NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

“Jangan sebut nama itu.”

Suara Alexa pelan, tapi tegas. Tangannya masih gemetar, matanya menatap lurus ke arah Genta, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar emosi sesaat.

Genta tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah satu langkah lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit, lebih menekan.

“Kenapa?” tanyanya tenang, tapi tajam. “Karena kamu nggak kenal… atau karena kamu terlalu kenal?”

Alexa menggeleng cepat. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud.”

“Kamu tahu,” potong Genta langsung, suaranya tetap rendah tapi jelas menekan. “Orang yang nggak tahu nggak akan bereaksi seperti kamu barusan.”

“Aku cuma—”

“Kamu bahkan tahu dia suka hujan,” lanjut Genta, menatap mata Alexa tanpa berkedip. “Itu bukan informasi umum. Itu hal kecil yang… bahkan orang dekat pun belum tentu sadar.”

Alexa mundur satu langkah, napasnya mulai tidak teratur. “Aku nggak sengaja ngomong itu…”

“Justru itu,” sahut Genta cepat. “Kamu nggak sengaja. Artinya itu keluar dari tempat yang lebih dalam, bukan dari pikiran sadar kamu.”

Hening sejenak. Tegang.

Alexa memalingkan wajah, mencoba mengatur napasnya. “Kamu terlalu memaksakan hubungan yang nggak ada,” katanya pelan, berusaha terdengar tenang. “Aku ini Alexa. Bukan siapa pun yang kamu pikirkan.”

“Alexa yang aku kenal nggak akan berdiri seperti ini di depanku,” jawab Genta tanpa ragu. “Alexa yang aku kenal juga nggak akan membela laki-laki lain dengan cara seperti itu.”

Alexa langsung menatapnya lagi, kali ini lebih tajam. “Jadi kamu pikir kamu tahu aku sepenuhnya?”

“Seharusnya,” Genta mengangkat bahu tipis. “Kita dijodohkan. Aku kenal kamu dari data, dari cerita orang tua kita, dari semua yang seharusnya cukup buat memahami siapa kamu.”

“Tapi kamu tetap salah,” balas Alexa cepat.

“Ya,” Genta mengangguk pelan, matanya sedikit menyipit. “Dan itu yang bikin aku penasaran.”

Suasana kembali hening, tapi kali ini lebih berat.

Genta menarik napas pendek, lalu berkata pelan, “Jawab satu hal aja.”

Alexa tidak langsung menjawab, tapi ia tidak menghindar.

“Kamu pernah… ngerasa kenal seseorang, padahal kamu tahu itu nggak mungkin?” tanya Genta.

Alexa menelan ludah.

“Pernah ngerasa… pernah hidup di momen yang kamu sendiri nggak ingat kapan itu terjadi?” lanjutnya.

Alexa menggigit bibir bawahnya pelan. “Semua orang pasti pernah ngerasa kayak gitu.”

“Enggak,” Genta menggeleng. “Ini beda.”

Tatapannya semakin dalam.

“Ini bukan sekadar perasaan aneh. Ini kayak… ada bagian hidup yang hilang, tapi masih ninggalin jejak.”

Alexa diam. Dadanya naik turun pelan.

“Dan anehnya,” Genta melanjutkan, “jejak itu… muncul waktu aku lihat kamu.”

Kalimat itu membuat Alexa menegang lagi.

“Jangan mulai lagi,” katanya cepat. “Aku nggak punya hubungan apa-apa sama masa lalu kamu.”

“Kalau nggak ada,” Genta mendekat setengah langkah lagi, suaranya lebih rendah, “kenapa kamu hampir nangis waktu aku sebut nama itu?”

Alexa langsung terdiam.

Ia ingin menyangkal. Ingin membantah. Tapi tubuhnya tidak bekerja sama.

“Kenapa kamu minta aku berhenti nyebut nama itu… seolah-olah itu nyakitin kamu?” lanjut Genta.

Alexa menutup matanya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Aku cuma… nggak suka dibawa ke hal-hal yang nggak jelas.”

“Ini jelas,” potong Genta. “Setidaknya buat aku.”

Hening lagi.

Beberapa detik berlalu, tapi terasa lama.

Akhirnya Genta mundur satu langkah, memberi ruang.

“Oke,” katanya lebih santai, tapi masih mengawasi. “Kita anggap kamu benar.”

Alexa membuka mata, sedikit bingung dengan perubahan nadanya.

“Kita anggap kamu nggak tahu apa-apa,” lanjut Genta. “Kita anggap semua ini cuma kebetulan.”

Ia menyelipkan tangan ke saku celananya, lalu menatap Alexa lagi.

“Tapi aku nggak akan berhenti cari tahu.”

Alexa menegang. “Kamu mau cari tahu apa lagi?”

“Semua,” jawab Genta singkat. “Tentang kamu. Tentang perubahan kamu. Tentang kenapa kamu tiba-tiba jadi orang yang berbeda dari yang aku kenal.”

“Aku nggak berubah,” balas Alexa cepat.

“Kamu berubah,” sahut Genta tenang. “Dan perubahan itu… bukan perubahan biasa.”

Alexa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kamu terlalu lebay.”

“Bisa jadi,” Genta mengangguk ringan. “Atau bisa jadi… aku lagi berdiri di depan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kelihatan.”

Tatapan mereka kembali bertemu.

Kali ini bukan sekadar saling melihat. Tapi seperti saling menguji.

Beberapa detik kemudian, Genta akhirnya berbalik.

“Aku nggak akan maksa kamu jawab sekarang,” katanya sambil melangkah ke arah pintu. “Tapi satu hal…”

Ia berhenti sejenak, tanpa menoleh.

“Kalau kamu memang bukan orang yang aku pikirkan… kamu nggak perlu takut sama satu nama.”

Ruangan kembali sunyi.

Alexa berdiri diam di tempatnya, napasnya masih belum stabil. Tangannya kembali gemetar, tapi kali ini bukan karena panik. Lebih ke sesuatu yang tidak bisa ia tahan lagi.

“Aku nggak takut…” bisiknya pelan, hampir seperti menyangkal diri sendiri.

Ia berjalan perlahan ke arah cermin lagi, menatap pantulan wajahnya.

“Aku cuma…” napasnya terhenti sebentar. “Nggak siap kalau semua ini ternyata benar…”

Ia menutup matanya.

“Kalau kamu benar-benar Genta…” Kalimatnya terputus.

“Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat,” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk membuat udara di sekitar mereka berubah.

Itu adalah Genesis. Spontan Alexa berlari dan memeluk erat tubuh lelaki yang sedang ia rindukan.

Alexa refleks melepaskan pelukannya dari Genesis. Napasnya masih tersengal, matanya basah, dan jantungnya kembali berdetak tidak karuan—kali ini bukan hanya karena rindu, tapi karena situasi yang tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih rumit.

Genesis langsung bergerak setengah langkah ke depan, posisinya otomatis sedikit melindungi Alexa. Tatapannya tajam, penuh waspada, tidak lepas dari sosok pria yang berdiri beberapa meter dari mereka.

Untuk pertama kalinya—dua dunia itu benar-benar berhadapan.

Genta tidak mendekat. Ia berdiri di tempatnya, tenang, rapi, dengan sikap yang terlalu terkendali untuk seseorang yang baru saja melihat calon tunangannya dipeluk pria lain.

“Silakan dilanjutkan,” ucapnya datar, tapi bukan memberi izin—lebih seperti menguji. “Saya tidak ingin mengganggu momen yang… penting.”

Nada bicaranya halus, tapi ada sesuatu yang menusuk di dalamnya.

Genesis mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat sinis. “Lo nggak ganggu. Emang dari awal ini bukan urusan lo.”

Alexa menoleh cepat. “Gen…”

“Kenapa?” sahut Genesis tanpa mengalihkan pandangan dari Genta. “Salah gue di mana? Gue cuma ambil apa yang memang milik gue.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa ragu.

Genta akhirnya melangkah satu langkah ke depan. Tidak terburu-buru. Tidak emosi. Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit.

“Menarik,” gumamnya ringan, matanya berpindah dari Genesis ke Alexa, lalu kembali lagi. “Biasanya orang tidak akan sejauh ini hanya untuk sesuatu yang mereka anggap ‘milik’ tanpa dasar yang jelas.”

Genesis langsung menyahut, suaranya naik satu tingkat. “Dasarnya jelas. Dia sendiri yang bilang.”

Jantung Alexa seperti dipukul dari dalam. Tangannya mengepal tanpa sadar.

“Lex,” lanjut Genesis, kali ini suaranya sedikit melunak meski matanya tetap tajam, “lo udah janji sama gue. Lo bilang lo mau jalan sama gue. Jangan diem aja sekarang.”

Genta tidak menyela. Ia hanya menunggu. Dan justru itu yang membuat tekanan terasa lebih berat.

Alexa menarik napas dalam, mencoba menahan gemetar di dadanya. Ia menatap Genesis… lalu perlahan mengalihkan pandangan ke Genta.

Dua arah.

Dua kehidupan.

Dan dua versi masa depan yang sama-sama menuntutnya.

“Aku…” suaranya keluar pelan, hampir hilang. Ia menelan ludah, mencoba menguatkan diri. “Aku nggak pernah minta semua ini terjadi…”

Genesis langsung menggeleng. “Nggak usah mikir yang lain. Lo cuma perlu jawab—lo mau sama gue atau nggak?”

Tegas. Mendesak.

Genta sedikit mengangkat alis, tapi tetap diam.

Alexa menutup matanya sesaat. Kepalanya terasa penuh, hatinya berisik, semuanya bertabrakan jadi satu.

Saat ia membuka mata lagi, suaranya masih gemetar, tapi lebih jelas.

“Aku capek…” bisiknya jujur. “Kalian berdua bicara seolah aku ini sesuatu yang bisa diperebutkan. Seolah aku harus langsung memilih sekarang.”

Genesis terdiam sepersekian detik.

Genta masih memperhatikannya, kali ini lebih dalam.

“Aku bukan milik siapa-siapa,” lanjut Alexa, napasnya tidak stabil. “Aku bahkan belum sepenuhnya ngerti… aku ini siapa.”

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada yang langsung menjawab. Genesis terlihat ingin membantah, tapi kata-katanya tertahan.

Genta justru melangkah satu langkah lagi, cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa dominan, tapi tetap menjaga jarak yang elegan.

“Kalau begitu,” ucapnya tenang, “kamu tidak perlu menjawab sekarang.”

Genesis langsung menoleh tajam. “Maksud lo?”

Genta tidak melihatnya. Fokusnya tetap pada Alexa.

“Karena pada akhirnya,” lanjutnya pelan, “pilihan itu tidak akan bisa kamu hindari.”

Baru setelah itu ia menoleh ke Genesis.

Tatapan mereka kembali beradu—panas dan dingin dalam satu garis lurus.

“Dan Anda,” tambah Genta, suaranya tetap rendah tapi jelas, “sudah cukup jauh melangkah untuk seseorang yang tidak diundang.”

Genesis tertawa pendek, tanpa humor. “Gue nggak butuh undangan buat dateng jemput milik gue.”

Alexa langsung bereaksi. “Gen, cukup…”

Ia maju sedikit, berdiri di antara mereka secara refleks, seolah mencoba menghentikan sesuatu yang bahkan belum terjadi tapi sudah terasa akan meledak.

“Kalau aku… belum bisa milih sekarang?” tanyanya pelan, lebih ke dirinya sendiri, tapi cukup untuk didengar keduanya.

Hening.

Angin malam terdengar samar dari luar, menabrak kaca jendela yang tertutup rapat. Genta menjawab lebih dulu, dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

“Waktu tidak akan selalu menunggu kamu, Alexa.”

Genesis tidak menunggu lama. “Gue bakal nunggu.”

Dua kalimat.

Dua cara mencintai.

Alexa menunduk, jemarinya mencengkeram ujung gaunnya. Ia masih berdiri di tempat yang sama di antara mereka.

Dan untuk pertama kalinya… ia sadar, ini bukan lagi soal siapa yang ia cintai. Tapi siapa yang akan ia lukai.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!