Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuak
Nia sudah kembali terlelap —atau begitu yang terlihat oleh Nyonya Lestari. Masih ada sisa tangis dalam tidurnya. Nyonya Lestari mengusap kepalanya lembut.
Nyonya Lestari masih mengingatnya saat dia memutuskan untuk mengasuh Nia. Nyonya Lestari yang terpesona dengan bakat Nia begitu ingin membuat Nia mewujudkan mimpinya.
Selain itu, Nyonya Lestari yang sudah lama menginginkan seorang anak perempuan begitu tertarik dengan kepribadian Nia yang baik dan sopan.
Nyonya Lestari menatap wajah tidur Nia dengan tatapan penuh sesal. Dia menyesal tak dapat melindungi puteri yang begitu dia sayangi dari bahaya yang ternyata adalah suaminya sendiri.
Airmata kembali mengalir dari mata Nyonya Lestari. Dia begitu membenci suami yang sudah sangat ia percayai. Nyonya Lestari tak bisa membiarkan Nia berada dalam jangkauan suaminya. Tapi Nyonya Lestari tak ingin membiarkan Nia jauh darinya. Dia sudah begitu menyayangi Nia seperti puteri kandungnya sendiri.
"Ma," panggil Bayu pelan dari balik pintu kamar Nia. Nyonya Lestari mengusap airmatanya.
"Mama mau minta penjelasan kamu. Ayo bicara diluar," kata Nyonya Lestari sambil beranjak dari tepi tempat tidur Nia dan berjalan keluar.
Nyonya Lestari kembali menatap Nia yang masih terlelap dari ambang pintu sebelum benar-benar menutup pintu kamar Nia dan pergi ke ruang makan.
Tuan Laksono duduk tertunduk di ruang makan dengan wajah memar dan penuh luka pukulan dari Bayu. Nyonya Lestari duduk di hadapan Tuan Laksono dengan wajah kecewa bercampur marah. Bayu duduk di sebelah mamanya tanpa sudi menatap papanya.
"Sekarang jelaskan pada Mama, Bay. Kamu tadi bilang 'lagi'. Sebelumnya... Papa pernah ngelakuin itu ke Nia?" tanya Nyonya Lestari dengan nada suara yang sudah kembali tegas seperti saat sedang memimpin rapat pemegang saham di perusahaan. Bayu mengangguk perlahan. Nyonya Lestari terlihat menarik napas dalam-dalam lalu menghela napas panjang.
"Kapan?" tanya Nyonya Lestari pada Bayu sambil menatap tajam ke arah Tuan Laksono yang masih tertunduk.
"Empat tahun yang lalu, Ma," jawab Bayu.
"Empat tahun yang lalu?" tanya Nyonya Lestari pada Bayu, tak percaya. Bayu terdiam.
"Dan kamu selama ini diam?" tanya Nyonya Lestari.
"Bayu cuma mau ngasih kesempatan..."
"Kesempatan kamu bilang? Kesempatan buat ini terjadi lagi?" tanya Nyonya Lestari, marah.
"Maa..."
Nyonya Lestari menatap Bayu dengan penuh rasa kecewa.
"Ini juga permintaan dari Nia," kata Bayu akhirnya.
"Permintaan Nia?" tanya Nyonya Lestari memastikan dia tak salah dengar. Bayu mengangguk.
"Nia mohon pada Bayu waktu itu," kata Bayu perlahan.
"Dia minta Bayu buat nggak bilang Mama. Nia nggak mau keluarga ini hancur gara-gara Nia," lanjut Bayu. Nyonya Lestari memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam, memasukkan sebanyak mungkin oksigen yang tiba-tiba terasa hilang dari dadanya.
Nyonya Lestari membuka matanya perlahan, menghembuskan napasnya perlahan, mengatur emosinya agar tetap tenang meskipun hatinya sungguh-sungguh perih. Anak yang diasuhnya, berusaha menjaga agar keluarga ini tetap utuh dengan menyimpan luka hatinya sendirian.
'Nia... maafkan Mama, Nak,'
***
Angkasa segera melajukan motor sportnya dengan kecepatan penuh disaat matahari bahkan belum menampakkan sinarnya. Hari masih gelap. Namun, Angkasa tak peduli. Dia ingin segera tiba di tempat dimana Nia berada.
Angkasa benar-benar tak bisa tidur semalam setelah tak satupun panggilan teleponnya yang dijawab oleh Nia. Angkasa merasa cemas. Angkasa yang berniat mengganggu tidur Nia malah terganggu sendiri dengan pikirannya semalaman.
"Bagaimana mungkin orang ditelepon berkali-kali nggak bangun? Dia tidur atau pingsan?" gumam Angkasa malam itu.
Angkasa tak bisa benar-benar terlelap setelahnya. Hingga saat jam menunjukkan pukul 02.20, ponsel Angkasa berdering. Nia menelepon.
"Ya?"
Hening.
Lalu Angkasa mendengar suara yang seperti isak tangis.
"Nia? Kamu kenapa?" tanya Angkasa mulai sedikit panik.
Masih terdengar isak tangis yang seperti ditahan.
"Aku kesana sekarang," kata Angkasa sambil segera bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan," kata Nia lirih membuat Angkasa duduk di tepi tempat tidurnya lagi.
"Kenapa? Kalo kamu nggak bilang, aku kesana sekarang," kata Angkasa.
Hening.
Angkasa mencoba bersabar, menunggu agar Nia lebih tenang dan bisa mengatakan apa yang terjadi padanya.
"Aku nggak di rumah," kata Nia akhirnya. Angkasa mengerutkan kedua alisnya.
"Kamu dimana? Aku kesana sekarang," kata Angkasa dengan nada tegas yang sulit ditolak.
"Aku... di villa Mama," kata Nia, masih sesekali terdengar isaknya.
"Share lokasinya. Aku kesana sekarang," kata Angkasa lalu memutus sambungan teleponnya dan beranjak dari tempat tidurnya.
Angkasa mengetuk kamar Nyonya Mahendra perlahan. Terdengar jawaban samar dari dalam kamar. Tak lama kemudian, Nyonya Mahendra muncul dari balik pintu dengan muka kantuknya.
"Ada apa, Sayang? Kamu nggak bisa tidur?" tanya Nyonya Mahendra dengan mata setengah terpejam.
"Angkasa mau ke villa Nyonya Lestari, Ma," kata Angkasa. Mata Nyonya Mahendra membulat. Nyonya Mahendra seketika menoleh, melihat ke arah jam dinding kamarnya.
"Ini bahkan belum subuh, Ang. Mau ngapain? Nunggu pagi dulu nggak bisa?" tanya Nyonya Mahendra, panik campur bingung.
"Nggak bisa, Ma. Aang mau bawa Nia. Sekarang," kata Angkasa, dingin dan tegas. Nyonya Mahendra menatap putera asuhnya. Ada gurat kecemasan dalam matanya.
"Oke. Hati-hati. Kalo udah sampe hubungi Mama," kata Nyonya Mahendra. Angkasa mengangguk lalu mencium tangan Nyonya Mahendra dan bergegas pergi menuju villa Nyonya Lestari.
Nyonya Mahendra menatap punggung Angkasa yang menjauh dengan perasaan khawatir. Nyonya Mahendra yakin, ada sesuatu yang terjadi pada Nia yang membuat Angkasa begitu cemas.
Kini Angkasa sudah menyibak jalanan yang sepi dengan motor sportnya. Angkasa tak ragu menginjak gas dengan kecepatan penuh. Dia benar-benar ingin segera sampai ke tempat Nia berada.
Satu jam perjalanan Angkasa lalui dengan lancar. Angkasa tiba di villa Nyonya Lestari saat smart watchnya menunjukkan pukul 03.39. Angkasa segera mengetuk pintu depan villa Nyonya Lestari yang terlihat begitu tenang.
Tak lama kemudian, Bayu membukakan pintu depan. Bayu terkejut melihat Angkasa berdiri di depan pintu.
"Mana Nia?" tanya Angkasa dingin.
"Mau apa kamu..."
"Aku tanya, mana Nia?" nada suara Angkasa meninggi, memotong kalimat Bayu.
"Siapa, Bay?" tanya Nyonya Lestari yang baru saja muncul dari dalam villa.
"Tuan Muda?!"
"Dimana Nia, Tante?" tanya Angkasa. Nyonya Lestari menatap Bayu lalu memberi isyarat pada Bayu untuk memberi Angkasa jalan untuk masuk.
"Mari. Tante antar ke kamar Nia. Nia sedang tidur pulas," kata Nyonya Lestari berusaha tenang.
Angkasa berjalan mengikuti Nyonya Lestari hingga tiba di depan kamar Nia. Nyonya Lestari membuka pintu kamar Nia perlahan.
"Silakan, Tu..."
Kalimat Nyonya Lestari tertahan. Dari dalam kamar, Nia menghambur memeluk Angkasa dengan wajah penuh airmata. Angkasa terkejut sesaat namun kemudian Angkasa melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Nia yang bergetar hebat.
'Aku disini, Nia. Aku disini,'
***