi yang dilihatnya terakhir kali di hotel bersama suaminya. Wanita yang sempat dimaki dan dicakarnya.
Sakit kepalanya mulai terasa, menusuk di bagian paling dalam. Imajinasi liar itu mulai menakuti hingga menambah rasa sesak yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Wajahnya terasa panas namun tidak ada air mata disana, dia masih berusaha mencerna semua kepingan cerita yang didapatnya.
Seperti permainan puzzle yang harus disusun dengan sabar dan teliti, otaknya dipaksa bekerja lebih cepat dan bijak. Belum selesai dengan game yang tak terpecahkan, hatinya bertambah berisik dengan pertanyaan yang bercabang.
"Aku harus bagaimana?" pertanyaan yang bersuara di sanubarinya, jika dikeluarkan dari mulutnya sangat terlihat nada yang goyah.