Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Label baru di bawah langit bali
Arjuna tertawa sumbang, matanya yang merah menatap Arden dengan penuh kebencian. "Calon istri? Jadi berita perjodohan itu bener? Lo beneran mau sama bocah ingusan ini hanya demi saham Aolani Group, hah?!"
Cengkeraman Arden di bahu Arjuna menguat, membuat pria mabuk itu meringis. "Saya tidak butuh saham siapa pun untuk tetap berdiri di atas. Tapi saya butuh kamu hilang dari pandangan kami. Sekarang."
Arden memberikan isyarat pada kepala keamanan resor yang sudah berdiri di belakang mereka. "Bawa dia ke pos polisi terdekat. Pastikan dia tidak bisa mendekati area resor ini lagi dalam radius lima kilometer."
"VIOLET! LO LIHAT AJA! DIA NGGAK CINTA SAMA LO!" teriak Arjuna saat diseret paksa keluar lobi. Suaranya perlahan hilang ditelan suara ombak, meninggalkan keheningan yang canggung di antara Arden dan Violet.
Beberapa tamu hotel masih berbisik-bisik, menatap pasangan itu dengan penasaran. Violet berdehem, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia menoleh ke arah Arden yang masih memasang wajah sedingin kutub utara.
"Tuan Bos..." bisik Violet pelan. "Tadi itu... Tuan bilang apa? Calon istri?"
Arden melepaskan napas panjang, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia berjalan menuju lift tanpa melihat Violet. "Itu hanya taktik untuk membuat dia diam. Jangan dianggap serius."
Violet langsung berlari kecil mengejarnya masuk ke dalam lift. "Mana bisa nggak serius! Tuan itu CEO, setiap kata yang keluar dari mulut Tuan itu adalah kontrak! Tuan sudah melamar aku di depan umum secara nggak langsung!"
Arden menekan tombol lantai Presidential Suite dengan kasar. "Itu bukan lamaran. Itu perlindungan aset perusahaan agar tidak ada skandal di lobi hotel saya. Mengerti?"
"Aset perusahaan?" Violet tertawa kecil, ia berdiri tepat di depan Arden, memaksa pria itu menatapnya di dalam lift yang sempit. "Berarti aku berharga banget ya bagi Tuan? Sampai harus dilindungi kayak gitu?"
Arden terpojok. Aroma parfum melati Violet kembali menyerangnya, bercampur dengan hawa hangat malam Bali. "Kamu itu berisik, Violet. Tidurlah. Besok kita ada pertemuan dengan gubernur."
Di Dalam Suite
Setelah sampai di kamar masing-masing, Violet tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di kamarnya dengan wajah memerah. Ia langsung menelpon grup "Cegil"-nya.
"GUYS! ARDEN BILANG GUE CALON ISTRINYA DI DEPAN ORANG BANYAK!" teriak Violet tertahan agar tidak terdengar ke kamar sebelah.
"APA?!" suara Evara melengking dari seberang telepon. "Beneran?! Wah, si Kulkas Berjalan itu ternyata udah mulai mencair!"
"Tapi dia bilang itu cuma buat ngusir Arjuna, Va," sahut Violet, suaranya sedikit menurun.
"Vi, denger ya," Lavanya menimpali dengan nada bijak. "Pria kaku kayak Arden nggak akan sembarangan ngomong kayak gitu kalau di otaknya nggak ada sedikit pun pemikiran ke sana. Dia cuma butuh alasan logis buat ngelindungin lo. Padahal sebenarnya, dia cuma nggak rela lo disentuh orang lain."
"Bener!" sambung Avyanna. "Gue udah cek psikologi tipe-tipe kayak dia. Dia itu protective secara nggak sadar. Sekarang tugas lo adalah: buat dia 'kepentok' sama kata-katanya sendiri besok pagi."
Keesokan Paginya: Sarapan yang Panas
Pagi hari di balkon yang menyuguhkan pemandangan laut lepas, Arden sudah duduk rapi dengan kemeja putihnya yang lengannya digulung hingga siku. Ia sedang menikmati kopi hitamnya saat Violet keluar hanya dengan menggunakan sun dress ungu tipis dan rambut yang dibiarkan terurai alami.
"Pagi, Calon Suami!" sapa Violet dengan nada paling tengil sedunia.
Arden hampir tersedak kopinya. "Violet, saya bilang jangan bahas itu lagi."
"Lho, kenapa? Tadi malam staf hotel sudah denger semua. Tadi pas aku lewat lobi mau minta handuk tambahan, mereka manggil aku 'Nyonya Arden'. Aku sih senyum aja, kan nggak boleh bohong sama orang yang sudah sopan," ucap Violet sambil duduk di depan Arden dan mulai mengambil roti bakarnya.
Arden menatapnya tajam. "Kamu sengaja memanipulasi keadaan ya?"
"Bukan aku yang mulai, Tuan Bos yang mulai duluan tadi malam," Violet menopang dagu, menatap mata Arden dengan dalam. "Tuan tahu nggak? Di Bali itu ada mitos. Kalau orang sudah sebut janji di bawah langitnya, takdir bakal ikat mereka selamanya."
"Saya tidak percaya mitos," jawab Arden datar, meski ia merasa ada sesuatu yang aneh di perutnya saat melihat Violet tersenyum begitu cerah di bawah sinar matahari pagi.
Tiba-tiba, asisten Arden yang berada di Jakarta menelepon.
"Pak Arden, maaf mengganggu. Foto Bapak bersama Nona Violet di lobi semalam... bocor ke media sosial. Dan sekarang, saham Bayu Group serta Aolani Group sedang naik pesat karena rumor penggabungan dua raksasa lewat pernikahan."
Arden memejamkan mata rapat-rapat. "Arjuna..."
Violet yang mendengar percakapan itu justru bersorak dalam hati. "Waduh, Tuan. Kayaknya kita beneran harus nikah demi kestabilan ekonomi negara deh."
Arden menatap Violet dengan pasrah. "Siapkan dirimu. Setelah pertemuan dengan gubernur, kita harus pulang. Orang tua kita pasti sudah menunggu dengan akta nikah di tangan mereka."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...