Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIRNYA TERUCAP
Belum juga benar-benar siang, suara riang anak-anak sudah memenuhi halaman belakang.
“Paklik! Paklik!” panggil kedua keponakan Purbaya hampir bersamaan.
Purbaya yang baru keluar dari dalam kamar menoleh.
“Janji loh, kemarin!” kata salah satu dari mereka dengan wajah penuh semangat.
Purbaya tersenyum tipis.
“Iya, iya. Ayo.”
Mereka langsung berlari ke arah kolam renang di belakang rumah.
Air terlihat jernih, memantulkan cahaya pagi yang hangat.
Noya yang sejak tadi memperhatikan, ikut mendekat.
Purbaya menoleh padanya.
“Mau ikut, Noya?”
Anak itu tidak langsung menjawab, tapi langkahnya mendekat pelan.
Purbaya mengangguk kecil.
“Ayo.”
Beberapa saat kemudian, suara cipratan air dan tawa anak-anak terdengar jelas.
Kedua keponakannya bermain dengan riang, sesekali memanggil Purbaya untuk ikut.
Sementara Noya berada lebih dekat, tetap diawasi.
Purbaya masuk ke dalam kolam, mendampingi mereka.
“Noya pelan-pelan ya,” ucapnya.
Anak itu mencoba mengikuti, masih kaku tapi terlihat menikmati.
Sesekali Purbaya membantu, memastikan semuanya aman.
Suasana itu terasa... ringan.
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat pagi terasa hidup.
Tapi tidak berlangsung lama.
Purbaya melirik jam di tangannya.
Waktunya hampir habis.
Ia keluar dari kolam, mengusap wajahnya dengan handuk.
“Kalian lanjut saja, ya,” katanya pada kedua keponakannya.
“Lho, Paklik mau ke mana?” tanya mereka kompak.
“Paklik harus ke kampus.”
“Sekarang?” nada kecewa langsung terdengar.
Purbaya hanya tersenyum tipis.
“Iya. Nanti main lagi.”
Ia lalu menoleh ke arah Mbok Sri yang sudah berdiri di dekat pintu belakang.
“Mbok, Noya nanti dimandikan ya.”
“Inggih, Pak.”
Purbaya mengangguk, lalu kembali menatap anaknya sebentar.
“Noya, nanti lanjut main lagi ya.”
Noya tidak banyak merespons, tapi tetap memperhatikan ayahnya.
Tak lama, Purbaya sudah berjalan masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Mbok Sri menghampiri kolam.
“Noya... ayo, sudah dulu,” panggilnya lembut.
Dengan hati-hati, ia membantu Noya keluar dari kolam, membungkusnya dengan handuk.
“Dingin nggih?” tanyanya sambil mengusap rambutnya.
Noya diam, tapi tidak menolak.
Mbok Sri tersenyum kecil, lalu menggandengnya masuk ke dalam untuk dimandikan.
Di belakang mereka, suara tawa anak-anak masih terdengar.
*
Di dalam kamar, Purbaya menutup pintu dengan sedikit keras.
Tangannya meraih ponsel di sampingnya.
Pesan terakhirnya belum juga dibalas.
Rasa kesal yang sejak semalam tertahan... mulai naik lagi.
Ia menekan tombol panggil.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Rahangnya mengeras.
Sekali lagi.
Nada sambung terdengar lebih lama kali ini.
Dan akhirnya--
“YA?”
Suara itu terdengar, kesal, datar. Tanpa nada hangat.
Purbaya langsung bicara, nada suaranya tertahan tapi jelas emosi.
“Kamu ini kenapa sih?”
Tidak ada jawaban.
“Ditelepon nggak diangkat, di-chat juga nggak dibalas. Kamu anggap aku apa sekarang?”
Hening sejenak.
Eva menarik napas pelan di seberang.
“Aku lagi kerja, Mas.”
Jawaban yang singkat dan justru itu yang membuat Purbaya semakin tersulut.
“Kerja terus, memangnya kamu kerja 24 jam,” katanya. “Sampai suami sendiri kayak orang lain buat kamu?”
Eva terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab, tetap dengan nada yang sama.
“Mas juga berubah sekarang.”
Kalimat itu membuat Purbaya terdiam sejenak.
Namun ia tidak mundur.
“Kamu pulang kapan?” tanyanya langsung.
Bukannya menjawab, Eva justru balik bertanya,
“Kenapa Mas nanya terus kapan aku pulang?”
Nada suaranya tidak tinggi.
Tapi jelas... tidak suka.
Purbaya menghela napas kasar.
“Kamu ini kenapa sih,” ucapnya, mulai kehilangan sabar.
“Apa karena aku pulang pagi waktu itu?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa ia pikir panjang.
Dan begitu terucap--ia sendiri tahu, ini bukan lagi sekadar soal “pulang pagi.”
Ada sesuatu yang lebih besar... yang mulai terbuka.
Di seberang, Eva tidak langsung menjawab.
Seolah menimbang.
“Aku nggak tahu pulang kapan,” katanya akhirnya.
“Kalaupun aku pulang... kamu juga nggak peduli, kan?”
Kalimat itu datar. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.
Purbaya langsung mengernyit.
“Kamu ngomong apa sih?”
Eva tidak berhenti.
“Aku tahu, Mas,” lanjutnya pelan.
“Kamu ada perempuan lain.”
Kalimat itu seperti dilempar begitu saja.
Tanpa ragu.
Tanpa ditarik kembali.
Purbaya langsung tersentak.
“Kamu gi la ya?!” suaranya naik.
Di seberang, Eva tertawa kecil--
“Kamu yang nggak waras, Mas.”
“EVA!”
Suara Purbaya membentak tanpa bisa ditahan lagi.
Tepat di saat itu--
tok tok tok
Suara pintu diketuk dari luar.
“Pur... ada apa?”
Suara Mbak Ningsih terdengar, kebetulan lewat di depan kamarnya.
Purbaya langsung terdiam.
Napasnya masih berat.
Ia menatap pintu beberapa detik, lalu kembali ke ponselnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi--ia langsung menutup panggilan.
Ruangan mendadak sunyi.
Purbaya akhirnya membuka pintu ruang kerjanya.
Mbak Ningsih sudah berdiri di luar, menatapnya dengan ekspresi tenang, tapi penuh tanya.
“Ada apa, Pur?” tanyanya pelan.
Purbaya menggeleng kecil, berusaha menormalkan wajahnya.
“Nggak apa-apa, Mbak. Masuk aja.” Ia mempersilakan.
Mbak Ningsih masuk tanpa banyak bicara, lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Purbaya menyusul, duduk di sebelahnya.
Beberapa detik... tidak ada yang bicara.
Mbak Ningsih bukan sekadar orang rumah bagi Purbaya. Perempuan itu sudah lama menjadi tempat paling aman untuk menyimpan segala hal yang tak bisa ia ucapkan pada siapa pun.
Entah sejak kapan kebiasaan itu terbentuk. Mungkin dari caranya Mbak Ningsih mendengarkan--tidak memotong, tidak menghakimi. Hanya diam, menyimak, lalu sesekali memberi tanggapan yang sederhana, tapi selalu tepat. Tidak berlebihan, tidak pula terasa menggurui.
Bersamanya, Purbaya tak perlu menjaga wibawa sebagai seorang dosen yang dihormati banyak orang. Ia bisa menjadi dirinya sendiri--lelah, ragu, bahkan rapuh tanpa takut dipandang rendah.
“Kamu lagi ada masalah sama Eva?” tanyanya akhirnya, langsung ke inti.
Purbaya menghela napas pelan.
“Iya...” jawabnya singkat.
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut.
Ada banyak hal di kepalanya.
Namun untuk pertama kalinya... ia ragu untuk bicara, karena ini menyangkut sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Perselingkuhan.
Purbaya menatap kakaknya itu sekilas.
Perempuan yang selama ini memilih sendiri.
Bukan karena tidak bisa... tapi karena tidak mau menggantikan sesuatu yang pernah begitu berarti.
Cintanya berhenti di satu orang.
Seorang nakhoda kapal.
Yang tidak pernah kembali.
Musibah itu terjadi bertahun-tahun lalu--saat semuanya sudah hampir siap untuk sebuah pernikahan.
Saat musibah terjadi lelaki itu memilih tetap di kapal, menyelamatkan para penumpang.
Dan tidak pernah sempat menyelamatkan dirinya sendiri.
Sejak saat itu, Mbak Ningsih tidak pernah benar-benar membuka hati lagi, karena... cintanya sudah selesai di sana.
Purbaya menunduk lagi.
Entah kenapa, berada di hadapan Mbak Ningsih seperti itu membuatnya semakin merasa kecil.
Namun di saat yang sama... justru lebih ingin jujur.
“Mbak...” akhirnya ia bersuara, pelan.
“Aku kayaknya... lagi bikin masalah sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuka sesuatu yang selama ini ia tutup rapat.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄