NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:627.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah

...🍀🍀🍀...

Perjalanan dari rumah menuju kantor dinas Pak Aidi hanya butuh waktu setengah jam. Bersyukur kali ini jalan tidak terlalu padat dan macet, sehingga keluarga Pak Aidi bisa tiba di lokasi tepat waktu. Suasana kantor dinas Pak Aidi saat ini sangat ramai dengan para tamu undangan yang berdatangan. Suka cita sangat terlihat di setiap sudut ruangan bahkan halaman kantor. Pak Aidi sangat senang bisa menghadiri acara meriah ini bersama keluarga tercinta.

Setelah mereka sampai di tempat parkir, mereka pun langsung turun dari mobil. Dhina yang baru turun dari mobil, melihat begitu banyak orang yang berdatangan. Ia juga senang bisa menghadiri acara sang ayah di kantor. Lama mereka melihat sekitar, lalu Pak Aidi mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam kantor.

"Ayo anak-anak, kita masuk ke dalam. Ayah akan memperkenalkan kalian semua pada teman-teman satu kantor Ayah." ujar Pak Aidi yang semangat lalu berjalan dan menggandeng tangan istrinya.

"Acara ini meriah dan ramai sekali ya, Mas." ujar Dhina pada Dhana sambil menggandeng mas kembarnya itu.

"Iya, Dek. Selain acara kampus, baru kali ini Mas datang ke acara meriah dan ramai seperti ini." jawab Dhana seraya menguatkan gandengan dengan adik kembarnya.

"Hei, kalian itu tidak seperti adik kakak kembar. Kalian itu seperti pengantin baru yang tidak bisa dipisahkan." sewot Sadha yang tertawa dari arah belakang dan menggoda kedua adik kembarnya.

"Kalau iri, bilang bos! Ini keuntungan punya adik kembar apalagi adik perempuan. Kalau jomblo pun adik sendiri juga bisa digandeng, Mas." jawab Dhana yang masih menggandeng adik kembarnya.

"Siapa juga yang iri. Awas saja nanti kalau bertemu seseorang, terus ada yang cemburu, baru tau." ujar Sadha yang masih menggoda adik kembarnya itu.

"Sudah, sudah! Kamu ini ya Sadha, suka sekali mengganggu mereka. Kamu tidak bisa jaga image ya." serkas Ammar yang berada di samping Sadha.

"Iya, iya, Mas. Maaf." ucap Sadha yang sedikit kesal karena ditegur oleh mas sulungnya.

Ammar hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan ketiga adiknya yang aneh. Kini mereka sudah berada di dalam kantor dinas Pak Aidi yang sudah selesai renovasi dan terlihat lebih luas.

Dengan balutan hiasan, membuat kantor dinas Pak Aidi terlihat seperti istana. Semua tamu undangan yang datang serentak memakai batik sebagai dress code acara hari ini. Semua orang yang datang terlihat tampan dan cantik dengan pakaian batik yang mereka kenakan.

Saat sudah berada di dalam, mata Pak Aidi tertuju pada seseorang yang yang sangat ia kenal. Orang itu berada tidak jauh dari posisi berdirinya saat ini. Lalu dengan percaya diri, Pak Aidi pun memanggil orang itu.

"Imam..." sahut Pak Aidi seraya melambaikan tangan pada orang yang bernama Imam itu.

Dhana terkejut saat mendengar suara Pak Aidi memanggil nama orang itu. Ia mengira kalau sang ayah sedang memanggil orang yang namanya mirip dengan nama sahabatnya. Dhana pun langsung melihat ke arah ayahnya berjalan.

Dhana berusaha melihat ke arah orang yang dipanggil oleh ayahnya itu. Namun Dhana tidak bisa melihat ke arah orang itu karena terlalu banyak orang yang lewat. Dhana pun penasaran lalu ia mengajak Dhina untuk mengikuti ayahnya agar dapat mengetahui siapa orang yang namanya mirip dengan nama sahabatnya itu.

"Adek... ayo kita ikuti Ayah." ujar Dhana seraya mengajak adik kembarnya untuk mengikuti Pak Aidi.

"Biarkan saja, Mas. Ayah itu ingin bertemu teman kerjanya. Kenapa harus di ikuti?" jawab Dhina yang masih menggandeng tangannya dengan tangan Dhana seraya melihat sekitar.

Dhana hanya menghela nafas kasar saat adik kembarnya menolak untuk diajak menyusul ayah, ibu dan kedua masnya itu. Dhana juga tidak ada pilihan selain mengikuti Dhina. Jika ia meninggalkan Dhina sendirian di tempat ramai seperti ini, maka ia juga yang akan khawatir. Apalagi mengingat kondisi Dhina yang sedang sakit keras. Sedangkan Pak Aidi dan yang lainnya pergi menemui teman kerjanya itu.

"Pak Aidi... assalamualaikum, Pak." ujar Imam yang melihat lalu berjalan mendekati Pak Aidi.

"Wa'alaikumsalam... di mana keluarga kamu Mam?" tanya Pak Aidi yang membalas salaman Imam.

"Keluarga saya ada di sana, Pak. Keluarga Pak Aidi mana?" ujar Imam seraya melihat sekitar mencari keluarga Pak Aidi.

"Ini keluarga saya. Perkenalkan, ini istri tercinta saya, namanya Aini. Sering dipanggil Bu Aini." ujar Pak Aidi yang memperkenalkan Bu Aini dengan bangga.

"Assalamualaikum, Bu. MasyaAllah... Bu Aini ini cantik sekali ya, Pak. Saya jadi ingin cepat menikah agar bisa seperti Bapak dan Ibu." ujar Imam seraya bersalaman dengan Bu Aini.

"Wa'alaikumsalam, terima kasih Nak Imam. Nak Imam juga terlihat tampan sekali." jawab Bu Aini dengan lembut dan memuji Imam.

"Wah, Ibu bisa saja. Terima kasih kembali pujiannya, Bu." ujar Imam dengan tersenyum lebar pada Bu Aini.

"Perkenalkan juga... ini Ammar, anak pertama saya. Ini Sadha, anak kedua saya." ucap Pak Aidi seraya memperkenalkan kedua putranya pada Imam.

"Assalamualaikum, Pak Ammar dan Pak Sadha, saya Imam." ujar Imam dengan sopan dan malu berkenalan dengan Ammar dan Sadha.

"Wa'alaikumsalam, jangan panggil kita seperti itu. Panggil saja Mas karena kami masih muda. Lagi pula sepertinya usiamu sama dengan adik kami." jawab Ammar yang membalas salam Imam.

"Oh, iya. Maaf Mas Ammar dan Mas Sadha." ucap Imam pada Ammar dan Sadha sambil tersenyum.

"Iya, tidak masalah." jawab Ammar yang membalas senyuman Imam.

"Si kembar di mana Ayah?" tanya Bu Aini pada Pak Aidi sambil melihat sekitar mencari putra putri kembarnya.

"Bukannya di belakang kita tadi Bu?" tanya Pak Aidi balik pada Bu Aini yang sudah cemas karena anak kembarnya tidak kelihatan.

"Ada apa Pak Aidi?" tanya Imam yang sedang melihat sekitar untuk mencari anak kembarnya.

"Anak kembar saya tadi mereka ada di belakang, Mam. Apa kamu melihat mereka?" ujar Pak Aidi sambil bertanya pada Imam.

"Saya tidak melihat mereka, Pak. Saya rasa mereka sedang melihat di sekitar kantor, Pak. Lagi pula mereka sudah dewasa, bukan?" jawab Imam yang menenangkan Pak Aidi.

Ammar dan Sadha pun juga baru menyadari kalau kedua adik kembar mereka tidak ada di sana. Lalu...

"Perasaan tadi Adek sama Dhana di depan kita 'kan, Mas?" tanya Sadha pada Ammar yang juga sedang sibuk melihat sekitar.

"Iya, Sadha. Kenapa mereka bisa menghilang seperti ini ya?" ujar Ammar yang melihat sekitar mencari adik kembarnya.

Ammar pun berusaha mencari keberadaan kedua adik kembarnya. Akhirnya Ammar menemukan mereka yang asyik melihat pameran yang ada di acara itu. Lalu Ammar pergi menghampiri mereka.

"Sadha... kamu tunggu sebentar ya. Mas sudah melihat Adek dan Dhana. Mereka ada di sana." ujar Ammar yang berbisik pada Sadha.

"Iya, Mas."

Ammar pun pergi menghampiri adik kembarnya dan berjalan menyusuri orang ramai menuju ke arah adik kembarnya yang tengah asyik berduaan itu. Setelah Ammar berdiri tepat di belakang mereka berdua, Ammar menepuk bahu keduanya.

"Hei, ternyata kalian di sini ya. Ayah dan Ibu khawatir mencari kalian berdua dan kalian asyik berduaan di sini." ujar Ammar yang bicara pelan pada kedua adik kembarnya itu.

"Adek suka melihat pameran gedung dinas Ayah ini, Mas. Jadi lupa menyusul ke sana." ujar Dhina yang tertawa pada Ammar.

"Adek nih, Mas. Sejak tadi Dhana ajak tidak mau. Kalau di tinggal kasihan juga. Nanti malah hilang." timpal Dhana yang juga kesal dengan tingkah Dhina.

"Ya sudah, ayo ikut Mas ke tempat Ayah dan Ibu. Ini acara besar, jadi kalian jangan main-main." serkas Ammar yang menggandeng kedua adik kembarnya itu.

"Iya, Mas."

Dhana dan Dhina pun pasrah saat digandeng oleh mas sulungnya itu menuju ke tempat ayah mereka.

Ammar pun berhasil membawa si kembar ke tempat mereka semula saat bertemu dengan Imam. Pak Aidi yang melihat mereka berdua sudah berada di dekatnya, langsung memperkenalkan keduanya pada Imam.

"Ini mereka. Imam... perkenalkan ini anak kembar saya. Dhana dan Dhina." ujar Pak Aidi pada Imam.

Imam terdiam saat melihat salah satu wajah anak kembar Pak Aidi. Sedangkan, Dhana yang tadinya penasaran dengan orang yang dipanggil oleh sang ayah pun akhirnya tau, kalau nama Imam yang dipanggil oleh sang ayah tadi bukan lah orang lain, melainkan sahabat kuliahnya sendiri.

"Dhana?" ujar Imam yang berusaha meyakinkan diri kalau itu memang Dhana, sahabatnya.

"Imam? Kamu Imam bukan?" tanya Dhana yang juga berusaha mengenali sahabat lamanya itu karena sudah lama tidak bertemu.

"Iya, aku Imam. Padahal kita masih sering berkomunikasi via whatsApp, tapi sepertinya kamu lupa sama aku, Dhana" jawab Imam yang memeluk sahabat lamanya itu.

"Aku tidak akan lupa sama sahabatku sendiri, Mam. Kamu ternyata banyak berubah, makanya aku tidak yakin kalau ini kamu." ujar Dhana yang membalas pelukan Imam.

Pak Aidi merasa heran melihat sikap keduanya yang sudah akrab. Lalu...

"Kalian berdua saling kenal?" tanya Pak Aidi pada keduanya.

"Iya, Ayah. Ini sahabat Dhana saat kuliah dulu. Kami memang tidak satu jurusan, tapi kami sering bertemu di acara kampus. Ternyata dia rekan kerja Ayah." jawab Dhana yang melerai pelukannya dari Imam.

"Aku sering cerita tentang kamu pada Pak Aidi. Aku tidak menyangka ternyata yang sering aku ceritakan itu putra beliau sendiri." timpal Imam yang terus merangkul bahu Dhana.

"Ya Allah, dunia memang sempit ya. Ayah juga sering cerita tentang kalian berempat pada Imam. Imam ini orangnya baik, sopan santun sikap dan tutur katanya. Ayah sangat senang berteman dengan dia." jelas Pak Aidi yang memuji Imam di depan keluarganya.

"Pak Aidi bisa saja. Saya hanya manusia biasa Pak, yang tidak luput dari dosa kecil." ujar Imam yang merendah di depan keluarga Pak Aidi.

"Kamu itu selalu saja merendah, Mam. Oh iya, sampai lupa perkenalkan personil keluarga saya satu lagi. Ini putri saya satu-satunya, adik kembarnya Dhana. Namanya Dhina." ujar Pak Aidi seraya merangkul Dhina yang berdiri di belakangnya.

Saat melihat ke arah Dhina membuat Imam terdiam dan matanya tidak mampu untuk berkedip. Ya... wanita yang selama ini ia cintai dalam diam, kini sedang berada di hadapannya. Adik kembar Dhana, sahabatnya sendiri, bahkan ternyata putri dari Pak Aidi, rekan kerjanya selama ini yang membuat Imam jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali ia bertemu Dhina saat itu. Hingga kini perasaan itu masih sama, bahkan bertambah saat ini juga tatkala melihat Dhina. Kecantikan dan keanggunan Dhina membuat Imam tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum dan memberi salam.

"Assalamualaikum." ucap Imam pada Dhina dengan tersenyum.

"Wa'alaikumsalam, Kak." jawab Dhina yang tersenyum pada Imam.

Cinta dalam diam yang selama ini Imam rasakan terhadap adik sahabatnya itu. Ingin sekali rasanya ia mengungkapkan isi hatinya di depan semua orang saat ini juga. Namun mengingat saat ini ia sedang di tempat umum dan mengingat kehormatan keluarga Pak Aidi dan keluarganya sendiri. Imam pun kembali mundur dan mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan yang tidak terhormat itu.

Ammar dan Sadha yang sejak tadi memperhatikan Imam, mulai merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi pada pria itu saat melihat adik perempuan mereka. Lalu...

"Mas... Mas lihat tidak cara Imam menatap Adek. Dia sampai tidak berkedip sedikit pun." ujar Sadha seraya menyenggol mas sulungnya itu.

"Sepertinya Imam jatuh cinta pada pandangan pertama sama Adek." jawab Ammar seraya melihat ke arah Imam.

"Memang Mas setuju? Kalau Adek dengan pria itu? Sadha sih masih kurang yakin karena kita baru mengenalnya." ujar Sadha dengan melipat kedua tangannya.

"Sekarang sih Mas memang tidak suka melihatnya." jawab Ammar dengan nada tidak suka saat Sadha bertanya seperti tadi.

Ammar dan Sadha yang baru mengenal Imam merasa tidak terlalu suka dengan pria itu. Tapi karena mereka sedang ada di sebuah acara, membuat mereka terpaksa harus berpura-pura suka pada Imam. Sementara Dhina yang sejak tadi berada di samping Bu Aini melihat ke arah kedua masnya itu. Lalu...

"Mas... kenapa melamun. Kalian sedang melihat apa sih?" ujar Dhina yang mengagetkan kedua masnya itu.

"Adek kenapa sih kalau datang selalu saja mengagetkan. Kita tidak lagi melihat apa-apa kok." jawab Sadha seraya mencubit hidung Dhina.

"Sakit, Mas." ujar Dhina yang memegangi hidungnya.

"Adek... jangan terlalu dekat ya dengan teman Ayah itu." timpal Ammar yang datar pada Dhina.

"Memang kenapa Mas? Kak Imam orangnya humble kok, baik juga kata Ayah. Untuk berteman saja tidak apa-apa lah, Mas." jawab Dhina yang melihat ke arah Imam.

"Itu di depan Ayah, kalau di belakang Ayah belum tentu baik, Dek. Melihat cara dia menatap Adek saja sudah berbeda sekali." timpal Sadha yang membela Ammar.

"Kita tidak boleh su'udzon, Mas." jawab Dhina yang mengusap lengan Sadha untuk menenangkannya.

"Su'udzon sama dia tidak boleh. Lalu kalau su'udzon pada Rezky boleh ya Dek?" tanya Ammar dengan nada ketus yang tiba-tiba membawa nama Rezky.

"Mas kenapa membawa nama Kak Rezky?" tanya Dhina balik sebelum menjawab pertanyaan Ammar.

"Tidak apa-apa, hanya aneh saja. Saat itu Dhana bilang kalau Rezky bukan orang baik dan Adek menerima pendapatnya. Kalau sekarang Mas bilang kalau Imam juga bukan orang baik. Ada yang salah?" jawab Ammar dengan nada yang jengah seraya menatap tajam sang adik.

Sadha yang menyadari perubahan sikap Ammar pun ikut merasa tegang dan cemas

"Sabar, Mas. Kenapa jadi seperti ini sih? Sabar di sini banyak orang loh." ujar Sadha yang menenangkan mas sulungnya itu.

"Mas Ammar kenapa sih? Kenapa Mas malah jadi membandingkan Kak Rezky dengan Kak Imam? Ayo kita bicara di luar. Adek tidak ingin masalah ini jadi berlarut-larut hanya karena Mas lebih suka pada Kak Rezky dan Mas tidak suka pada Kak Imam. Lalu Mas jadi seenaknya membandingkan orang seperti ini." ujar Dhina yang sudah terbawa emosi dengan perkataan Ammar.

Ammar yang mendengar perkataan sang adik pun tampak marah dan mengepal tangannya. Sementara Dhina yang terlanjur kecewa dengan sikap Ammar pun langsung menarik tangan mas sulungnya itu keluar dari gedung kantor.

Sementara Sadha yang melihat Ammar dan Dhina sedang bertengkar seperti itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sadha terpaku dan tidak menyangka kalau Ammar akan terbawa emosi seperti ini hanya karena membahas Imam yang baru mereka kenal. Lalu Sadha pun berusaha memberitahu Dhana agar membantunya untuk memisahkan mas dan adiknya yang sedang bertengkar diluar.

"Dhana... ayo bantu Mas memisahkan Mas Ammar dan Adek. Mereka bertengkar hebat di luar." ujar Sadha yang berbisik di telinga Dhana.

"Apa Mas? Mas Ammar dan Adek bertengkar? Kenapa?" tanya Dhana yang terkejut dan tetap berbisik pada Sadha.

"Nanti kamu juga akan tau. Sekarang kita ikuti mereka dulu. Jangan sampai Ayah dan Ibu tau hal ini." ujar Sadha lalu berjalan duluan menyusul Ammar dan Dhina.

"Ayah, Ibu... Dhana keluar sebentar ya. Ada telephone dari karyawan cafe. Sebentar ya." ujar Dhana pada Pak Aidi dan Bu Aini.

Pak Aidi yang asyik mengobrol hanya mengangguk lalu Dhana pun beranjak dan menyusul Sadha.

Mood Ammar yang buruk sejak tadi pagi membuatnya mudah emosi dan tersinggung. Bahkan sampai membawa nama Rezky saat ia tidak menyukai Imam yang baru saja ia kenal. Mendengar nama Rezky, emosi Dhina pun semakin naik. Apalagi saat itu Rezky pernah bicara buruk di depan Ammar dan juga dirinya tentang Dhana. Sejak saat itu Dhina menjadi hilang respect terhadap Rezky. Ia berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Dhana benar. Rezky bukan orang yang baik dan itu terlihat jelas saat pertemuan kedua mereka di restoran saat itu.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!