Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 十
Sinar matahari pagi yang cerah menembus dinding kaca penthouse, memantul di atas lantai marmer yang mengkilap. Di salah satu sudut ruangan, Xi’er sedang sibuk dengan rutinitas paginya. Dengan rambut yang hanya diikat asal menggunakan pita kain, ia sedang jongkok di depan deretan pot herbal "ajaibnya", membisikkan doa-doa kuno sambil menyiramkan sisa air mata air roh yang ia bawa dari Ruang Dimensi semalam. Bagi Xi'er, tanaman adalah napas pengobatan. Tanpa tanaman yang bahagia, obat tidak akan memiliki jiwa.
Namun, ketenangannya terusik saat pintu kamar utama terbuka dengan suara klik yang tegas. Xi'er menoleh, dan matanya seketika membelalak. Ember kayu kecil di tangannya hampir saja merosot jatuh.
Dari dalam kamar, muncul sosok Mo Yan. Namun, ini bukan Mo Yan yang pucat, lemah, dan terduduk lesu di kursi roda seperti yang ia temui di hutan atau yang ia obati kemarin. Pria itu berdiri tegak, tingginya seolah memenuhi lorong. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dijahit dengan sangat presisi, membungkus bahunya yang lebar dan tubuh atletisnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasanya berantakan kini tersisir rapi ke belakang, menampilkan dahi yang tegas dan tatapan mata elang yang mampu mengintimidasi siapa saja.
Xi’er terpaku, namun bukan karena terpesona oleh ketampanan pria itu. Alih-alih kagum, wajahnya justru berubah menjadi penuh kecurigaan dan kekhawatiran yang berlebihan. Ia meletakkan embernya dan berjalan mendekati Mo Yan dengan langkah cepat, seolah sedang menghadapi keadaan darurat medis.
"Tuan Mo! Berhenti di sana! Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?!" teriak Xi'er, suaranya yang melengking bergema di seluruh ruangan yang sunyi itu.
Mo Yan menghentikan langkahnya, tangannya sedang sibuk membetulkan letak jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menunduk, menatap gadis kecil yang kini hanya setinggi dadanya itu. "Apa lagi sekarang Xi'er? Aku hanya ingin keluar rumah. Ini sudah jam kerja."
"Keluar rumah dengan cara seperti itu?!" Xi'er menunjuk dengan telunjuknya yang masih sedikit terkena tanah ke arah leher Mo Yan. Tepatnya, ke arah dasi sutra bermotif garis-garis yang melingkar rapi di bawah kerah kemeja putihnya. "Dewa macam apa yang kau sembah sampai kau harus menyiksa dirimu dengan cara mengerikan begini? Jika kau merasa hidupmu terlalu berat karena penyakit dinginmu, atau kau merasa bosan menjadi orang kaya, katakan padaku! Aku bisa memberimu ramuan penenang, jangan mencoba mencekik lehermu sendiri dengan kain biru itu!"
Zuo Fan yang sejak tadi berdiri diam di belakang Mo Yan sambil membawa tas kerja, seketika menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar hebat, wajahnya memerah menahan ledakan tawa yang hampir saja memalukannya di depan sang atasan.
Mo Yan tertegun sejenak, ia melihat ke cermin besar di dinding, lalu kembali menatap Xi'er yang tampak benar-benar cemas. "Ini namanya dasi Xi'er. D-A-S-I. Ini adalah pakaian formal untuk pria terhormat di kota ini. Tidak ada yang mencoba bunuh diri di sini. Ini simbol martabat."
"Martabat apanya?! Itu adalah tali gantung diri yang diperhalus!" Xi'er tidak mau kalah. Ia melangkah maju, tanpa permisi tangannya yang kecil dengan cepat meraih ujung dasi Mo Yan. "Kain ini menekan jalan napasmu Tuan kaku! Bagaimana mungkin oksigen bisa masuk ke otakmu yang besar itu jika lehermu diikat kencang seperti karung beras? Kau ingin pembuluh darah di kepalamu meledak karena tersumbat kain sutra ini?"
Sret! Dengan niat tulus ingin menyelamatkan nyawa Mo Yan, Xi'er menarik ujung dasi itu ke bawah dengan kuat, bermaksud melonggarkannya. Namun, karena ia tidak tahu cara kerja simpul dasi modern, tarikannya justru membuat simpul itu semakin erat mencekik kerah kemeja Mo Yan.
"Khukk... Xi... Xi'er... lepaskan... kau benar-benar akan membunuhku..." Mo Yan terbatuk-batuk, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam karena benar-benar tercekik.
"Nona Lin! Berhenti! Jangan ditarik ke bawah!" Zuo Fan akhirnya bersuara di sela tawanya yang pecah. Ia dengan sigap maju dan membantu melepaskan cengkeraman tangan Xi'er dari dasi tuannya yang malang. "Itu simpul Windsor Nona. Makin ditarik bawah, makin mencekik!"
Setelah berhasil bernapas kembali dengan lega, Mo Yan merapikan kerahnya yang sudah berantakan dengan napas yang sedikit memburu. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Alih-alih marah besar karena harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis desa, mata Mo Yan justru berkilat jenaka. Ada rasa hangat yang berbeda merayap di dadanya rasa hidup yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun diasingkan oleh penyakitnya sendiri.
Ia menyadari bahwa ia mulai sangat menikmati perdebatan kecil ini. Xi'er adalah satu-satunya manusia yang memandangnya bukan sebagai CEO Mo Group yang berkuasa, melainkan sebagai seorang pria bodoh yang menyiksa diri dengan selembar kain. "Jadi, kau begitu khawatir aku mati sampai harus menarik dasiku seperti itu?" tanya Mo Yan dengan nada menggoda, ia sengaja melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Xi'er, memberikan tekanan aura yang dominan namun tidak mengancam.
Xi'er mendengus, ia melipat tangan di depan dada, mencoba menyembunyikan rasa malu karena salah paham tadi. "Aku hanya tidak ingin pasienku mati konyol sebelum aku berhasil menyembuhkannya secara total. Itu akan merusak reputasiku sebagai Tabib Agung! Jadi, untuk apa kau berdandan seperti burung merak yang sombong ini? Mau pamer pada gadis-gadis kota agar mereka terpesona padamu?"
"Aku harus ke kantor. Aku punya perusahaan besar yang harus aku kelola sekarang karena kondisiku sudah membaik." jawab Mo Yan singkat.
Xi'er mengerutkan keningnya, wajahnya menunjukkan kebingungan yang sangat tulus. "Kantor? Bekerja? Tuan Mo, coba kau pikirkan baik-baik menggunakan logikamu. Kau sudah punya rumah sebesar gunung ini, kau punya kereta besi hitam yang mengkilap, pelayanmu ada di mana-mana untuk memenuhi kebutuhanmu, dan kau punya simpanan cokelat manis yang sangat banyak di kulkas. Untuk apa kau masih bangun pagi dan bekerja keras? Apa kau masih kekurangan uang untuk membeli beras, jahe, dan kayu bakar? Apa kau serakah?"
Zuo Fan tertawa terbahak-bahak kali ini. "Nona Lin, Tuan Mo adalah orang terkaya di kota ini. Beliau bekerja bukan untuk sekadar beli beras, tapi untuk menggerakkan roda ekonomi dunia. Jika beliau tidak bekerja, ribuan orang di luar sana mungkin tidak bisa makan."
"Ekonomi dunia? Nama siluman jenis apa lagi itu?" Xi'er mencibir dengan wajah kesal. Ia menatap Mo Yan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Tuan kaku, dengarkan instruksi tabibmu dengan baik. Tubuhmu baru saja mulai mendapatkan kembali energi Yang-nya. Jika kau pergi ke tempat bernama kantor itu dan memeras otakmu hanya untuk mencari angka-angka yang sudah tidak bisa kau habiskan dalam tujuh turunan, energimu akan terkuras lagi. Kau ingin kembali menjadi balok es di tengah hari bolong?"
Mo Yan menyandarkan tubuhnya di dinding marmer, ia melipat tangan di dadanya, menatap Xi'er dengan minat yang sangat besar. Ia menyadari bahwa perdebatan ini jauh lebih menarik daripada rapat dewan direksi yang membosankan. Ia seolah sengaja memancing emosi Xi'er agar gadis itu terus berbicara dan mengeluarkan ekspresi-ekspresi lucu yang membuatnya merasa lebih manusiawi.
"Bagaimana kalau kau ikut saja denganku?" tantang Mo Yan tiba-tiba, sebuah ide gila melintas di kepalanya.
Zuo Fan terbelalak kaget. "Tuan? Anda serius? Anda ingin membawa Nona Lin ke pusat bisnis Mo Group dalam kondisi... seperti ini?"
"Kenapa tidak? Dia sendiri yang bilang dia tabib pribadiku. Jika dia begitu khawatir energi Yang-ku terkuras karena siluman ekonomi, maka dia harus ada di sana untuk memantauku setiap detik, memastikan aku tidak mencekik diri sendiri lagi, bukan?" Mo Yan memberikan senyum miring yang sangat menawan, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia.
Xi'er terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang di dalam kepalanya yang cerdas. “Jika aku ikut, aku bisa memastikan pria kaku ini tidak melakukan hal-hal bodoh yang bisa merusak pengobatanku. Dan lagi, aku ingin melihat tempat macam apa yang bisa membuat orang sekaya dia tetap harus bangun pagi dan melilit lehernya dengan sutra.”
"Baik! Aku akan ikut!" tegas Xi'er sambil menunjuk hidung Mo Yan. "Tapi aku tidak mau naik kotak besi terbang (lift) itu sendirian. Kau harus menjagaku agar aku tidak diculik oleh hantu pintu otomatis yang kau pelihara di sini!"
Mo Yan terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat dalam dan langka yang membuat Zuo Fan tertegun di tempat. "Zuo Fan, siapkan mobil paling luas. Dan beritahu bagian sekretariat, aku akan membawa pengawas khusus hari ini. Katakan pada mereka untuk tidak terkejut jika pengawasku ini sedikit... vokal."
Zuo Fan mengangguk patuh, namun dalam hatinya ia merasa bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang sekaligus paling menghibur dalam sejarah Mo Group. Tuannya yang biasanya sangat disiplin, dingin, dan benci terhadap gangguan sekecil apa pun, kini justru dengan sengaja memancing keributan dengan membawa gadis desa paling cerewet dan polos ke pusat kerajaan bisnisnya.
Sambil berjalan menuju lift, Xi'er masih terus menggerutu tentang kain pencekik leher Mo Yan yang menurutnya sangat tidak masuk akal, sementara Mo Yan mendengarkan dengan kesabaran yang luar biasa, sesekali membalas dengan satu atau dua kalimat pendek yang langsung membuat Xi'er meledak marah lagi. Pagi itu, kota metropolitan mungkin belum menyadari bahwa ketenangannya akan segera diguncang oleh kedatangan seorang Putri Tabib yang tidak mengenal kata takut.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/